Kehidupan Setelah Pernikahan

Kehidupan Setelah Pernikahan
Ep 34. Kecewa Erica 2


__ADS_3

Dalam hati Erica, dia hanya ingin Ryan mengingat ulang tahunnya saja, setidaknya memberikan doa saja sudah cukup bahagia baginya, tidak perlu kado.


Setelah ulang tahun Erica 1 minggu kemudian ulang tahun pernikahannya, Erica ingin tau apa Ryan mengingatnya juga apa tidak, atau bagi Ryan hal begitu tidak penting.


Paginya Ryan bangun pun terlihat seperti biasa, dia pun tidak meminta maaf atas hal yang dia lupakan tersebut.


"Kamu masih marah?" Tanya Ryan kepada Erica ketika sama-sama berada didapur, sedangkan Erwin masih tertidur.


"Enggak!" Jawab Erica.


"Sudah jangan marah lagi lah hanya karena hal ini" kata Ryan.


"Hanya kamu bilang!" Jawab Erica kesal dengan suara agak keras.


"Iya kan, biasa saja bah!" Jawab Ryan.


"Agh, sudahlah, capek aku ngomong sama orang macam kamu, diawal aja baik, sekarang ternyata begini!" Kata Erica langsung pergi kekamarnya.


Ryan berpikir baginya ulang tahun hal biasa tidak perlu dibesar-besarkan bagaimana.


Kalau mau dirayain ya rayain kalau tidak ya tidak perlu.


Ryan tidak mau repot-repot akan hal ini itu, hal romantis jauh bagi dia.


Dia saja sudah pusing dengan kerjaannya, dia enggak mau lagi memusingkan hal lainnya.

__ADS_1


Ryan pun pergi kerja setelah makan, biasanya Erica yang akan menutup pintu jika Ryan keluar, sekarang Erica sedang marah tidak ingin diganggu ataupun menganggu.


Hari berganti malam pun tiba, Ryan telah pulang kerja, sudah selesai dengan kegiatan malam, mereka semua sudah siap tidur, tetapi tiba-tiba Erica ingin ketoilet buang air.


"Tolong jaga Erwin dulu, dia lagi main bedak" sambil menunjuk Erwin yang sedang memainkan bedaknya sendiri hingga putih-putih badannya terkena bedak.


Ryan hanya mengangguk.


Erica pun segera ketoilet, tidak lama setelah Erica berada ditoilet terdengar suara Erwin menangis.


"Maaaa, ma!" Suara khas anak kecil, Erwin meneriakkan mamanya, Ryan yang sedang memegang hpnya hanya, memegang badannya Erwin tanpa melihat Erwin dan berkata kepada Erwin,


"Sudah, mama lagi ketoilet tunggu ya!" Tetapi tetap saja Erwin menangis mencari mamanya.


Erica yang mendengar tangisan anaknya, berencana lebih lama ditoilet, dia ingin melihat apakah Ryan sanggup menjaga Erwin tanpa Erica, selama ini full Erica yang menjaga Erwin, ketika Ryan dirumah pun terkadang Erica harus masak sambil mengendong Erwin, karena Ryan tidak mau menjaga anaknya, dijaga pun sebentar saja sudah menangis, bila Ryan yang mengendong Erwin tidak sampai setengah jam dia sudah mengeluh Erwin berat, tetapi tidak melihat Erica yang kadang harus 1 jam lebih mengendong Erwin, tetapi Erica mampu.


"Tunggu ya, mama lagi buang air!" Jawab Erica ke Erwin, tetap saja Erwin mengedor-gedor dan menangi.


Erica segera membuka pintu melihat baju Erwin sudah basah karena air matanya, hinggusnya pun sudah banyak.


Erica melihat Ryan hanya dari kamar melihat Erwin pergi ketoilet.


"Mau ada papa enggak ada papa, emang mau mama aja ya yang jaga Erwin!" Kata Erica ke anaknya, bermaksud menyindir Ryan, Ryan pun hanya senyum-senyum saja.


"Lain kali anggap aja ya nak, papamu enggak ada!" Kata Erica lagi sakin kesalnya dia melihat Ryan membiarkan Erwin begitu.

__ADS_1


Ryan yang mendengar hal tersebut pun diam saja.


"Anak papa pintar ya tau arah toilet dimana?" Kata Ryan kepada Erwin sambil mengelus kepala anaknya.


Erica melihat Ryan makin kesal, dia segera membuat Erwin berbaring dan untuk tidur.


Disisi lain pun memang Erwin sudah mengantuk, maka mencari mamanya untuk dikelonin.


Erwin sudah tertidur dan Erica pun ikut tertidur, Ryan masih saja terus memainkan hpnya, hingga waktu sudah mau menunjukkan jam 1 malam, dia mulai akan tidur, tetapi setengah jam dia terlelap, dia mendengar suara ribut, suara tangis Erwin yang tiba-tiba melengking.


"Bobok lagi ya sayang, cup, cup, cup?!" Kata Erica sambil mengelus bahu anaknya.


"Kenapa lagi sih, aku baru mau tertidur!" Kata Ryan, dia benar-benar kesal karena merasa terganggu.


"Erwin nginggau diganggu kali, orang tiba-tiba menangis!" Jawab Erica.


"Sudah, cepat tidurkan dia, aku besok mau kerja, kalau kau dirumah saja enggak kerja, enggak ngantuk, bisa tidur kapan saja" Kata Ryan kesal, sambil mengambil bantal dan menimpakkan kekepalanya, berharap suara berisik dari tangis Erwin tidak terdengar.


Erica hanya diam saja, didalam pikiran Erica, apa yang Ryan tau, Ryan tidak melihat Erica dirumah ngapaen saja.


Erica terus membujuk Erwin untuk diam tidak menangis dan melanjutkan tidurnya.


"Main hp terus sampai sudah jam segini baru mau tidur, kena ganggu dikit begini sudah marah" batin Erica, ingin sekali rasanya Erica mengetok kepala Ryan.


Hal beginilah yang membuat Erica kesal dengan Ryan. Erica yang kebangun berkali-kali hanya karena Erwin minta susu, ataupun menginggau, dia pun jarang tidur siang, dan mengurus rumah ini, bagi Ryan Erica masih tidak bekerja, tidak ada yang Erica lakukan dirumah, bagi Ryan, Erica hanya menjaga Erwin, sedang menjaga Erwin bukanlah hal yang mudah, butuh kesabaran, ketelatenan.

__ADS_1


Erica berpikir, jika dia dirumah tidak berbuat apa-apa, dari mana datangnya masakan, darimana datangnya rumah bisa bersih, pakaian siapa yang mencuci.


__ADS_2