
Di halaman sekolah SMA Garuda sangat ramai dan gaduh, terlihat semua orang mengelilingi pemuda-pemudi yang berada di airbag safety mat.
"Hei apa kamu baik-baik saja?" tanya para guru menatap ke Adit yang masih memeluk Emilia.
"Ya, saya baik-baik saja."
Pandangan semua orang masih terfokus ke arah Adit, sosok siswa yang dulu terkenal akan ke pecundangnya.
Sosok siswa payah yang berada di rangking bawah, lemah dalam olahraga dan penakut tidak berhenti disitu dia juga sangat tidak memiliki karisma.
Tapi sekarang Adit tampak sangat berbeda, nilai dia akhir-akhir ini naik, membuat topik pembicaraan para guru.
Dan sekarang pemuda itu juga membuat geng yang para guru angkat tangan bergerak sesuai perintah dia.
Dia sangat berbeda dengan dulu! Sekarang aura dia sangat kuat dan karisma dia luar biasa, dia seperti sosok pemimpin yang bisa diandalkan.
Para siswi perempuan juga semakin takjub atas tindakan berani Adit, mereka diam-diam mulai mengidolakannya.
Dalam hati mereka berteriak-teriak ingin menggantikan posisi Emilia dan ingin dipeluk!
Menjadi pusat perhatian, Adit sebenarnya biasa saja. Tapi Emilia merasakan kedua pipinya memanas, semburan warna kemerahan terlihat di pipi cembungnya.
"Aku sudah baik-baik saja Dit, jadi lepaskan pelukan ini... memalukan," ucap dia dengan malu-malu.
Adit hanya tersenyum dan menurut, dia berpikir bahwa Emilia yang seperti ini sangat imut dan cocok untuk dia! Dia yang menangis entah kenapa membuat hati Adit sesak.
"Uwaa Emilia~"
Sekumpulan gadis berlari dan memuluk dia dengan erat, mereka terlihat jelas sekali menangis.
"Maafkan kami... kami sangat merasa bersalah! Kami tidak tahu bahwa kamu semenderita ini!"
Mereka adalah siswi yang suka menganggu Emilia walaupun tidak terlalu sering.
Mendadak dipeluk, Emilia memasang wajah senyum kaku. "Baik-baik... tenang saja."
Emilia bisa merasakan ketulusan di hati mereka semua, jadi dia memaafkannya, terlebih saat membawa airbag safety mat, mereka juga ikut membantu.
Itu juga merupakan jawaban bahwa mereka serius.
Melihat Emilia akhirnya punya teman wanita mulai sekarang, Adit tersenyum puas.
"Jadi kamu Aditya Narayan, ya?" Suara wanita dewasa terdengar tegas datang, ketika Adit menengok dengan seksama dia kembali teringat sosok sebenarnya dari dia.
Dia adalah Amel, satu hakim terkenal di kota ini, Adit juga ingat bahwa di masa depan yang mengungkapkan fakta kekerasan rumah tangga di TV adalah Amel, setelah itu kedua orang tua Emilia ditangkap dan Amel berhenti dalam dunia hakim.
Tidak ada yang tahu alasannya, tapi.
Jika Amel adalah Saudara dari Emilia, maka besar kemungkinan di masa depan Amel merasa gagal tidak bisa menyelamatkan Adiknya maka dari itu dia berhenti.
Pada dasarnya penangkapan dan bukti-bukti dilakukan oleh Amel, tidak ada bedanya di masa depan.
Yang jadi pembeda adalah ada satu pemuda yang bergerak lebih cepat untuk melaporkan kasus ke bambang.
"Ya... kamu selamat datang kak Amel," ucap Adit penuh senyum.
__ADS_1
"Aku sangat berterima kasih karena telah menyelamatkan adikku, jujur aku saja tadi hanya bisa terdiam dan ketakutan! Tapi untung saja Emilia punya pacar yang penuh perhatian... Aku serahkan adikku untuk anda."
Amel berkata dan menundukkan kepala, dia bertingkah seolah-olah dia adalah orang tua yang ingin menyerahkan anaknya ke pengatin.
"Pacar?" Adit bergumam pelan dan merasa sedikit malu. 'jadi aku terlihat seperti itu dipandangan orang lain.'
"K-kak Amel, apasih yang kakak katakan? Adit dan aku belum melakukan hal seperti itu!" Di sampingnya, Emilia berkata dengan wajah memerah.
Melihat sikap salah tingkah sang adik tentu sebagai kakak dia tahu perasaannya ke remeja tersebut.
"'Belum' ya? Kalau waktu itu telah datang. Mungkin aku akan mengadakan pesta!" dia tersenyum penuh godaan.
Kedua remaja itu merona karena mendengar perkataan dari kak Amel, secara tidak langsung dia telah mengizinkan Adit untuk melakukan hal seperti itu ke Emilia.
"kak... mo~ berhenti bercanda seperti itu!" Suaranya terdengar gemeteran bertanda dia malu atas kelakuan sang kakak.
Semua penghuni sekolah menatap tiga orang itu, mereka tersenyum karena masalah telah usai dan yang paling penting, Emilia kembali menjadi diri sendiri.
Di balik kesenangan dan senyuman Orang-orang, terlihat satu gadis yang tampak sangat geram atas tindakan dari Emilia dan Adit.
Dia adalah sarah.
'Sial si cupu itu berani sekali tepar pesona! Dan juga siapa wanita itu? Apa dia putus denganku karena wanita itu? Wanita gila yang bahkan mau bunuh diri itu? Dia sudah benar-benar buta padahal aku lebih baik... sial, sial! Aku makin benci mereka! Para geng Eskumat juga tidak berguna! Memang sih Adit akhir-akhir ini sedikit lebih... tampan, tapi dia sangat menyebalkan dan sombongn!'
'Awas saja kamu Dit, wanitamu dan kamu akan kubuat menyesal di kemudian hari...'
...***...
Saat semua kejadian telah reda, terlihat Adit, Emilia dan Amel sedang duduk di kursi halaman sekolah.
Adit meminum minuman botol yang baru saja dibeli Amel, sedangkan Emilia memakan bekalnya.
"Maaf kalau perkataan ini lancang... tapi aku baru tahu Emilia punya kakak, apa kalian benar-benar satu darah?"
Pertanyaan yang benar-benar lancang dari Adit keluar begitu saja.
Suasana menjadi sunyi setelah Adit bertanya, dan Emilia ingin menjawab tapi sudah terpotong oleh jawaban Amel.
"Tidak, kami tidak satu darah."
Emilia menjadi sedikit murung mendengar hal tersebut, dia menundukkan kepala.
Amel melihat dengan kasihan ke arah Emilia, dia lalu memeluk sang Adik.
Emilia terlihat malu-malu karena dipeluk.
"Ah sudah kuduga adikku sangat imut~" ucap dia sambil mengelus rambut hitamnya.
"Kak kita ada di tempat umum jadi berhenti!"
"Hahaha maaf habisnya kita sudah sangat lama tidak bertemu... tidak bahkan kita hanya bertemu satu kali."
Amel menatap wajah bingung Adit lalu tersenyum sambil mengelus rambut Emi.
Amel mulai menjelaskan bahwa mereka bukanlah satu darah atau saudara.
__ADS_1
Mereka benar-benar orang asing, tapi mereka saling menganggap bahwa mereka adalah adik kakak.
Awal mula mereka bertemu adalah saat Emilia masih kecil dan saat Amel masih kuliah dijurusan hukum.
Saat itu Amel sedang duduk di taman dekat rumah Emilia, dia tanpa sengaja melihat sang gadis keluar dari rumah dengan kondisi menyedihkan.
Dia penuh luka seperti luka pukulan, Amel yang melihat gadis itu tampak kesakitan dan menyedihkan memutuskan untuk memanggilnya.
Lalu mereka sedikit berbicara dan saling tersenyum, mereka sangat cepat akrab.
"Jadi kakak ingin menjadi hakim? Itu keren!" ucap Emi dengan tersenyum.
Amel yang gemas melihat tindakan itu, mulai mengelus kepala Emilia kecil.
"Ya aku ingin menegakkan keadilan negara ini dengan jujur bukan hakim yang bisa dibeli dengan uang.... omong-omong, apa mimpimu Emilia?"
Amel bertanya pada awalnya dia berpikir bahwa Emilia hanya ingin bermimpi seperti anak kecil pada umumnya, tapi jawaban itu sangat diluar dugaan.
"...Aku hanya ingin bahagia, aku ingin merasakan cinta, dan juga kehangatan keluarga," Emilia kecil berkata dengan nada sedih.
Jika dicek lagi, Amel menyadari bahwa luka memar di wajah dia sangat mencurigakan, dia berpikir bahwa Emi mengalami kekerasan fisik di rumah dan itu memang benar.
Amel ingin membahas itu tapi dia putuskan untuk berhenti.
"Kehangatan keluarga, ya? Kalau begitu maukah kamu menjadi keluarga kakak?"
"Eh? Apa maksudnya itu?"
"Kakak sudah lama ingin adik kecil yang imut seperti kamu... jadi maukah kamu menjadi adikku!?"
Emilia tersenyum lalu berkata, "tentu! Jika punya kakak seperti Amel pasti akan hebat dan menyenangkan!"
Setelah itu mereka berdua sering bermain bersama dan menghabiskan waktu bersama sebagai kakak dan adik, walaupun mereka tidak sedarah tapi cinta mereka bukanlah bohongan.
Hingga suatu hari, luka di tubuh Emilia makin parah, walau dia menyembunyikan dengan jaket tebal itu percuma.
Amel yang makin yakin kalau Emilia mengalami kekerasan, mulai memanggil para warga dan memperlihatkan luka di tubuh Emilia.
Karena waktu itu Amel adalah calon hakim yang dipercaya maka semua orang menurut dan memang sejak awal kecurigaan dari keluarga Emi.
tapi sangat disayangkan, mereka tidak ada bukti! Orang tua Emilia sangat pintar bersandiwara dan menyembunyikan bukti.
Bahkan butuh bertahun-tahun bagi hakim terkenal seperti Amel untuk mengungkapkan bukti dan baru kemarin bukti terkumpul.
Dia menghabiskan bertahun-tahun karena orang tua Emilia sangat sering berpindah rumah dan menghilangkan jejak.
"Seperti itulah pertemuan kami, benar bukan Emilia?" tanya Amel masih mengelus rambut Emilia.
"Ya itu benar..."
Adit terdiam, meskipun dia berasal dari masa depan dia baru paham sekarang.
"Omong-omong, Emilia. Kedua orang tuamu sudah ditangkap atas laporan dari Adit, jadi apakah kamu ingin bertemu dengan mereka? Ayahmu yang kejam itu tidak mungkin mengatakan apapun! Tapi ibumu berbeda, dia juga korban dari aniya ayah, kan? Aku yakin dia punya sesuatu untuk dikatain."
"Karena saat malam-malam ditangkap, bukannya melawan ibumu justru berkata 'aku sudah membuat anak itu menderita hanya karena ketakutan dan stres, aku pantas untuk ditangkap.'"
__ADS_1
"Dan saat kami bertanya apa penyesalan terakhir, dia menjawab seperti ini. 'Oh, jika bisa aku ingin bertemu anakku untuk terakhir kali."
Emilia terkejut dan seperti ingin menangis karena mendengar itu, dia menganggukkan kepala. "Ya aku ingin."