Kau Dan Doa Ku

Kau Dan Doa Ku
Episode 33 Suara Hati Ibu Bryan


__ADS_3

Sembari ibunya sedang mengobrol dengan calon mertuanya, Maya menggenggam jemari tangan Davina yang masih belum tersadarkan diri. Kenangan masa kecil tiba-tiba muncul dalam ingatan Maya, sewaktu Davina rela mengorbankan diri untuk menolong dirinya ketika ditabrak mobil sampai akhirnya Davina harus dilarikan ke RS dan harus menerima jahitan di bagian punggungnya. Makanya sampai saat ini Davina sangat tidak menyukai apabila bagian punggungnya di sentuh siapapun.


Dalam hati Maya sembari memegang tangan kakaknya dan memanjatkan doa agar semua ini cepat berlalu dan Davina bisa membuka matanya, mengobrol dengan dirinya lagi seperti dulu.


Disela-sela Maya termenung sembari memegang jemari kakaknya terdengar alunan lembut dari program musik di acara salah satu stasiun TV membuat Maya terbawa perasaan ketika mendengarnya.


" Nyanyian Rindu Untuk Kakak "


🎼 Cari sudah aku mencari


Namun tak jua kutemukan


lelah sudah aku menanti


kakakku kembali


Namun setelah sekian lama


baru aku mendapat kabar


bahwa kakakku yang tersayang


tiada berdaya


sungguh tak kuasa aku menahan


air mata jatuh berlinang


pertemuan yang sangat aku rindukan


berakhir dengan kesedihan..


lantunan kalimat per kalimat dari Nando sang vokalis semakin membuat sesak hati Maya, dengan menahan air matanya ia dengan segera mencari remote dan segera memindah chanel TV tersebut. Tapi perasaan tak bisa ia bohongi air matanya tetap mengalir yang sesekali ia seka dengan tangannya kemudian mendekati Davina lalu menangis sejadi jadinya di bawah ranjang rumah sakit tempat Davina terbaring lemah.


Davina adalah tulang punggung keluarga selama ini ia banting tulang untuk membahagiakan ibunya dan adik satu-satunya itu. Banyak penderitaan yang ia lalui, bahkan ia harus rela menahan lapar hanya untuk melihat ibu dan adiknya bisa menikmati makan siang yang enak. Sewaktu sekolah Maya pernah mendapati Davina sedang makan bekal siangnya di bawah pohon ketapang di pinggir sekolahnya sendirian, dengan semangkok nasi dan garam. Sementara dirinya membawa semangkok nasi, Telur goreng dan sepotong ayam goreng. Karena pada saat itu perekonomian keluarga memang sangat terpuruk setelah Ayahnya pergi meninggalkan mereka selamanya.

__ADS_1


Maya mulai mengingat kembali memory lama mereka satu persatu.


" ya Tuhan.. apa yang sudah ku lakukan "


" aku sudah berbuat jahat pada kakakku sendiri"


" adik macam apa aku ini " tangis Maya kesal dengan dirinya sendiri.


Ketika Maya hanyut terbawa perasaan rasa bersalahnya di balik ranjang Davina terdengar suara ibu Bryan ingin mempercepat pernikahan antara Bryan dan dirinya. Seketika saja tangisan yang pecah mulai meredup dan mencoba lebih fokus mendengar percakapan ibunya.


Ibunya sedikit lebih keras meminta waktu lebih lama lagi karena kondisi saat ini tidak memungkinkan mereka membuat acara pernikahan, namun ibu Bryan tetap kekeh dengan keinginannya untuk segera melihat anaknya menikah.


" Jeng Aini !! aku mohon padamu berikan aku waktu.. " pinta ibu Davina dengan suara memelas.


" Jeng Sinta juga harus mengerti aku dunk.. Bryan itu anak ku satu-satunya dan sebentar lagi akan berangkat ke Kalimantan ! "


"sementara aku tidak bisa ikut Bryan karena penyakit ini " ucap Ibu Bryan dengan sedikit tekanan dan berderai air mata.


" kamu kenapa Jeng? "


" kamu sakit apa? kenapa tak memberitahukan aku jeng? " balas ibu Davina sambil memeluk sahabatnya itu dan ikut terhanyut dalam tangisan. Maya yang tanpa sengaja mendengar perbincangan mereka pun kaget dan tak bisa berbuat apa-apa selain menerima semua yang akan terjadi di depan.


" Dan aku baru mengetahuinya bulan kemarin " ibu Bryan menghela nafas panjang agak sedikit berat namun akhirnya ia menceritakan perihal penyakitnya itu tanpa beban. Ibu Davina menjadi orang pertama mengetahuinya dan ia tak ingin menyakiti hati sahabatnya itu jika menolak keinginannya.


Leukimia merupakan jenis kanker darah yang bermula di sumsum tulang dan kemudian menyerang darah. Bila tidak diobati penyakit ini bisa menyebar ke bagian lain dari tubuh, seperti kelenjar getah bening, hati, limpa dan sampai ke otak. Kondisi ini disebabkan oleh produksi sel darah putih abnormal atau terlalu banyak sehingga sering di kenal dengan penyakit kanker sel darah putih.


Kedua ibu tersebut tak menyadari kehadiran Maya saat itu, sehingga mereka lebih leluasa untuk berbagi cerita dan berbagi beban hidup. Hal ini membuat Maya enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Ia menyeka air matanya dan mulai bernafas secara perlahan agar sesegukannya tak terdengar dan kembali bernafas dengan normal.


" aku berharap jeng Sinta berjanji dengan ku.. untuk tidak memberitahukan penyakitku pada Bryan "


" aku nggak mau menjadi penghalang dalam karier nya dan berharap ketika aku tak ada paling nggak sudah ada wanita yang siap mengurusnya"


" apalagi Bryan akan ke kalimantan " Hhhhhh ucap ibu Bryan yang sesekali mencoba untuk tenang.


" Jeng.. apa, kamu sudah berobat atau lakukan kemoterapi ? "

__ADS_1


" maaf kalo aku sedikit bertanya ? " ucap ibu Davina sambil mengusap lembut punggung jeng Aini.


Ibu Bryan menggeleng kepalanya dengan tatapan memelas dan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.


" Jeng !! "


" kenapa? "


" Masalah biaya? " bentak ibu Davina spontan karena merasa kesal melihat sahabatnya itu tidak melakukan kemoterapi padahal ia sudah mengetahui penyakit yang di idapnya ini bukan penyakit biasa.


" ayo kita periksa sekarang mumpung kita masih di RS " ajak ibu Davina dengan tegas sambil menarik tangan sahabatnya itu keluar dari ruangan kamar Davina.


" tapi jeng.. " ucap ibu Bryan mencoba menahan sahabatnya itu ketika ingin membawanya menemui dr spesialis kanker.


" ada apa jeng Aini ? "


" kamu nggak mau sembuh ? kamu nggak mau melihat cucumu nanti? " hiikkk hikkkk ucap ibu Davina dengan suara menahan tangisan lalu menarik tubuh semok ibu Bryan dan jatuh dalam pelukannya.


" maafkan aku jeng.. "


" aku nggak sanggup jika mendengar ucapan dokter "


" apalagi penyakit ku ini sudah masuk stadium 4 " suara lemah nan menyayat hati keluar dari mulut jeng Aini.


" itulah kenapa aku nggak mau lagi ke dokter "


" cukup sudah.. biarkan diriku menikmati hari-hariku jeng " hu..hu.. hhhhh ( suara tangisan jeng Aini mulai menghiasi lorong RS yang sunyi )


Ibu Davina tak bisa berbicara banyak atau bahkan sudah tak sanggup lagi memaksa ibu Bryan untuk menemui dokter spesialis kanker. Ibu Davina dengan tenang memeluk sahabatnya dan mengusap air matanya menunjukkan bahwa ia tak sendiri, jadi tak perlu khawatir tentang dirinya. karena jika semakin stress maka semakin cepat pula virus itu menggerogoti tubuhnya. Kedua orang tua itupun masih tetap belum menyadari akan kehadiran Maya yang berada di balik pintu kamar Davina. Maya yang mendengar dan menyaksikan semuanya ikut terhanyut dan tak bisa berkata-kata lagi, hanya termangu dengan mata membelalak namun air mata mengalir membasahi pipinya dan bibir yang sengaja digigitnya.


...Pantau terus ya ceritanya, biar thornya semangat 😁😁...


......🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺......


...yuk akak yang cantik dan tampan...

__ADS_1


...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya 🤗☺️...


...~Novi Dhamzie~...


__ADS_2