Kau Dan Doa Ku

Kau Dan Doa Ku
Episode 26 aku akan merindukan mu


__ADS_3

Malam semakin larut dan tidak mau terjadi hal-hal yang tak diinginkan Kevin akhirnya pamit untuk tidur di hotel yang sudah ia siapkan pada saat ia datang ke Jakarta. Ibu Davina mencoba membujuk Kevin untuk tetap beristirahat di rumah tapi ia juga tak mau ada keributan antara Kevin dan Brian. Brian sudah dianggapnya anak sendiri dan sangat menyayangi nya, bahkan rasa sayang yang samapun terjadi pada Kevin sosok yang baru dikenalnya. Meski baru bertemu namun nama Kevin slalu ia dengar dari anak sulungnya, bagaimana Kevin menjaga dan memperlakukan anaknya itu yang membuat sang bunda menyukainya.


Langkah Kevin terhenti sejenak di teras rumah Davina, Brian yang saat itu sedang menikmati secangkir kopi dan enggan untuk memasuki rumah pun berdiri.


" bisa kita bicara sebentar ? " ucap Brian yang kemudian mempersilahkan Kevin untuk duduk.


" kapan rencana balik ke Papua? " tanya Brian tanpa basa basi.


Kevin dengan tenang menanggapi pertanyaan tersebut.


" 2 hari lagi "


" kenapa? " balas Kevin bertanya.


Brian duduk dan sedikit mengarahkan pandangannya ke arah Kevin.


" sebelum kamu datang, semuanya baik-baik saja " jawab Brian serius dan menatap Kevin.


" dan sekarang pun baik-baik saja " ucap Kevin lalu berdiri mengakhiri obrolan mereka.


Kevin tak mau suasana menjadi lebih runyam, apalagi ia sebagai laki-laki sudah bisa membaca jelas roman Brian yang saat ini sudah terbakar api cemburu.


Melihat Kevin yang saat itu sudah berdiri dan bersiap meninggalkan obrolan mereka, Brian dengan sigap menghalangi langkah Kevin.


Secara nyata paras kedua pria ini sama-sama tampan dan memiliki badan atletis meskipun Brian sedikit lebih rendah, namun itu tidak menjadi hal yang perlu ditakuti Brian.


" kau cuma tamu disini.. "


" jadi jangan terlalu senang " ucap Brian sambil menepuk bahu Kevin.


" tak masalah buatku "

__ADS_1


" tapi apa yang sudah ku miliki tak akan kubiarkan siapapun mengambilnya " jawab Kevin sambil menepuk balik bahu Brian sambil pergi meninggalkan Brian sendiri.


Brian terdiam tak bisa berbuat apa-apa, kalimat Kevin sangat menohok dan membuatnya kesal.


Tak lama kemudian muncul Maya dari dalam rumah menghampiri Brian yang saat itu masih berdiri di depan teras. Senyuman sinis terpancar dari wajah Maya.


" Kak Brian nggak panas? "


" harga diri ka.. " comelnya Maya semakin menjadi-jadi.


Brian menarik nafas dalam mendengar ocehan Maya. Iapun segera masuk ke rumah hendak berpamitan dengan Davina dan ibu Davina. Meninggalkan Maya sendiri diluar itu lebih baik daripada membuat dirinya lebih down. Malam semakin larut sehingga penampakan dalam rumah terasa sepi dengan lampu senyap untuk malam hari semakin membuat nuansa malam lebih terasa, beda hal dengan kamar Davina diantara ruangan yang pencahayaannya redup kamar Davina justru lebih terang pintu kamarnya tidak tertutup hal ini membuat Brian tertarik melangkah ke arah kamar Davina.


Maksud hati ingin menutup kamar dan berpamitan dengan sobat kecilnya itu, namun langkahnya terhenti ketika melihat Davina tertidur pulas setelah meminum obat yang diberikan oleh dokter. Panggilan Brian pun tak membuatnya sadar, hal ini membuat Brian kembali nekat masuk ke kamar Davina kemudian duduk di samping tempat tidur Davina.


Wajah polos tanpa pulasan make up membuat kecantikan alami Davina semakin terpancar dan membuat Brian semakin jatuh cinta padanya.


Brian menyentuh wajah Davina dengan lembut


Melangkah keluar kamar dan menutup pintu kamar. Dan pergi meninggalkan rumah Davina.


...***...


Mentari pagi kembali memancarkan cahayanya membuat suasana pagi kembali ramai..


Dan tak biasa juga Maya yang biasa terbangun disiang hari kini sudah ada di taman, entah apa yang ia lakukan tapi terdengar bahagia dari dalam kamar Davina. Tawa yang sudah lama tak didengarnya,


" Dengan siapa Maya tertawa seperti itu " pikir Davina dalam hati, ia mencoba untuk beranjak dari tempat tidurnya tapi ia sedikit mengalami kesulitan karena luka di telapak kakinya. Bias - bias terdengar suara lawan bicara Maya,,


" Kevin ?? " ucap Davina sambil berusaha dengan pelan mengangkat kakinya untuk turun dari tempat tidurnya.


" weleh... welehhh... ini anak kaki masih luka kok mau jalan " tegur sang bunda yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Davina dengan membawa setangkai bunga mawar yang diletakkan di atas meja Davina. Davina memang setiap hari mengganti bunganya berhubung saat ini ia tak dapat berkebun seperti biasa maka dari itu sang bunda lha yang menggantinya sekarang.

__ADS_1


" Mi.. itu Kevin ?? " tanya Davina pada ibunya


" ia.. ini bunga mawar dari Kevin " ucap bunda sambil menunjuk ke arah bunga mawar yang sudah diletakkan dalam botol kaca.


" tadi mami mau bangunin kamu tapi Kevin melarang katanya biarkan kamu istirahat " jawab sang bunda sambil membuka jendela kamar Davina. Udara pagi yang segar dan sinar mentari pagi langsung masuk ke kamar Davina membuat suasana kamar Davina menjadi lebih segar.


" ya udah.. mami buat sarapan dulu ya sayang " kata sang bunda sambil mengelus kepala Davina dan melangkah keluar.


Melihat sang bunda sudah pergi, Davina berniat mendekati bunga mawar pemberian Kevin. Dengan pelan ia menurunkan kaki yang masih berbalut kain kasa itu, mencoba berdiri dengan hanya satu tumpuan. Perlahan tapi pasti Davina bisa melangkah mendekati meja kerjanya. Namun ketika pintu kamarnya terbuka iapun kehilangan keseimbangannya.


Kevin yang melihat kejadian itupun langsung lari menyambut Davina sehingga ia pun tak langsung jatuh tersungkur ke lantai.


" kamu nggak pa pa kan Vin " tanya Kevin yang kemudian menggendongnya


" seharusnya jangan dulu kamu berjalan, kakimu kan luka " tegur Kevin sambil tetap menggendong.


" kau mau kemana ? " tanya Kevin lagi


Davina menunjuk ke arah bunga mawar yang terletak di meja kerjanya. Dan dengan lembut Kevin mendudukkan Davina di kursi yang tepat mengarah ke jendela.


Kevin berdiri tepat disamping Davina, menghadap mentari pagi.. dan menghirup udara segar pagi itu.


" aku akan sangat merindukan suasana pagi ini " ucapnya lirih kemudian menatap Davina yang hanya terdiam mendengar ucapan Kevin.


" kau akan merindukan ku kan? " tanya Kevin sambil memegang bahu Davina.


Davina hanya tersenyum.. tersenyum dalam kesedihan. terlintas dalam benaknya kenapa pertemuan mereka hanya sekejap dan kebersamaan mereka harus diukur dengan waktu ? Davina menghela nafas dalam-dalam mencoba untuk menerima kenyataan.


" aku akan merindukan mu selalu " kata Kevin sambil mengangkat wajah Davina.


Kecupan manis mendarat tepat di bibir mungil Davina, membuat keduanya terlena dan hanyut dalam kasmaran yang mereka ciptakan. Rasa cinta muda mudi ini pun disambut bahagia dengan sinar matahari yang menghangatkan keduanya, namun tidak menjadi pemisah diantara mereka bahkan terasa dunia ini hanya milik mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2