
Esoknya Adit mendapatkan pangilan dari pak Eko untuk datang ke Olimpiade seperti yang telah direncanakan, meski dia enggan, tapi anak itu terpaksa ikut. Lagipula Adit melihat dari segi positif, jika dia ikut Olimpiade itu artinya dia bisa bolos dari pelajaran sekolah yang membosankan.
Tentu perjalan menggunakan bus menuju ke tempat lomba lebih asik daripada harus duduk di kelas, walaupun Adit tidak punya kenalan satu orang pun di bus yang kini dia kenakan karena rata-rata yang ikut lomba berasal dari luar sekolah sehingga hampir tidak ada orang selain Adit di bus ini.
Oleh karena itu dia duduk sendiri di bus, menatap pemandangan melalui jendela. Namun itu cuma pemikiran sebentar.
"Oh, sudah kuduga kamu ada di sini Adit." terdengar suara perempuan mendekat.
"Loh, bukankah itu bos Adit? Kamu juga dipaksa ikut?" Kali ini adalah suara lelaki.
Saat dalam ketenangan, dia mendengar dua suara yang tidak asing bagi dia. Pemiliki suara ini adalah Nia dan Dika.
Melirik dengan malas, ia menghembuskan napas. Padahal dia lebih suka jika tidak ada kenalan karena dia bisa berbuat hal tidak mencolok. Tapi kenapa malah jadi begini.
Nia dan Dika, mereka bisa dibilang dua orang paling pintar di angkatan Adit. Saking imbangnya dua orang ini selalu merebutkan posisi rangking satu, jadi wajar saja mereka dipaksa Pak Eko untuk ikut.
"Kalian juga korban paksaan Pak Eko?" tanya Adit menatap dua orang yang berdiri di depan matanya.
Dua orang itu menganggukan kepala.
"Yah, duduklah, Kursi masih banyak yang kosong."
Mendengar hal itu dua orang tersebut langsung duduk tanpa permisis. Posisi Dika berada di samping Adit, sedangkan Nia berhadapan dengan mereka berdua. Kursi bus saling berhadapan dengan jumlah 4 kursi.
Bus itu melaju dengan kecepatan sedang, melewati pegunungan, pedesaan dan akhirnya berhenti tepat di gedung mewah yang menjulang tinggi hingga ke langit.
Semua murid dalam Bus bergegas untuk turun, ingin secepatnya menghirup udara segar setelah perjalanan dalam waktu yang cukup lama. Adit, nia, dan Dika. Tiga orang tersebut kalah dalam mengambil garis star sehingga membuat mereka terombang-ambing dengan banyaknya orang saling berebut untuk turun.
Namun, meski begitu selang beberapa saat mereka berhasil turun walau napas terengah-engah.
"Hei bukankah mereka dari sekolah SMA Garuda?" sebuah suara menghapus kelelahan mereka, dengan cepat tiga orang itu melirik.
Terlihat tiga orang pria seangkatan Adit tersenyum merendahkan. Mereka berasal dari sekolah lain yang tidak dia ketahui.
"Iya kami dari SMA Garuda ada yang aneh?" Adit menjawab dia dapat merasakan bahwa orang yang berkata seperti itu mempunyai niat buruk.
Tiga orang yang ditanya malah tertawa kekeh, sudah jelas sekali bahwa mereka mencari masalah. "Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir kenapa sekolah lemah seperti kalian datang ke sini? Ini adalah daerah kekuasan kami, kalian tidak mungkin menang!" Mereka berkata serompak dengan sangat yakin.
__ADS_1
Yah, walaupun Adit sendiri tidak terlalu niat untuk mencari kemenangan, tapi mendengar mereka mengejek SMA Garuda membuat dia sedikit pikam. "Hah? Lalu bagaimana dengan kalian, apa kamu pikir bisa menang begitu saja?"
"Hahaha apa kamu buta? Tuan Angga pasti akan menang, dia adalah salah satu murid paling pintar di kota ini, memenangkan banyak lomba dan membangkan SMA Karangmulyo. Tapi bagaimana dengan SMA Garuda, kalian selalu kalah dalam lomba." salah satu orang berkata dia memuji orang yang berada di tengah yang tidak lain adalah Angga.
Angga menghela napas dengan sombong, meletakan kedua tangan di dada. "Yah, lihat saja nanti pecundang. Kami SMA karangmulyo pasti akan menang!" Dia membalikan badan dan berjalan menjauh diikuti oleh dua orang tadi.
Nia berdecak sebal setelah mendengar provokasi barusan, dia merasa sangat terhina walau memang dia tidak ada tandingan bagi Angga. "Dit lebih baik kamu tidak membuat masalah dengan Angga karena memang benar dia sangat luar biasa pintar. Aku selalu ikut lomba olmpiade dan kebetulan berada di satu tempat yang sama. Dia pasti selalu mendapat juara pertama."
Tidak merespon Adit menatap tajam pungung tiga orang yang menjauh tersebut. Dika menepuk pungung Nia mencoba menenangkannya. "NIa, tidak perlu khawatir, bagi Bos Adit mereka tidak ada apa-apanya." Menghentikan ucapan, Dika tersenyum smrik. "Lagipula jika memang Bos kalah maka aku akan turun tangan." Dia mengepalkan tangan, sebuah tangan bergelud.
"Lupakan Dika, dia hanya orang sombong. Lebih baik fokus ke diri sendiri," lirih Adit, kembali membalikan badan untuk melihat dua temannya.
"Baik, ayo anak-anak segera masuk ke gedung lantai 3 untuk melaksanakan Olmpiade!" Suara lantang pria paruh baya merusak pendengaran mereka, ini adalah suara Pak Eko. Sebagai penangung jawab para murid dia memandu semua orang.
Langkah-demi langkah dilakukan oleh semua orang, mereka memasuki lift dan sampai di lantai 3 kemudian memasuki kamar khusus untuk olmpiade.
Tanpa basa-basi semua orang memilih tempat duduk yang telah disediakan dan memperhatikan pria paruh baya yang sepertinya adalah juri dari acara ini.
Pria itu berdiri di atas panggung memberikan ucapan salam dan terima kasih kepada semua orang yang telah datang ke tempat ini.
"Saya ucapkan terima kasih kepada beberapa sekolah yang telah bersedia meluangkan waktu dan mencalonkan beberapa siswa untuk hadir di acara hari ini. Saya Nafiz, selaku juri akan menjelaskan beberapa test yang akan dilakukan."
Orang tersebut membagikan lembar test kepada semua orang.
"Wah bukankah ini Angga? Kalau kamu sudah datang tidak diragukan lagi bahwa kamu akan menang." ucap sang juri ketika membagikan lembar ke Angga.
"Ya aku pasti akan menang tidak seperti orang disampingku." dia tersenyum dan mengejek Adit yang berada di sampingnya.
Nafiz menatap Adit ada tatapan merendah di matanya, mungkin karena tidak pernah melihat sosok Adit ikut lomba jadi dia merendahkan dia dan menganggap remeh.
Setelah beberapa saat akhirnya semua telah mendapatkan soal masing-masing.
Lembar soal ini terlihat sangat sulit bagi anak SMA kemungkinan berada di tingkat universitas.
"Jadi begitu, 50 soal seperti ini dalam 45 menit. Inisih gila." Disampingnya Adit dapat mendengar Dika bergumam.
"Serius? Ini sangat sulit."
__ADS_1
"Levelnya sangat tinggi."
"Setidaknya butuh 1 jam untuk menyelesaikan ini."
Gumaman demi gumanan memenuhi ruangan test tersebut, sang juri mengerutkan kening karena melihat kegaduhan tersebut.
"Diharap tenang!' seru tegas Nafiz.
Semua langsung menundukkan kepala, berpasrah dan mengerjakan semampunya. Mereka sudah tidak mengharapkan untuk menang apalagi ada Angga- sosok murid terkenal selalu menang disegala lomba dan murid paling pintar di kota, melihat dia tentu saja semua orang menjadi tidak percaya diri.
Saat semua orang sibuk akan kesulitan soal ini, ada yang mengaruk rambut saking frustasinya. Mereka semua dalam keputusaan.
Namun, tampaknya soal selevel ini tidak berguna bagi Adit. Dia justru berpikir kenapa semua orang mengeluh? Bukankah ini termasuk soal mudah.
"Soal seperti ini sulit? Ini sangat mudah." gumam dia sambil terus menulis jawaban.
Angga yang duduk tempat di samping kiri Adit, tersenyum merendahkan. "Ya pasti sangat mudah. Karena kamu mengarap dengan asal."
Mengabaikan ejekan musuh, Adit masih fokus menatap lembar soal. "Mari kita lihat saja Angga, kalau aku bisa menyelesaikan ini dalam dua puluh menit."
"Dua puluh menit? Jangan ngelawak! Aku saja sangat yakin jika butuh waktu setidaknya tiga puluh menit." Ada keraguan dan ejekan dari kalimat tersebut, tapi melihat keseriusan Adit dalam mengerjakan tugas, entah kenapa ada keyakinan lain yang berkata bawa orang ini mampu!
'TIdak mungkin cuma perasaanku. SMA Garuda hanyalah sekolah orang bodoh tidak ada tandingan dengan SMA karangmulyo, apalagi melawan bocah yang bahkan tidak kutahu namanya?' piki Angga. Daripada terus berpikir dia memutuskan untuk fokus mengerjakan.
Waktu cepat berlalu, Adit menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh menit seperti ucapanya, selesai dengan jawaban dia meletakan alat tulis di meja dan mengankat tangan tanda bahwa dia telah selesai dengan soal,
Semua orang terhening dan terdiam, apalagi Angga yang berada di samping. Dia sangat heran dan tidak menyangka bahwa dia benar-benar bisa menyelesaikan soal dalam dua puluh menit.
Benar-benar tidak ada yang percaya ada murid yang bisa menyelesaikan soal tingkat seperti ini dalam dua puluh menit, kalau Angga yang selesai mungkin lain cerita, mungkin mereka bisa menerima saja karena dia terkenal pintar. Tapi Angga saja baru menyelesaikan setengah dari soal, tapi murid tidak terkenal ini dan entah siapa namanya telah menyelesaikan soal dengan cepat.
Disisi lain Dika tersenyum. 'Sesuai dugaan dari bos dia benar-benar hebat.'
Pak Eko yang melihat dari sudut ruangan juga ikut tersenyum simpul. 'sudah kuduga mataku tidak buta, Adit adalah harimau yang pura-pura tidur, pasti dia sengaja pura-pura bodoh dulu agar tidak mau ikut olmpiade... sungguh bakat yang tidak terduga.'
"Apakah kamu sudah selesai nak?" tanya Nafiz berjalan mendekati meja Adit.
"Ya, silahkan langsung bisa dicek."
__ADS_1
Nafiz mengambil lembar soal menatap semua soal dengan fokus tinggi. Kelopak mata dia terbuka lebar seolah melihat hal luar biasa yang tidak mungkin terjadi.
"Ini sangat luar biasa, semua benar.."