
"Dimana suami saya, Sus?" Tanya Erica yang sedang menahan sakitnya.
"Ada diluar Bu, sepertinya menelepon keluarga" jawab Susternya.
"Ini sudah pembukaan 3 ya bu!" Kata Susternya karena saat ini Erica hanya bersama Suster saja karena pembukaannya belum sempurna Bidan yang tadi menunggu akhirnya pergi dulu.
"Aduhh, apakah mama ku waktu melahirkan aku begini juga sakitnya" Erica berbicara dalam hatinya masih dalam kondisi menahan sakit, meringgis kesakitan, yang datang setiap 10 menit sekali.
Ryan masuk keruangan bersalin dan melihat Erica yang kesakitan dengan perutnya, Erica membolak balikkan badannya, mencari posisi enak untuknya tidak kesakitan, tetap tetap saja rasa sakit mau melahirkan lebih kuat.
"Ryan, aku mau lahir normal ya!" Kata Erica ketika melihat Ryan masuk keruangan.
"Iya, tetapi ya sesuai tindakan dari Bidannya" begitu kata Ryan.
"Pokoknya aku mau normal" masih sempat-sempatnya Erica mengotot ingin melahirkan normal.
"Jangan berdebat la disituasi begini, ikutin saja Bidan, mana yang terbaik, yang penting kalian berdua selamat dan sehat!" Jawab Ryan yang sudah mulai tidak sabar menghadapin Erica, karena Ryan juga merasa gugup, capek, dan ada rasa bahagianya, karena sebentar lagi akan jadi seorang papa baginya.
Sekarang Bidan disana sedang melakukan Usg terhadap bayinya Erica sebelum untuk dilahirkan, dan ternyata sudah terlilit tali pusatnya dan menurut Bidan sepertinya Erica akan dilakukan tindakan operasi.
__ADS_1
Melihat juga karena Erica terjatuh tadi.
"Bidan pun memberitahu Ryan jika Erica akan di lakukan tindakan operasi mendadak melihat kondisi dia sekarang.
"Aku enggak mau di operasi Sus" kata Erica
"Ini buat keselamatan anak dan ibu sendiri" jawab Susternya.
"Iya bu" kata Bu Bidannya.
"Sudah jangan membantah lagi" jawab Eyan karena dia sudah mengnandatanganin surat pernyataan untuk operasi kelahiran anaknya.
Bidan meminta Suster dan yang lainnya mempersiapan operasinya, dan juga didampingin oleh Dokter Robi, karena sebelumnya mereka Suster telah menghubungin Dokter tersebut.
Tidak berapa lama pun ruangan operasi pun telah disiapkan.
"Pak, apa anda akan menemanin istri anda didalam?" Tanya Susternya.
"Tidak Sus! Saya takut darah" kata Ryan, kenyataannya Ryan tidak takut darah, hanya saja Ryan tidak kuasa menunggu lama didalam sana.
__ADS_1
Erica yang mendengar percakapan tersebut merasa sedih, dia harus ceasar dan sendirian dalam ruang operasi tersebut, kedinginan didalamnya bagi Erica. Dalam kesakitan begini saja masih tidak ditemanin oleh suami sendiri, anak dari Ryan sendiri.
Erica menangis sebentar dalam diamnya sambil menahan sakit, jadi itu bisa di anggap air mata kesakitan atau air mata kekecewaan bagi Erica.
Erica telah dipersiapkan oleh Suster dan langsung ke ruang operasinya, disana ada 2 orang Suster yang menahan badan Erica agar jangan banyak bergerak karena Dokter anestesi akan menyuntikan suntikan pada tulang belakang Erica. Dengan posisi Erica diminta untuk duduk menghadap ke depan.
Ketika sakit akan kontraksi datang, Erica akan bergerak terus untuk menahan rasa sakitnya melahirkan.
Tetapi ketika Dokter sudah dapat menyuntiknya, rasa sakit kontraksi tersebut langsung hilang dalam hitungan 1 menit.
Erica pun di baringkan dan Suster menglap kaki Erica dengan alkohol, untuk mempersiapan operasinya. Dokter atau pun Suster lainnya masih bisa mengajak Erica berbicara karena hanya batas perut sampai ke kaki Erica yang tidak terasa karena suntikan tersebut.
Ryan yang menuju di luar dengan gelisahnya.
Kira-kira 2 jam menuju Erica yang sedang dioperasi untuk kelahiran anaknya.
Oek! Oek! Oek!
Suara dari dalam ruang bersalin.
__ADS_1
Akhirnya Ryan merasa lega setelah mendengar suara tangis bayi dari dalam ruangan, tetapi dia belum mengetahui kondisi Erica.