
Mobil milik Adit melaju dengan cepat, menyelip banyaknya kendaraan dan memotong udara. Dalam waktu kurang lebih lima menit, mereka akhirnya sampai di sebuah hotel Al-Faris tersebut.
"Wahh, lihat Sayang, ini sangat indah!" Bu Rani berkata, meski sedang berada di dalam mobil, tapi pemandangan hotel dari dalam masih terlihat luar biasa.
Menganggapi ucapan sang istri, Pak Aldo menganggukan kepala. Adit menginjak gas lagi dan masuk ke zona parkir, berjalan keluar parkir. Adit menatap dua staf yang menunggu dan menyambut kedatangan tamu.
Dua staf itu menundukan kepala karena melihat sosok Adit sedang berjalan. "Selamat datang kembali Tuan Adit."
Sial, perkataan itu terlalu mendadak bagi Adit dan kedua orang tuanya, sesuai dugaan. Pak Aldo dan Bu Rani membelalakan matanya karena mendengar ucapan 'tuan' keluar dari Adit.
Mereka mulai merasa ada hal aneh di sini.
"Ya, terima kasih nona!" Dia hanya tersenyum dan berjalan melewatinya tanpa mengucapkan apapun.
Di tengah lorong hotel yang tampak megah dan besar, Bu Rani menjadi sedikit curiga, akhirnya dia memutuskan untuk berkata kepada anak semata wayang yang sedang mengerek dua koper berat menggunakan kedua lengan.
"Nak, kenapa Staf tadi memanggilmu tuan Adit?"
"Itu benar, Nak. Bapak juga kaget mendengarnya."
__ADS_1
Adit menghentinkan langkahnya, ada jeda beberapa detik untuk memikirkan alasan yang logis. Lalu Adit membalikan badan tersenyum tulus, sebuah senyuman yang tidak mengambarkan kebohongan.
"Hahaha apa yang ibu katakan? Ini adalah hotel terkenal jadi bukankah wajar saja jika tamu dipanggil dengan tuan untuk kehormatan dan membuat mereka betah."
Jika dipikirkan dengan baik perkataan Adit terlalu bodoh untuk dipercayai, bagaimana mungkin seorang staf memanggil tamu tuan? Jika pelayan maka akan beda cerita. Tapi bagi mereka yang bahkan baru pertama kali menginjakan kaki ke hotel, logika Adit cukup masuk akal.
"Jadi begitu, ya? Hahaha~ ibu dan ayah terlalu tidak update sama jaman sekarang, kami sangat bangga anak kita bisa bekerja sebagai karyawan di hotel sehebat ini, benar bukan sayang?" Bu Rani menerima perkataan tersebut dan tersenyum.
Jujur saja ada rasa bersalah di hati Adit karena terus saja menipu kedua orang tuanya, tentu dia merasa senang melihat mereka tersenyum, tapi ada rasa kecewa di dalam hati karena mereka tidak menyadari fakta jika semua ini adalah milik Adit.
Jika saja mereka tahu pasti mereka akan lebih kagum dan itu membuat Adit bahagia, namun dia pada akhirnya akan kesusuhan untuk menjelaskan, jadi dia memilih untuk berbohong sementara waktu.
Jika waktu sudah tepat maka dia akan membahas ini dengan jujur. Namun untuk sekarang menutupi adalah pilihan yang bagus.
Klarkk...
Ketika membuka pintu terlihat jelas betapa menawan dan berkelasnya kama ini. Kasur besar yang cukup untuk limat orang berada di sana, terdapat televisi canggih terpasang di didnding dengan sangat elegan, lampu sebagai penerang juga tidak kalah. Apalagi dipadukan dengan jendela luar yang biasa melihat segala keindahan di atas, kamar ini sangat cocok untuk di bilang ruang VIP.
"Wah, ini sangat hebat nak!"
__ADS_1
"Jujur saja ini diluar dugaanku... apa kita bisa melihat kondisi luar dari sini."
"Ya, kurang lebih ayah bisa melihat, masih ada ruangan di luar jendela untuk melihat kondisi atas."
Mendengar hal itu pak Aldo langsung mengecek dan menikmati pemandangan atas, sedangkan bu Rani terlihat memotret dan dan slfie dengan bahagia.
Sungguh melihat pemandangan ini membuat hati Adit sejuk.
Ding...
Suara bel berbunyi di kamar Adit, dia langsung berjalan untuk membuka pintu kamar. Terlihat seorang yang tidak asing, dia adalah Manejer Farid.
"Apa yang anda perlukan tuan Farid?" tanya Adit kebingungan.
"Aku cuma mau mengecek apakah ruangan yang kuberikan sesuai dengan selera Tuan Adit.?"
"Ruangan ini sangat luar biasa, jadi untuk sekarang biarkan aku dengan keluargaku." Adit berkata dia ingin segera menutup pintu, tapi terhenti oleh ucapan Farid.
"Tunggu tuan, anda dan orang tua anda baru saja datang, aku yakin kalian pasti lapar. Oleh karena itu, saat ini adalah jam makan bagi para penguhi hotel, anda bisa membawa kedua orang tua untuk makan."
__ADS_1
Adit tersenyum, memang benar sudah lama sekali dia tidak makan semenjak mengurus perihal Nabila. Tapi sekarang kesempatan makan telah tiba, apalagi makan di tempat hotel terkenal seperti ini, Adit yakin hari ini dia akan berpesta.
"Baiklah, aku dan orang tuaku akan segera ke bawah. Siapkan makanan terbaik untukku! Dan ingat jangan bertingkah formal saat aku bersama keluargaku." Adit menutup pintu, benar-benar menghilang.