Kekasihku Raja Iblis

Kekasihku Raja Iblis
Cerita masa lalu


__ADS_3

Raja iblis itu sudah menghilang dari kamar Camellia. Mungkin ia kembali ke dunia iblis untuk mengatur perang dengan dunia manusia.


Camellia sempat terhanyut dalam keadaan, ketika Kainer menyesap bibirnya. Gadis itu yakin memang masih ada cinta di hatinya untuk Kainer. Namun, ia kembali pada pemikiran realistisnya bahwa hubungan mereka tidak akan memiliki ending yang baik dan itulah keyakinannya.


"Maafkan aku Kainer, aku memang mencintaimu tapi kita tidak bisa bersama" Camellia duduk di ranjangnya, ia melihat ada bunga Camelia yang bersinar di ranjangnya itu. Ia sudah bisa menebak bahwa bunga itu diberikan oleh Kainer untuknya.


Camellia mengambil bunga itu dan mencium nya, kemudian ia tersenyum pahit."Seandainya saja kau bukan Raja iblis atau seandainya aku tidak mencintaimu"


Jujur saja, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Camellia sudah memaafkan kesalahan Lucifer di masa lalu yang sudah membunuh kedua orang tuanya, namun penghalang hubungan mereka saat ini adalah hal yang tidak bisa dihindari dan sudah mutlak. Takdir! ya, takdir mereka sebagai manusia dan iblis yang tidak bisa di ubah maupun di gugat oleh apapun juga.


****


Keesokan harinya, pagi pagi sekali Camellia sudah berlatih pedang sendirian di dekat danau kerajaan Brilla. Camellia betlatih pedang dengan semangat, dan berapi-api sebagai dalih menutupi keresahan hatinya.


Dipikirannya hanya ada Kainer saja, ia merindukan Kainer. Apalagi saat melihat pedang dan belati, ia jadi teringat akan pertama mereka saat Kainer masih menjadi manusia.


"Menyebalkan! bukannya melupakannya, aku malah semakin memikirkan nya. Apalagi saat melihat pedang ini" wajahnya sudah berkeringat padahal hari masih pagi, bahkan matahari pun belum terlihat.


"Siapa yang ingin kau lupakan?" tanya seorang pria yang ada dibelakang Camellia


"Paman Gustaf!" Camellia melihat ke arah pamannya


"Apa kau masih menyimpan perasaan pada si Raja iblis itu?" tanya Gustaf tajam


"Tidak, paman!" jawab nya cepat


"Kau tidak mencintai Putra mahkota Theodore kan?" tanya Gustaf


"Aku..aku.."


Bagaimana ini? mau mengelak pun sepertinya isi hatiku terbaca oleh paman. Camellia meletakkan pedangnya, dan tampak bingung.


"Kalau kau tidak mencintainya, harusnya kau tidak boleh mengambil keputusan yang besar seperti ini. Kau hanya akan melukai hatinya" Gustaf duduk di kursi yang ada di dekat danau itu.

__ADS_1


"Paman.. aku..."


"Duduklah di sampingku dan mari kita bicara" Gustaf meminta gadis itu duduk di sampingnya.


Camellia menuruti perintah pamannya dan duduk di samping pamannya dengan patuh. Gustaf memberikan nasihat agar Camellia tidak menyakiti siapapun karena keputusan nya untuk menikah dengan Theodore. Paman dari Alexander itu berharap agar Camellia juga bisa mencintai Theodore sepenuh hatinya.


"Paman berharap kau tidak seperti mendiang ibumu"


"Kenapa begitu, paman?" tanya Camellia heran


"Ibumu itu.. ketika dia mencintai satu orang, tidak peduli seperti apa orang itu. Ibumu tetap konsisten dengan perasaannya sampai akhir, tidak peduli dia pernah mati satu atau dua kali karena cintanya itu. Dia tetap mempertahankan cintanya, dia tetap pada pendiriannya. Hatinya tidak bisa berubah seperti orang-orang pada umumnya, ayahmu juga sama. Ketika dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara apapun. Hatinya juga hanya untuk satu orang, sampai dia menghilang dan ibu mu tiada, dia tetap setia padanya. Paman malah berharap kalau kau tidak seperti mereka" jelas Gustaf yang teringat dengan sosok Leticia dan Alexander di masa lalu.


Camellia juga menyadari dari cerita pamannya itu, bahwa cinta ibu dan ayah mereka adalah cinta sejati. Sehidup semati, dan mereka setia satu sama lain. Cinta seperti itulah yang selalu didambakan oleh Camelia.


"Kenapa paman bicara seperti ini padaku? dan kenapa paman berharap aku tidak seperti mereka?" tanya Camellia tak paham, bukankah bagus bila setia pada pasangan? bukankah bagus jika memiliki pendirian yang kuat?


"Kalau hatimu tidak bisa berubah seperti hal nya ibu dan ayahmu, maka kau tidak akan pernah bisa mencintai pria lain selain Raja iblis itu. Kau tidak akan pernah bisa membuka hatimu untuk putra mahkota Theodore. Itulah maksudku" jelas Gustaf tegas, ada sedikit kekhawatiran dari kata-katanya itu.


"Aku pasti bisa melupakan nya paman, tidak mungkin aku bisa berpaling dari pria sebaik putra mahkota Theodore " jawab Camellia


Camellia dia memiliki sikap yang baik, dia juga lebih tangguh dari ibunya. Namun yang aku ragukan adalah hatinya.. jika hatinya seperti Leticia, maka ia akan terjebak cinta si Raja iblis itu. Aku hanya berharap agar hati mu berubah.


"Terimakasih paman, aku akan berusaha"


"Baguslah, ngomong-ngomong danau ini adalah danau favorit ibumu" kata Gustaf sambil tersenyum


"Apa? benarkah?" tanya Camellia tak percaya" Ya danau ini memang indah" Camellia melihat-lihat ke arah danau yang indah itu.


"Iya memang indah sampai ibumu pernah menenggelamkan dirinya di dalam danau ini" Gustaf tertawa kecil


"Apa? jadi yang dikatakan oleh paman Derrick itu benar? kalau ibu pernah mencoba bunuh diri di danau ini? wah.. aku sebelumnya tidak percaya!" Camellia merasa takjub


"Iya begitulah yang terjadi. Dan kau juga tau, kalau ibumu berasal dari dunia lain"

__ADS_1


"Hem.. ayah juga pernah menceritakan kepada kami bahwa ibu berasal dari dunia lain. Katanya, dunia yang jauh dari sini dunia yang aneh dari dunia ini dan banyak gedung-gedung tinggi disana" ucap Camellia memaparkan apa yang pernah diceritakan oleh ayahnya dimasa lalu


"Itu benar, tapi aku juga tidak tau dunia seperti apa itu. Mungkin saja ayah dan ibumu yang menghilang itu ada disana, tidak ada yang tau" ucap Gustaf sambil melihat ke arah langit


Ibu, ayah, dimana pun kalian berada..kalian harus selalu bahagia.


"Oh ya, kebetulan kau sedang berlatih pedang. Bagaimana kalau kita sparing?" tanya Gustaf sambil membuka pedang yang ada di pinggir bajunya


"Paman mau sparing denganku? baiklah, ayo!" Camellia bersiap dengan pedangnya


"Kalau kalah, jangan menangis ya" Gustaf menyeringai


"Tidak akan! kalau paman kalah, jangan mengadu pada bibi Vivian ya" Camellia tersenyum percaya diri


"Hohoho! kau mengancam ku?" tanya Gustaf


TRANG


TRENG


KLANG


Camellia dan Gustaf beradu pedang dengan semangat. Diiringi dengan candaan dan tawa yang akrab antara paman dan keponakan. Setelah lelah beradu pedang, Theodore dan salah satu pengawal ayahnya (Moore) menghampiri Camellia dan Gustaf yang sedang ada di pinggir danau.


"Putra mahkota Theodore" ucap Gustaf menyapa ramah putra mahkota dari Ilios itu


"Salam yang mulia pangeran Gustaf" Theodore membungkukkan setengah badannya di hadapan Gustaf. Lalu Theodore tersenyum melihat tunangannya.


Theodore mengatakan pada semua anggota keluarga kerajaan yang ada di sana, bahwa ia akan kembali ke negeri Ilios. Sudah terlalu lama ia meninggalkan pekerjaan nya disana, sekalian juga ia akan memberitahukan pada ayahnya tentang perang dengan bangsa iblis.


Banyak yang harus disiapkan olehnya, sebagai putra mahkota kerajaan besar, tanggungjawab nya juga besar. Theodore juga meminta izin pada semua keluarga Camellia, bahwa ia akan menikahi Camellia sebelum perang berlangsung, alias secepatnya. Semua orang tidak merasa keberatan dengan usul Theodore, memang lebih baik pernikahan diadakan secepatnya.


Kenapa tiba-tiba putra mahkota Theodore memajukan hari pernikahan nya? bukankah sebelumnya dia bilang akan menikahi ku setelah perang berakhir? apa yang membuatnya berubah? Ya Tuhan, aku berdebar-debar..

__ADS_1


Meski berat hatinya meninggalkan Camellia untuk sementara waktu. Theodore mau tidak mau harus pergi untuk mempersiapkan dua hal pernikahan dan peperangan sekaligus.


...---***---...


__ADS_2