Kekasihku Raja Iblis

Kekasihku Raja Iblis
Bab 10. Aku ingat semuanya


__ADS_3

🍁🍁🍁


#Masih Flashback


Keith masih memanggil manggil Kainer, namun Raja iblis seolah tidak mendengar suara Keith. Seolah pikiran nya kemana-mana.


Hanya air mata yang membasahi pipinya, mulutnya terkunci rapat.


"Yang mulia, saya tau anda sedih.. anda berduka. Tapi, hari ini adalah hari terakhir dimana tuan putri akan ditempatkan di peristirahatan terakhir nya. Yang mulia harus datang kesana" pinta Keith pada Kainer yang harus menghadiri upacara pemakaman Camellia


"Bagaimana bisa aku datang kesana Keith?! apa itu masuk akal lalu pembunuh datang ke pemakaman korbannya? aku bahkan tidak sanggup mengangkat kepala ku dengan tegap, aku tidak akan sanggup melihatnya.. aku tidak sanggup berhadapan dengan keluarga yang kehilangan dirinya. Bagaimana aku sanggup melihat.. orang yang kucintai terkubur di dalam tanah yang gelap.. aku tidak bisa.. hiks hiks..."


Kainer Frustasi, ia menangis terisak-isak sambil berteriak-teriak. Rasa sakit di hatinya tidak pernah hilang. Rasa bersalah itu sangat mencekik batinnya. Keith sedih melihat penderitaan si Raja iblis itu. Tubuh yang sakit akan baik-baik saja, tapi jika hati yang sakit maka semua anggota tubuh yang lain juga akan sakit.


Keith terus berupaya membujuk Kainer agar mau datang ke upacara terakhir untuk mengantar kepergian Camellia.


Kemudian, Keith, Gordon, dan Kainer pergi ke dunia manusia. Mereka sampai di sebuah bukit yang penuh dengan bunga matahari, disitulah tempat pemakaman keluarga kerajaan Fostiarus.


Begitu banyak orang yang melayat ke pemakaman itu untuk mengantar Camellia ke tempat peristirahatan terakhir nya. Saat peti mati itu dibawa oleh beberapa orang menuju ke liang lahat, hati Kainer seperti tertusuk oleh pedang yang sangat tajam.


Di depan peti mati itu juga ada foto Camellia yang sedang tersenyum lebar. Semua orang disana menangisi kepergian Camellia.


Benarkah didalam sana ada dirimu, Ellia? aku tidak percaya.. Kainer menangis memandangi peti mati itu. Ia dan kedua pengawalnya itu berusaha agar tidak terlihat oleh orang-orang disana.


"Tidak.. Lia.. kenapa kau pergi secepat ini nak? mengapa?! hiks.. " Vivian menangis tersedu-sedu sambil memeluk peti jenazah Camellia. Vivian tidak menyangka bahwa Camellia akan mengalami nasib naas seperti ibunya yang berakhir dengan kematian, di usianya yang masih muda bahkan belum menikah.


"Istriku, sudahlah.. kita harus merelakan Camellia" ucap Gustaf sambil memegang tangan istrinya, ia juga menangisi kepergian Camellia.


Arthur dan Dimitri, sudah jangan ditanyakan lagi. Hati mereka sangat terluka dengan kepergian adik bungsu mereka.


Entah air mata nya sudah mengering atau karena masih tidak percaya adiknya sudah tiada, Dimitri hanya diam dengan tatapan kosong. Sementara Arthur masih menangis melihat peti mati itu, matanya sembab dan merah.


Lia, apa ini hanya mimpi? aku bermimpi kan?


Setelah selesai berdoa, kini waktunya telah tiba bagi Camellia yang berada di peti mati itu untuk di kebumikan.


"Sudah saatnya" ucap seorang pendeta yang memimpin doa, sambil melirik pada Arthur dan Dimitri.


Arthur menyeka air matanya, ia tersenyum pahit lalu menghampiri Dimitri yang masih berdiri di atas pohon yang tak jauh dari sana.


"Kakak, ini sudah waktunya. Ayo kita mengantar Lia.."ucap Arthur dengan berat hati pada kakaknya.


"Arthur.." Dimitri menatap saudara kembarnya dengan mata berkaca-kaca


"Kakak...ini adalah tempat peristirahatan adik kita kak, kita harus mengantarnya dengan sebaik-sebaiknya..Ayo kak, dia sudah menunggu kita" bujuk nya pada Dimitri, walau hatinya sendiri juga berat untuk mengantar kepergian adiknya.


Mengubur adiknya ke liang lahat, adalah hal yang tidak pernah mereka pikirkan dan mereka duga sama sekali. Namun, umur tidak ada yang tau. Adik mereka Camellia, telah pergi dan mendahului kedua kakaknya.


Dengan langkah yang berat, Dimitri dan Arthur melangkah mendekati liang lahat itu. Isak tangis keluarga dan para rakyat mengiringi kepergian Camellia.


Annelise dan Theodore juga ada disana untuk mengantar kepergian Camellia yang terakhir kali. Gloria, Greta, Aludra juga menangisi kepergian Camellia.


"Mengapa yang mulia pergi secepat ini? mengapa yang mulia..hiks.. hiks.." Greta menangis sampai meraung-raung. Greta sangat sayang pada putri yang ia layani itu.


Dia tidak menyangka bahwa Camellia yang dekat dengannya akan meninggalkan nya dengan cepat. Kenangan kenangan bersama Camellia terlintas di hatinya, ia merasa baru kemarin dia dan Camellia berlari-lari bersama di gang kota dan jalan-jalan bersama. Kini sosok Camellia sudah tidak ada lagi.


"Mengapa orang baik selalu di panggil lebih dulu? kenapa.." Aludra juga ikut menangis, melihat jenazah Camellia memakai gaun putih terbaring di peti mati.


Keith, Kainer, Gordon melihat mereka dari kejauhan. Kainer ingin mendekat dan mengantar kepergian kekasihnya itu. Namun, ia tidak sanggup untuk melangkah lebih jauh.


"Yang mulia, apa yang mulia tidak akan kesana?" tanya Gordon pada rajanya itu


".... "Kainer hening dan hanya menatap ke arah kerumunan orang di dekat makam itu dengan pandangan penuh duka.


"Tuan putri pasti sudah menunggu anda yang mulia" ucap Keith sedih

__ADS_1


Ellia menungguku? benarkah dia menungguku? bukankah dia tidak akan senang melihat ku berada disini? tidak mungkin dia ingin aku mengantar kepergian nya.


"Tuan putri, tidak membenci anda yang mulia.. percayalah" kata Gordon yang seakan-akan mengerti apa yang ada di pikiran Kainer.


Raja iblis itu melihat ke arah Gordon dengan bingung. Keith juga mengatakan bahwa sampai akhir Camellia tidak membenci dan menyalahkan Kainer atas semua yang terjadi padanya. Itu memang benar, tapi Kainer lah yang tenggelam dalam perasaan bersalah nya.


Bagaimana bisa ia sanggup mengantar kekasih nya yang mati dengan tangannya sendiri? dialah yang mengakhiri nyawa itu, walaupun dirinya sedang berada dalam pengaruh bubuk racun. Fakta itu tidak akan pernah berubah.


Peti mati itu terbuka lebar, semua orang melihat Camellia berbalut baju putih dan cantik terbaring disana. Matanya tertutup rapat, bibirnya yang sebelum nya pucat, sudah diolesi pemerah bibir. Rambut perak nya di sisir dengan rapi, dibiarkan terurai.


Arthur jatuh terduduk, dia tak kuasa menahan tangis dan kesedihan nya. "LIA!! Lia..hiks ..hiks"


"Pangeran Arthur, kuatkan dirimu!" ujar Derrick keponakan nya, sambil membantu Arthur berdiri.


"Cepat kita selesaikan ini, hari sudah mulai gelap. Kasihan Lia" ucap Gustaf sambil melihat ke arah langit yang sudah mulai mendung.


Derrick terlihat sedih, ia memandang jenazah keponakan nya dengan hati yang berduka. Derrick mencium kening Camellia dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan pamanmu ini Lia, paman tidak bisa menjagamu dengan baik. Paman tidak bisa menjaga amanat ibumu sebelum ibumu tiada untuk selalu menjaga mu, maafkan paman. Sekarang paman berharap kau tenang di alam sana dan berkumpul bersama ibu dan ayah mu. Pergilah dengan tenang nak" Air mata Derrick tak sengaja jatuh membasahi pipi Camellia. Dengan cepat Derrick mengusapnya, ia mengelus rambut halus gadis itu sebelum mengucapkan kata-kata terakhir nya untuk keponakan nya.


Derrick sangat merasa bersalah karena dia tidak selalu ada untuk Camellia di masa hidupnya. Padahal Leticia sudah pernah berpesan agar Derrick menjaga Camellia.


Maafkan aku Tisha, maafkan kakak mu ini karena tidak bisa menjaga putrimu dengan baik dari iblis itu.


Arthur dan Dimitri bersamaan mendekati jenazah adik mereka yang terbaring di peti mati itu. Mereka membawa setangkai bunga Camellia.


"Lia.. maafkan kakak ya? kakak tidak bisa menjagamu dengan baik. Sehingga kau seperti ini.." ucap Dimitri sambil mengelus kepala adiknya dengan lembut, air mata membanjiri pipinya.


"Maafkan kami Lia, kami harap kau bahagia di sana dan bertemu ayah juga ibu" ucap Arthur sambil meletakkan bunga Camellia di samping jenazah adiknya.


"Selamat jalan adikku sayang" Dimitri mengecup kening adiknya penuh kasih sayang, ia menangis penuh duka.


Setelah para keluarga dan kerabat selesai menyampaikan pesan terakhir mereka, kini saatnya telah tiba untuk prosesi pemakaman Camellia.


Peti mati sudah akan ditutup. "Tunggu!!"


"Mau apa kau kesini iblis sialan?!!belum puas kau membuat adikku tiada?!!" Arthur menatap Kainer dengan penuh kebencian. Ia memaki Raja iblis itu tanpa takut. Kakak mana yang tidak akan sakit hati bila adiknya tiada ditangan kekasihnya sendiri dengan cara yang mengenaskan.


"Apa kau masih belum puas membuat Lia menderita?!" teriak Dimitri murka pada Kainer yang berani menunjukkan batang hidungnya setelah membunuh adiknya itu.


BRUGH


Raja Iblis itu berlutut di depan semua orang disana, ia memohon agar diizinkan melihat Camellia untuk yang terakhir kalinya. Semua orang tentu saja menentangnya, apalagi kedua kakak Camellia.


Namun,Gustaf mengizinkan nya karena ia tau bahwa Camellia mungkin sedang menunggu Kainer juga. Gustaf tau betapa Camelia sangat mencintai Raja iblis itu.


Kainer pun mendekati jenazah Camellia ditengah-tengah mata penuh kebencian menatapnya dengan tatapan tajam. Kaki nya gemetar, ia seperti mati rasa melihat jenazah gadis yang ia cintai terbaring di peti mati.


"Jangan lama-lama!!" ujar Arthur pada Kainer dengan suara lantang nya.


"Arthur tenanglah! kita sedang berada di makam Lia" ucap Derrick pada keponakan nya itu.


Kainer merogoh saku bajunya, disana terlihat kotak kecil berwarna merah berbentuk love. Kainer membuka kotak itu dan terlihat lah sebuah cincin permata yang indah berbentuk bunga Camellia berwana merah.


"Tadinya aku ingin memberikan ini padamu, aku ingin menikahi mu. Jika aku bisa mati bersamamu aku ingin mati bersamamu. Maafkan aku Ellia... aku mencintaimu.. aku tidak sengaja membuatmu begini" Kainer menangis, ia pun menyematkan cincin indah itu ke jari manis Camellia.


Bibirnya mencium telapak tangan Camellia dengan lembut, air mata membasahi pipinya. Terakhir, ia mencium bibir Camellia sebagai tanda perpisahan.


Camellia pun di kebumikan setelah itu, ia sudah berada di dalam tanah bersama peti matinya. Semua orang yang melayat, satu persatu mulai pergi meninggalkan pemakaman itu.


Namun Kainer masih berdiri mematung disana, bersama dua kakak Camellia dan Gloria yang masih ada disana. Kainer memandangi nisan bertuliskan nama Camellia dan ada fotonya disana dengan mata kosong.


"Mau apa lagi kau disini? adik kami sudah tiada, apa lagi yang kau inginkan?!" ucap Arthur emosi pada Kainer


"Mengapa kau tidak mati saja sendiri? mengapa adikku yang tidak bersalah harus menanggung semua rasa sakit itu?! kenapa adikku yang harus tiada?!"

__ADS_1


"Percayalah aku juga ingin mati!!" teriak Kainer dengan hati yang perih.


Dimitri dan Arthur tersentak mendengar nya, apalagi saat Kainer menangis. Mereka tak percaya Raja iblis yang agung bisa menangis.


"Aku ingin mati tapi aku tidak bisa! aku ingin menggantikan nya tapi aku tidak bisa!!" Kainer menangis histeris, ia menjerit perih hatinya.


Raja iblis itu terduduk di depan makam Camellia. Dimitri tertawa melihat Kainer seperti itu, ia puas karena Kainer hidup abadi.


"Rasakan kesedihan mu! di dalam hidup mu yang abadi itu, kau akan terus merasa bersalah! kau akan terus merasa kehilangan! kau akan hampa selamanya, aku mengutuk mu! bahwa kau tidak akan pernah hidup bahagia! setelah membunuh kekasihmu dengan tanganmu sendiri, kau tidak akan bahagia!! camkan itu!" Dimitri menunjuk ke arah Kainer dengan murka dan duka.


Arthur pun membawa kakaknya pergi dari sana. Kini hanya tinggal Gloria, Kainer dan kedua anak buahnya yang berada disana. Suara gemuruh petir terdengar.


"Aku sudah memperingatkan mu, tapi kau tidak mendengar ku Raja iblis" ucap Gloria sambil melihat ke arah Kainer yang duduk berlutut di depan makan kekasihnya.


"Apa kau sedang menabur luka diatas garam?" tanya Kainer sambil melirik tajam pada Gloria.


SRASHH~~~


Hujan deras dan lebat membasahi bumi, di hari pemakaman Camellia. Gloria dan Kainer masih berada disana, mereka kehujanan.


Seandainya aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin meminta nyawaku ini ditukar dengan nyawamu. Aku lah yang harusnya berada di bawah sana, bukan kau Ellia.... aku minta maaf maafkan aku.. Tak hentinya Kainer mengucapkan kata maaf pada makam itu, air matanya yang terus ia keluarkan bahkan belum mengering..


"Bahkan langit pun ikut menangis dengan kepergian tuan putri" Gloria membiarkan dirinya terguyur air hujan, ia tersenyum pahit. "Raja iblis, takdirmu dan tuan putri belum berakhir sampai disini. Aku melihatnya" Gloria tersenyum tipis


"Apa? apa maksud mu?" Kainer menengadah ke arah Gloria, ia berdiri memandang ke arah Gloria dengan mata penuh pertanyaan.


Gordon dan Keith juga ikut terkejut dengan perkataan wanita tua itu. Gloria melihat takdir Kainer dan Camellia belum berhenti? apa maksudnya?


"Kau akan bertemu lagi dengan nya di dunia yang berbeda, tapi kau harus menunggu nya dan itu cukup lama. Jika kalian berjodoh, mungkin di kehidupan selanjutnya kalian akan bersama dan hidup bahagia. Tidak seperti disini" jelas Gloria pada Raja iblis itu.


Jika memang ada kehidupan selanjutnya, aku tidak akan berani untuk mencintaimu lagi. Aku tidak mau membuatmu terluka karena cintaku padamu. Aku akan melihatmu dari jauh dan menjagamu dari jauh.


"Ketika saat itu tiba, kau harus menjaga nya dengan baik"


"Aku berjanji tidak akan membiarkan nya terluka lagi, aku akan menjaganya meskipun satu kejauhan" Kainer mengusap gambar Camellia yang ada disana, ia tersenyum pahit.


#END FLASHBACK


🍁🍁🍁


Kembali ke dunia modern..


WUSH~~~


Mendadak dibelakang tubuh Leon ada sepasang sayap berwarna hitam. Mata nya berubah menjadi warna hitam yang pekat dan menyala-nyala.


"Aku.. aku ingat semuanya, aku adalah Raja iblis" ucap Leon sambil memandangi perubahan yang ada di dalam dirinya dan juga melihat ke arah Violet yang masih tidak sadarkan diri.


"Akhirnya kau ingat semuanya Raja iblis" pria bertopeng itu tersenyum lembut pada Kainer.


"Kau.. Gloria?" Leon menatap ke arah pria itu dengan yakin bahwa dia adalah Gloria.


Akhirnya Gloria menunjukkan wajah aslinya dibalik pria bertopeng. Gloria tersenyum pada Leon dan Violet.


"Aku datang kesini untuk memastikan bahwa kalian bersama" wanita tua itu tersenyum lebar melihat Kainer alias Leon.


"Apa maksudnya semua ini? apa aku bereinkarnasi?"


"Bukan kau, tapi tuan putri lah yang bereinkarnasi. Dia adalah gadis yang saat ini ada di pelukan mu" jelas Gloria pada Kainer


"Violet?? pantas saja aku merasa kalau dia terasa familiar" Leon melihat ke arah Violet yang kembali menjadi dirinya.


"Tuhan telah memberikan kesempatan padamu untuk bertemu dengannya kembali. Tapi dia tidak akan pernah mengingat mu" Gloria tersenyum memandang ke arah Violet.


Leon tercekat mendengar nya. Dalam hatinya ia senang karena bisa bertemu lagi dengan Camellia dalam wujud Violet namun disisi lain dia sedih karena Violet tidak memiliki ingatan Camellia.

__ADS_1


"Harap kau menepati janjimu, kali ini dia harus berumur panjang. Kau harus menjaganya"


...---***---...


__ADS_2