Kau Dan Doa Ku

Kau Dan Doa Ku
episode 8 Dingin


__ADS_3

Selama berhari-hari Davina berjalan menyusuri pegunungan dan hutan belantara tanpa kompas bahkan peta sekalipun. Balutan luka pisau di leher Davina pun beberapa hari ini tidak dibersihkan kadang perih terasa jika Davina terlalu banyak bergerak. Keringat mengucur deras membuat Davina sudah mulai kehilangan cairan tubuh kerongkongan terasa kering tetapi Davina harus tetap bertahan hidup.


" Vin.. kita istirahat di sini saja " ucap Bram menyusuri lokasi dan merasa bahwa tempat yang mereka pijak sekarang adalah tempat yang aman untuk bermalam.


Davina mengangguk setuju tanpa berkata-kata


" wajahmu pucat Vin " ucap Bram lagi kemudian menghampiri Davina dan meminta Davina untuk duduk sementara dirinya berusaha membangun tenda darurat dengan peralatan yang seadanya.


...💮💮💮...


...Malam pun tiba......


Ketika semuanya beristirahat melepaskan lelahnya, Davina masih terjaga...


Wajah semakin pucat dan keringat mengucur meski cuaca dipegunungan saat ini semakin dingin.


Terdengar beberapa suara yang menghiasi heningnya malam membuat Davina berharap ada diantara mereka bisa melihat kondisinya saat ini..


" ada apa dengan ku.. " bisik Davina dalam hati mencoba memanggil Bram tetapi tidak bisa bahkan membuka matapun terasa sulit.


" apa aku akan berakhir di sini " ucap Davina lagi. Tak terasa air matanya pun menetes kemudian terlelap dengan gelapnya malam..


" aroma apa ini.. " ucap Davina terbangun dan mencoba membuka matanya perlahan-lahan, terlihat wajah ibunya sedang duduk dan memandangnya dengan sedih..


" Mamiii... " teriak Davina membuka matanya dan berusaha menggapai ibunya..


" kenapa Mi.. " ucap Davina melihat ibunya menjauhinya..


" ini Vina Mi.. "


" Vina selamat mi.. coba lihat " kata Davina menjelaskan kepada ibunya, tetapi tak satupun kalimat keluar dari mulut ibunya.


ibu Davina melangkah keluar tenda dan berjalan menyusuri hutan, melihat ibunya pergi menjauhi ia pun berusaha mengejarnya..


" Mamiii... "


" Maammiiiiii..." teriak Davinaa kemudian mengejar ibunya tetapi tidak bisa. ada seseorang menahan dirinya, sosok yang tak bisa ia lihat dengan jelas tetapi aroma tubuh ini kenapa aku mengenalinya..


sekuat tenaga Davina melawan sekuat itu juga tenaga sosok itu menahannya dan memeluk Davina hingga akhirny Davina pun kehilangan tenaga dan terdengar suara panggilan...


" Vinn..."


" Vinnnn.. " panggil Kevin sambil memegang wajah Davina dan mengguncang tubuh Davina seraya menyadarkan Davina dari tidurnya..


perlahan mata Davina mulai terbuka dan bingung apa yang terjadi...


" Kevin.." ucap Davina kebingungan dan menoleh ke kiri kanan..


" Mamiii..."


" Mam.." panggil Davina mencari ibunya..

__ADS_1


" kamu cari siapa? " tanya Kevin heran


" tidak ada siapa-siapa di sini " kata Kevin menjelaskan..


terdengar suara langkah kaki memasuki tenda darurat yang ditempati Davina


" kamu nggak apa-apa Vin " ucap Bram sambil terengah-engah memasuki tenda..


melihat Bram datang Kevin pun melepaskan tangannya yang saat itu masih berada di wajah Davina dan berdiri..


" kamu sudah sadar sekarang dan sebaiknya aku pergi " kata Kevin meninggalkan Davina dan Bram


Davina bingung melihat sikap Kevin seperti itu, kadang muncul dan kadang hilang, Davina menghela nafas dalam-dalam membuang rasa kesalnya.


" kenapa Kevin bisa ada di sini " tanya Davina pada Bram


" ia, ketika kamu tertidur mereka datang memberitahukan jika suasana sudah aman"


" kemungkinan lusa, kita akan menuju distrik terdekat, untuk meminta bantuan agar kamu segera balik ke Jakarta " ucap Bram menjelaskannya.


Davina tersenyum bahagia mendengar penjelasan Bram, tak sabar dirinya ingin sekali berjumpa dengan ibunya, Maya dan Brian.


Davina melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 02.00 wib


"brarti hari ini kita akan tetap bertahan di sini?" tanya Davina sambil memegang perutnya yang sudah tidak kuat lagi menahan lapar..


Bram mengangguk dan mengelus kepala Davina..


" sebentar aku buatkan kamu makanan " ucap Bram lagi kemudian keluar


Davina tersenyum...


Ketika Bram pergi meninggalkan Davina, Davina merasa ada sesuatu yang melilit tangannya.


" rosario ? " bisik Davina dalam hati


" punya siapa " ucap Davina kebingungan..


tak lama Bram pun datang membawa semangkok mie.


Dengan lahap Davina menikmati mie tersebut seakan-akan Ia berada di restoran mahal dan menikmati semua hidangan yang ada sampai akhirny Davina tersadar jika Bram melihat tingkah lakunya. Davina tertawa kecil kemudian melanjutkan makanannya.


Bram mempersilahkan Davina untuk beristirahat kembali dan ia pun melangkah keluar.


Davina mencoba memejamkan matanya kembali namun tetap tak bisa terlelap, sembari mencari kantuknya datang Davina mengamati rosario yang melilit ditangannya terbayang pula wajah seseorang yang Davina yakini ia pemiliknya.


" besok akan ku kembalikan rosario ini " gumam Davina dalam hati.


...💮💮💮...


...Paginya......

__ADS_1


Matahari mulai memancarkan sinarnya dan menghapus setiap embun yang menghiasi dedaunan, terasa hangat menyinari bumi hingga membuat Davina pun terjaga dari tidurnya.


Dengan pelan Davina melangkahkan kakinya untuk berjemur di luar tenda.


Terasa hangat anugerah Tuhan yang luar biasa ini membuat Davina merasa bersyukur sampai detik ini ia masih diberi kesempatan untuk menikmati pagi.


" mau segelas teh " ucap Bram mengagetkan Davina..


" boleh.. " jawab Davina tersenyum kemudian menghentikan pandangannya ke suatu tempat di mana Kevin berada.


" ehmm... " Bram mengagetkan Davina untuk kedua kalinya


" ou maaf Bram " ucap Davina mengalihkan pandanganya ke Bram yang saat ini berdiri tepat di sampingnya.


" hari ini team akan survey lokasi dulu, jika sudah aman kita akan berangkat besok pagi " Bram memulai percakapan karena konsentrasi Davina saat ini terasa tidak fokus pada dirinya.


Bram menatap dalam Davina dan berucap...


" ketika semua sudah kembali normal, apa kita bisa bertemu Vin " tanya Bram sambil meneguk tehnya


Mendengar pertanyaan Bram, Davina bingung harus menjawab apa sementara tempat mereka berbeda.


Davina hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa mereka tetap bisa bertemu dan mencuri pandang ke arah Kevin yang sedang duduk menyendiri di antara bebatuan.


sosok yang sebenarnya harus dibenci tapi tidak bisa Davina lakukan. Wajah dingin dan cuek itu membuat daya tarik tersendiri.


" aahhh apa-apaan ini " gumam Davina menyadarkan dirinya dengan menepuk nepuk wajahnya.


Hari semakin siang dan semua prajurit yang ada selalu siap siaga termasuk Bram dan Kevin kecuali Davina yang bingung apa yang harus di lakukan.


Davina mencoba mencari kesibukan dengan diam-diam keluar dari tenda untuk mencari beberapa makanan yang ada di dalam hutan.


tanpa Davina sadari ada dua pria mengikuti jejaknya dan menghadang Davina saat hendak berbalik arah menuju perkemahan.


" weii tra duga sa ketemu deng perempuan cantik di tengah hutan begini noh " kata salah satu pria yang kemudian mendekati Davina dan mencoba menyentuh wajah Davina, dengan cepat Davina menepis tangan pria itu.


" beraninya ko pukul sa pu tangan " ucap pria itu kasar dan menarik rambut Davina.


Davina mengerang kesakitan terlebih lagi luka bekas pisau yang masih basah di leher Davina membuat Davina merasakan sakit yang luar biasa dan tamparan kecil pun mendarat di wajah Davina yang mencoba melawan beberapa kali.


" kalian mau apa " ucap Davina merintih kesakitan dan terasa ada cairan merah yang keluar dari mulutnya.


" kami mau koi " ucap pria itu dan tertawa keras


melihat kedua pria itu sedang asik tertawa Davina mengambil kesempatan berlari menjauhi kedua pria itu..


tersadar bahwa tangkapannya sudah kabur, kedua pria inipun mengejar Davina menyusuri semak-semak hutan.


Davina berlari tanpa henti kemudian menabrak seseorang yang berada di depannya, rasa takut dan cemas membuat Davina pasrah dengan keadaan. Davina mencoba memandang pria itu dan meminta ampun agar tidak menyakiti dirinya


"Kevin.. ???" ucap Davina keheranan

__ADS_1


__ADS_2