Kembali Masa Lalu Dengan Sistem

Kembali Masa Lalu Dengan Sistem
Chapter 49.


__ADS_3

Siang hari itu setelah pelajaran sekolah usai. Sesuai rencana Adit pergi menuju hotel Al-Faris bersama Emilia, walaupun gadis itu sejak tadi terus merajuk dan tidak ingin, tapi karena Adit memaksa akhirnya mereka sampai di tempat, sekalian Adit juga ingin pulang.


Wajah gadis itu berubah sejenak, melebarkan kelopak mata karena pesona dari hotel. Dia dengan cepat merubah mod menjadi baik, padahal beberapa saat yang lalu dia sangat cemberut.


"Wah jadi disini Hotelnya sesuai pembicaraan orang-orang, sangat megah!" ucapnya dengan pandangan tidak bisa berhenti berkeliling menatap hotel, dia terlihat sangat bersemangat.


Perubahan modnya sangat mudah berganti sehingga membuat Adit kebingungan, bagaimana bisa dia berubah begitu cepat? Namun bagaimana pun, dia tetap lebih menyukai sisi yang ceria seperti ini daripada sisi cemberut barusan, hingga dia tersenyum akan pikiranya sendiri.


Hotel semakin ramai dengan pengunjung yang bertadangan, saling berhembitan dan menambark-nambrak, Emilia sendiri tampak terombak-ambik dengan banyaknya orang. memang sekrang sedang ada event terbatas sehingga hotel semakin ramai.


Mengambil inisiatif, dia tidak mau melihat Emilia kerepotan dengan banyaknya orang dan berpisah, maka dari itu dia bergerak cepat. Meraih tangan sang gadis, menyatukannya dengan tangan milik dia.


Kelopak mata dia terbuka lebar, tiba-tiba pemuda memegang tanganya, membuat dia sedikit berdebar dan malu.


"Ayo segera pergi, jika kita terpisah aku akan kerepotan," titih dia sambil berjalan bergandengan tangan.


Tangan pemuda itu sangat hangat, Emilia dapat merasakan kedua pipinya berubah menjadi merah, dia menundukan kepala sambil berjalan.


Apalagi mendengar perkataan barusan yang bisa membuat semua orang salah paham! Dia semakin dibuat salah tingkah,


Mereka berdua berjalan melewati beberapa pengunjung dan akhirnya berhenti di depan meja resepsionis. Dia merupakan seorang pria tampan dengan hidung manjung dan rambut kecolkatan, sekilas memang tidak ada yang aneh dari pria resepsionis tersebut, malahan dia mengundang mata para wanita akan ketampanannya.


Tapi bagi Adit yang mengenal orang tersebut, dia malah menjadi memeliki perasaan tidak enak karena seharusnya pria itu tidak bekerja sebagai resepsionis.


'Apa yang manajer Farid lakukan?? Dia pura-pura menjadi resepsionis segala. Entah kenapa aku punya firasat buruk.' pikir Adit tatapan curiga dia arahkan ke resepsionis yang ternyata adalah Farid.


Farid tersenyum dengan hangat dan menundukan kepala. "Selamat siang tuan dan nyonya. Ada yang bisa saya bantu."


Yah, entah seiapapun resepsionis itu tidak penting! Justru jika itu adalah manejer farid justru lebih mudah karena dia tadi sudah minta membuat diskon yang dia mau,


Manejer farid melirik kearah kedua remaja itu, senyuman terlukis di wajahnya ketika menyadari bahwa bos dia sedang berpegangan tangan dengan seorang gadis.


Menyadari bahwa sejak tadi tangan mereka tidak lepas. Baik itu Adit dan Emilia menjadi memerah seperti kepiting rebus, dengan grogi mereke melepaskan tangan.


"Ehem." Adit berdeham untuk menenangkan diri lalu menatap Farid dengan serius, siap melakukan sandiwara. "Aku mendengar ada dison yang menarik disini, jadi bisakah aku dan p-.. pacarku ini mendapatkan diskon itu?"


Meski ada keraguan di ucapanya, tapi dia meragakan sandiwara dengan sangat baik. Dia merangkul Emilia dan membawanya ke dalam pelukan yang mesra.

__ADS_1


Emilia merasakan kehangatan di tubuh pria itu, pelukan tersebut membuat dia menjadi gugup apalagi mendengar kata 'pacar' keluar dari muluntya.dia tahu bahwa ini sekedar sandiwara, tapi entah kenapa hati dia tidak bisa berhenti beredebar.


Terkekeh mendengar dan melihat jelas pergerakan Adit, Farid tersenyum. "Ah, diskon sepasang kekasih ya? Memang kalian terlihat mesra, tapi ada satu syarat agar diskon ini aktif."


Adit membuka mata lebar dan mengerutkan kening, syarat? Dia tidak ingat pernah menyuruh manajer sombong ini membuat hal demikian, Adit yakin dia cuma berkata buatkan diskon sepasang kekasih khusus untuk dia, tidak ada syarat!


Mendengar kata syarat entah kenapa perasaan Adit tidak enak. "Syarat apa?"


Senyuman mengejek itu makin lebar. "Sebagai bukti dan persyaratan bahwa kalian memang sepasang kekasih, maka berciumlah!"


Mereke berdua spontan menatap ke arahnya. "Maaf, apa kami salah dengar?" ucap mereka kompak.


"Tidak. Namanya juga pasangan, pasti ciuman bukan masalah besar, kan?" sahut farid.


'Bukan masalah besar pala bapakkau!' teriak Adit dalam hati, kini dia paham perasaan buruk apa yang sedari tadi menantinya, entah kenapa dia mau memukul sang manajer yang membuat syarat bodoh seperti ini.


Keduanya saling melirik malu tentu mereka tidak akan melakukan hal itu apalagi di tempat banyak orang seperti ini! Dulu memang pernah Adit mencium Emilia, tapi itu cuma karena misi dari sistem dan terbawa suasana.


"Ada apa? Kalian tidak mau? kalau begitu maaf. diskonya tidak berfungsi."


Itu adalah pilihan yang bagus baginya tapi, kenyataan bahwa Adit ingin melakukan itu agar Emilia tinggal aman tidak bisa dilawan, mau tidak mau dia harus berani melakukanya. Ini semua demi kebahagian gadis itu.


"Akan kulakan! Cuma Ciuman kami pernah melakukan, ya kan, sayang?" Adit merubah sikap dengan cepat, cara dia menipu orang sangat baik.


Deg..


Hati dia makin berdebar, dia dan Adit akan melakukan ciuman lagi. Seketika sensai lembut di bibirnya yang pernah dicium kembali terasa, pada malam hari itu dia memang sangat senang dan hatinya tidak bisa berhenti berdebar, tapi dia terlalu malu untuk melakukan lagi apalagi dilihat orang.


"Bo-bodoh jangan berani ya!" Tubuh gemetaran dan memerah seperti kepiting rebus, dari sudut pandang Adit dia tidak mau melewati kesempatan seperti ini lagi, gadis itu memang sangat imut. Dia yakin siapapun sangat ingin bersama dia.


Tanpa pikir panjang pemuda itu memegang pipi emilia yang memerah menggunakan kedua tangan. "H-hentikan jangan disini." lirih dia melirik ke arah lain.


Adit sedikit gemas karena mata indah berwarna biru miliknya melirik ke arah lain, seolah menolak bertatapan. Dengan sigap dia mengeser kepalanya agar mereka saling bertatapan.


Emilia dapat melihat dengan jelas wajah tampan dan keren Adit membuat dia makin salah tingah. "Tunggu kamu serius? Apakah kamu... seingin itu?"


Adit hanya mengangukan kepala entah kenapa dia terlihat sangat jantan dengan sandiwaranya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya, tatapan Adit fokus mengarah ke bibir merah manis milik sang gadis.

__ADS_1


Jarak mereka makin dekat, Emilia pasrah dan menutup mata, di dalam hatinya dia sebenarnya ingin, tapi dia hanya malu. Saat itu bibir mereka telah menyatu, hanya ciuman sekilas tapi Adit maupun Emilia dapat meraskan kemanisan di sana.


Tidak ada permainan lidah hanya ciuman sebentar dan pelukan. Disisi lain farid tersenyum puas, dia sangat senang mempermainkan dua remaja ini.


'hahaha, melihat ini sangat menyenangkan.' pikir ia.


Selesai dengan ciumannya Adit melepaskan pelukan dan menjauhkan wajah. Dengan kedua orang yang berwajah merah seperti tomat, mereka saling menundukan kepala.


"Bibirnya sangat lembut dan hangat."  gumam Emilia lirih sambil memegang bibir bekas ciuman itu, dia makin memanas karena mengingat sensai ciuman itu. Dia juga berpikir aneh kenapa Adit berani sekali menciumnya, bahkan sampai dua kali? Apa jangan-jangan dia menaruh perasaan kepadanya?


Kepulan asap keluar dari kepalanya, tubuh dia gemetaran dan seperti kepeting rebus. 'apa dia menciumku karena suka? bahkan di tempat seperti ini.'


"Sangat manis dan bikin nagih, bisa gawat jika aku sendirian." gumam Adit mengingat sensasi bibir sang gadis. Dia bisa saja melampui batas jika saja berada di ruangan tertutup.


"Sangat bagus kalian lulus!  Persyaratan telah selesai! Ini kunci kamar nyonya, ada di nomor 333, ya!" ucap Farid menepuk tangan. Lalu memberikan kunci


"Berapa harga setelah mendapatkan diskon..."


"Aku akan membayar untukmu!" tegas Adit.


"Eh? Tapi.."


ucapan itu terpotong karena tiba-tiba Adit mencium pipi sang gadis dengan cepat, dia masih saja bersandiwara? Atau jangan-jangan dia hanya mencuri kesempatan?


"Ingat aku adalah pacarku jadi tangung jawabku adalah membayar yang seperti ini."


Lalu Adit. Menatap dingin ke manejer, dia berkata. "Sana ke kamar, aku akan urus disini, dan aku punya sesuatu yang harus dikakatan dengan dia!"


Menganggukan kepala karena malu Emilia langsung berlari.


Sekarang cuma tinggal adit dan Farid.


"Apa rencamu sampai membuat syarat seperti itu?" tanya Adit menatap dingin.


"Hahaha~ aku cuma.. itu..." dia merasa ketakutan dan grogi.


"KENAPA KAMU MEMBUAT SYARAT ITU?"

__ADS_1


Merasa percuma pada akhinrya dia menundukan kepala. "maaf."


__ADS_2