
"Kenapa diam saja, tuan penguji yang terhormat?" sarkas Adit yang tahu bahwa kartu Identitas itu palsu.
"Tuan Adit kami sudah mengecek CCTV!" seru Setiawan mendekati Adit.
Dia tersenyum. "Bagus mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi, tuan?"
"Tuan Adit. Kami menemukan sebuah bukti CCTV bahwa pria bernama Herman ini memasukan rambut gulung sendirian secara diam-diam!" ucap Manajer Setiawan yang baru saja mengecek CCTv dan menunjukan sebuah rekaman ke semua orang baik itu pengunjung yang tadi curiga.
Herman terkejut, tubuh dia menjadi gemetaran karena telah menjadi pusat perhatian semua orang, dia dapat merasakan tatapan tidak sedap dari semua orang.
Dengan keringat berjatuhan, dia masih saja berusaha untuk mengelak. "I-itu hanyalah kesalahan! Vidio itu tidak benar!"
Adit menghela napas, dia tidak berpikir bahwa masih ada saja orang yang bersikeras untuk berbohong meski bukti sudah ada di depan mata.
Ting...
Tiba-tiba di saat genting seperti ini ponsel Adit mendapatkan pesan, remaja itu ingin sekali menghela napas dan mengabaikan, tapi pesan ini adalah dari ibunya, dia terpaksa harus melihat.
(Adit, kamu berada di luar? Kalau begitu ibu titip untuk belanja. Sabun muka, sabun baju, dan sampo.)
Adit berjalan menjauh dari tempat kegaduhan setelah membaca pesan tersebut. "Setiawan, aku serahkan dia kepadamu. Lakukan apapun sesukamu, tapi sebisa mungkin berikan sebuah hukuman yang sangat berat untuk dia."
Setiawan mengangukan kepala, tidak bisa menolak keinginan owner, sedangkan para staf menatap remaja yang baru saja joging itu dengan tatapan kagum, mereka sangat berdebar melihat bagaimana Adit menyelesaikan masalah dengan sangat mudah.
"Hah~ pastikan kamu memberi dia hukuman. Aku mau pulang dan belanja sabun!" ucap Adit beranjak keluar dari rumah makan tersebut.
__ADS_1
Para staf yang mendengar ucapan Adit, menjadi kebingungan, tatapan kagum barusan mendadak sirna.
"Apa belanja? owner kita pergi dari rumah makan hanya untuk belanja!?"
"Kayaknya kita salah dengar."
Di sisi lain, Setiawan menatap tajam pembuat onar. "Bawa dia ke kantor polisi atas tujuan mencemarkan nama baik!" titah manejer tersebut kepada semua anak buahnya.
"Baik!"
***
Setelah selesai berbelanja, kini Adit berada di kamarnya dengan kedua tangan penuh oleh belanjaan. Namun dia tidak menemukan keberadaan sang ibu.
Memutuskan untuk sedikit beritirahat, Adit langsung terjun ke kasur empuk dan menatap atap-atap langit dengan seksama.
Mengangkat tubuh, Adit memberikan dua kantong berisi plastik tersebut. "Nih, ibu ambil saja!"
"Terima kasih anakku.. sekarang ibu mau mandi dulu jadi kamu tunggu sebentar." Langkah mama muda itu gembira, menuju toilet yang berada dekat di kamar ini.
Sedangkan Adit kembali merebahkan tubuh. "Sistem aku ingin mengecek hadiah barusan."
[Dimengerti tuan.]
[Anda berhasil menyelesaikan masalah di oisi restoran, berikut hadiah yang akan saya berikan.]
__ADS_1
[2.000 coin, skill baru [Fasih dalam segala bahasa]
Mendengar skil yang baru saja dia dapatkan, Adit tersenyum miring. "Hah, aku sangat beruntung, besok adalah pelajaran dari pak Eko yang terkenal galak itu dan dia sangat suka membuat ulangan dadakan, dengan skill ini pasti aku bisa melalui pelajaran beliau dengan mudah."
Dia lalu teringat akan dirinya yang sangat buruk akan dunia bahasa Inggris, berkat hal itu dia seringkali dihina, dan saat melamar pekerjaan banyak yang menolak, karena bahasa Inggris merupakan standar paling umum, bagi orang seperti Adit yang tidak bisa bahasa Inggris akan sangat buruk.
Tapi sistem seolah mengetahui kelemahan tuanya dan memberikan hadiah paling bagus. Menyadari hal itu, dia tersenyum.
"Kamu sangat mengemaskan sistem!"
[Apa yang anda katakan, tuan? Aku cuma memberikan apa yang seharusnya!]
"Aku tahu, tapi setelah dipikir lagi. Kehidupanku banyak berubah setelah bertemu denganmu. Jika saja kamu tidak datang dan memberikan penawaran kembali ke masa lalu, pasti sekarang aku berada di alam barzah dengan perasaan kekesalan."
[.....]
[A-aku tahu apa yang anda ingin katakan, tapi apa hubungannya dengan imut!?]
"Eh?" Adit menyadari bahwa suara sistem sedikit berbeda dari pada biasanya yang datar, ucapan barusan terdengar seperti gadis yang gemeteran dan gugup.
Setelah dipikir lagi, Adit memang sadar bahwa suara sistem adalah suara wanita.
"Omong-omong aku sudah heran sejak dulu. Suaramu seperti wanita, jangan bilang sistem adalah perempuan?"
Sistem tidak memberikan jawaban dan memutuskan pembicaraan. Adit terus bertanya tapi masih diabaikan.
__ADS_1
Merasa sedikit kesal, dia menghela napas."Yah, untuk sekarang siapa peduli tentang sistem perempuan. Tidur aja ah!"