
Hari ini, hari ke-3 Erica berada dirumah sakit dan Erica sedang mempersiapkan diri untuk pulang karena telah di izinkan oleh Dokternya, tetapi setelah 1 minggu pulang Erica diminta untuk konsultasi kembali tentang kondisinya. Keluarga mereka pun telah pulang setelah berebutan mengendong Erwin.
Kini Erica tengah mengemaskan barang-barangnya yang awalnya hanya 1 tas kini melebihin di karenakan pemberiaan keluarga dan teman-temannya dan Ryan.
Ryan lagi mendiamkan Erwin ketika Erica berkemas, tetapi yang namanya Ryan, baginya hal itu terlalu lama untuk mengemas, sedangkan dia sendiri tidak mau membantu mengemasnya.
"Lamanya hanya mengemas begitu?" Kata Ryan ketus.
"Kalau lama kemas sendiri, sini biar aku yang gendong Ryan!" Jawab Erica.
"Agh, sudahlah cepat saja, capek aku mengendongnya ini, itu tugas mu" kata Ryan.
"Bising" jawab Erica kesal, kini Erica lebih mudah kepancing emosinya
Setelah selesai dengan barang-barang yang sudah siap di bawa pulang, mereka pun segera melunaskan tagihan rumah sakit dan segera pulang, Erica nampak berjalan seperti biasa, tidak seperti orang habis melahirkan, "enak juga ya seacar, gak sakit bagaimana" dalam hati Erica berkata, tetapi dia dengelar dari teman-temannya ada saatnya sakit jika seacar ini.
Erwin yang telah sampai dirumah orang tuanya merasa binggung dan dia pun menangis terus, ada setengah jam Erica dan Ryan berusaha menenangkan Erwin dikamar, Erica memberinya asi dan mungkin karena lelah menangis dia pun terdiam.
"Duuuh berisik" kata Ryan
"Besok aku kerja ini!" Kata Ryan lagi setelah mendengar tangis Erwin yang tiba-tiba menangis lagi dan kondisi Erica sedang ke toilet
__ADS_1
"Duuh, sayang papa jangan nangis ya, mama lagi ke toilet tunggu ya"
Cup! cup! cup!
Ryan mencium pipi kanan kiri dan kening Erwin.
"Lama sekali ketoilet enggak dengar apa Erwin nangis, enggak bisa ditenangkan kah, besok aku kerja" kata Ryan kasar, Ryan merasa kelelahan karena beberapa hari berada dirumah sakit.
"Orang sakit perut bagaimana, enggak bisa juga cepat-cepat yang ada luka ku terbuka, lebih parah lagi" jawab Erica sambil jalan menuju Erwin dan mau menidurkan Erwin lagi.
"Sayang mama, bobok ya!"
Cup! Cup! Cup! Erica menciumin anaknya, yang belum mengerti apa-apa malah hanya diam saja, kaki tangan saja tidak bisa bergerak karena dibedong.
"Iih, rasanya begini ya punya anak, ini suami malah balik tidur enggak bantuin, seperti aku belum siap punya anak. Hua! Hua! hua!" batin Erica menangis, dan tiba-tiba saja air matanya keluar, dia menangis sambil menyusui anaknya. Baru saja begini Erica sudah merasa lelah mengurus Erwin.
Kini Ryan mempekerjakan, seorang assisten rumah tangan yang kira-kira berumur 45 tahun untuk membantu Erica sehari-hari dirumah, tetapi tidak menginap karena assisten tersebut rumahnya dekat dengan rumah Ryan.
Ting! Ting! Ting!
Bunyi chat diaplikasi Whatsapp Erica masuk, sekali dilihatnya ternyata itu kiriman dari Mita.
__ADS_1
"Selamat ya atas kelahiran putranya, namanya siapa" begini lah isi chatnya Mita.
"Terima kasih, datang lah kesini, anakmu sudah besar ya?" Balas Erica.
"Iya sudah 3 bulan lo, nanti aku kesana ya tunggu sempat" balas Mita.
"Ow iya, anakmu cewek ya"
"Iya ni, nampaknya jodoh anakmu" balas Mita.
"Kalau jodoh tidak masalah, hehe" balas Erica.
Tiba-tiba ada lagi pesan chat yang masuk.
"Selamat Erica, atas kelahiran putranya, ganteng kaya papanya" chat dari Yuli.
"Terima kasih Yul, kesini ya nanti aku benar-benar stress, enggak sanggup rasanya" balas Erica.
"Duuh yang sabar ya, baru anak pertama lo!" Balas Yuli.
"Kamu bisa bicara sabar, tetapi nanti deh kamu rasakan kalau punya anak" balas Erica.
__ADS_1
Yuli yang hanya membaca chat dari Erica tidak berniay lagi membalas, sepertinya Erica benar berubah dari punya anak, seperti yang dia dapat kabar dari teman-temannya.