
Setelah Erica sudah berani kerumah orang tua Ryan, dan tidak merasa canggung lagi.
Erica pun semakin sering di bawa oleh Ryan untuk kerumahnya, Ryan berharap mamanya dan Erica agar cepat bisa akrab.
Di kantor tempat Erica dan Ryan bekerja, terdapat isu bahwa Ryan akan di mutasi ke daerah lain di kotanya, setelah Ryan sudah bekerja beberapa bulan lamanya.
"Ica, benarkah Ryan mau di mutasi ke daerah lain, kalian bakal jarang ketemu donk!" Kata Yuli yang penasaran.
"Gak tau aku, yul! Ryan belum cerita apa-apa ke aku!" Jawab Erica.
"Kog bisa gak cerita sama cewek sendiri sih, Budi aja apa-apa cerita, semuanya di kasih tau!" Kata Yuli membandingkan Ryan dan Budi kekasihnya.
"Ryan, orangnya yang tidak penting tidak dia ceritakan dan yang membuat jadi pikiran orang lain dia gak akan cerita, mending dia pendam sendiri lah" jawab Erica.
Yuli pun hanya bisa mengeleng-geleng kepalanya, bisa-bisanya Erica bersama cowok yang begitu, apa yang Erica liat hingga mau menerima Ryan.
Tiba-tiba Ryan datang keruangan Erica, dan meminta Yuli untuk keluar sebentar karena dia ingin bicara berdua dengan Erica saja, Yuli pun segera balik ke ruangannya.
"Sayang, kamu sudah dengar isu-isunya kan, ya benar aku mutasi dan aku menerimanya, karena disana pendapatan ku akan lebih besar dan itu aku lakukan untuk menyiapkan tabungan untuk kita nikah nanti!" Jelas Ryan.
Erica yang mendengar kata nikah pun langsung saja memerah mukanya.
"Tetapi aku gak suka pisah dari kamu" mulai la menetes air matanya.
Ryan pun mendekat menyekah air mata Erica yang mengalir di pipi putih mulusnya.
"Udah gak apa-apa ya, ini demi kita untuk bersama, ini keseriusan aku ke kamu, aku gak mau pacaran lama-lama juga, aku ingin segera kita menikah, dan membawa mu bersama ku" jelas Ryan sambil memeluk Erica.
Erica mempererat pelukkannya, dan Ryan pun mengelus-gelus pundak Erica dan kepalanya, tempat dimana Erica paling senang di elus bagian kepalanya, seakan kasih sayang itu terkumpul disana.
Air mata Erica yang menetes pun membasahin kemeja Ryan.
__ADS_1
"Jadi kapan kamu berangkat?" Tanya Erica.
"Mungkin besok" jawab Ryan.
"Secepat itu?" Kata Erica.
"Iya, Pak Bos kita ini yang minta cepat, karena disana banyak kendala dan harus dibereskan, jadi gak apa-apakan" jawab Ryan.
Erica hanya mengangguk saja dan kembali memeluk Ryan dan tidak ingin lama-lama memeluk Ryan, karena masih dalam kantor.
Erica pun akhirnya sedikit mengerti kondisi yang harus Ryan jalanin.
Malamnya dirumah Ryan, disana ada Erica yang memang sudah dijemput oleh Ryan untuk mengajaknya kerumah, "Tante lagi apa?" Kata Erica melihat mama Ryan sedang memotong buah.
"Mau buat es buah buat kalian, ini buahnya enak loh" kata mama Ryan yan sudah mulai mau berbicara banyak sama Erica.
"Tante sudah tau Ryan mau ke mutasi kedaerah lain?" Tanya Erica.
"Sudah, tadi Ryan sudah kasih tau tante, kamu bantu dia kemas pakaiaannya aja sana, karena Ryan orangnya ceroboh dalam mengemas!" Kata mama Ryan.
"Iya" kata mama Ryan.
Erica pun segera pergi ke kamar Ryan dan melihat Ryan yang sedang mau memasukan pakaiaannya tanpa dilipat dengan rapi.
Erica pun mengambil alih melipat pakaiaan Ryan dan memasukan ke kopernya.
"Terima kasih sayang, sudah membantu membereskan pakaiaan ku" kata Ryan.
"Sama-sama sayang, aku akan sangat merindukan dirimu" kata Erica.
"Tenang, sebulan sekali aku akan pulanh menjumpai mu, pasti aku akan selalu kangen dengan wajah mu ini!" Kata Ryan.
__ADS_1
"Janji" kata Erica
"Iya janji kog" jawab Ryan.
Ryan pun memeluk Erica dan mendaratkan bibirnya di kening Erica.
Erica membalas pelukan dengan eratnya, dan menyukai bau dari tubuh Ryan.
Mereka tidak berpelukan lama-lama karena takut mamanya Ryan masuk atau lewat depan kamar Ryan karena pintu kamar memang tidak di kunci oleh mereka, mereka masih tau batasannya.
Erica sudah pernah bertemu dengan adik Ryan bernama Gina, dan memang kalau malam jarang dirumah karena kesibukannya.
Sudah malam, Erica pun pamit pulang dengan mama Ryan dan Ryan mengantarnya.
Besok paginya, Erica bangun pagi-pagi dan ia ingin cepat-cepat sampai kantor, hari ini Ryan tidak menjemputnya lagi karena harus berangkat dinas kerjanya, dan Kenzo yang mengantar Erica untuk pergi kerja.
Sesampainya di kantor, Ryan sudah memasukan kopernya ke bagasi mobil dinasnya.
"Sayang, aku sudah mau berangkat!" Kata Ryan.
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya, aku akan selalu merindukanmu" kata Erica.
Ryan pun memeluk Erica Erat seakan perpisahan terakhir mereka, dan Ryan pun mencium kening Erica, dia tidak perduli dilihat oleh para rekan kerjanya.
Erica sudah tidak menangis karena sudah memantapkan hatinya untuk tegar.
"Aku berangkat dulu ya semuanya" kata Ryan.
Mereka pun melambaikan tangan pada Ryan.
"Jika sudah sampai beri kabar ke aku ya" kata Erica.
__ADS_1
"Pasti" jawab Ryan.
Ryan memasuki mobilnya yang ia kendarai sendiri, Erica yang melihat mobilnya menghilang dari kejauhan pun memutuskan untuk segera masuk keruangannya, dan sedikit murung karena masih sangat merasa sedih, ia merasa sepi tanpa ada Ryan dikantor ini.