
Bukan hal mudah untuk melewati keadaan ini.
Davina harus dengan sekuat tenaga merasakan keadaan dimana sahabatnya sekaligus orang yang dicintainya kini bersama dengan adiknya sendiri. Rasa putus asa ini membuat Davina lupa jika ia harus tetap terus melangkah, malam semakin larut tidak membuat Davina pun mampu memejamkan matanya. Air mata yang terus mengguyur membuat matanya semakin sembab dan lama kelamaan pun Davina tertidur di samping tempat tidurnya.
🎶 it's my first love what i dreaming of when i go to bed 🎶 ponsel Davina berbunyi beberapa kali.. sering kali pula Davina membuka matanya dan melirik ke ponselnya tapi tak ada niat satupun untuk mengangkat telpon tersebut.
selang beberapa menit ibu Davina masuk ke kamar yang bernuansa biru milik Davina
"Vin.. kok nggak bangun sih sudah siang neh!" ucap ibu Davina sambil membuka gorden dan jendela kamar Davina.
" Davina ijin hari ini bu, masih ngantuk " Jawab Davina memelas dan menutup kepalanya kembali dengan selimut. Tanpa disadari Brian pun masuk menyusul ibu Davina ke dalam kamar kemudian..
" Vin... " panggil Brian dengan lembut seraya mengusap kepala Davina. Namun Davina tidak bergeming sedikitpun..
ibu Davina yang melihat kejadian tersebut dan merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi kemudian meminta Brian untuk tidak usah meladeni sikap Davina. Tanpa berpikir lama Brian pun mengikuti saran ibu Davina.
" ia tante.. Brian berangkat kantor dulu ya " jawab Brian sambil mencium tangan ibu Davina dan pamit ke kantor.
Merasa jika Brian sudah tidak ada Davina pun membuka selimutnya secara perlahan dan mengusap air matanya kembali...
"ibu sudah tau semua Vin.. kenapa kamu nggak jujur sama Brian dari awal? " tanya ibunya sambil mengusap pipi Davina..
" Davina nggak bisa mi.. dan semuanya sudah terlambat" jawab Davina sambil merapikan rambutnya yang tergerai panjang tak beraturan.
" Nggak bisa kenapa? Maya kan bisa mengerti kalau kamu.. " ucap ibu Davina bersamaan dengan kemunculan Maya di balik pintu..
" Maya kenapa mi..? " tanya Maya keheranan
" Kak Vin nggak ke kantor ? tadi ka Brian datang lho kak rencana mau berangkt bareng kak Vin.. " tanya Maya lagi sambil berbaring di samping Davina.
" Hari ini Kak Vin ijin nggak enak badan May.. tadi malam Kak Vin pulangnya malam jadi kayanya masuk angin deh.. " jawab Davina dengan lembut kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju kamar mandi.
" yuk nak kita sarapan " ajak ibu Davina kepada Maya dan membawanya ke ruang makan.
...***...
" Mi.. Vina mau minta ijin keluar kota. Boleh ??" tanya Davina ke ibunya yang sedang sarapan bersama Maya.
" Emank mau kemana Vin.." jawab ibu Davina
" Dengan siapa?? " tanya ibu Davina kembali
Davina tersenyum kemudian duduk dan mengambil sarapannya..
__ADS_1
" lho kok diam kak Vin.. " tanya Maya heran
" Mau ke Manado mi.." jawab Davina pelan
Manado adalah pilihan sulit yang harus Davina pilih diantara Kalimantan dan Papua setelah beberapa kali menolak tawaran atasannya.
Mendengar jawaban Davina, ibu Davina kaget dan menghentikan makanannya..
" kamu nggak bisa tinggal di sini aja Vin, kok malah pergi " ucap ibu Davina sedih
" Davina nggak lama Mi.. cuma beberapa bulan saja sekaligus Davina mau menenangkan diri dulu.." jawab Davina kemudian memeluk ibunya dari belakang
Mendengar Davina berkata begitu, Maya yang sedang makan pun kaget..
"Karier Kak Vin di sini kan bagus? kenapa mesti pindah ka?" tanya Maya.. atau gara-gara Maya dan kan Brian ? ucap Maya lagi..
Davina kaget dengan ucapan Maya seperti itu, " kamu ngomong apa sih May? Kak Vin pergi cuma sebentar kebetulan di sana kekurangan ahli geo jadi pihak perusahaan meminta bantuan kak Vin" Davina mencoba menjelaskan..
Ketika sedang asyik sarapan tiba-tiba ponsel Davina berbunyi tidak lain itu adalah panggilan Brian.. Melihat panggilan tersebut Davina pun mencoba untuk tidak menanggapi telpon tersebut tetapi ponsel Davina pun terus berbunyi..
" Kak Vin.. Ponselnya itu lho diangkat, emank siapa sih yang nelpon ?" tanya Maya mendekati Davina..
Dengan cepat Davina mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut seraya berjalan menjauhi meja makan..
" kamu kenapa sih Vin, aku baru tau kalo kamu menerima tawaran Pak Leo untuk ke manado " tanya Brian kesal..
" waktu itu kan kamu pernah bilang nggak mau keluar Jakarta? " tanya Brian lagi..
Mendengar pertanyaan Brian, Davina hanya bisa terdiam dan berkata.. " Maaf.. " kemudian mematikan ponselnya.
\*\*\*
Melihat tingkah laku Davina membuat Brian semakin heran karena Davina sudah tidak seperti dulu lagi dan untuk menjawab rasa penasarannya Brian memaksa Davina untuk bertemu.
Cafe The forest by wyl's adalah pilihan Brian karena ini adalah tempat favorit mereka.. Memilih duduk di area outdoor merupakan kesukaan Davina dari dulu karena menikmati keindahan alam dan menikmati hidangan yang ada adalah paket komplit kenyamanan.
Brian datang menggunakan kemeja Biru dan celana berwarna cream serta tak ketinggalan sepatu sportnya berwarna putih. Bukan karena kebetulan tapi memang sudah direncanakan sebab Davina memang suka dengan warna biru.
Tidak begitu lama menunggu, Davina pun datang menggunakan Dress orange dan sepatu Ked'snya.. Tanpa sengaja Brian memandang ke arah Davina yang sedang menuju tempat duduk yang saat ini Brian sudah menunggunya.. Terlihat cantik menggoda dengan rambut yang tergerai panjang belum lagi dengan adanya angin yang sedikit mengganggu sehingga beberapa helai rambut menghalangi pandangan Davina untuk berjalan.
" sudah lama nunggu? " tanya Davina mengagetkan Brian
" nggak kok.. baru datang juga " jawab Brian
__ADS_1
" tumben kamu ngajak aku ke sini lagi.. " tanya Davina sambil asik melihat pemandangan di samping tempat duduknya..
Tanpa disadarinya, Brian mendekat dan meraih tangan Davina..
" Vin.. " ucap Brian pelan sambil memandang wajah Davina
Dengan wajah tegang dan kaget, Davina menjawab " apaan sih.. " sambil menarik tangannya.
" aku mau tanya.. kenapa kamu sekarang berubah dan malah terima tawaran pak Leo ? " ucap Brian tegas..
" ingat nggak dulu kamu sendiri yang bilang kalau kita kerja harus sama-sama.. " bentak Brian kesal karena Davina tak menjawab apapun..
" kemana ada kamu pasti ada aku dan kemana aku pasti ada kamu.." ucap Brian lagi tanpa mengijinkan Davina berbicara sepatah katapun..
" plaaaaakkk.. " tamparan keras mendarat di wajah Brian..
Brian kaget dan memandang Davina yang saat itu menatap tajam dan terlihat jelas air mata membasahi wajahnya..
" Vin.. " ucap Brian kaget sambil memegang pipinya
" kamu tau kenapa aku menamparmu Brian?? " ucap Davina emosi..
" kamu dan aku sudah berbeda, nggak mungkin selamanya kita terus bersama sementara kamu dan Maya menjalin hubungan " Jawab Davina sambil menunjuk wajahnya Brian..
" emank kenapa? Maya kan adik kamu Vin.. dan kamu sahabat ku.. " Ucap Brian semakin bingung mendengar jawaban Davina dan kemudian meraih tangan Davina seraya minta penjelasan.
" Ya.. aku tau itu " jawab Davina lagi
" karena sampai kapanpun aku akan tetap jadi sahabat mu, tidak lebih dari itu.." ucap Davina sambil melepaskan tangan Brian yang saat itu masih menggenggam tangannya kemudian mencoba menenangkan diri dengan meneguk segelas Cappucino yang sudah terasa dingin.
" Aku kesini cuma mau pamit, karena 2 hari lagi aku akan pergi ke Manado " Ucap Davina tenang..
" Aku nggak bisa percaya ini Vin " jawab Brian sambil menuju tempat duduk Davina, menggenggam tangan Davina dan berkata " aku akan menyusul mu ke Manado, tunggu saja"
Mendengar ucapan Brian " kamu sadar ngomong apa Yan?? aku di sana nggak sebentar... " ucap Davina sambil berdiri.
" sebaiknya aku pergi sekarang " tegas Davina lagi dan pergi menjauhi Bryan
secepatnya Davina melangkahkan kakinya ternyata masih kurang cepat dengan reaksi Brian.. Dalam sekejap Davina sudah berada dalam pelukan Brian.
Terasa nyaman aroma tubuh Bryan membuat Davina tidak mampu melepaskan tubuhnya dari pelukan sahabatnya ini, membayangkan selamanya bisa berada di dekapan Brian itu cuma khayalannya saja. Tapi hal ini harus dilakukan karena ini untuk Maya, adik satu-satunya.
"Aku mengalah" bisik Davina di telinga Bryan dan melepaskan pelukan Brian kemudian pergi
__ADS_1