Kembali Masa Lalu Dengan Sistem

Kembali Masa Lalu Dengan Sistem
Chapter 37. Permintaan tolong dan bukti yang membantu


__ADS_3

Sore hari itu, suasana SMA Garuda telah menjadi sepi. Seperti yang berada di petunjuk surat, Adit menunggu sosok yang menulis surat misterius ini.


Dia sudah menunggu kurang lebih selama lima belas menit namun sampai sekarang sosok itu belum datang.


Selang beberapa menit terlewat, kondisi sekolah benar-benar menjadi sangat sepi.


Apalagi untuk gedung belakang sekolah.


Adit menghela napas, dia benar-benar dibodohi kali ini.


Merasa percuma menunggu lebih lama lagi dari ini, dia memutuskan untuk membalikkan badan dan beranjak pergi.


Namun tiba-tiba suara gadis yang tenang, ringan, dan lembut menghampiri pendengarannya.


"Tunggu...."


seorang berkata dengan sangat lirih ketika Adit menoleh, dia mendapatkan gadis kecil berambut pendek dengan kacamata bulatnya, dia terlihat menyembunyikan separuh tubuh di pohon dekat Adit.


Melihat tindakan gadis yang sangat pemalu itu, Adit berkata, "Apa yang kamu lakukan? Pake bersembunyi di balik pohon?"


Dia perlahan keluar dari pohon, menampilkan seluruh tubuh. Benik-benik matanya berkeliling seolah memastikan keberadaan seseorang disini.


"Tidak perlu khawatir semua murid sudah pulang. Jadi cepat katakan apa yang kamu mau."


Di spontan terkejut, menatap Adit secara cangung, tubuh kecilnya bergetaran seolah ketakutan oleh sesuatu. "I-itu... apakah ini benar dengan Aditya Narayan." Suara itu terdengar sangat kacau dan terbata-bata.


Melihat gadis pemalu seperti ini, Adit merasa tenang, Dia yakin kedatangan gadis itu bukan soal percintaan dan pasti ada hal penting.


"Ya, itu aku. Jadi ada perlu apa?" tanya Adit memasang senyuman cerah agar menghilangkan kecangungan.


Tapi, justru senyuman itu menjadi senjata makan tua, pipi gadis itu menjadi merona dan dia menjadi lebih gemataran.


'Duh, kayaknya aku melakukan sesuatu yang tidak perlu.' batin Adit setelah menyadari rona merah dan reaksi sang gadis.


"Hei tenang saja aku tidak akan melakukan apapun." Dia mencoba untuk menenangkannya, berjalan dan merentangkan tangan.


Tapi, tidak berefek, mata gadis menjadi berputar dan dia memutuskan untuk berlari terhuyung-huyung. Dia seperti anak kecil yang ketakutan oleh sesuatu.


"Hei kubilang tunggu.."


Tidak ada jawaban darinya, dia justru mempercapat lari.  Pada momen tersebut, tanpa disengaja, sebuah foto yang tersimpan di saku kemejanya terjatuh, terhembus oleh angin dan berada di bawah kaki Adit.

__ADS_1


Melihat sesuatu seperti foto jatuh, Adit memanatap dengan penasaran."Foto?" Perlahan, dia menundukkan kepala dan mengambilnya.


Berkat perkataan Adit, gadis itu berhenti berlari. Mengepalkan kedua tangan untuk mengumpulkan keberanian lalu berkata.


"Tolong perhatikan foto itu dengan seksama... kakak. Tidak! Jika dengan foto itu maka tuduhan kak Nabila pasti bisa hilang!"


Suara gadis itu sangat berbeda dari pada sebelumnya, dia terdengar lebih percaya diri sehingga membuat Adit terkejut.


Dia juga sama tidak menyangka bahwa Nabila mempunyai seorang Adik.


"Jadi kamu adik dokter Nabila? Apakah aku boleh tahu namamu?"


Menganggukkan kepala, ia menjawab, "Nayla 2-F. Salam kenal."


Adit tersenyum, lalu melihat foto itu dengan seksama. Terlihat seseorang pria berkacamata sedang memasuki sebuah kamar seseorang. Bagaimanapun pria berkacamata itu terlihat mencurigakan, dia memasukkan sesuatu ke dalam rak kamar seseorang, dan pria itu adalah seseorang yang dikenal Adit...


"Rozak?" Dia membuka mata lebar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Iya itulah dia! Dan yang kamar itu adalah kamar milik kakak... Si dokter bejat itu sengaja mendekati kakak!"


Melihat adanya sumber informasi yang berguna. Adit bertanya lebih lanjut, "bisakah jelaskan lebih detail?"


Nayla mulai menjelaskan.


Pada awalnya banyak yang meragukan kemampuan Nabila. Tapi itu semua cuma berlalu sebentar, semua orang langsung terkejut dengan kehebatan dan ketrampilan Nabila saat menangani pasien.


Tidak ada kesalahan! Ini semua sempurna. Selama waktu beberapa bulan, dia mendapatkan banyak penghargaan dan dihormati oleh orang lain, dia juga merupakan dokter favorit bagi pria.


Namun tidak ada yang tahu bahwa sosok Nabila menaruh perasaan kagum kepada Rozak selaku ketua Devisi kesehatan.


Dia mungkin merasakan cinta kepada dokter Rozak yang lebih hebat darinya.


Suatu hari, tiba-tiba dokter Rozak mulai mendekati Nabila tanpa alasan yang jelas. Nabila tergila-gila akan Rozak tertipu dengan rencana jahatnya.


Faktanya Rozak tidak tertarik sama sekali dengan Nabila, dia cuma Pura-pura tertarik untuk menipu gadis itu.


Dia menunggu waktu yang tepat sehingga mereka semakin dekat dan dia diizinkan masuk ke rumah Nabila. Setelah itu dia menjalankan rencana aslinya.


Rozak memasuki kamar Nabila tanpa izin dan menaruh obat-obat palsu ke tempat tersebut.


Beruntung sang Adik, Nayla yang curiga karena dokter seperti Rozak tiba-tiba dekat dengan sang kakak, telah mengawasi gerakan dari Rozak.

__ADS_1


Dengan hati-hati dia memfoto Rozak.


"Jadi begitu. Singkat cerita Dokter Nabila dipermainkan hatinya agar si brengsek Rozak bisa menjebaknya! Sejak awal dia cuma seorang bajingan!" Adit tampak emosi, dia begitu paham bagaimana rasanya bila hati dipermainkan.


"Ya... dan juga alasan kenapa Rozak melakukan semua itu murni halnya karena dokter Nabila mendapatkan sebuah kehormatan atas jasa selama di rumah sakit, dia menjadi calon ketua Devisi kesehatan."


"Jadi demi menyingkirkan calon pengganggu di masa depan, Rozak melakukan penipuan, menyuap polisi dan membuat tuduhan palsu... Dengan ini semua sudah terlihat jelas." Adit menyimpulkan semua kejadian yang telah terjadi.


Bip...Bip..


Ponsel milik Adit bergetaran di sakunya, muncul nama pak Bambang di telepon dengan cepat Adit mengangkat ponsel dan melatakan di telingga.


"Halo, bocah ini keadaan gawat! Semua sudah terlambat, Nabila akan segera diadili di ranah hukum nanti. Kita harus cepat-cepat mendapatkan bukti dan alamat dari geng elang, karena trasaksi jual beli obat pasti ada di mereka." ucapan pertama kali yang keluar dari pak Bambang adalah seperti itu. Merupakan sebuah kalimat yang terdengar sangat terkejut dan penuh tekanan.


Namun disisi lain, Adit, remaja itu justru tersenyum. Seolah semua yang dia dengar hanyalah sebuah hal kecil


"Tidak usah khawatir, Aku menemukan bukti yang menarik. Tentang kebenaran...dan aku juga sudah menemukan lokasi markas dari geng elang."


"Apa kamu serius!?" Suara tersebut menggambarkan keterkejutan.


Adit membeli sebuah skill mendeteksi lokasi, dengan skill itu dia bisa sangat mudah melacak markas geng elang dan langsung mengirimkan ke nomor Bambang.


Bambang terkejut ketika tiba-tiba sebuah denah lokasi yang sangat akurat muncul di ponsel. Sebenarnya ada rasa curiga dan tidak percaya, namun dia pada akhirnya dia memutuskan untuk percaya.


"Bagaimana mana bisa kamu menemukan lokasi itu?" tentu saja Bambang terkejut, sebagai seorang polisi yang sudah hidup beberapa tahun dia tidak pernah bisa melacak, tapi anak ini sangat mudahnya ketemu tentu dia masih terkejut.


"Tidak perlu menanyakan hal detail, cepat kunjungi lokasi itu dan cepat ciduk mereka! Aku akan menyusul."


-Bip


Tanpa memberikan banyak jawaban dia langsung menutup telepon, tidak mendengar pertanyaan dari Bambang.


Adit memasukkan ponsel ke dalam saku, katanya sudah penuh dengan keseriusan dan dia berkata dengan penuh tekad.


"Rozak tertawa lah sekeras mungkin sebentar lagi kekalahanmu akan terjadi."


Selanjutnya Adit menghubungi kak Amel untuk memintanya menjadi pengadil khusus yang akan membantu kak Amel, wanita itu menerima dengan sangat mudah.


Melihat seorang remaja menghubungi dua sosok penting dan berpengaruh di kota ini, membuat mata Nayla terbuka lebar, dia kembali menjadi bingung akan sosok sebenarnya dari Adit.


Bagaimana bisa dia memeberikan perintah ke dua orang? Dan kenapa seorang hakim terkenal dan polisi paling berpengaruh di kota ini mau tunduk di Adit?

__ADS_1


Semua sangat susah dicerna bagi kepala kecil Nayla.


Saat dilanda kebingungan, Adit menatap Nayla. Mata itu sangat tenang dan sejuk, dengan senyuman dia berkata, "tenang saja malam ini kakak mu akan pulang ke rumah."


__ADS_2