Kembali Masa Lalu Dengan Sistem

Kembali Masa Lalu Dengan Sistem
Chapter 23. Menyelamatkan 2


__ADS_3

Adit berada di atas atap sekolah, napasnya tersengal ketika dia mendekati Emilia.


Pada saat yang sama, Emilia, tanpa ragu, telah menjalankan tindakannya, melepaskan diri dan terjun bebas dari ketinggian, seolah tidak menyadari kedatangan Adit.


"Sial!" desis Adit, dengan langkah terburu-buru dia mendekati Emilia dan dengan secepat kilat meraih tangan gadis tersebut yang tengah terjun bebas.


Emilia membuka mata lebar, terkejut dan terkesiap. Dia tidak pernah berpikir bahwa ada seseorang yang akan menyelamatkannya pada saat-saat genting ini. Dia melihat mata Adit dan bertanya dengan gemetar, "Adit?"


Saat Emilia memandang wajah Adit yang penuh dengan senyuman, dia merasa terharu dan bingung.


"Aku berhasil... aku berhasil menjangkau tanganmu... setidaknya aku tidak melihat peristiwa seperti tujuh tahun yang lalu terulang."


"Maaf, apa yang kamu maksud?" tanya Emilia.


Angin berhembus dengan lembut, menyibak rambut mereka. Di bawah mereka, teriakan dan keributan heboh dari siswa dan guru yang menyaksikan insiden ini terdengar hingga ke atas atap.


"Biarkan saja," kata Adit, mencoba meredakan kebingungan Emilia. "Sekarang, aku akan membawamu kembali ke atas."


Adit menggendong Emilia dengan satu tangan yang kuat dan aman, melambungkan mereka kembali ke atas gedung sekolah.


Ketika mereka kembali ke keamanan atap sekolah, pertanyaan bergegas kepada Emilia, "Emi, apa yang kamu lakukan di sini?"


Emilia masih gemetar dan terkejut, tidak menduga bahwa akan ada seseorang yang menyelamatkannya di saat genting seperti ini.


Dia berpikir bahwa ada sesuatu yang aneh, dia sengaja menyetel alaram rumah Adit agak lama pada pukul 06.30 agar dia terlambat, saat makan malam dia juga memasuki obat tidur agar di tidak menganggu tindakan ini.


Tapi siapa sangka dia tetap ada di sini?


Meski dia bangun pukul 06.30 seharusnya tidak mungkin dia bisa sampai secepat ini.


Emilia menundukkan kepala dan tanpa sadar mengeluarkan air mata.


Merasa marah karena diabaikan, Adit mengigit bibirnya dan memegang bahu Emilia kemudian menggoyangkannya.


"Hei, Emilia jawab pertanyaanku! Kenapa kamu melalukan ini?"


Emilia mengalihkan pemandangan. "Ini bukan urusanmu dan juga kenapa kamu sangat peduli denganku disaat banyak orang yang tidak peduli? Ini sangat aneh— aduh!"


Adit menghentikan ucapan Emilia dan menjentikkan jari kelingking ke kepala gadis tersebut.


Emilia memegang kepala bekas jentikan tersebut, tampak kesakitan. "Sakit apa yang kamu lakukan."


"Tentu ini urusanku! Aku... aku... pokoknya aku tidak mau melihatmu berakhir menyedihkan seperti ini!"


Selesai dengan ucapannya, suasana mereka berdua dikelilingi oleh keheningan.


Adit menghela napas, lalu berdiri. "Dan juga kamu tidak ada yang peduli? Itu salah besar... Coba lihat ke bawah, banyak orang yang berteriak agar kamu turun."


Membuka mata lebar Emilia menggerutu.


"Itu hanya kebohongan, mereka hanya bertingkah agar terlihat baik, faktanya yang datang kesini hanya kamu! Jika mereka benar-benar peduli harusnya mereka ke sini! Mereka cuma omong besar..."


"Aku tidak berpikir seperti itu. Coba lihat pemandangan bawah dengan lebih teliti!"


Adit menarik gadis tersebut agar berdiri, lalu memperlihatkan pemandangan bawah dengan seksama, dia terlihat terkejut.


"Emilia berhenti melalukan hal bodoh! Ka... kami yang salah, kami minta maaf!"


"Kami minta maaf setelah ini kami akan memperlakukan kamu lebih baik, jadi berhenti melompat oke!"


Itu adalah suara para gadis yang dulu pernah menganggu Emilia, tapi dalam suara mereka terlihat serak karena menangis.

__ADS_1


Emilia maupun Adit bisa mengetahui bahwa perkataan mereka sangat tulus.


Mereka ingin menjalin pertemanan lebih baik!


"Itu benar nak berhenti melakukan itu! Kami tidak tahu apa yang ada di rumahmu, tapi kami para guru selalu membantumu, kami adalah orang tua keduamu!"


Kali adalah suara para guru yang membuat pemandangan Emilia makin kabur karena penuh oleh air mata.


"hikss.. hikss.. kalian.." lirih Emilia.


Di tengah kebisingan ini ada satu wanita yang terlihat dewasa dengan rambut pendek menggunakan jas hitam yang terlihat cocok untuk dia.


Dia merupakan penghakim paling terkenal di kota ini karena kejujuran dan ke profesional dia dalam menjalankan hukum.


Dia bernama Amelia atau biasa disebut Amel.


Melihat kedatangan orang penting di sekolah tentunya mengundang perhatian para penghuni sekolah.


Mereka bertanya-tanya apa yang dilakukan seorang hakim disini?


Amel terlihat menghirup napas sebelum berteriak.


"Dek Emilia ini aku, apa kamu masih ingat? Ini kakakmu!"


Suara teriakan itu membuat mata Emilia terbuka lebar, perlahan wajah dia tersenyum walau hanya sedikit.


"Kakak?"


Adit dan semua orang terkejut, bagaimana tidak Amel yang merupakan seorang hakim terkenal di kota adalah saudara dia?


Dan juga di data tertulis jelas bahwa Emilia adalah anak tunggal dia seharusnya tidak punya saudara. Oleh karena itu para guru pun terkejut.


"Ya aku adalah Kakak tercintamu Amel," dia tersenyum penuh kasih sayang.


Adit hampir memuntahkan darah dia memang benar menyuruh Bambang untuk segera melakukan kasus tapi ini terlalu cepat!


"Terima kasih untuk adik Adit karena sudah melaporkan, sebenarnya aku sudah mencari bukti kekerasan sejak lama dan kebetulan kemarin semua telah selesai oleh karena itu aku sudah lama tidak bersamamu Emi. Dan kebetulan juga pak Bambang menelponku kemarin malam untuk membahas laporanmu!" kata dia dengan nada tinggi.


Amel sekali lagi menghirup napas dan berkata.


"Jika kamu berpikir bahwa tidak ada yang mencintai dan menerimamu itu salah besar, masih ada kakak, kan? Dan juga."


Amel tersenyum manis sebelum bergumam, "Dia tampak sangat mencintaimu, sebagai kakak aku sangat bangga." Tentu suara itu tidak sampai ke atas.


Gadis yang mendengar semua ucapan kakaknya menjadi menangis tersedu-sedu, dia merasakan kehangatan di hati dan semua pikiran bodoh sudah hilang.


'itu benar aku masih ada kakak yg mencintaiku dan dia, mungkin ' batin Emilia menatap Adit.


Perlahan Emilia mengusap air matanya dan berdiri.


"Terima kasih— eh!"


Ucapan itu terputus karena tiba- tiba saja Emilia tergelincir karena lantai di atas licin.


'jadi ini arus takdir yang dimaksud sistem.'


Tidak peduli Adit menghentikan aksi Emilia, arus takdir akan mengarah ke hal lain, entah apapun itu semua pristiwa akan berakhir ke arah kematian Emilia.


Gadis itu terjatuh dari atas atap, tubuhnya terjun ke bawah.


Hal ini membuat semua orang panik dan berteriak.

__ADS_1


Namun tidak perlu khawatir, Adit tanpa pikir panjang juga melompat, tentunya untuk menyelamatkan gadis itu.


"Dia gila apa!?"


"Woi berhenti!"


"Bos Adit!"


Meski mendengar semua teriakan itu, dia tidak peduli dan tetap terjun ke langit.


"Apa yang kamu lakukan, Dit. Apa kamu ingin mati?" tanya Emilia yang masih dalam kondisi jatuh.


Adit tidak merespon perkataan semua orang, dia menarik tangan Emilia dan membawa ke pelukannya.


Lalu dia membalikkan badan agar saat terjatuh tubuhnya yang mengalami luka fital bukan Emilia.


"Bodoh lepasin kamu bisa mati!" teriak Emilia dengan air mata.


"Jika kulepaskan maka kita berdua akan mati! Lebih baik salah satu mati dan terselamatkan dari pada dua orang mati, kan?" Adit tidak mendengar ucapan gadis itu dan memper eratkan pelukannya.


Mereka hampir menyentuh tanah mungkin sekitar beberapa meter lagi.


Pada saat kondisi putus asa seperti ini datanglah penyelamat yang tidak terduga.


"Bos Adit kami datang!"


"Kami juga sudah muak berbuat onar sesuai perintahmu kami akan melakukan kebaikan, menyelamatkan murid yang membutuhkan."


Di kejauhan terlihat puluhan anggota geng yang dulu pembuat onar membawa airbag safety mat. tentu untuk menyelematkan orang yang hampir jatuh itu.


Para guru juga ikut terkejut tidak menyangka geng dulu yang sering berbuat onar justru malah akan membantu orang.


"Ayo tarik ini lebih kuat!"


"Oke!"


Puluhan orang menarik airbag safety mat, pada awalnya hanya geng Basis saja. Tapi melihat kegigihan dari para mantan preman, para guru dan murid ikut membantu.


"Minggir aku juga akan membantu, aku ingin berteman dengan lebih baik ke Emilia mulai sekarang!"


"Aku juga!"


"Bapak akan bantu kalian!"


"Bu guru juga!"


Berpuluh-puluh tangan bekerja sama menarik airbag safety mat dengan sekuat tenaga, dan akhirnya mereka berhasil menyebarkannya di bawah Adit dan Emilia yang sedang terjun bebas.


"Bos, airbag safety mat sesuai pesanan sudah datang!"


Semua orang di sana bergabung dalam upaya menyelamatkan kedua remaja tersebut.


Adit tersenyum mendengar perkataan dan tindakan semua anggota geng tersebut dan para murid serta guru, mereka benar-benar ingin membantu Emilia.


-Bup


Saat Adit yang masih memeluk Emilia jatuh dia tidak menerima luka apapun, itu dikarenakan airbag safety mat berhasil memberikan rasa empuk dan menyelamatkan dia dari ketinggian.


[Ding! Selamat misi Selamatkan Emilia dari tangan para geng eskumat dan sembuhkan hatinya terluka.. berhasil]


[Hadiah misi, kemampuan untuk melihat kematian orang, fitur save poin terbuka]

__ADS_1


[Anda naik level]


__ADS_2