Kembali Masa Lalu Dengan Sistem

Kembali Masa Lalu Dengan Sistem
Chapter 25. Menuju kantor polisi


__ADS_3

Mobil sedan berwarna putih itu melaju cepat di trotoar, melewati banyaknya kendaraan.


Seseorang yang berada di mobil tersebut tak lain adalah Adit, Emilla, dan Amel.


Seperti yang dikatakan tadi mereka berencana untuk menuju tempat kantor polisi untuk bertemu dengan ibu Emilia


Di dalam mobilAdit menatap perjalanan lewat jendela, sedangkan Emilia yang duduk di sampingnya menundukkan kepala tampak cemas.


Mungkin saja dia masih ketakutan jika bertemu ibunya yang notabenya sering menindas dia.


Adit yang menyadari kecemasan Emilia, memutuskan untuk mengatakan sesuatu,


"Tidak perlu khawatir... jika sesuatu buruk terjadi ada aku dan kak Amel, kami pasti akan melindungimu."


Perkataan simpel dari Adit bisa membuat gadis itu tersenyum dan menghilangkan pikiran buruk, dia menatap Adit dengan penuh senyuman.


"Ya Terima kasih, jika sesuatu terjadi pasti kamu akan menyelamatkanku seperti tadi."


"Ya akan kupastikan."


Amel yang mendengar dan melihat tindakan dua remaja melalui kaca mobil tersenyum penuh godaan.


'Ha~ jadi remaja sangat enak, hahaha aku tidak sabar melihat hubungan mereka berlanjut!'


Adit kembali menatap perjalanan melalui jendela mobil, ada satu hal yang mengganjal dipikirkan dia karena mengingat misi tadi pagi.


[Awasi dan hindari segela jenis kematian Emilia pada hari ini]


Fakta bahwa misi dari sistem tadi pagi belum ada laporan artinya misi itu belum benar-benar terselesaikan.


Yang artinya masih banyak kejadian baru dari arus takdir yang membuat kematian Emilia beragam.


Walaupun Adit tidak tahu pristiwa apa saja, tapi selama dia berada di sisi gadis itu, dia yakin bisa menyelesaikan misi ini.


...***...


Mereka akhirnya sampai di kantor polisi.


Amel sebagai hakim terkenal dan memiliki kuasa di kota ini, meminta bantuan para polisi untuk membawa Emilia menuju ruang kunjungan narapidana.


Tentunya agar sesuatu yang buruk tidak terjadi Amel dan Adit ikut.


Setelah banyak pembicaraan akhirnya mereka setuju dan membawa ibu Yanti selaku ibu dari Emilia keluar sebentar untuk menyapa sang ibu


Emilia dan Amel duduk di kursi ruang kunjungan narapidana. Sedangkan Adit hanya berdiri di samping mereka.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ibu Emilia muncul di balik kaca ruang narapidana.


Setiap tempat kunjungan akan diberikan batasan berupa kaca dan besi-besi, sehingga para tahanan tidak bisa keluar dan bersikap seenaknya.


Bahkan kedua tangan Yanti masih diborgol dengan rantai.


"Waktu untuk berbicara dengan bu yanti adalah 30 menit! Nikmati waktu anda dengan baik!" ucap polisi wanita di sana.


Setelah berkata demikian ruangan menjadi kosong tanpa adanya pembicaraan dua belah pihak.


Ini tidak aneh Emilia sendiri bingung harus mengatakan apa, dan Bu Yanti juga bingung, dia juga ingin meminta maaf dengan tulus tapi dia bahkan merasa tidak pantas untuk menampilkan wajah ke Emilia.


Selang waktu lima belas menit terlewat tanpa adanya ucapan kedua belah pihak.


Emilia sudah mulai muak untuk menunggu.

__ADS_1


Amel menghela napas. 'Huh kayaknya masih terlalu cepat untuk mereka bertemu.'


"Jika tidak ada yang ingin ibu katakan maka aku pergi sekarang!"


Emilia memukul meja dan berdiri dari tempat duduk.


"Ayo Kak Amel, dit.."


Kedua orang itu hanya menganggukkan kepala dan memutar tubuh untuk berjalan keluar, mereka juga merasa percuma berada di sini diwaktu yang lama.


Melihat anaknya mau pergi Bu yanti yang merasa bahwa itu akan jadi terakhir kali dia melihat anaknya, maka dari itu dia memutuskan untuk membuang semua rasa malu dan mengatakan apa yang mau dia katakan.


"Tunggu nak!" ucap bu Yantin dengan sedikit teriakan.


Tapi bagi Emilia yang sudah tinggal bersama sang ibu untuk beberapa tahun dia paham perbedaan suara ini.


Suara ini berbeda dengan saat Ibunya menindas Emilia, ini adalah suara yang sudah lama tidak dia dengar dari sang ibu.


Suara merdu penuh kasih sayang dan kekhawatiran.


Sebelumnya ibu Emilia ada orang yang baik kepada anaknya, tapi semua berubah semenjak prilaku buruk sang suami.


Bu Yanti menjadi rusak melihat wajah anak saja dia merasa ketakutan dan mengira Emilia ada ayahnya yang berbuat kasar.


Secara singkat perlakuan buruk dari Yanti adalah hasil dari situasi rumah tangga yang buruk dan tekanan yang dia alami dari suaminya (ayah Emilia).


Mengetahui perbedaan, Emilia meneteskan air mata menatap ke arah ibu.


Bu Yantin mengatur napas lalu berkata, " aku sadar seberapa besar penderitaan yang kamu Terima karena kegilaan ibu."


"Bahkan aku tidak layak disebut ibu di depanmu... maka dari itu aku mengundangmu di sini untuk mengatakan, bagaimana jika kita... sudahi hubungan ibu dan anak ini? Kamu pasti malu karena punya ibu seperti ini dan tidak bisa mengakui ibu lagi, jadi mari kita putuskan hubungan ini!"


Emilia terdiam tanpa ekpresi setelah mendengar kalimat itu.


Ibu Yantin mengatakan itu semua dengan air mata yang berceceran, dia merasa tidak pantas sebagai ibu.


"Jadi mari kita akhir ini! Aku tidak layak menjadi ibumu...."


Bu Yanti memejamkan matanya, bagi dia itu adalah perkataan sangat konyol.


Dia berpikir Emilia tidak pernah menganggap dia sebagai ibu karena tindakan kekerasan yang dia lakukan.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Emilia dengan wajah geram.


"Aku akan tetap di penjara seumur hidup! Jadi kamu hiduplah bahagia, Kak Amel akan menjadi ibu barumu jadi lupakan aku—" ucap bu Yanti terpotong oleh teriakan dari Emilia.


"Mana bisa aku melakukan hal itu! Meski prilaku ibu tidak bisa dimaafkan, tapi aku tahu ibu juga menderita! Jadi... bagiku, ibuku hanya kamu!"


Emilia berkata dengan emosi tinggi air mata berjatuhan.


Begitu juga dengan Bu Yanti dia terkejut akan jawaban dari Emilia, dia berpikir bahwa anaknya tidak mengakui dia, tapi sepertinya dia salah paham.


"Tapi nak... ibu sudah melakukan hal kejam kepadamu, aku tidak bisa dimanfaatkan! Aku merasa tidak layak jika bertemu denganmu.."


Emilia mengatupkan giginya, emosi. "Itu Egois! Aku tidak peduli!"


Emilia mengatur napasnya lalu lanjut untuk berkata,


"Saat Aku belum lahir, jika saja ibu benar-benar takut dengan Ayah bukankah mengugurkan aku adalah pilihan bagus? Dengan itu ibu tidak akan menikah dengan Ayah dan pasti bisa bahagia!"


"...Tapi ibu tidak melakukan hal tersebut! Itu karena ibu masih mencintaiku."

__ADS_1


"Ibu juga korban di sini. Setiap hari menerima kekerasan dari ayah, dan juga aku masih sangat ingat, saat aku masih 3 tahunan ayah terus memaksa agar aku dijual ke pasar gelap, bahkan hingga sekarang pun masih sering... Tapi... Tapi..."


Emilia tidak bisa menahan diri lagi, napas dia serasa ter engah-engah karena merasakan rasa sakit di hati yang berkecamuk.


"Tapi ibu terus melindungiku! Alasan kenapa ibu menyerangku karena ibu sudah diambang batas! Aku tahu setiap hari ibu menangis! Pasti sulit, kan? Bertahan seorang diri dengan pria gila seperti ayah. Tapi ibu tidak perlu khawatir semua telah selesai..."


ucapan dari Emilia berhasil membuat ibu Yanti terdiam membisu dia merasa sangat terharu atas perkataan bahkan air mata terus banjir. Dia bersyukur mempunyai anak begitu pengertian.


"Maaf... maaf.. maaf nak, terima kasih karena masih mengakui aku sebagai ibumu! Maaf, maaf ya!"


Emilia tersenyum dengan wajah masih sedih. "Tidak perlu khawatir... sebagai tanggung jawab atas perlakuan ibu, aku minta setelah keluar dari penjara ibu bisa membawa pergi ke maal, membeli baju, makan, dan mari lakukan aktivitas seperti ibu dan anak, pasti... menyenangkan."


Bu Yanti masih menangis, dia menganggukkan kepala.


Adit dan Amel tersenyum karena semua berjalan lancar.


Tapi tiba-tiba di saat tidak terduga, ada satu tahanan pria yang lepas dari penjara dan mengamuk-ngamuk.


Tahanan itu menuju Emilia yang masih berbicara dengan senyuman bersama ibu, mereka terlihat sangat akrab.


"Hei berhenti!"


"Siapapun tangkap dia!" ucap para penjaga tahanan.


Dengan cepat ruangan ruang kunjungan narapidana tersebut menjadi heboh karena kepanikan.


"Emilia berani sekali kamu menangkapku! Kamu pasti melapor ke polisi kan? Dasar anak tidak tahu untung!"


Pria yang tidak lain adalah ayah Emilia mengeluarkan pisau dari pakaiannya dia hendak menusuk Emilia.


"Awas nak!" teriak Bu yanti karena sadar.


Emilia membalikkan badan dia tampak ketakutan dan terkejut karena sang ayah mau membunuh dia.


Tapi Adit tentu tidak diam saja, ini adalah salah satu dari banyaknya kematian Emilia.


dia dengan cepat menahan pisau menggunakan telapak tangannya, membuat tangan itu tertusuk oleh pisau dan darah keluar dari tanganya.


"Apa maumu anak sialan!" diganggu tentu membuat pria itu sangat marah.


tapi Adit tidak kalah marah


"Jadi kamu ayah Emilia, ya? Penyebab dia menderita, dan membuat keluarga mereka hancur!"


"Kalau iya kenapa? Anak kecil seperti kamu tidak tahu apapun! Jangan campuri urusan keluarga orang dan pergilah!"


Adit menatap orang tersebut dengan oenuh tekanan. "Tidak bisa begitu... kamu harus membayar setidaknya dengan satu pukulan."


Brak


pukulan keras melayang ke Pria tersebut, membuat dia terhempas dan pisau di pergelangan tangan jatuh.


Pria itu terjatuh di lantai dengan kondisi mengenaskan, dalam satu pukulan saja dia pingsan.


[Ding! Selamat anda menyelesaikan misi]


[Awasi dan hindari segela jenis kematian Emilia pada hari ini]


[Hadiah 10.000 coin, 100 poin status, penjadi pemilik hotel Al-faris, motor Honda Goldwing]


[Fitur baru sistem terbuka : Penukaran emas secara langsung!]

__ADS_1


[Anda naik level!]


__ADS_2