
Sambil menunggu di ruang keberangktan bandara Douw Aturure, Davina meraih backpacker nya. Sebuah buku agenda bersampul Biru metalik kini sudah berada di depannya, Davina memeluk erat agenda tersebut kemudian menundukkan kepalanya terasa berat meninggalkan kota ini. Banyak kenangan yang ia dapati, banyak kawan dan keluarga baru yang ia temui di sana.
Davina membuka agenda tersebut satu persatu, semua adalah goresan tangan Davina yang memang sengaja di tulisnya karena ia tau bahwa ia tidak selamanya di sana.
Keluarga Pak Polisi Raymond Tumeno dan ibu Leiny Senduk yang sudah Davina anggap keluarga karena rumahnya berdekatan dengan wisma atau tepatnya adalah rumah kecil milik Kevin yang dulu ditempati oleh Sarah. Apalagi selama Davina di nabire keluarga om Raymond lha yang selalu menjadi tempat berkeluh kesah Davina selain itu juga kebetulan memang mereka keluarga dari Kevin.
Ada beberapa foto yang sempat Davina ambil
Davina tersenyum sendiri melihat beberapa foto yang akhirnya membuat Kevin melirik sedikit dan ikut tertawa.
" Terima kasih sudah datang di Nabire Vin "
" jangan pernah lupakan kota Nabire apalagi orang-orangnya " ucap Kevin pelan.
Davina dengan segera menutup agendanya karena sudah saatnya mereka untuk berangkat.
Saat melangkahkan kakinya menuju kabin Davina berhenti sebentar sekilas ia mengingat kejadian yang membuatnya terdampar di pulau Papua ini. Kevin menyentuhnya dari belakang seraya mengatakan jika semuanya baik-baik saja.
Pramugari mempersilahkan Davina dan Kevin untuk masuk ke dalam kabin.
Beberapa waktu lagi Davina tidak akan melihat kota Nabire.
Pesawat pun take off...
Sekitar 9 jam di angkasa akhirnya sampai juga di bandara Soekarno Hatta. Davina menghirup udara lega dan bersyukur pada Tuhan karena ia masih diberikan umur panjang.
Langkah pasti menyusuri lorong hingga sampai di pintu kedatangan domistik. Davina disambut bahagia ibu dan adiknya Maya, tanpa menunggu lama Davina segera berlari menghampiri ibunya rasa syukur dan bahagia. Kevin tersenyum bahagia karena semua berjalan sesuai harapan.
entah berapa lama Davina berada dalam pelukan sang ibu, sampai - sampai ia mengabaikan Kevin yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
Terdengar suara dari belakang sang bunda
" Davina ?? " ucap Brian yang ikutan menyambut kedatangan Davina.
ucapan Brian membuat Davina tenganga dan melepaskan pelukannya.
sebelum Davina mengucapkan kata-kata, Brian menarik tubuh mungil Davina dalam pelukannya.
" kali ini nggak akan ku biarkan kamu pergi sendiri lagi "
" ingat perjanjian kita dulu ? "
" dimana ada aku disitu ada kamu, dan di mana kamu disitu ada aku " Perkataan Brian sungguh menyayat hati Davina.
Kevin yang melihat situasi tersebut mulai merasa tidak nyaman.
" nak.. kamu pasti Kevin ?! " tanya ibu Davina
__ADS_1
mendengar pertanyaan ibunya, sontak membuat Davina teringat bahwa ia datang ke Jakarta ditemani oleh Kevin.
Davina melepaskan rangkulan Brian dan memperkenalkan Kevin kepada Brian, ibu dan adiknya.
" Ohh aku baru ingat, kalau tidak salah tiker Davin tertukar dengan tiketmu kan " ucap Brian kasar sambil mendekati Kevin.
Kevin tak terpengaruh sedikitpun bahkan ia mencueki kalimat Brian.
" untung saja Davina baik-baik saja "
" jika terjadi sesuatu, kamu orang pertama yang ku cari " ucap Brian lagi.
" sudah.. aku baik-baik saja "
" Kevin ? dia orang yang sudah menjagaku selama ini ! Paham ! " jawab Davina kesal melihat perlakuan Brian.
Davina kemudian menarik tangan Kevin dan membawanya menuju mobil yang akan membawa mereka pulang.
" Vin.. aku nggak ikut ya ? " Kata Kevin menghentikan ajakan Davina.
" kamu mau kemana ? " tanya Davina
" anak buah ku sedang menuju bandara, untuk sementara aku akan tinggal di hotel saja " jawab Kevin sambil menatap Davina.
Davina tau Kevin berubah pikiran karena dari awal mereka sudah sepakat jika selama di jakarta Kevin akan tinggal di rumah Davina.
" ini pasti gara-gara Brian ? ya kan ? " tanya Davina ketika mendengar Kevin lebih memilih tinggal di hotel.
" bukan karena siapa-siapa Vin "
tidak lama kemudian mobil jemputan Kevin datang.
" mobil jemputan ku sudah datang Vin " sambil mengarahkan pandangan nya ke arah mobil jemputannya.
Davina menggelengkan kepalanya, ia hanya berdiri dan diam.
" Vin.. " panggil Brian menghampiri Davina dan Kevin
" aku duluan ya Vin " ucap Kevin kemudian meniggalkan Davina bersama Brian.
Davina memandang kepergian Kevin dengan rasa kesal luar biasa.
" laki-laki ini benar-benar nggak punya perasaan " bisik Davina dalam hati kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil. Sementara Brian menyusul Davina dari belakang.
" ada apa denganmu Vin "
" kamu berubah " ucap Brian sembari mengejar Davina. Brian berhasil mendekati Davina dan menarik lengannya.
" apa Brian? " jawab Davina kesal lalu menghempas tangan Brian.
ulah Brian dan Davina menjadi tontonan sesaat bagi semua pengunjung bandara, begitu juga Maya dan ibunya.
Melihat keadaan yang sudah tidak baik itu ibu Davina lalu menghampiri keduanya.
__ADS_1
" Kalian berdua ini sudah seperti anak kecil deh "
" kalian nggak malu di lihat orang ? " tegur ibu Davina.
Dengan kesal Davina masuk ke mobil dan mencueki Brian.
Brian masih saja terus mengusik Davina, dengan tenang ibu Davina menegur dan meminta Brian untuk pulang lebih dulu. Ibu Davina pun mengundang Brian untuk makan malam di rumah.
" ibu nggak mau persahabatn klian hancur "
" ibu cuma mau kamu dan anak ibu selalu akur " ucap ibu davina dengan tenang.
mendengar ucapan ibu Davina akhirnya Brian pergi meninggalkan Davina, dan berharap amarah Davina bisa reda.
Dalam perjalanan ke rumah...
" kamu sehat ya nak.. "
"gimana kota Nabire ? " tanya Ibu Davina menenangkan.
Davina yang mulanya hanya diam kini memandang ibunya dengan senyuman
" kota Nabire itu kecil Mi, tapi di semua tempat banyak tersimpan cerita manis " jawab Davina
" hubunganmu dengan Kevin bagaimana ? " tanya ibu Davina lagi
Davina tertegun mendengar pertanyaan itu, "Kevin ? "
" dia baik mi "
" Kevin yang slalu menjaga Davina selama di Nabire " jawab Davina kemudian menunduk dan mengeku-ngelus Rosario pemberian Kevin.
ibu Davina paham betul apa yang dialami oleh Davina, saat ini Davina menghadapi dua perasaan yang sama-sama mempengaruhi hidupnya. Masa lalu dan masa depannya. Tapi untuk saat ini ibu Davina lebih memilih agar Davina lebih menikmati hidupnya dan bersyukur ia bisa berkumpul bersamanya lagi.
Sebelum pulang ibu Davina dan Maya mengajak Davina keliling kota jakarta ke tempat-tempat di mana Davina sering menghabiskan waktu.
" makasih ya mi "
" makasih ya May " Ucap Davina sambil menahan tangis bahagia.
ibu Davina memeluk anak sulungnya tersebut kemudian membelainya
" jangan pernah tinggalin mami lagi ya " kata ibu Davina dengan suara serak.
Davina mengangguk kemudian menangis meluapkan rasa syukurnya dipelukan sang bunda.
...Pantau terus ya ceritanya, biar thornya semangat 😁😁...
......🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺......
...yuk akak yang cantik dan tampan...
...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya 🤗☺️...
__ADS_1
...~Novi Dhamzie~...