Kembali Masa Lalu Dengan Sistem

Kembali Masa Lalu Dengan Sistem
Chapter 21. Rencana


__ADS_3

Malam datang dengan gemulai. Cahaya bulan memancar dari jauh, memainkan bayang-bayang di permukaan bumi yang terlelap, seperti pelukis yang mahir, malam mengoreskan kuasnya dengan warna biru yang lembut mengecet dunia dengan rasa misteri yang tak terperangkap oleh cahaya terang.


Di bawah puncat yang berkilau, sebuah mansion mewah berdiri menjulang ke langit.


Terlihat Adit dan Dika sedang menatap mansion tersebut dengan pandangan serius. Sesuai rencana tadi, Adit ingin segera mengurus tindakan kejam keluarga Emilia.


Dia juga sudah mendapatkan peringatan dari sistem untuk segera melalukan dengan cepat sebelum terlambat.


"Apa benar ini tempatnya, Dika?" tanya Adit sambil menatap hp yang berisi petunjuk arah.


"Iya, tidak salah lagi ini adalah rumahku... walaupun aku sudah lama tidak pulang ke rumah," sahut Dika.


Adit jujur saja sedikit kepo dengan perkataan Dika mengenai 'sudah lama tidak pulang' apa itu artinya dia kabur dari rumah? Dia ingin bertanya tapi sekarang bukan waktu tepat.


"Ayo masuk bos Adit."


"Ya."


Adit mengikuti langkah kaki dari Dika, yang berjalan menuju pintu masuk.


Remaja itu menekan bel mansion agar seseorang datang, selang beberapa saat seorang wanita berpakaian pelayan datang menyambut ke datangan Dika.


"Baik, selamat datang apakah ada yang bisa saya bantu...."


senyuman dan perkataan dari pelayan wanita itu menghilang diganti dengan wajah terkejut saat menatap Dika.


"Kamu... Tuan Dika? Akhirnya anda pulang juga. Apa yang tuan inginkan?" tanya Pelayan dengan ramah.


Mendengar percakapan dari pelayan, Adit bisa menyimpulkan bahwa memang Dika keluar dari rumah atau kabur dalam waktu yang lama walau dia tidak tahu apa alasannya.


"Aku cuma ingin ketemu ayah sebentar setelah itu... enatah lah mungkin aku tidak akan kembali lagi."


Mendengar jawaban dari tuannya, pelayan wanita itu memasang wajah sedih dan masam. "Jadi begitu tuan... padahal Tuan besar pasti khawatir."


Dika tersenyum mendengar itu. "Ayah tidak akan khawatir? Toh dia punya pengganti yang lebih baik."


Keheningan mengitari mereka semua, Adit yang tidak mengetahui pembicaraan, Pelayan wanita yang menjadi masam dan sedikit sedih, sedangkan Dika malah tersenyum palsu.

__ADS_1


"Sudah lah. Yuk masuk bos Adit."


Dika berjalan melewati pelayan itu tanpa menatap. Adit mau tak mau harus mengikuti langkah kaki dari Dika.


Sesampainya di mansion Adit membelalakan mata, melihat keindahan mansion.


Lampu mewah yang menggantung  di ruangan tengah berbentuk lingkaran ini, musik klasik ala-ala kerajaan, berbagai lukisan yang terletak di pojok ruangan, tangga besar di tengah ruangan, dan lantai berwarna orange dengan motif bunga hitam yang mengelilingi satu ruangan.


Ini merupakan mansion dari seorang polisi yang memiliki pangkat paling tinggi di kota ini jadi wajar saja dia punya kejayaannya dan tempat tinggal yang hebat.


Tanpa menghiraukan Adit, Dika berjalan memandu arah, menaiki tangga, memasuki lorong dan masuk ke dalam salah satu kamar.


Clark..


"Ayah... aku pulang." Ketika Dika membuka pintu, ada seorang pria berpakaian kasual sedang bersantai di tempat duduk, meja tempat dia beristirahat terlihat penuh oleh banyaknya dokumen dari polisi.


Entah itu kasus seperti pencuri, kekerasan, pembunuhan dan masih banyak lagi. Orang tua Dika baru saja membaca tumpukan kasus yang harus ditindaklanjuti dan dia sekarang istirahat karena lelah.


"...Ya, kamu pulang juga... inginnya mengatakan itu, tapi kamu ada motif kan ke sini? Cepat duduk dan cerita masalah teman wanita mu itu!"


Pria itu berseru dengan nada malas tapi penuh penekan, itu bukan merupakan nada seorang ayah ketika menyambut anak yang sudah lama tidak pulang.


"Baik ayah." Dika berjalan dan duduk di kursi, berdampingan dengan Adit.


" aku sudah mendengar kabar dari chat Dika.. pada awalnya kukira kamu sudah berhenti bermain geng-geng dan ingin kembali ke rumah, meniru kakakmu yang sukses itu! Tapi aku kecewa. Ternyata malah mengurus keluarga bermasalah dari teman wanitamu..."


Ruangan menjadi hening untuk beberapa saat usai ayah Dika yang bernama Bambang itu selesai berkata.


Menyadari keheningan ini Adit membuka suara. "Itu benar kami disini untuk melaporkan tentang kekerasan rumah tangga temanku, dia adalah gadis bernama Emilia."


"...Kekerasan fisik rumah tangga, ya? Apa kamu ada bukti? Aku meluangkan waktu untuk bertemu dengan kalian itu karena Dika adalah anakku, jika tidak mana mungkin ada polisi yang mendengar keluhan anak SMA."


Tandas Bambang dengan mata serius, dia berharap Adit memberikan data yang bisa dipercaya karena kekerasan rumah tangga adalah kasus paling tidak boleh dilewatkan.


"Maaf aku tidak punya bukti untuk sekarang."


"Hah? Apa kamu bercanda!? Jangan bermain-main dengan orang dewasa! Jika tidak ada bukti maka laporan itu bisa saja palsu."

__ADS_1


"Aku memang tidak ada bukti, untuk sekarang... tapi aku punya ini."


Adit tersenyum, lalu dia mengeluarkan empat bongkah emas yang baru saja dia beli melalui sistem.


[Coin berkurang 40]


[Sisa coin 6.740]


Bambang mengerutkan kening melihat empat buah emas ada di meja depan mata dia. Dia tahu apa yang hendak bocah SMA katakan, hanya saja tiba-tiba emas itu muncul terlebih lagi bocah seperti dia mengeluarkan empat emas segitu mudahnya. Itu Artinya paling tidak, mereka tidak bohong mengenai laporan.


"Empat emas, ya? Kamu berencana menyuapku?" tanya Bambang tentu sebagai orang dewasa dia merasa terhina.


"Apa kurang? Akan kuberikan lebih banyak lagi. Asalkan anda mau menerima kasus ini, lalu setelah kasus ini selesai, aku akan memberikan lebih banyak lagi,"


ucap Adit dengan serius, aura karisma dan pemimpinan dia juga keluar, Bambang jadi tidak menunjukkan keraguan.


Meskipun hina tapi ini adalah rezeki! Jika kamu punya uang maka punya kuasa, bahkan hukum pun bisa dibeli dengan uang. Adit menyadari hal itu dan membayar polisi dengan emas sebanyak-banyaknya.


"Bagus kamu menarik! Akan kuterima kasus ini."


Adit tersenyum rendah, dia sedikit merasa jijik karena dengan uang masalah akan selesai.


"Sebisa mungkin aku ingin secepatnya diproses... dia, Emilia sangat terlihat sangat menderita tadi."


"Aku tahu, ada uang maka kami akan bertindak serius..." ucap Bambang sambil melihat empat emas dengan serius. Dia hari ini makin kaya!


Adit sudah merasa muak dan berdiri dari tempat duduknya. "Aku ambil perkataan itu, jika saja kamu bohong? Lihat saja apa yang akan kamu dapatkan!" kata Adit dengan tatapan mengintimidasi.


Bambang yang merupakan salah satu polisi paling berpengaruh di kota ini saja bergidik ngeri melihat mata Adit. Pada awalnya dia punya rencana untuk pura-pura melakukan tugas dan menipu Adit, tapi kayaknya remaja itu tidak sebodoh yang dia kira.


"Hmm tenang saja... dengan kemampuan kami, akan ku tangkap secepat mungkin."


Adit hanya menganggukan kepala walau ada keraguan, lalu dia menutup pintu dan pergi terlebih dahulu menuju rumah.


Saat Adit sampai di rumah, dia mencari Emilia yang masih menginap di rumahnya. Gadis itu tampak tertidur di salah satu kamar yang tidak terpakai.


Adit tersenyum puas melihat Emilia tertidur pulas, lalu dia kembali ke kamar sendiri untuk tidur.

__ADS_1


Namun satu hak yang tidak dia ketahui bahwa Emilia pura-pura tidur dan punya rencana untuk melakukan sesuatu yang akan dia lakukan di masa depan....


__ADS_2