
Di dalam ruangan rumah sakit. Adit masih memandang kedua orang tua yang tergeletak dengan pucat di kasur.
Dia menatap penuh perhatian dan rasa iba, ingatan tentang kematian mereka kembali teringat.
Namun kali ini dia tidak akan mau mengalami lagi!
"Ayah, ibu. Aku pasti akan menemukan pelaku!" ungkap dia dengan tatapan serius.
Tiga dokter yang masih di sana menatap bingung, mereka mengira bahwa kasus sudah berakhir tapi kenapa remaja ini masih terlihat murung? Kurang lebih seperti itu pikiran mereka.
"Nak, menurutku dokter Nabila memang memberikan obat-obat palsu ke orang tuamu, menurut bukti ditemukan obat-obat palsu dan tidak diketahui jenisnya di rumah dia, jadi seharusnya kamu bisa lebih tenang."
"Itu benar nak. Justru sikapmu kepada polisi barusan sangat tidak sopan! Sudah jelas sekali jika Dokter Nabila mempunyai obat-obatan tidak jelas di rumahnya, para polisi menemukan sendiri dan bukti masih banyak lagi. Kenapa kamu malah membela Nabila?"
Adit diam saja tidak merespon ucapan ketiga dokter tersebut, dia memahami bahwa Nabila patut dicurigai. Mungkin hanya Adit yang bisa melihat masa depan yang mengetahui kebenaranya.
Pertama jika bukti ditemukan polisi, lantas bagaimana jika si polisi itu berkerja sama dengan pelaku asli! Dengan perasaan buruk yang Adit rasakan barusan, dia sangat yakin bahwa para polisi berkerja sama untuk menjebak Nabila.
Namun, bagaimana pun cara dia melawan, dia tidak punya kuasa untuk kasus ini.
Karena sangat susah untuk seorang remaja seperti dia terlibat dalam kasus polisi.
"Apakah aku boleh melihat obat-obat palsu itu?" tanya Adit, meski dia tahu akan sulit tapi tidak akan menyerah semudah itu.
Mendengar pertanyaan Adit, membuat satu dokter yang dari tadi diam saja tertawa.
"Hahaha~ nak emang mau kamu apakan obat-obat itu?" tanya dokter berkacamata itu, dia terlihat memiliki jabatan lebih tinggi dari pada dua dokter yang lain.
Mau bagaimana lagi? Karena dia adalah Dokter Rozak yang merupakan ketua devisi pelayanan medis, jadi tentu dia dihormati.
Bahkan kedua orang dokter disitu langsung menundukkan kepala saat mendengar dia berbicara.
"Aku bisa dibilang korban di sini, jadi bukankah hal wajar jika aku melihat apa yang membuat kedua orang tuaku sakit parah? Aku punya hak untuk hal ini!"
Ketegasan dan keberanian Adit membuat sebagian besar orang melongga, bagaimana bisa seorang remaja berani berkata demikian.
Kebanyakan orang hanya akan menurut apalagi untuk seumuran Adit, tapi anak ini berbeda.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Rozak dengan seringai mengerikan.
"Apakah ada hal buruk sehingga aku tidak boleh melihatnya? Apakah anda takut jika aku menemukan sesuatu kebenaran di obat itu?" Adit kembali menyerang, ucapan dia sama artinya dengan mencurigai Rozak.
__ADS_1
"Hahaha~ kamu cukup menarik Aditya Narayan. Baiklah akan kuberikan satu sampel contoh saja karena yang lain sudah dihancurkan dan di ambil pihak polisi."
Rozak berkata lalu merogoh meja di ruangan itu, seolah mencari sesuatu.
"Apakah anda yakin, tuan Rozak. Bukankah seharusnya kita tidak memperlihatkan obat seperti itu di masyarakat?" Dua dokter yang disini memberikan pendapat, memang perjanjian adalah para pihak rumah sakit dilarang membocorkan obat tersebut.
Melihat dua bawahannya berusaha untuk mencegah, Rozak menjadi marah. "Berisik! Aku adalah ketua di Devisi kesehatan ini, jadi aku punya kuasa untuk melakukan hal ini! Kamu hanyalah bawahan, turut dan tunduklah kepadaku!" hardik Rozak dengan nada keras.
Adit disisi lain justru tersenyum melihat kegaduhan ini, meski samar-samar dia sedikit mengetahui pelaku dari balik semua ini.
Beberapa detik yang lalu, meski hanya sekilas tapi Adit dapat merasakan niat jahat dari Rozak.
Dapat merasakan niat buruk seseorang cukup menyangkan bagi Adit. Dia bisa lebih mudah membedakan orang.
'Satu calon pelaku terdeteksi. Orang bernama Rozak itu patut dicurigai.'
Setelah selesai mencari sampel obat, Rozak memberikan itu ke Adit. "Nih, aku tidak tahu apa yang mau kamu lakukan, tapi ku peringatkan satu hal..."
Rozak mendekati telinga Adit dan membisikkan sesuatu, "dunia orang dewasa lebih gelap dan kejam daripada yang kamu pikirkan."
Senyuman kecil terlukis di wajah Adit, dia menerima perkataan tersebut dengan senang hati. "Terima kasih sarannya, Pak Rozak. Karena itulah aku akan berusaha..."
"Ya berusahalah untuk tidak ikut campur urusan seperti ini.." lirih dia dengan nada kecil.
Seketika Rozak bergidik ketakutan dia merasakan hawa mencengkam yang tidak normal dari perkataan Adit senyuman anak itu juga terlihat menyeramkan.
Namun, entah kenapa Rozak justru tersenyum. "Bagus... jawaban yang bagus, tapi seorang tikus kecil tidak seharusnya berada di kandang singa, salah melangkah sedikit saja... kamu tahu, kan apa yang terjadi."
Glek..
Adit menelan ludahnya, dia merasakan niat gelap yang sangat pekat dari senyuman Rozak. Semua berkat skill [radar bahaya]
Sekarang Adit bertambah yakin bahwa Rozak memiliki hubungan dengan kasus ini.
Tapi untuk sekarang dia memutuskan untuk mengikuti saran Rozak dan mundur, dia tidak punya bukti ataupun alasan logis.
Semisal Rozak adalah pelaku, Adit saja tidak tahu apa motifnya karena itulah mundur sebentar untuk mencari bekal adalah pilihan baik.
"Anda benar, untuk sekarang saya akan pulang..."
Adit menundukkan kepala dan ber terimakasih lalu dia keluar dari ruang kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sosok remaja itu akhirnya keluar dari ruangan meniggalkan Rozak dan dua dokter lainnya di satu ruangan.
Mereka bertiga saling menatap canggung, hingga akhirnya...
Brak...
Karena emosi yang mendadak, Rozak menendang meja di ruangan tersebut membuat obat-obat di meja terjatuh.
Kedua orang disana melongga dan terkejut, tentu mereka ingin mengingatkan tapi mereka tidak berani karena ekpresi dari Rozak sangat mengerikan.
Anak remaja barusan benar-benar sudah membangun singa yang tertidur.
"Anak sialan itu! Berani sekali bertingkah sombong di depanku... hanya bocah miskin dan tidak mampu! Siapa yang dia kira sedang diajak bicara."
Meluapkan emosi yang berkecamuk di hati, Rozak memutuskan untuk menginjak-injak obat-obat yang terjatuh tanpa tersisa.
"Sialan, sialan... Aku adalah dewa penyelamat orang hebat yang menyembuhkan banyak orang! Aku berbeda dengan para dokter lain! Aku spesial dan jenius! Tapi bocah sialan itu, bertingkah tinggi seolah ada di langit."
"Bajingan!"
Brak...
Rozak makin murka meja saja kurang, dia membanting kursi tanpa ampun sehingga kursi itu hancur.
"Hah... hah..." mengatur napasnya dia akhirnya tenang.
Setelah itu Rozak tersenyum sinis penuh artian. "Kamu mencurigaiku, kan nak? Hahaha~ bagus... tapi cobalah sebisa mu untuk mengungkapkan kebenaran! Kamu salah berhadapan dengan orang kali ini, nak! Hahahaha~"
Rozak adalah orang terpercaya di kota ini karena telah berjasa menyelamatkan banyak nyawa org oleh karena itu dukungan sosial sangat banyak.
Sedangkan itu Adit? Dia cuma anak SMA biasa tanpa nama.
Jika dia salah langkah justru dia yang akan kena musibah.
"Aditya Narayan... berusahalah semaksimal mungkin, aku akan bermain dengan permainan ini.."
****
Di sisi lain Adit melihat satu obat berbentuk silinder dengan warna orange yang tampak mencurigakan.
Melihat benda yang akan menjadi penyebab kematian kedua orang tua, tentu dia menjadi murka.
__ADS_1
Dia mengigit bibir dan mencengkram tangan kirinya yang kosong.
"Rozak ya? tetaplah merasa dilangit! Aku akan menangkapmu!"