
Hari merupakan acara yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Ryan dan Erica, dimana anak mereka kini tepat berusia 1 tahun.
Orang tua Ryan juga sudah tiba pagi tadi sekitar jam 7 pagi. Mereka kini menghias sedikit rumah mereka dengan balon-balon serta pita-pita.
"Ini mau letak mana?" Tanya Erica.
"Letak mana pun boleh yang pasti bagus saja!" Jawab Ryan.
"Sini boleh?" Tanya Erica ke Ryan.
"Jangan, jelek sana!" Jawab Ryan.
"Tadi bilangnya letak mana pun ok, sekarang letak sini salah, letak sana salah, jadi maunya yang gimana?" Tanya Erica.
"Ya kamu atur saja lah!" Jawab Ryan.
"Agh, capek ngomong sama kamu, gak jelas" jawab Erica.
Erica malas untuk berdebat lebih jauh dengan Ryan, dia selalu memilih mengalah, jika dilanjutkan yang ada dia rasakan hari ini akan menjadi buruk, bukan suatu kebahagiaan.
"Sabar ya!" Kata mama Ryan, ternyata mama Ryan tadi mendengar pembicaraan mereka.
"Ryan memang begitu, kita yang selalu salah, dia benar, tetapi sekali di tanya, tak mau tau!" Kata mama Ryan.
"Iya ma, serba salah sebenarnya Ica ma sifat dia begitu, cuma ya Ica pilih mengalah aja la ma!" Jawab Erica.
"Iya bagus lah nak" jawab mama Ryan.
Hanya mama Ryan lah yang mengerti akan sifat Ryan yang begitu, Erica baru mengetahuinya setelah menikah dengan Ryan, kehidupan pernikahan dan dalam masa pacaran memang lah sangat berbeda bagi Erica, apa yang benar-benar tersembunyi, tidak terlihat diwaktu pacaran, akan keluar setelah menikah, walaupun disaat pacaran semuanya terbuka terhadap masing-masing.
__ADS_1
"Sudah siap semua, sudah ada tamu yang datang itu?" Tanya mama Erica, berjalan mendekatin anak dan besannya.
"Oh, sudah ma!" Jawab Erica.
"Capek gak mbak?" Tanya mama Erica ke mama Ryan.
" Enggak kog, demi cucu kita!" Jawab mama Ryan.
"Iya, cucu satu-satunya kita saat ini, Ica sudah boleh nambah lagi!" Kata mama Erica.
"Belum lah ma, Erwin masih kecil lah!" Jawab Erica, bagi dia, dia belum siap untuk mempunyai anak kedua dengan kondisi sikap Ryan yang cuek, tidak mau membantu menjaga anaknya.
"Iya sedapatnya Tuhan kasih ya!" Kata mama Ryan.
Bagi nenek-nenek dan kakeknya, mereka akan lebih menyayangin cucunya, ketika sudah mendapatkan seorang cucu bahkan lebih lagi, bahkan melebihi sayang ke anaknya. Cucu bagi mereka segalanya.
Mita tamu pertama yang datang sedang berjalan menuju Erica, kini dia hadir bersama ketiga anaknya dan suaminya.
"Ayo anak mama sayang kenalan sama Tante dan nenek?" Kata Mita sambil bersalaman mereka.
Mereka semua saling berjabat tangan dan berkenalan.
"3 anak cewek ya!" Kata mama Ryan.
"Iya Tante!" Jawab Mita.
"Boleh nambah lagi anak cowok!" Tambah mama Erica.
"Belum saatnya Tante!" Jawab Mita.
__ADS_1
"Dimana Erwin?" Tanya Mita.
"Lagi sama para lelaki dibelakang sana!" Jawab Erica.
Kini semua tamu yang diundang dlsedikit demi sedikit berdatangan, tidak banyak yang diundang, hanya keluarga dan teman dekat, termasuk ada Yuli dan Budi.
"Iih, makin ganteng deh!" Kata Yuli, ketika melihat Erwin yang dalam gendongan papanya.
"Makasi Tante" jawab Erica sambil meniru suara anak kecil, ketika Erica menemui Yuli dan Budi.
"Tiup lilinya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga!" Suara semua yang hadir sedang bernyanyi di iringin tepok tangan mereka semuanya menambah kemeriahan ulang tahun Erwin.
Erwin terlihat sangat senang karena adanya api kecil dikuenya, di sertai dengan ramainya orang yang datang, padahal hari biasanya mereka hanya bertiga ataupun berdua ketika Ryan pergi kerja.
Ryan dan Erica mendampingin anaknya untuk tiup lilin dan membantu Erwin memotong kuenya, setelah selesai Erica dan Ryan memberikan kecupan di masing-masing pipi dan kening Erwin, anak tersebut sangat bahagia. Mereka tampak keluarga yang sangat harmonis. Tetapi bagi Erica, orang lain tidak bisa melihat hanya dari luarnya saja.
Semuanya yang hadir memberikan selamat dan mereka juga memberikan kecupan untuk Erwin. Mereka berfoto ria, termasuk dengan Ryan dan Erica.
Semuanya berbahagia.
Nenek-nenek dan Kakeknya Erwin memberikan beberapa benda seperti pulpen, uang, mainan dan kue.
Mereka ingin melihat Erwin memilih apa.
Erwin merangkak dengan kecepatannya dan memperlambat ketika sudah mendekatin benda-benda yang dia lihat.
Orang-orang pada memberi sorakan untuk pilihan Erwin.
Erwin terlihat binggung, akhirnya Erwin memajukan tangannya, dan dia memilih uang karena uang yang dikeluarkan berwarna merah lebih terang, anak kecil menyukai warna yang terang.
__ADS_1
Bagi kakek dan nenek-neneknya pilihan Erwin menarik, menandakan dia akan giat mencari rejeki.