
Davina menghempaskan tubuhnya di ranjang seraya memandang ke atap langit-langit kamar. menoleh beberapa kali ke kanan dan ke kiri, kamar yang dalam sebulan ini sudah menjadi tempatnya bernaung. Menjadi saksi betapa kejamnya Bram memperlakukan dirinya, mengingat kejadian itu membuat Davina menutup matanya berharap bayangan buruk itu pun bisa berlalu.
Tanpa sadar Davina pun terlelap dalam tidurnya.
Keesokan Paginya..
Mentari pagi mulai menyapa dunia dengan sinarnya yang hangat membuat bunga-bunga senang untuk memberikan keindahan pada alam semesta.
Davina terbangun dengan wajah memelas, menunjukan bahwa dirinya enggan untuk memulai harinya. ia mencoba menutup matanya kembali menikmati tidurnya dan tiba-tiba..
" astaagaaaaa... " Davina tiba-tiba terbangun dan bergegas keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Kevin berjanji akan menemaninya mengemasi barang-barangnya pukul 08.00 pagi. Davina menoleh ke arah dinding dan sekarang sudah pukul 09.30. terlihat bayangan seseorang di depan pintu.
" Keviinnn... ma... af " ucap Davina menghentikan pembicaraannya.
" Braammmm ?! "
" ada apa ?? " tanya Davina sambil sedikit bersembunyi di balik pintu.
Rasa takutnya kembali menyelimuti dirinya, sosok yang tidak ingin ia lihat kenapa muncul di depannya saat ini ? bisik hati kecil Davina..
Kevin mana ?? bisiknya lagi dalam hati seraya menatap ke arah kiri dan kanan mencoba mencari sosok yang ia tunggu-tunggu.
Bram memandang Davina dengan diam, Davina yang saat itu hanya mengenakan dress putih pendek diatas lutut terkena sinar matahari sehingga nampak dengan jelas tubuh mungilnya itu.
Davina merasakan keanehan dengan tatapan Bram, ia sedikit merapatkan pintu ruang tamunya.
" Hei... " panggil Kevin yang tiba-tiba muncul dari arah samping, kemudian memberikan sebungkus plastik lalu menyerahkannya pada Davina dan menarik ganggang pintu. sebelum Kevin menarik pintu tersebut ia mengatakan satu kata pada Davina " Ganti ".
Davina menerima bungkusan plastik tersebut dan tersenyum kecil mendengar perintah Kevin padanya.
" Ganti ??? "
" apanya yang diganti?? baju ku ? " bisik Davina sambil berjalan ke belakang meletakan bungkusan tersebut.
" emank siapa kamu? main perintah-perintah gitu " Davina berbicara sendiri namun tanpa ia sadari ia segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
" ehmmm... kamu bukan siapa-siapa ku tapi kok aku senang ya kamu nyuruh aku hiiiii " bisik Davina sambil tertawa kecil di dalam kamar mandi.
Di teras wisma Davina suasana masih sedikit hening, pertanyaan Kevin pada Bram pun di balas hanya dengan diam. Kevin tak bisa menghadapi situasi seperti ini.
" Bram, aku nggak mau kita bermusuhan seperti ini " ucap Kevin memecahkan kebisuan.
Bram mengangguk dan menghela nafas
" untuk semua kejadian yang sudah ku lakukan, aku minta maaf Vin "
" aku terbawa emosi karena alkohol itu "
jelas Bram mencoba mencairkan suasana.
" Dari dulu sudah ku tekankan agar kau jauhi minuman biadap itu " ucap Kevin kasar
" kau mau mengulang kejadian dulu lagi.. " teriak Kevin kesal..
" Kau menghancurkan Sarah dan menuduh aku yang melakukannya !! "
" selama ini aku diam "
" karena kau sahabat ku " bentak Kevin seraya menghentak meja dengan tangannya
__ADS_1
" sekarang kau mau menghancurkan Davina ? "
" ada apa denganmu Bram " teriak Kevin lagi sambil menunjuk-nunjuk Bram
tanpa Kevin dan Bram sadari ternyata Davina mendengar pembicaraan mereka. Takut terjadi sesuatu akhirnya Davina pun memberanikan diri untuk keluar dari balik pintu.
Melihat Davina, Kevin pun menurunkan tangannya dan menghela nafas panjang.
Davina keluar dengan membawa 3 cangkir teh hangat untuk menemani ketiganya dengan beberapa potongan cake yang dibawakan Kevin.
" sudah ah... marah-marahnya ya.. " ucap Davina menatap Kevin dalam.
" diminum dulu tehnya mumpung masih hangat " Davina mengangkat secangkir teh dan menyerahknnya ke arah Kevin yang saat itu terlihat sangat kesal.
Kevin menatap Davina dalam, terlihat senyuman manis keluar dari wajah Davina membuat amarah Kevin mulai surut secara perlahan.
" maaf jika aku ikut campur omongan kalian "
" tanpa sengaja aku sudah mendengar semuanya "
" Dan aku nggak mau hanya gara-gara aku kalian ribut " ucap Davina memelas
" hari ini adalah hari terakhir ku di Nabire, jadi aku nggak mau pergi dengan rasa bersalah " Davina menangis tersedu,.
" semua yang kamu lakukan padaku, sudah aku lupakan dan sudah ku maafkan " kata Davina sambil memandang Bram.
" dan ku berharap jangan pernah kamu lakukan lagi dengan perempuan yang lain "
" biar aku yang terakhir " ucap Davina pelan lalu mengusap air matanya.
Kevin menatap Davina lagi, gadis yang baru dikenalnya ini ternyata memiliki hati yang penuh kasih. Hal ini membuat Kevin semakin jatuh hati pada Davina.
" makasih Vin.. "
" jujur aku sangat kecewa "
" kecewa karena ternyata kau lebih memilih Kevin " ucap Bram pelan.
Davina sontak kaget mendengar ucapan Bram
" aku mabok dan nggak bisa mengendalikan diri "
"maafkan aku Vin "
" aku malu.. malu jika ingat dirimu " Bram tertunduk lesu merasa bersalah.
" udah Bram "
" gpp.. aku sudah melupakan semuanya "
" cuma aku minta kamu jangan mengulang hal yang sama lagi " jawab Davina tersenyum.
mendengar jawaban Davina membuat Bram lega..
" kalau begitu sebaiknya aku pamit saja, ku nggak mau mengganggu kalian "
" apalagi membuat hati sahabatku ini tambah kesal "
Ucap Bram kemudian berdiri melangkahkan kakinya keluar teras.
__ADS_1
Davina menatap kepergian Bram dengan diam, kemudian melayangkan pandangannya lagi ke arah Kevin yang saat itu masih duduk dan tak berkata apapun. Davina mendekati Kevin dan menarik lengannya..
" ayooo... " ucap Davina sambil menarik tangan kevin..
Kevin bingung melihat sikap Davina yang mendorongnya ke arah luar..
Kevin menatap Davina seraya bertanya apa yang harus ia lakukan.. hanya dengan tatapan. Davina memberi kode Kevin untuk menyusul Bram. Davina menatap Kevin dan mengalihkan kan pandangan nya ke arah Bram.
Kevin mengerti... ia pun segera menyusul sahabatnya itu yang siap masuk ke dalam mobil Honda Jazz warna metalik miliknya.
" Broo " panggil Kevin mendekati Bram
" maaf jika aku terbawa suasana juga " ucap Kevin
" bagaimanapun kau tetap sahabat dan rekan kerjaku " kata Kevin lalu tertawa kecil
Bram tersenyum kemudian tertawa karena melihat sikap kekanak-kanakan mereka. Kevin menepuk bahu Bram dan memeluk sahabatnya itu.
" sementara waktu aku akan ijin karena mengantar Davina ke Jakarta, aku minta kau menghandel semua tugas di unit ya.. " ucap Kevin
" Siappp.. Ndan " jawab Bram meng'iakan perintah atasan sekaligus sahabatnya itu.
Kevin tertawa melihat sikap sahabatnya tersebut dan membiarkan sahabatnya itu pergi meninggalkannya.
Kevin berjalan dengan santainya menuju wisma, terlihat senyuman bahagia terpancar di wajah Davina.
Kevin memandang Davina penuh arti..
" makasih ya.. " ucap Kevin
Davina mengerutkan dahinya tanda kebingungan dengan apa yang dikatakan Kevin
" terima kasih karena kau sudah memaafkan sahabatku " lanjut Kevin kemudian duduk dengan tenang di teras wisma.
mendengar ucapan Kevin, Davina mengangguk kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikannya pada Kevin.
" ni.... " ucap Davina
Kevin menerimanya dengan bingung
" lihat... " perintah Davina kemudian duduk dan mengambil secangkir teh yang dibuatnya tadi Kemudian meminumnya dengan pelan.. Davina menatap Kevin secara diam-diam..
Kevin membalikan foto didepannya itu..
Kevin sedikit mengeryitkan dahinya, kemudian menatap Davina...
Apa yang diberi Davina ?
Kenapa Kevin mengeryitkan dahinya ?
Lanjut ke episode berikutnya ya.. 🤗
......🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺✳️🌺......
...yuk akak yang cantik dan tampan...
...Like, coment, favorit dan Vote ya.. biar AUTHOR semakin semangat up nya 🤗☺️...
...~Novi Dhamzie~...
__ADS_1