
Matahari mulai meredup kan cahayanya namun redupan itu tidak ikut meredupkan kisah kasih diantara mereka, seakan tak mau berpisah keduanya pun enggan untuk beranjak dari tempat yang menjadi saksi isi hati mereka.
🎶📲 ' Cause when you love someone, you open up your heart, when you love someone you may grow, if you love someone and you're not afraid to lose'em, you'll probably never love someone like i do 🎶
Ponsel Davina berbunyi dari dalam mobil membuat keduanya tersadar jika waktu sudah mulai malam.
Kevin menggendong Davina dengan pelan dan membawanya ke dalam mobil, Davina segera meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
" Brian ? " Davina kaget melihat nama yang tertulis di ponsel,
" ehmmm... dia mencoba menghubungimu ya " ucap Kevin memelas sambil menjalankan mobil untuk pulang.
Davina tertawa kecil melihat sikap Kevin yang ia yakini saat ini pasti Kevin sedang cemburu pada Brian.
" hubungi saja dia, pasti sekarang lagi mengkhawatirkan dirimu Vin " ucap Kevin sambil terus menyetir.
" beneran nggak apa-apa jika ku menelponnya " tanya Davina meminta ijin
Kevin mengangguk serius sambil terus menatap lurus ke depan
Davina mencoba menelpon Brian yang saat ini sedang khawatir dengan kondisi Davina.
" kamu dimana Vin ? "
" kamu baik-baik saja kan ? "
" Kevin bersamamu ? " tanya Brian di balik telpon.
" ya Yan aku baik-baik saja "
" sebentar lagi sampai kok " jawab Davina lalu mematikan ponselnya.
" kenapa sih, sok khawatir gitu "
" aku kan bukan anak kecil lagi " ucap Davina sedikit kesal lalu menghempaskan badannya di kursi.
sesekali menoleh ke arah Kevin yang diam.
" hey.. kok diam " kata Davina menepuk bahu Kevin
" kamu nggak lagi cemburu kan " tanya Davina mengejek Kevin.
Kevin tertawa kecil..
" sedekat apa sih kalian berdua ? " tanya Kevin tiba-tiba
" kedekatan ku dengan Brian tak sedekat dirimu dan Sarah ! " ucap Davina lantang dan menatap Kevin yang saat itu masih fokus pada perjalanan mereka.
Kevin yang mendengar ucapan Davina tersebut langsung menyentuh jemari Davina dan memegangnya erat. Tapi tetap tanpa suara..
Sepanjang perjalanan menuju rumah Davina menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Brian, bahkan Davina pun jujur pada Kevin jika kepergiannya ke Manado dan tersesat ke Papua itu akibat ingin menjauh dari Brian.
__ADS_1
tak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah Davina. Nampak ibu Davina, Maya dan Brian sudah lama menunggu kehadiran mereka berdua.
Kevin segera keluar dan meraih pintu sebelah kiri serta menggendong Davina masuk ke rumah. Selama Davina dalam gendongan Kevin ternyata membuat 2 hati penuh amarah. yang tak lain Maya dan Brian.
Maya mulai merasa iri dengan sang kakak, selama ini ia merasa sudah menjadi upik abu sang kakak meski tak pernah ia disuruh kerja rodi. Hanya saja ketika ia pertama kali bertemu dengan Kevin, Maya sudah jatuh hati padanya.
Memang beberapa kali Maya mencoba mendekati Kevin namun selalu gagal, dulu sewaktu hatinya di pautkan pada Brian ia merasa Brian lha sosok laki-laki yang bakal jadi belahan jiwanya. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata perasaan Brian padanya hanya sebatas adik. Dan Brian lebih memilih Davina kakaknya sendiri..
" masa aku harus kehilangan laki-laki yang aku suka untuk kedua kalinya ? " bisik Maya dalam hati kecilnya ketika melihat Kevin merebahkan tubuh Davina di ranjang kamar Davina.
Sementara Brian hanya duduk di teras berpikir keras untuk bisa mengambil hati Davina kembali, dulu memang ia yang tidak mengambil kesempatan dengan baik namun sekarang Brian berniat untuk mempertahankan perasaannya, apapun itu harus ia lakukan asalkan Davina tetap menjadi miliknya.
Ketika Brian sedang fokus pada semua rancangan-rancangannya, ia dikagetkan dengan kehadiran Maya yang sedikit kesal sambil duduk dengan wajah cemberut.
" kenapa May ? " tanya Brian keheranan melihat sikap Maya.
" aku nggak suka.. aku nggak mau.. " jawab Maya ketus.
mendengar jawaban Maya, Brian semakin bingung.
" ada apa sih, keluar dari rumah kok malah marah-marah " bujuk Brian sambil bercanda ke arah Maya.
" Kak Brian, suka kan dengan kak Vin ? " tanya Maya dengan wajah penuh semangat.
Brian mengernyitkan dahinya menunggu lanjutan kalimat Maya.
" kak Brian nggak mau kan kehilangan kak Vin lagi ? "
" kak Brian memang suka kalau kak Vin di dekati laki-laki lain ? " lanjut Maya mencoba memanasi Brian..
" ya sudah lah.. "
" percuma Maya bicara panjang lebar tapi nggak dihiraukan " kata Maya memelas yang kemudian beranjak dari tempat duduknya..
" May.. " panggil Brian dengan suara pelan
Brian mencoba menghentikan kegilaan Maya, karena ia tau niat Maya sebenarnya hanya untuk mempengaruhi dirinya.
" kakak tau kau suka pada Kevin kan ?" tanya Brian sambil menatap Maya.
Maya membalas tatapan Brian kemudian mencoba duduk kembali, ia menghela nafas panjang..
" ia.. " jawab Maya
" Maya juga punya hak kan ka untuk menyukai orang lain ? "
" Maya juga perempuan ka.. yang mau di cintai dan dilindungi sama orang yang Maya suka "
" kenapa semua yang Maya suka malah suka dengan Kak Vin !! "
" Maya benci punya kakak seperti Kak Vin " teriak Maya kesal dengan deraian air mata.
__ADS_1
mendengar ucapan Maya, Brian merasa bersalah memang benar pada awalnya Maya pernah menjadi kekasihnya namun itu terjadi karena Brian tak mau jauh dari Davina. Namun saat hubungan mereka berjalan ia berusaha membuka hatinya untuk Maya tapi perasaannya semakin hari semakin kacau setiap bertemu dengan Davina, hal itu membuat Brian tak bisa membohongi Maya lagi ia hrus jujur jika perasaan nya ke Maya hanya perasaan Kakak pada adik tidak lebih dari itu.
" May.. " ucap Brian
" kamu salah May.. Davina tidak bersalah dalam hal ini " ucap Brian mencoba menenangkan Maya.
" ya Kak Brian juga.. kalian semua nggak ada yang bisa mengerti aku "
" yang kalian pikirkan itu cuma Kak Vin " Maya menjawab tegas.
Air mata yang keluar menjadi tanda bahwa perasaan Maya saat ini sedang tercabik-cabik. Brian merangkul Maya dengan menggenggam tangannya erat dan memeluknya.
" kalau semua ini gara-gara kak Brian? Kakak minta maaf May.. " ucap Brian ditengah tangisan Maya.
Maya mencoba melepaskan rangkulan Brian, namun Brian tetap memeluknya dengan erat sampai akhirnya amarah dan tangisan Maya mulai surut.
" sekarang kamu tenang dulu "
" kita bicara baik-baik ya " ucap Brian menenangkan..
" Maya sudah memaafkan kak Brian tapi ada satu permintaan Maya " kata Maya sambil mengusap air matanya..
" apa.. jika itu bisa membuat hatimu tenang akan Kak Brian lakukan " jawab Brian
" Maya ingin kak Brian segera menikahi kak Vin " kata Maya dengan tegas.
" apaaaa??? " jawab Brian kaget mendengar permintaan Maya. Brian melepaskan rangkulannya kemudian duduk kembali ke posisinya.
" apa Kak Brian takut ? " tanya Maya kembali merongrong perasaan Brian.
" ooh ternyata Maya baru tau jika, perasaan Kak Brian tak ada apa-apanya. "
" pantes aja sampai sekarang kak Vin nggak bisa jatuh hati pada kak Brian " lanjut celotehan Maya yang sudah tak berdasar.
" kau sadar dengan omonganmu May ? " ucap Brian menghentikan ucapan Maya.
" kalau kau tidak tau apa-apa soal cinta sebaiknya kau diam saja " jawab Brian kesal
Maya yang mendengar jawaban Brian bukannya menyerah tetapi semakin menjadi
" baiklah.. kalau begitu kak Brian bersiap saja melihat Kak Vin jatuh dalam pelukan kak Kevin " ucap Maya sambil tertawa meremehkan perasaan Brian dan pergi meninggalkan Brian masuk ke rumah.
Brian hanya termenung, sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya
...Pantau terus ya ceritanya, biar thornya semangat 😁😁...
......🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺......
...yuk akak yang cantik dan tampan...
...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya 🤗☺️...
__ADS_1
...~Novi Dhamzie~...