Kehidupan Setelah Pernikahan

Kehidupan Setelah Pernikahan
Ep 18. Sedih


__ADS_3

Kehamilan Erica membuatnya seperti menjadi wanita lemah baginya. Walau dia berusaha untuk menguatkan tubuhnya.


Hari ini Erica mempunyai jadwal cek kandungannya, ia merasa senang karena dapat melihat perkembangan si bayi dalam perutnya. "Apakah anakku ini sudah berbentuk ya?" Batin Erica.


"Mama senang nak, mau bertemu kamu, sehat-sehat ya nak, hanya kamu yang selalu menemanin mama sekarang, papa mu tidak tau mengapa merubah sifatnya yang dulu sangat perhatian ke mama, tetapi tenang nak, papa sangat menyayangin mu, buktinya semalam papa bicarakan sama kamu, kamu dengar kata papa ya, agar papa senang!" Erica berbicara dalam batinnya untuk anaknya, seolah anaknya sedang dihadapannya, sambil mengelus perutnya.


"Ica, belum mandi juga kamu, mau jadi apa kamu begitu terus, mau jadi wanita malaskah, jangan diturutkan kemauanmu?!" Kata Ryan yang sudah berpakaiaan rapi siap untuk kerja.


"Sayang, nanti jadikan temanin aku periksa kandungan?!" Tanya Erica.


"Kamu sendiri saja, aku sibuk jangan manja, orang rumah sakitnya kan dekat juga!" Jawab Ryan.


"Tapi aku!"


"Sudahlah, aku sudah telat, ingat nanti hati-hati aja dijalan, jangan ceroboh, jaga anak kita!" Kata Ryan, sebelum Erica menyelesaikan pembicaraannya.


"Iya" jawab Erica yang nampak kecewa pada suaminya yang tidak mau menemankannya memeriksa kandungan, ia sangat ingin seperti wanita pada umumnya yang ditemankan suaminya untuk memeriksakan kandungan, apalagi baginya ini pengalaman pertama anak pertamanya.


"Tapi aku ingin kamu ikut, sebagai papa anak kita, kamu liat perkembangannya langsung!" Batin Erica.


Ryan pun segera mengambil tasnya, memakai kaos kaki dan sepatunya, dan kunci mobilnya, dia pun segera pergi ketika Erica sedang berada di toilet untuk memuntahkan isi perutnya untuk pagi ini.


Ketika Erica keluar dia sudah tidak melihat keberadaan Ryan dirumah. "Begitu sibuknya kamu, sampai tidak mau menemaninku, kamu lebih mementingkan pekerjaanmu" batin Erica tanpa dirasa air matanya menetes membasahi pipinya, dia cepat-cepat mengusapnya tetapi tetap saja air matanya mengalir terus, hatinya terasa sakit, ia kecewa terhadap suaminya. Ia menangis diam tanpa suara. Bagaimana pun bagi Erica ditemankan suami adalah yang terbaik.


Ryan memanglah sangat profesional dalam bekerja.


Erica bersiap untuk kerumah sakit karena waktu sudah menujukan pukul 10 pagi.


"Pakai yang mana ya biar terlihat bumil cantik" batin Erica. Setelah memilih pakaiaannya, yang dia merasa cocok dan enak untuk nanti periksa kandungan, dia pun segera memesan go-car.


Didalam go-car Erica teringat lagi kejadian tadi pagi, atas sikap Ryan terhadapnya, baginya harusnya yang sekarang menyupir itu bukanlah orang lain, harusnya Ryanlah yang mengantarnya.


Sesampainya dirumah sakit Erica segera mendaftarkan namanya, berat badannya ditimbang, tensinya dicek, sesudah itu ia pun menunggu dikursi yang tersedia, ia melihat beberapa orang ibu hamil yang ditemanin oleh suaminya, mereka berbicara, mereka bercanda, membuat Erica iri atasnya.


"Enaknya mereka yang sama suaminya!, Liat tu nak, teman-temanmu yang disini datang ditemanin papa mereka, kita hanya berdua ya, papa sibuk nak!" Batin Erica berbicara pada anaknya, sambil mengelus perutnya.


"Sudah berapa bulan mbak, sendirian aja ya!" Tegur seorang wanita yang perutnya sudah nampak buncit.

__ADS_1


"Hm, sudah 3 bulan mbak, iya saya sendirian saja!" Jawab Erica.


"Samalah, saya juga sendirian, suamiku lagi sibuk karena dia bilang ada meeting!" Kata wanita tersebut.


"Kenalin saya, Mita" kata wanita tersebut.


"Saya Erica, biasa di panggil Ica!" Jawab Erica.


"Mbak sudah berapa bulan?" Tanya Erica.


"Saya sudah 6 bulan Ica, ini anak ketiga saya, dan saya sudah punya 2 anak sebelumnya"! Jawab Mita.


"Jangan panggil saya mbak kaya berasa tua sekali, panggil saja saya Mita, sepertinya kita seumuran!" kata Mita sambil tertawa kecil.


"Hehe, iya deh" jawab Erica.


"Dek, liat kamu punya teman disini, dia lebih kecil loh dari kamu, kamu da besar jaga dia ya nanti, kalian bertemanya!" kata Mita terhadap bayi dalam perutnya tersebut sambil mengusapnya.


"Iya, kalian berteman ya" jawab Erica.


"Kamu tinggal dimana?" Tanya Mita.


"Wah, sama rumahku juga dekat sini" kata Mita.


"Boleh minta nomor teleponmu?" Tanya Mita.


"Boleh, ini!" Erica mengeluarkan hpnya dan mencari didaftar kontak nomornya sendiri, dia tidak menghafalnya.


"Ok" kata Mita.


"Ibu Erica" panggil suster yang berada didepan pintu ruangan dokter kandungan.


Yang di papan pintunya tertulis Dokter Robi Wijaya.


"Aku duluan ya" kata Erica ke Mita dan segera beranjak keruangan dokter.


"Ok" jawab Mita.

__ADS_1


Erica masuk keruangan dokter tersebut, sudah 2 kali Erica ke dokter ini, yang pertama di awal kehamilannya.


"Bu Erica ya!" Tanya dokternya


"Iya Dok" jawab Erica.


"Bisa dibantu Sus" kata Dokter tersebut ke Susternya, untuk membantu Erica berbaring di ranjang untuk memeriksanya.


"Ibu, sendirian dimana suaminya?" Tanya dokternya lagi.


"Kerja Dok"


"Oh" jawab Dokternya.


"Saya cek buku hamil ibu dulu ya, wah! Disini saya lihat timbangan ibu turun 3kg dari yang sebelumnya ya, dan ini tensi ibu tinggi 150/100, dan sekarang saya cek dulu janinnya, ini janinnya sudah nampak tangan, kaki, mata, mukanya ya bu, tetapi disini perkembangan janin sedikit lebih kecil dari ukurannya, apa ibu sering mengalami emosi, seperti menangis, cemas?!" Tanya Dokternya sambil mengarahkan alat USGnya diperut Erica.


Erica yang sedaritadi diam mendengarkan Dokternya berkata pun, kaget mendengarkan apa yang dokter jelaskan, hatinya terasa hancur lagi, setelah sempat terhibur oleh adanya Mita yang mengajaknya berbicara.


"Bagaimana bisa Dokter bayi saya kecil?" Tanya Erica.


"Apakah ibu sering mengalami emosi, kecemasan?"


"Iya Dok" jawab Erica.


"Disini kita lihat janin Ibu sedikit lebih kecil dari ukuran yang seharusnya, ibu juga mempunyai tekanan darah yang tinggi untuk ibu hamil, ini bisa menyebabkan Preeklamsia, menyebabkan resiko bayi terlahir dengan berat badan rendah dan plasenta terpisah dari rahim, itu sangat berbahaya, saya sarankan agar ibu lebih rileks dalam kehamilan ini, jangan banyak bersedih, atau pun emosi lainnya, tenangkan pikiran, buat pikiran yang bahagia, maka janin lebih bisa berkembang dengan baik, kalau masalah mual muntah ibu, sebentar lagi akan lewat, tetapi emosi ibu harus dikendalakan"


"Ini saya resepkan vitamin, obat penurun darah tingginya, obat penguat kandungan dan untuk mual muntahnya, harus diminum rutin ya bu" terang Dokternya.


"Iya Dok" jawab Erica.


"Terima kasih"


Erica pun segera keluar dari ruangan tersebut.


"Ibu Mita" panggil Susternya dan Mita pun segera masuk. Dia melambaikan tangannya ke Erica dan Erica membalasnya dengan senyum yang ia paksa kan.


Erica berjalan menuju tempat dimana kasir berada dan untuk mengambil resepnya, sebelumnya pun dia harus mengantri.

__ADS_1


Dikursinya yang sedang dia duduki, dia melamun kembali memikirkan perkataan Dokter Robi, dia merasa sangat sedih, kacau, dia merasa dia penyebab janinnya tidak tumbuh sesuai ukurannya, walau janinnya sehat.


Tiba-tiba air matanya pun menetes lagi, hari ini dia banyak menangis, dia cepat-cepat mengusap air matanya takut sekeliling orang melihatnya.


__ADS_2