Keenan & Bella (Nikah SMA)

Keenan & Bella (Nikah SMA)
Episode 21 (Perhatian dari hati)


__ADS_3

"Heiii...." panggil keenan.


"Hey" Keenan memegang bahu bella yang sedang menunduk diam.


Bella langsung mengangkat kepala kemudian menatap Keenan.


"Kenapa?" tanya keenan datar tapi ada perasaan aneh dihatinya.


"Gapapa" jawab bella singkat membuat keenan menghela nafas.


"Yaudah, ayo pulang terus siap - siap sama pamitan kita juga pulang kan" ajak keenan.


Mereka tiba dirumah nenek, setelah itu keenan dan bella melakukan packing barang sendiri².


Disisi lain.


"Cucu nenek sudah besar yaa.."


"Iyaa, semoga cucu kita selalu bahagia"


Percakapan hangat kakek dan nenek saat mengintip keenan dan bella tengah sibuk berkemas dalam keheningan di dalam kamar.


Akhirnya mereka berdua sudah selesai.


"Kek, Nek keenan pamit dulu ya, jaga diri baik², jaga kesehatan terutama kakek.."


"Hehe.. iyaaa nan, ajak istrinya kesini ya kalau ada waktu" sahut kakek.


"Bella juga kalau liburan ajak suami kamu ini berkunjung kerumah nenek, kalau dia tidak mau paksa aja hehe" ucap nenek berharap.


Ucapan Kakek nenek barusan membuat bella dan keenan jadi salah tingkah. Maklum saja mereka belum terbiasa dengan panggilan itu.


"Yaudah kita pamit dulu kek, nek.." keenan dan bella memeluk kakek dan nenek bergantian.


"Assalamuallaikum"


"Waalaikumsallam"


Satu jam berlalu, akhirnya mereka berdua tiba di terminal. Keenan berjalan didepan diikuti bella dibelakangnya.


Saat mereka melintas di food area, bella melihat sesuatu. Entah kenapa tangannya reflek menarik jaket keenan sampai dia terhenti.


Keenan menoleh, "Kenapa?".


"Itu..." tunjuk bella ke sebuah penjual eskrim.


Awalnya keenan sedikit bingung, tetapi setelah melihat disana ada penjual eskrim akhirnya dia mengerti maksud bella.


"Mau?" tanya keenan.


Pertanyaan keenan membuat bella menjadi sumringah. Bella mengangguk antusias, tidak ada rasa sungkan sama sekali atau bahkan malu.


"Yaudahh ayooo beli"


"Makasih.." Bella langsung berjalan cepat menuju tempat itu, entah dia terlihat begitu bersemangat.


Keenan menggelengkan kepala heran melihat tingkah bella barusan.


Bella sudah dapat apa yang diinginkannya, dari tempatnya dia melihat keenan duduk di salah satu meja dengan kopi ditangannya yang tadi dia beli.


Bella pun segera menghampiri keenan.


Keenan terkejut melihat porsi eskrim yang dipesan bella, dia pikir bella akan mengambil satu cone ternyata tidak.


"Yakin habis?" tanya keenan tak percaya.


"Habis kok, keenan mau? enak loh" sahut bella sambil mencicipi.


"Gak.. yaudah dimakan"


Raut wajah bella terlihat jelas kalau dia sangat senang menikmati eskrimnya


Mereka berdua menikmati waktu santai itu sebelum pulang.


Bis yang ditunggu akhirnya tiba, mereka berdua pun segera naik. Kali ini mereka duduk dikursi sepasang agak belakang karena sudah hampir penuh.


Mereka duduk dalam diam, keduanya bingung mau berbuat apa.


"Gue tidur dulu yaa" ucap keenan sambil menempelkan headset di telinganya.


"Iyaa.."


×××


Setengah perjalanan.


Keenan terbangun mengerjapkan matanya berulang kali, merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Uhhhff.." suara bella yang langsung membuat keenan menoleh padanya.


Keenan terkejut langsung menegakan duduknya, bella tengah tertunduk membekap mulutnya.


Kenapa..? batin keenan heran, sedetik kemudian dia langsung sadar.


"Mabuk?" kaget keenan, kemudian langsung mencari wadah apapun yang bisa dipakai untuk bella.


Gotcha.. dia dapat kantong plastik bekas entah apa.


"Sini" tangan kanan keenan meraik tengkuk bella agar mendekat kearahnya.


Bella langsung memuntahkan isi perutnya begitu keenan memijit mijit tengkuknya dengan pelan.


Cukup lama keenan melakukan itu, sambil sesekali mengusap punggung bella.


"Udah?" tanya keenan diangguki bella.


Keenan meletakan plastiknya dibawah kursi yang sebelumnya sudah diikat.


"Minum dulu.." Keenan membantu bella untuk meminum air mineral.


Keenan meletakan minumnya lalu mencari apakah ada obat di tas bella, tapi tidak ada sama sekali.


"Mesti gimana, obat gakada" batin keenan bingung.


Keenan melihat kembali wajah bella, sepertinya masuk angin karena tidak tahan ac kendaraan dan mungkin saja bella kebanyakan makan eskrim.


Keenan menemukan jaket bella yang lain dari dalam tas bella.


"Pakai dulu" perintah keenan lalu memakaikan bella sebuah jaket.


Bella pasrah menerima bantuan dari keenan, dia merasa tubuhnya lemas sekali.


Bella menyadari kalau keenan terlihat sangat begitu khawatir dengan apa yang terjadi padanya. Tidak menyangka keenan memakaikan jaket padanya.


Keenan pun mendekap tubuh bella kepelukannya.


"Hangat dan nyaman, ngerasa tenang dan gak mual lagi" batin bella berucap dan jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


"Istirahat aja" ucap keenan.


Perlahan bella memejamkan mata sampai benar² terlelap dengan bersandar di dada keenan.


Entah berapa lama dia tidur, rasanya sangat cepat sampai keenan bangunin bella dengan mengusap pipinya berkali kali.


Ketika bella membuka mata, dia masih dengan posisi yang sama. Dia berpikir tadi adalah mimpi ternyata memang kenyataan, "Aduhhh maluu banget.." batin bella malu yang membuat wajahnya memerah.


"Kita hampir sampai" ucap keenan.


Keenan memberi jarak sedikit dengan sangat hati², tangan keenan menyentuh kening bella laku beralih ke leher.


"Pusing gak?" tanya keenan.


Bella hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Suhu badan lu panas, ntar kita mampir beli obat di apotik yaa" ucap keenan lalu membantu bella duduk bersandar dan nengatur posisi kursi setengah tidur.


Keenan tersadar dengan apa yang telah dia lakukan tadi terhadap bella. "Njirr ini kaya bukan gue, entah kenapa gue tadi meluk bella. Aduh maluu gue" batin keenan malu.


"Tapi entah kapan ini dimulai, dari lubuk hati yang paling dalam gue gak akan biarin belka jatuh sakit!" batinnya berucap lagi.


Hingga mereka sudah sampai dan sekarang sedang menunggu GrabCar untuk pulang kerumah.


"Masih sakit?" Tanya keenan dan hanya dibalas dengan gelengan kepala dari bella.


Dan GrabCar pun datang, tanpa menunggu waktu lama mereka berdua pun langsung naik.


"Ke apotik terdekat dulu pak" ucap keenan.


Di dalam mobil masih dalam suasana keheningan, hingga sampai di apotik. Keenan langsung turun masuk apotik, membeli beberapa obat yang dibutuhkan lalu kembali ke dalam mobil.


"Jalan pak"


GrabCar pun melaju.


Di dalam mobil keenan teringat kejadian bella di bis. Keenan menanya dengan nada khawatir.


"Masih mual?" Tanya keenan dan bella pun menoleh.


"Udah engga kok" jawabnya sambil tersenyum.


"Njirrrr manisss bangettttt senyumnya kalau diliat dari jarak sedekat ini. Cantik!" batin keenan.


"Ohh.. oke tapi ini nanti dimakan yaa obatnya" ucap keenan.


"Iyaa makasih yaa, keenan udah baik sama bella" ucap bella yang membuat jantung keenan berdegup kencang, dia hanya melongo.


Tak terasa hingga mereka pun sampai dirumah.


Keenan langsung membuka pintu rumah, sepi sekali seperti tidak ada orang. Keenan mengajak bella menaruh barang bawaan terlebih dahulu ke kamar dan juga menyuruhnya segera makan lalu meminum obat yang tadi.


Setelah bella makan dan meminum obatnya, bella menghampiri keenan yang sudah ada di kamarnya.


"Keenan..." panggil bella.


"Iyaaa"


"Euhhh aku ingin bicara" ucap bella sedikit tergesa gesa.


"Iyaa kenapa?" jawab keenan seperti biasa.


"A...aku ingin tinggal dirumah peninggalan mama?" ucap Bella


"Kenapa?" Tanya keenan, lebih baik saling terbuka.


"Bell, engga mungkin kita tinggal di Garut. Tanggung kita sudah kelas 3 SMA disini" ucap keenan dengan nada pelan.


"Tapi...Aku ingin disana nan" ucap bella seketika diikuti dengan air yang mengalir dipipinya.


Keenan kaget melihat bella yang menangis, dia sendiri bingung tadi sudah tak apa² tapi sekarang? Hingga keenan langsung memeluknya kembali.


"Aku ngerti kalau kamu inget mama. Tapi percaya bell udah ada aku disini dan mama kamu juga pasti senang melihat kamu yang sekarang, kalau kamu menangis terus menerus begini, mama kamu juga bakalan ikut sedih" ucap keenan dengan memeluk bella.


"Gini saja, aku pernah bilang pada bella kalau aku ingin hidup mandiri dan mungkin bella juga tidak mau terus disini. Mungkin memang lebih baik kalau kita berdua itu memulai dari awal".


"Dan bell, ayah juga ada rumah yang di lembang itu rumah keluargaku sebelum pindah kerumah ini, mungkin rumahnya memang sederhana buat kita berdua. Bella mau kan?"


Ucapan keenan saat memeluk bella membuat tangisan bella semakin kencang. Bella pun membalas pelukan keenan dengan erat seperti tidak mau melepaskan.


Didalam pelukan keenan bella berucap "A...aku taku, Bella takut nan".


"Gak usah takut, karena dihidupnya bella sekarang kan ada keenan" ucap keenan menenangkan dengan mengelus rambut bella.


"Okee besok kita liat dulu rumahnya yaa" ucap keenan.


"Iyaa nan.." jawab bella.


"Udah dong jangan nangis hehe"


"Makasih keenan" ucap bella yang kemudian menghapus air matanya dengan tangan.


Hingga "Loh Bang udah sampai?" ucap seseorang. Keenan langsung menoleh kearah pintu kamar.


"Emmmmm lagi mesra² an yaa hehe, tuhh dipanggil Bunda" ucap isal yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


Keenan dan bella pun langsung menyusul isal kebawah.


"Lahh.. kalian kok gak bilang bunda kalau udah sampai" ucap bunda khawatir.


"Maaf nda, tadi agak buru² soalnya.." jawab bella bingung, dia pikir keenan sudah memberi tahu bundanya.


"Gak boleh gitu sayang, lain kali harus kabarin bunda yah.. bunda khwatir sama kalian".


"Bunda abis dari mana?" tanya keenan.


"Dari optik, nganterin ayah beli kacamata" jawab bunda.


"Kamu juga gak ngabarin bunda kalau udah sampai hmm" heran bunda.


"Lupa nda hehe.." jawab keenan membuat bundanya mengernyit.


"Kamu tuh selalu yaa" ucap bunda.


"Ehh iyaa nda ayah mana?" tanya keenan serius.


"Tuh di ruangannya" jawab bunda sembari menunjuk kearah ruangan ayah.


Keenan pun langsung menghampiri ayah nya yang ada di ruangannya.


Tok.. tok.. tok..


"Iyaa masuk" ucap ayah.


"Ini keenan yah" jawab keenan yang sembari menutup pintunya kembali.


"Ehh kamu udah pulang gak ngabarin".

__ADS_1


"Hehe iyaa lupa yah hehe".


"Awas lain kali harus ngabarin yaa, terus ada perlu apa nih?" tanya Ayah yang sedang heran melihat ada bekas tutup botol di meja ruangannya.


Awalnya keenan kaget saat melihat ayah keheranan dengan tutup botol yang ada di meja nya, karna dia tau kalau tutup botol itu bekas keenan waktu lalu, tapi keenan langsung mengalihkan pandangan ayahnya dengan apa yang ingin dia bicarakan.


"Yahh.. Aku dan Bella berdua ingin tinggal dirumah yang ada di lembang, rumah keluarga kita yang dulu". ucap keenan datar.


"Gak... Rumah terlalu besar buat kalian berdua, apalagi jaraknya juga jauh sama rumah kita" ucap Bunda yang tiba² muncul dari pintu.


Keenan terkejut,


"Tapi rumahnya gak sebesar rumah ini nda, kalau jarak memang iya jauh tapi kan sekarang sudah canggih" ucap keenan pada bunda.


"Dulu kamu gamau tinggal disana kan!"


"Maaf nda, sekarang sudah berbeda" ucap keenan sembari menundukan kepala.


"Kalau ada apa² dengan kalian bagaimana keenan, kalian juga baru belajar, masih sekolah, kasihan juga bella nanti ngurus rumah sendirian" jelas bunda, memang ada benarnya.


"Bunda percaya sama keenan, semuanya pasti baik² aja" keenan meyakinkan bunda.


"Gimana yang baik², kamu saja kalau keluyuran masih lupa waktu, tidur juga masih dibangunin bunda, malamnya pantengin komputer terus. Apakah semua itu tidak akan menyulitkan bella kalau kalian tinggal berdua?" ucap bunda bersikukuh.


Terlihat Ayah mengelus lengan bunda.


"Emm.. Apa kalian berdua sudah membahasnya?" akhirnya ayah angkat bicara sambil memegang pundak bunda.


"Sudah yah. Saat pulang tadi, kita juga besok mau kesana dan itu keputusan kita berdua" jujur keenan.


"Benarkah bella setuu?" tanya Ayah.


"Bella setuju Yah" Sahut keenan.


Ayah menyenderkan kepalanya. "Panggil bella" perintah ayah.


Keenan sempat bingung tapi, yaa mau bagaimana lagi karena bella juga terlibat karena permintaanya itu.


Kemudian keenan keluar dari ruangan pribadi ayah, lalu terdengar suara percakapan dari ruang keluarga. Ternyata Isal dan bella sengan asik mengobrol, hingga tidak sadar akan kedatangan keenan.


Keenan mendekat dan berdiri tepat didepan bella.


Isal menoleh kearah keenan diikuti bella.


"Bang, ada apa sih sebenarnya?" tanya isal.


Keenan hanya diam, malah melihat bella dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


"Ayah nyuruh masuk" ucap keenan seraya mengulurkan tangannya pada bella.


"Ayoo.." tangan keenan masih menunggu sambutan bella.


Bella sedikit ragu, takut, cemas, apakah bunda dan ayah marah? keenan meraih tangan bella secara paksa lalu menarik bella bangkit dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruang keluarga.


Sampai di depan pintu ruangan ayah, keenan berhenti didepan pintu yang tertutup dengan posisi memunggungi bella.


"Ungkapkan semua yang ada di dalam hati dan pikiran, gak usah takut ada aku disamping kamu" ucap keenan yang kemudian mengeratkan genggamannya di tangan bella lalu mengajak masuk.


Setelah masuk, ayah menyuruh keenan dan bella duduk.


"Bella.." panggil ayah.


"Iyaaa yahh?"


"Kamu pasti tau masalahnya kan? Apa benar kamu setuju untuk tinggal dirumah yang di lembang?"


Bella mengangguk.


"Sayang, apa keenan memaksamu?" tanya bunda kali ini dibalas gelengan kepala dari bella.


"Sekarang kalian bagaimana?" tanya Ayah.


Bella bingung dengan pertanyaan ayah yang satu ini.


"Apa kalian sudah bisa saling menyayangi dan mencintai satu sama lain seperti layaknya pasangan suami istri?"


Deg.. deg.. deg..


Keduanya terdiam, bella dan keenan terdiam sesaat kemudian "Bella akan mulai belajar menyayangi keenan ayah, bunda". ucap bella.


Membuat keenan terkejut dan langsung menoleh ke bella, dari nada yang bella ucapkan sama sekali tidak terdengar sebuah kebohongan.


Bella benar² tulus dan serius.


"Kamu keenan?" tanya Bunda tegas.


Keenan sebenarnya sudah mulai nyaman dengan kehadiran bella, tapi soal perasaan masih ragu. Keenan terkejut saat bella menggenggam tangan kiri keenan dihadapan ayah dan bunda.


Dan mungkin karena itu keenan tau, Bella benar² ingin menjalani semua ini dengan tekad yang kuat meskipun pada awalnya semua sulit.


"Keenan juga akan belajar, keenan pasti bisa buktiin sama bunda dan ayah".


"Keenan akan menyayangi bella, menjaga bella, melindungi bella, menjadi suami dan imam yang baik untuk bella" ucap keenan. Tiba² genggaman tangan bella menghangat.


"Kita serius Bunda, Ayah" lanjut bella mengangguk pelan dengan nada lembut.


Bunda dan ayah menatap mereka berdua tak percaya, lalu perlahan bunda menampilkan senyuman cantiknya.


"Bunda anggap itu sebagai janji kalian ke bunda"


"Gimana yah?" giliran bunda tanya ke ayah.


Keenan membalas genggaman tangan bella, dan berdoa agar ayah sejalan dengan kemauan keenan dan bella.


Ayah tengah berpikir.


"Baiklah kalian memang harus banyak belajar dan jadilah orang yang bertanggung jawab, saling memahami, saling percaya, kalau ada masalah diselesaikan baik², kalau satu salah yang satu saling mengingatkan".


"Kalian boleh tinggal disana"


Kemudian keenan merasa lega dengan menyenderkan kepalanya ke sofa dan suasana pun sudah mulai berubah menjadi santai. Kemudian tangan kanan bunda mengelus kepala bella.


"Keenan.." panggil bunda.


"Iyaa.."


"Bella prioritas kamu, jangan buat dia sedih apalagi menangis, awas yaa.. surganya istri adalah suami, jadilah orang yang baik".


Keenan hanya terdiam, merekam semua ucapan bunda di otaknya dia berdoa semoga semuanya bisa diputar setiap saat.


"Bella sayang. Bunda tau kamu lebih pandai dari keenan, kamu juga yang paling sabar. Masalah apapun yang menyangkut kalian akan muncul seiring berjalannya waktu, bunda berharap kamu bisa mencari jalan kekuarnya".


"Kalau keenan bandel, jangan ambil hati.. marahin aja gakpapa"


Bunda tersenyum diikuti bella. Senyum yang membuat keenan semangat menjalani ini semua.


Setiap kejadian pasti akan ada hikmahnya. Kehidupan dan tujuan keenan dengan bella, dimulai dari detik ini.

__ADS_1


__ADS_2