
πππ
Raja iblis itu terkejut bahwa selama.ini Gloria menyembunyikan sebuah rahasia besar. Fakta tentang dirinya yang kuat dan panjang umur. Tidak heran, kenapa Gloria bisa keluar masuk dunia iblis dengan mudahnya. Karena dia memiliki darah iblis juga.
Leon heran karena dia tidak pernah mendengar tentang bangsa iblis dan bangsa manusia yang menikah lalu melahirkan seorang anak. Dia hanya tau kisah tentang Rayden saja yang berakhir sad ending.
"Apa yang mulia ingin mendengarkan cerita saya selanjutnya?" tanya Gloria sambil menyeruput teh yang ada di cangkir miliknya.
"Lanjutkan!"
"Ibu saya adalah bangsa iblis dan ayah saya adalah bangsa manusia. Mereka saling mencintai, namun katanya kakek saya dari pihak ibu menentang hubungan mereka. Tentu saja karena mereka berbeda bangsa dan dunia. Lalu ibu dan ayah saya memutuskan untuk kawin lari. Setelah itu ibu dan ayah saya memiliki saya dan kakak saya Gothel. Usia kami berbeda 2 tahun, kakak saya memiliki sihir elemen dan sihir ramalan dari ayah saya. Sedangkan saya berbeda, saya.. memiliki kekuatan yang sama dengan ibu saya, darah iblis mengalir lebih banyak dalam diri saya. Itu sebabnya saya menyembunyikan diri sebagai manusia setengah Iblis"
SLURP
Gloria meneguk lagi teh yang ada di dalam cangkir nya itu.
Leon terdiam mendengarkan cerita Gloria tentang asal usul keluarga nya. Leon mulai memikirkan sesuatu di kepalanya yang berhubungan dengan Violet. Dia malah tersenyum senang.
Gloria melihat ke arah Leon yang senyum-senyum setelah mendengar ceritanya, "Raja iblis, kau sedang memikirkan apa?"
Perasaan ku, ini bukanlah cerita yang lucu atau menyenangkan. Mengapa dia tersenyum?. Gloria bingung
"Aku sedang memikirkan kemungkinan yang indah. Masa depan ku dan Violet" Leon tersenyum manis.
"Masa depan? apa maksudmu?" tanya Gloria
"Orang tua mu yang berasal dari bangsa yang berbeda bisa menikah bahkan sampai punya anak. Apa aku dan Violet juga bisa seperti itu? apakah kisah kami akan berakhir bahagia tidak seperti kehidupan Violet sebelumnya?" tanya Leon berfikir
"Aku tidak tahu, entahlah" jawab Gloria ragu
"Hey! bukankah kau bisa meramal?! kau pasti tahu masa depan yang akan kujalani kan?" tanya Leon mendengus kesal
"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas sekarang, masa depanmu dan reinkarnasi sang putri" Gloria terlihat bingung, masa depan Leon dan Violet ke depannya sulit ditebak. Gloria hanya melihat gambaran yang blur.
Tak lama setelah mengobrol, seorang pelayan bernama Greta menghampiri Leon dan memberitahukan kalau Violet sudah bangun dari tidurnya.
Leon dan Gloria, lega mendengar hal itu. Mereka pun segera menemui Violet di kamar Leon. Gloria menatap wanita itu untuk melihat masa depan apa yang akan dijalaninya, tetap saja ia tak bisa melihat apa-apa.
"Kenapa aku bisa ada disini? apa kau yang menculik ku?!" tanya nya menuduh Leon dan menatapnya dengan mata yang tajam.
"Kenapa kau menuduhku begitu? siapa yang menculik mu? seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku yang sudah membawa mu kemari" gerutu Leon yang kesal karena dimarahi oleh Violet.
"Apa yang terjadi padaku? seingat ku, aku berada di pinggir jalan untuk mencari bus" gumam Violet kebingungan mengingat apa yang terjadi
"Kau hampir saja diculik seseorang dan wanita tua ini yang menyelamatkan mu. Dia menghubungi ku lewat ponselmu. Lalu aku segera datang kesana" Leon mengarang cerita agar Violet percaya padanya.
Pintar sekali si iblis ini mengarang cerita. Haahh.. bukan iblis namanya kalau tidak licik. Gloria tersenyum tipis mendengar kebohongan yang berasal dari mulut Leon.
"Be-benarkah? nenek ini yang menolongku?" tanya nya sambil beranjak menghampiri Gloria.
"I-iya, untunglah tuan ib.. maksudku tuan tampan ini cepat datang dan membantuku menolong mu nona"
Astaga.. melihatnya dari dekat seperti ini, walau rupa mereka berbeda. Tapi warna mata nya sama persis dengan putri Camellia. Sikapnya juga mirip dengannya.
"Nenek, terimakasih karena sudah menyelamatkan saya. Saya berhutang budi pada nenek. Nama saya Violet nek" Violet tersenyum lebar dan memperkenalkan dirinya di depan nenek tua itu.
"Ah iya, namaku Gloria" jawab Gloria memperkenalkan dirinya juga pada Violet. Gloria memperhatikan bayangan Camellia yang ada pada diri Violet.
Aku masih belum bisa melihat apa yang ada di masa depannya.
Gloria.. mengapa aku merasa tidak asing dengan nama itu? tapi aku tidak punya kenalan seseorang dengan nama itu. Violet merasa tidak asing dengan nama Gloria, dia seperti pernah mendengar nya.
"Hey! mengapa kau hanya berterimakasih padanya saja?! aku juga sudah menolong mu?!" Leon iri dan tidak terima kalau hanya Gloria saja yang mendapatkan terimakasih dari Violet.
"Kenapa saya harus berterimakasih pada bapak? siapa yang menyebabkan saya hampir diculik?" tanya Violet sambil mengambil tas gendongnya. Jika bukan karena Leon meminta nya pergi ke rumahnya, ini tidak akan terjadi.
Violet berkata pada Gloria bahwa dia akan membuatkan makanan yang enak untuk Gloria nanti sebagai rasa terimakasih nya. Namun ia buru-buru pamit pulang karena pasti ibu dan kakak nya akan mencarinya. Dia sudah menghilang cukup lama dari rumah, belum lagi ponselnya rusak setelah jatuh di aspal. Gadis itu terus menggerutu tentang ponselnya yang rusak.
"Huuh.. ponselku" Violet sedih melihat ponselnya yang rusak.
Leon merasa kasihan melihat ponsel Violet yang rusak itu. Dia mulai memikirkan sesuatu untuk Violet.
"Aku pulang dulu ya, nenek saya pamit pulang dulu" Violet terlihat cuek pada Presdir nya dan terlihat ramah pada Gloria
"Hati-hati di jalan ya" Gloria tersenyum dan melambaikan tangannya pada Violet. Sementara Leon cemburu karena Violet bersikap ramah pada Gloria tapi jutek sekali padanya.
__ADS_1
Senang sekali melihatmu disini, tuan putri. Semoga di kehidupan kali ini kau berumur panjang dan bisa bersatu dengan orang yang kau cintai tanpa ada halangan. Dengan setulus hatinya, Gloria mendoakan kebahagiaan Violet di kehidupan nya kali ini.
"Aku akan mengantarmu, pulang" ucap Leon sambil mengambil kunci mobil nya yang ada di meja.
"Tidak perlu repot-repot! sudah membuatku hampir celaka, lalu kau mau mengantarku?" Violet masih saja marah pada Leon atas apa yang baru saja menimpa nya.
"Justru karena itu aku mau mengantar mu, aku takut kau kenapa napa di jalan..Bisakah kau menurut saja? dan jangan keras kepala?!" sentak Leon pada wanita itu
Dia benar-benar Camellia, bahkan keras kepalanya saja sama. Hanya berbeda rupa wajah saja. Di kehidupan kali ini aku tidak akan membiarkan mu terluka, aku akan melindungi mu.
"Tapi.."
Bukankah tidak nyaman kalau diantar oleh atasan? kenapa juga dia seperti memperhatikan ku? dia tidak seperti presdir dingin dan kejam seperti apa yang orang orang ceritakan padaku? Mengapa juga ada perasaan tidak asing di dalam hati ini padanya?
"Masuklah! aku tidak suka mengulangi kata-kata ku!" Leon masuk ke dalam mobilnya, tepatnya di kursi kemudi lebih dulu dari pada Violet.
Dengan terpaksa Violet masuk ke dalam mobil itu di kursi belakang. Lalu Leon kembali membentaknya. "Hey! duduk di depan! kau pikir aku adalah supir mu?!"
"Baiklah.." Violet menciut mendengar kemarahan Leon padanya, dengan bibir cemberut dan langkah yang malas. Dia duduk di kursi depan.
Dasar presdir pemarah, menyebalkan, arogan, tidak waras. umpat gadis itu sambil menutup pintu mobil dengan keras.
"Apa kau sedang mengutukku di dalam hatimu?" tanya Leon sambil menyalakan mesin mobilnya.
"A-Apa? kata siapa?!"
Apa dia peramal? kenapa dia menebak kata hatiku?
"Tidak, aku bukan peramal atau cenayang. Tapi wajahmu yang mengatakan semuanya dengan jelas! kau sedang mengumpat ku bukan? ah atau kau sedang menyumpahi ku?" tanya Leon sambil menatap ke arah Violet dengan tajam
Bagaimana bisa dia tau kata hatiku? gawat! aku diam saja ah.
"A-Apa kau peramal?!"
Gadis itu mulai berfikir yang bukan-bukan tentang Leon yang bisa membaca pikiran dan kata hatinya. Dia pun menutup mulutnya rapat-rapat.
Bodoh, aku memang bisa membaca pikiran semua orang tapi aku tidak bisa membaca pikiran mu. Semua yang ada di pikiran dan hatimu, bisa ku baca dengan melihat wajahmu. Itu terlihat sangat jelas. Ellia.. senang melihatmu lagi.
Leon mengemudikan mobilnya, diam-diam dia tersenyum melihat ke arah Violet.
πππ
"Mike, bagaimana ini? adikmu tidak bisa dihubungi.. ponselnya juga tidak aktif. Kemana dia? ya Tuhan.. dia bilang ingin pergi ke supermarket, tapi kenapa sampai berjam-jam?? bagaimana kalau terjadi sesuatu pada adikmu Mike?? " Bu Elisa tampak cemas, ia mondar-mandir dengan hati gelisah di depan rumahnya
"Tadi dia ada di kamarnya, tapi kemana dia pergi ya? dia akan habis kalau pulang nanti!! awas saja! beraninya seorang anak gadis pergi tanpa pamit,, dia pasti tidak pergi ke supermarket Bu!" Mike tampak kesal karena adiknya berani berbohong pada nya dan ibunya.
Saking kesalnya Mike, dia sampai meremas sendok sampai bengkok. Giginya gemertak, tangannya terkepal gemas. Dia sudah bersiap-siap memarahi adiknya, jika Violet sudah pulang.
"Mike, ayo kita telpon polisi saja!! ayo Mike!!" pinta Bu Elisa cemas
"Ibu, ini baru saja 5 jam sejak Violet pergi. Sudahlah, ibu tenang dulu. Aku akan mencari Violet" ucap nya pada Bu Elisa seraya menenangkan wanita paruh baya yang tampak cemas itu.
Mike mengambil jaketnya, ia juga terlihat cemas pada adiknya dan walau dalam keadaan kesal. Dia tetap mencari Violet, adiknya satu satunya.
"Kemana dia? kenapa juga telponnya tidak aktif? apa dia benar-benar sudah punya pacar? haah.. oh ya, aku ingat nomor temannya. Aku akan hubungi dia saja, siapa tau Violet ada disana"
Mike mengambil ponsel nya, ia mengetik nomor Nina disana lalu segera menghubungi nya.
Dret... Dreet...
π΅πΆπΆπΆ
Nina baru saja turun dari taksi, ponselnya bergetar dan berdering di saku. Nina berdiri di pinggir jalan, dibelakang nya ada seorang pria yaitu Mike.
Ini benar-benar jalan ke dekat rumah Violet kan?. Nina melihat papan nama jalan di sana, dia ternyata berencana pergi ke rumah Violet.
"Siapa ini? nomor tidak di kenal?" gumam Nina saat melihat nomor tidak dikenal menelepon nya.
Nina mengangkat telpon itu, "Halo"
"Halo'" jawab Mike
Mike melirik ke arah Nina yang ada dibelakang nya, ia mengenali suara Nina. Begitu pula sebaliknya, Nina juga melihat ke arah Mike. Kedua mata mereka bertemu, dalam sekali lihat saja Nina langsung terpesona saat melihat pria itu.
Tampan sekali.. suaranya seperti Kakak nya Violet, apa dia..
__ADS_1
"Kamu Nina, temannya Violet?" tanya Mike sambil menyimpan kembali ponselnya di saku jaket. Mike bertanya dengan nada introgasi.
Woah, suaranya sangat keren dan gentleman. Apa dia seperti tentara? polisi?. Nina senyum-senyum melihat ke arah Mike
"Hey! aku bertanya padamu! apa kau baik-baik saja nona?" tanya Mike dengan wajah juteknya melihat ke arah Nina yang tampak melamun
"I-iyahh! saya teman Violet" jawab Nina semangat dengan mata yang cerah.
Kyaaa!! Violet, kau sungguh beruntung bertemu dengan makhluk tampan ini setiap hari.
"Saya menelpon nona karena saya ingin bertanya soal Violet" ucap Mike langsung pada intinya.
"Kakak nya Violet, tidak perlu berbicara formal padaku.. aku kan lebih muda dari kakak nya Violet, nama ku Nina"
"Haah.. baiklah salam kenal Nina..namaku bukan kakak nya Violet, tapi Mike" Mike memperkenalkan diri nya para teman adiknya itu.
"Mike?! nama yang bagus" Nina melihat tatapan memburu Nina padanya.
****
Di dalam mobil Leon, perjalanan menuju ke rumah Violet.
Violet terlihat memegang perutnya, wajahnya tampak kesakitan. Leon langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Hey, kau kenapa? apa kau baik-baik saja?" tanya Leon cemas
"Saya tidak apa-apa, ini sering terjadi.. uh.. " rintihnya kesakitan.
Seperti nya maag ku kambuh.
"Sering terjadi bagaimana? apa kau sakit? apa kau terluka?" tanya Leon sambil menatap wanita itu dengan cemas
Kenapa aku senang ya dengan perhatian nya padaku?
"Saya benar-benar tidak papa, lanjutkan saja perjalanan nya. Atau kakak ku akan membunuhku.. auw..." Violet teringat betapa marahnya sang kakak bila dia tau kalau Violet pergi keluar tanpa izin dan tau dia berbohong.
"Kita ke rumah sakit saja" Leon hendak menyalakan kembali mesin mobilnya
"Tidak ,tidak jangan! mengapa ke rumah sakit? saya bilang ini sering terjadi dan saya baik-baik saja" Violet masih memegang perutnya yang seperti di remas-remas itu.
"Baik-baik saja bagaimana? kau kesakitan seperti ini?!"'
"Saya punya penyakit maag, jika terlambat makan memang suka seperti ini. Minum obat maag saja bisa langsung sembuh"
"Maag? apa kau ada obatnya?" tanya Leon panik
"Ada, tapi saya meninggalkan nya di rumah" jawab Violet yang masih kesakitan.
Kenapa dia mesti sepanik itu? ini kan hanya sakit maag?? Violet heran melihat Leon yang panik karena dia sakit maag.
"Apa kau bisa turun dari mobil?" tanya Leon pada gadis itu sambil melihat ke arah beberapa gedung dipinggir jalan itu
"Apa bapak mau mengusir saya karena saya sedang sakit?!" tuduhnya pada Leon
"Apa kau selalu berfikiran negatif pada orang lain? haahh..."
Mereka berdua turun dari mobil itu, kebetulan Leon berhenti tepat di depan sebuah klinik kecil. Leon meminta Violet memeriksakan dirinya disana.
Awalnya Violet menolak, namun karena paksaan dan ancaman pemecatan kerja. Akhirnya Violet setuju untuk diperiksa. Setelah selesai diperiksa, Violet mendapatkan obat dari dokter.
"Bapak tidak perlu sampai seperti ini, kan? saya punya banyak obat maag di rumah. Bahkan ada vitamin juga?" Violet merasa kalau Leon berlebihan.
"Aku melakukan ini bukan karena peduli padamu, tapi ini demi diriku. Kalau kau sakit, mana bisa besok kau mengerjakan pekerjaan mu di rumah ku" ucap Leon jaim
Kau harus selalu sehat Violet, aku akan menjagamu dengan baik. Leon ini lain di mulut dan lain di hati.
Hmphh.. sudah kuduga dia tidak sebaik itu. gerutu nya dalam hati
Violet yang tak memperhatikan jalan, tak sengaja menabrak tiang di jalan dan hampir jatuh.
"KYAA!!"
Violet berteriak, dengan cepat Leon menangkap tubuh Violet yang hampir jatuh itu. Kedua mata mereka saling menatap.
...---***---...
__ADS_1