
Hamil muda bagi Erica sangat berat karena setiap pagi dia harus muntah-muntah. Dia merasakan kelelahan dan pusing yang terus menerus, mencium bau-bau saja dia merasa ingin muntah. Hanya sisa 1 bulan lagi untuk melewatin masa trisemeter pertamanya.
Awalnya Erica hanya mengalamin gejala ringan dari kehamilannya ini, masih mampu mengerjakan pekerjaan lainnya.
Ryan sangat senang atas kehamilan Erica, tetapi dimasa ini lah Erica bisa melihat Ryan orangnya bagaimana sesungguhnya, karena selama ini Erica tidak pernah merepotkan Ryan, Erica selalu mengerjakan pekerjaan rumah hingga selesai, memasak, dan melayanin Ryan memenuhin apa yang Ryan butuhkan.
Hoek! Hoek! Hoek!
Lagi-lagi Erica muntah dan berada dikamar mandi, Ryan membantu memberikan Erica minum dan minyak kayu putih di leher dan pundak Erica.
"Istirahat saja dulu" kata Ryan.
"Iya, tapi kerjaan rumah masih banyak" kata Erica.
"Udah biarkan aja, kamu udah enakan baru kerjakan" jawab Ryan.
Erica hanya mengangguk saja.
Ryan pun pergi ke kantornya.
Erica kembali kekasurnya untuk beristirahat.
Disiang hari Erica hanya dapat makan buah-buahan.
***
__ADS_1
Ryan sudah pulang dari kantornya, dia melihat kondisi rumah yang tidak terurus sangat tidak terurus baginya untuk pertama kali.
"Erica, kenapa rumah ini berantakan sekali" kata Ryan, setelah melihat Erica yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aku, lelah tidak sanggup membersihkannya!" Kata Erica.
"Biasanya kamu bisa membersihkannya" kata Ryan sedikit tidak suka, karena dia risih dengan rumah yang berantakan, padahal jika dia sendiri, keadaan dia urus juga berantakan, semenjak menikah yang dia inginkan ada perfect dalam segala hal.
"Hari ini sangat lelah, aku saja hanya makan buah" kata Erica.
"Kamu kenapa hanya makan buah, tidak makan yang lainnya biar nutrisi janin terpenuhi" kata Ryan
"Aku gak bisa makan, mencium baunya saja membuat ku mual" jawab Erica.
"Kamu jangan malas bergitu, ingat kamu tidak sendiri, kamu mengandung anakku"
"Agh, sudahlah aku mau mandi" kata Ryan mengalihkan pembicaraan.
Hal ini membuat Erica sedikit bersedih, kenapa Ryan tidak mengerti kondisinya, kenapa harus bergitu kata-katanya. Padahal sebelumnya Ryan sangat memperhatikannya.
Ryan bukanlah orang yang suka menerima alasan orang lain, menurut dia jika dia benar, maka dia benar, tidak ada alasan apa pun.
Erica pun segera naik ke kasurnya dan untuk tidur, dia pun menangis diatas kasurnya, menangis dalam diam, hanya bantalnya yang menjadi basah, tidak berapa lama pun Erica tertidur.
Ketika Ryan selesai mandi, dia melihat Erica tertidur pun, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kebiasaan" batin Ryan.
Lalu Ryan pun memperhatikan perut Erica yang masih terlihat rata hanya gumpalan lemak yang sedikit menonjol.
Dia berjongkok ditepian kasur, karena Erica tertidur dengan memiringkan badannya.
Ryan membuka sedikit baju Erica dan mengusapnya. Ryan nampak menyayangin anaknya.
"Sayang, tidur ya, besok jangan nakal, kasian mama mu, dia tidak bisa melakukan apa-apa" kata Ryan pelan. Dan mencium perut rata Erica.
Erica yang merasakan bibir dingin dikulit perutnya pun sedikit membuka mata, tetapi ia kembali menutup mata, berpura-pura masih tertidur, agar Ryan tidak mengetahuinya.
Erica, senang Ryan menyayangin anaknya.
Tetapi perlakuan Ryan yang tidak mengerti kondisi kehamilan awal, yang membuat Erica sedikit kecewa.
"Nak, bagaimana kondisi mu" suara dari telepon yang terdengar diseberang sana.
"Baik ma, cuma capek ma, mual,muntah pusing terus kepala ini, mau makan apapun susah" kata Erica kepada mamanya, karena yang menelepon saat ini mamanya.
"Sama kayak mama, waktu mengandung mu nak, kamu pasti bisa laluin, nanti sudah masuk bulan ke-4, keadaan kamu bakal lebih baik" kata mamanya.
"Iya ma, doain ya ma baik-baik aja selalu"
"Mama akan selalu berdoa buat anak mama dan cucu mama" kata mama Erica.
__ADS_1
"Udah dulu ya ma, Erica mau mandi" kata Erica.
"Iya" kata mamanya lalu menutup teleponnya.