
Kini usia kandungan Erica telah menginjak 7 bulan dan Mita juga telah melahirkan anaknya, hanya saja Ryan dan Erica belum sempat melihat bayinya Mita.
Erica pun telah mengetahui jenis kelamin dari bayinya dan dia ingin merahasiakannya sampai bayinya lahir begitulah pikirnya.
"Ryan, aku pengen makan bakso" bujuk manja Erica terhadap suaminya.
"Mana ada bakso malam-malam begini, ini sudah jam 11 malam" jawab Ryan.
"Tapi aku pengen sekarang" kata Erica.
"Besok saja ya" jawab Ryan karena dia malas untuk keluar lagi jika sudah berada di atas kasur.
"Aku enggak mau besok, maunya malam ini" jawab Erica tetap ngotot.
"Aghh, kamu ini ya enggak bisa dibilangin, kan sudah ku kasih tau jika ini sudah malam" kata Ryan nada pelan tetapi seperti menekan dalam pembicaraan.
"Nanti anak mu ileran mau?" Kata Erica.
"Itu hanya mitos" jawab Ryan, karena bagi Ryan hal begitu tidak ada.
"Aku mau, hiks, hiks, hiks!" Tiba-tiba saja Erica menangis dan langsung saja dia pun mendiamkan dirinya, dalam keadaan menangis langsung merebakan tubuhnya dia pun tidur menyamping sambil terisak.
Erica selama hamil tidak pernah meminta apapun dari Ryan dan baru kali ini dia memintanya dan ini keinginan bayi baginya, tetapi suaminya tidak mau menuruti keinginannya, dia merasa sedih, kalau dia bisa dia sendiri yang akan mencarinya. padahal dia pernah dengar dari ibu-ibu komplek rumahnya jika di pertigaan jalan sana ada warung bakso baru buka.
Ryan yang diam-diam mencari tahu lewat temannya yang pernah berpengalaman karena istri temannya juga baru melahirkan, apakah hal yang dialami oleh Erica merupakan keinginan bayinya dan ketika mengetahui jawabannya.
Ryan pun segera mengambil jaketnya dan kunci mobilnya mencarikan baksonya.
Erica yang mengetahui jika Ryan akan keluar tidaklah berpikir bahwa Ryan akan mencari bakso yang dia inginkan, bagi Erica bahwa Ryan saat ingin hanya ingin mencari angin malam, atas perdebatan tadi, karena Ryan pergi pun tidak memberitahu Erica. Erica merasakan sedihnya begini, mengapa suaminya tidak mengerti keinginan dia.
Tetapi tidak berapa lama Ryan telah kembali, dan masuk lagi kedalam kamarnya melihat Erica masih saja memiringkan tubuhnya untuk tidur, melihat Erica yang kesulitan tidur karena keinginan yang tidak dipenuhin oleh Ryan.
__ADS_1
Ryan merasa kasihan juga terhadap Erica, sudah la hari-harinya Erica kini sulit untuk tidur karena kandungannya telah membesar, dia selalu mencari posisi yang nyaman baginya untuk tidur.
"Bangun yuk! Buatkan aku kopi!" Kata Ryan.
"Malas" jawab Erica tetapi dia berpikir lagi, biasanya memang dia yang menemankan Ryan dan dia istrinya dan harus menuruti suami, akhirnya Erica pun bergerak dan kedapur untuk membuatkan Ryan kopi.
Ketika sampai didapur dia pun mencium aroma bakso, seketika Erica langsung sangat bahagia.
Melihat bakso dimangko yang telah tersedia.
Ryan yang di belakangnya pun langsung dipeluknya.
"Makasi" kata Erica.
"Kopinya masih mau?" Tanya Erica.
"Enggak, cuma isengin kamu aja" jawab Ryan.
"Jadi tadi kamu keluar carikan bakso ya"
"Sudah enggak usah peluk-peluk, lebay ya kamu" kata Ryan.
"Iih, makan aja aku" jawab Erica.
Erica pun makan, tetapi hanya 1 suap kuah dan 1 suap pentol bakso, dia sudah merasa kenyang.
"Sudah agh, enggak mau lagi baksonya simoan besok aja" kata Erica.
"Kamu ya, buat aku repot saja, sudah ku carikan malam-malam hanya makan segitu saja sudah enggak mau? Enggak menghargai aku sangat" kata Ryan terlihat kesal, karena bagi Ryan seperti usaha yang sia-sia.
"Bukan begitu, aku masih lapar, tetapi aku juga rasa sudah kenyang, aku simpan aja ya buat besok" kata Erica.
__ADS_1
"Terserah" jawab Ryan.
"Ow, iya apa sudah mencarikan nama anak kita" tanya Erica mengalihkan pembicaraan?"
Tanya Erica kepada suaminya.
"Belum" jawab Ryan.
"Aku mau tidur, besok kerja" kata Ryan
"Ok sayang" jawab Erica.
Bagi Erica, Ryan benar-benar tidak mengerti jika wanita hamil ngidam bagaimana.
Hari-hari Erica lalui, kini usia kandungannya menginjak 9 bulan dan sudah beberapa hari lagi hari lahirannya.
"Aduhhh" teriak Erica dari dalam kamar mandinya, Ryan pun langsung berlari kearah kamar mandi, melihat Erica terjatuh begitu, rasa jantungnya bergerak cepat takut terjadi apa-apa antara istri dan anaknya.
"Kenap bisa jatuh begini" tanya Ryan sambil mengendong istrinya untuk di bawah kedalam mobil dan dibawa kerumah sakit karena Ryan melihat ada sedikit pendarahan yang terjadi.
Erica tidak menjawab apa-apa yang Ryan tanyakan, karena dia sedari tadi menahan sakit diperutnya, pinggangnya terasa sangat sakit, seperti ingin lepas, perutnya terut melilit sangat sakit baginya.
"Cepatan, enggak tahan sakit" teriak Erica.
"Iya sabar, bentar lagi juga sampai!" Jawab Ryan. Beruntungnya mereka rumah sakit yang ditujunya sangat dekat. Tetapi itu bagi Erica sangat jauh, karena dia menahan sakit perut ini.
"Suster tolong istri saya mau melahirkan" teriak Ryan.
"Sini Pak cepat" kata salah 1 suster.
"aduhh, sakit ini loh!" meringis Erica, melengkungkan sedikit badannya.
__ADS_1
"Tahan bentar lagi!" kata Ryan.
Erica pun langsung dibawa keruangan bersalin, disana telah datang bidan berserta yang ingin membantu kelahiran anak mereka.