Kembali Masa Lalu Dengan Sistem

Kembali Masa Lalu Dengan Sistem
Chapter 50.


__ADS_3

Emilia menatap dengan kagum kamar yang dia miliki, terlalu megah dan jembar. Suasana sangat nyaman dan tenang, kasur juga sangat terlihat lembut. Ini pertama kali baginya pergi di tempat mewah seperti ini.


Gadis yang bersemangat itu mencoba duduk di kasur yang empuk tersebut, sampai gadis itu melompat-lompat seperti anak kecil di atas. "Mengapa kasur ini bisa seempuk ini?"


Dia terlihat sangat kenak-kanakan, memang ini pertama kalinya dia berada di hotel yang mewah, tapi ini sangat memalukan. Jika saja orang yang melihat dia pasti bisa mati karena malu.


Dan tanpa dia sadari, ada orang licik yang menatap kelakuan bocah itu melalui CCTV di ruangan itu, siapa lagi kalau bukan Farid.


"Hahaha, aku tidak menyangka Tuan Adit suka gadis energik seperti ini," senyuman terlukis di wajahnya walaupun terlihat jelas bekar gamparan dari sang owner karena baru saja mempermainkanya, tapi dia masih saja merasa kurang.


"Tapi ini belum menarik... gadis itu harus menyadari sesuatu di kamar mandi, hehehe~"


Dia pasti merencakan sesuatu lagi, entah kenapa saat menyadari Tuan Adit membawa seorang gadis. Hati Manajer itu bergetar, dia ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang hubungan mereka.


Karena itu dia menyiapkan sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang membuat semua wanita pasti berteriak kencang di kamar itu, lebih tepatnya di kamar mandi. Kamar Adit dan Emilia bersebelahan, itu artinya jika Emilia berteriak melihat sesuatu yang disiapkan oleh Farid, maka dia akan mendengar dengan jelas.


Setelah itu pasti pemuda itu berlari menuju kamar dan dia akan langsung menguncin kamar tersebut dengan teknologi cangih. Lalu dia ingin melihat apa yang akan dilakukan dua remaja di satu kamar yang tertutup.


"Hahaha aku jadi tidak sabar." Tawa itu bergema di ruangan CCTV itu.


Gadis berambut hitam itu beranjak dari kasur lalu berjalan ke kamar mandi yang berada di kamarnya.


"Yosh, pertunjukan akan dimulai." gumam farid menatap melalui CCTV.


Pintu kamar mandi itu dibuka, spontan kelopak matanya membelabak melihat sosok yang tidak diduga, sebuah ular kecil yang tampak bahaya. Tapi tidak perlu khawatir, Farid bukan orang bodoh, tentu ular yang dia siapkan tidak berbahaya sama sekali bahkan tidak berbisa dan jinak.


Emilia terdiam seketika masih terkejut dengan ular di sana, lalu dia berteriak."Kyaa!!" teriak dia untuk beberapa detik, lalu dia menambahkan ucapan dengan senyuman. "Lihat disini ada ular imut!"


Perlahan dia berjongkok tanpa mengenal rasa takut dia malah membelai kepala ular yang terlihat menakutkan.


Farid,melihat di CCTV melebarkan mata, bagaimana bisa dia mengatakan seekor ular imut? Memang ular itu tidak bahaya, tapi seharusnya Emilia tidak tahu hal tersebut, bukankah wanita normal pasti akan berteriak dan lari? Tapi gadis ini malah tersenyum manis dan membelai kepala ular.

__ADS_1


Terlalu banyak hal diluar nalar, sehingga Farid bingung sendiri. "J-jadi begitu ya? Hahaha~ wanita yang unik. Pantas saja tuan Adit tertarik," suara terdengar terbata-bata.


Kembali ke Emilia, ia masih membelai kepala ular dan berkata dengan lembut seperti berbicara dengan anak kecil. "Siapa nama yang cocok, ya?"


Klark....


Pintu kamar Emilia terbuka menampilkan Adit yang lari ngos-ngosan, sesuai rencana Farid dia langsung lari karena mendengar teriakan Emilia.


"A-ada apa Emi...?" ucapan itu terhenti karena ia melihat betapa bodohnya gadis tersebut membelai sosok ular. Dalam hati Adit berpikir, apakah dia tidak takut dipatuk?


"S-serius apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa ular berada di sini!?" teriak Adit, tidak paham situasi,


"Hmm." berdeham, dia melirik ke arah Adit. "Aku namakan dia Ren, apakah keren?" Dia mengendong ular bernama Ren ke tanganya, menunjukan ular itu ke arah Adit.


Seketika pemuda bergemetaran karena ular itu memerkan lidah, seolah dia berbisa.


"Hei Emi, serius itu bahaya jadi, menyingkirlah!"


"Darimananya?!"


Ren, ular yang berada di tangan Emi berjalan dengan perutnya, menuju bahu sang gadis. "Hahaha, geli Ren. Apa kamu ingin bermain?"


Ren, ular itu berjalan-jalan mengelitik bahu dan leher, namun bagi Emi itu tidak masalah dia justru tertawa.


Melihat akan hal ini, entah kenapa Adit sedikit jengkel. Dia berjalan ke arah Emilia karena makin khawatir jika tiba-tiba ren melilitnya.


"Emi tolong jauhi...."


Perkataan terputus, tanpa diduga. Adit terjatuh karena tersengol sepatu yang tidak diikat. Sungguh bodoh!


"EH?" Kedua mata orang itu terbuka lebar, gerakan jatuh Adit terlihat sangat lambat.

__ADS_1


Bugg....


Tubuh Adit jatuh, menindihi Emilia. posisi mereka sangat erat sehingga siapapun yang melihat pasti bisa salah paham.


"Aduh, apa kamu baik-baik saja Emi?" Adit perlahan bangun dengan satu tangan kanan, lalu betapa terkejutnya dia melihat posisi ini. Wajah mereka sangat dekat, dia kembali bisa melihat wajah wanita ini. Rambut yang tergurai rapi, hidung mancung, kulit berwarna putih seperti susu, mata biru seperti berlian, dan bibir merah yang terlihat menggoda.


Dia seperti gadis remaja kelasa atas bagi Adit!


Menelan ludah, dia kembali ingat betapa manisnya bibir Emilia.


"B-berhenti..." suara itu terdengat sangat lirih sehingga Adit kebingungan.


"Apa kamu mengatakan sesuatu."


"Berhenti menatapku dengan lekat... dan cepat berdiri!" Suara itu sangat gemetaran dan gugup. Emilia menjadi salah tingkah karena wajah mereka sangat dekat, terlebih tubuh pemuda itu berada di atasnya.


Keheningan menyerbu dua orang itu, sejujurnya Adit juga ingin segera berdiri. Tapi pesona gadis tersebut sangat memikat sehingga dia terhinoptis untuk melihat terus-terusan.


"Maaf, kamu terlalu mengemaskan, jadi aku tidak bisa melepaskan pandangan."


Membuka mata lebar, dia tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar?


"Hei apa yang kamu...."


Ucapan itu terpotong, Adit sudah tidak bisa menahan diri melihat wajah mereka yang sangat dekat, terlebih bibir manis dari Emilia kembali membuat dia memanas.


Dengan cepat dia membungkam mulut dengan bibirnya, dia menciumnya dengan mengebu berbeda dari tadi.


Ciuman itu sedikit tampak beranfsu, meski hanya sedikit Adit membuka mulut dan mengeluarkan lidah, mencoba membuka gigi sang gadis dengan susah keras.


Dia sangat ingin menyatukan lidah miliknya dengan lidah Emilia, setelah beberapa saat akhirnya Emilia menyerah dia membuka mulutnya sedikit dan dengan cepat lidah Adit mencari, lalu menyatukan bersama lidahnya. Mereka bermain lidah, merasakan kelembutan dan kenikmatan.

__ADS_1


Emilia bernafas tersedu-sedu dia sangat merasakan panas di tubuhnya, "Eh... Dit.."


__ADS_2