
Tap... tap.. tap..
Di lorong rumah sakit yang panjang tampak seorang remaja sedang berlari menuju suatu kamar.
Dia berlari dengan cukup cepat seolah-olah hal buruk akan terjadi.
Dan remaja itu adalah Adit, sesuai yang dia dengar dari telepon, Adit langsung pergi menuju kamar 128 yang merupakan tempat di mana orang tua Adit berada.
Ketika sampai di sana, remaja itu tanpa basa-basi langsung membuka pintu.
Clark..
"Ayah, ibu?!" teriak Adit karena panik.
Beberapa dokter yang sedang mengamati kondisi mereka langsung berbalik menatap Adit, jumlah dokter di sana sekitar 4 dan disalah satunya ada kak Nabila selaku penanggung jawab kondisi dua orang tua Adit.
Dan ada satu lagi polisi yang terlihat sedang menyelidiki kasus.
Polisi yang menyadari kedatangan Adit langsung berkata, "Jadi kamu anak dari kedua orang tua ini? Adit kan? Kamu tidak perlu khawatir lagi, nak. Semua masalah sudah selesai."
Mendengar sesuatu yang tidak masuk akal Adit menjadi bingung. "Apa yang bapak maksud?"
"Kedua orang tuamu sudah jelas sekali menerima obat palsu dari salah satu dokter di sini, karena itu kondisi mereka makin parah. Dan sudah menemukan pelakunya!" ucap Polisi tersebut penuh wibawa.
Namun bagi Adit yang bisa melihat masa depan, dan tanda kematian orang. Dia mengetahui bahwa kasus sama sekali belum selesai.
"Jadi siapa pelaku tersebut?" tanya Adit.
Polisi itu melirik ke salah satu dokter yang berjumlah 4 orang, ia lalu menarik tangan dokter wanita.
"Wanita ini! Dokter Nabila lah pelakunya!" suara dari polisi terdengar sangat percaya diri seolah dia yakin seratus persen dengan pikirannya.
Sangat wajar jika dokter Nabila yang menjadi tangung jawab kedua orang tua Adit dicurigai, tapi polisi ini bukankah terlalu cepat mengambil keputusan?
Adit tahu sendiri seberapa baik dokter Nabila.
Dokter Nabila terlihat pasrah saja saat polisi tersebut mengeluarkan borgol di tangan dan memasangnya dia tidak mau melawan.
Dia sendiri mungkin berpikir tidak ada gunanya untuk melawan.
__ADS_1
Saat dokter tersebut selesai dengan borgolnya dia dengan kasar menarik dokter Nabila.
"Ayo dasar licik!" kata polisi itu dengan kejam seraya menarik tangan dokter Nabila.
Wanita itu hanya bisa menurut dengan wajah melas.
Saat mereka melewati Adit, remaja itu menghentikan mereka dan berkata.
"Tunggu! Dokter Nabila bukan orang yang akan melakukan kejahatan seperti itu! Apakah Bapak ada bukti?"
Alasan kenapa Adit bersikeras dan curiga dengan polisi ini adalah karena dia merasakan aura jahat dan pikiran negatif dari polisi tersebut, melalui skill barunya yaitu radar bahaya.
"Hei nak! Jangan ganggu polisi saat bertugas!" bentak polisi tersebut.
Adit terdiam beberapa detik untuk menyusun kalimat. "Apakah ada bukti bahwa dokter Nabila pelaku?"
"Dia adalah penanggung jawab dari kedua orang tuamu! Jadi wajar bahwa aku mencurigai dia. Lagipula aku menemukan Bukti-bukti bahwa dokter Nabila mempunyai obat-obat yang berkualitas jelek."
"Pembicaraan cukup sampai disini jangan menggangguku lagi anak sialan!"
Polisi itu mengerutu dan langsung pergi tanpa peduli dengan Adit.
Namun sebelum Dokter Nabila pergi. Adit menggunakan skill [melihat kematian orang] untuk mengecek kondisi Nabila.
[Waktu kematian : 1 minggu dari sekarang]
[Informasi kematian : Mendapatkan hukuman mati atas tuduhan palsu]
Dan sesuai dugaan Adit dokter Nabila tidak bersalah, di data tertulis bahwa Nabila terkena tuduhan palsu.
"Tunggu dia tidak bersalah!" tegas Adit menghentikan langkah polisi dan dokter Nabila.
Dokter Nabila membuka mata lebar seolah tidak menyangka bahwa dia masih dibela oleh seseorang.
"Ada apa lagi anak sialan! Kamu tidak tahu apapun jadi diam dan jangan ikut campur kami?"
Adit cuma tersenyum mendengar perkataan tegas dan penuh emosi dari polisi tersebut.
Dia merasakan bahwa polisi ini sendiri juga patut dicurigai dia bisa merasakan perasaan tidak enak dan bahaya darinya melalui skil [Radar bahaya]
__ADS_1
Dia pasti berkerja sama untuk menjatuhkan nama baik dokter Nabila.
"Satu minggu tolong berikan waktu sebanyak itu dan akan kubitkan bahwa kak Nabila tidak bersalah!" Dia berkata dengan penuh keyakinan.
Namun polisi itu meremehkan tekad Adit, dia mengira anak remaja seperti dia hanya membual, mana mun dia bisa memecahkan kasus seperti ini.
"Lakukan sesukamu itu jika kamu bisa."
Disisi lain, Nabila terlihat terharu atas sikap Adit yang membelanya. Di saat semua rekan kerja dan sesama dokter mencurigai dia, justru remaja ini malah percaya dengan dia.
"Adit...." lirihnya dengan air mata yang menetes.
Detik berikutnya dokter Nabila dan polisi itu telah pergi meninggalkan Adit dan tiga dokter yang tersisa.
Adit yang berada di ruangan orang tuanya memutuskan untuk mendekati kedua orang tua yang tertidur lemas di kasur.
Kondisi mereka sangatlah buruk terlihat puluhan kali lebih pucat daripada dulu.
Lali Adit menatap mereka dengan seksama menggunakan skill [melihat tanda kematian orang] untuk mengecek kondisi mereka.
[Bapak Aldo dan ibu ]
[Waktu kematian : Satu Minggu dari sekarang]
[Info kematian : mati Teracuni oleh obat palsu dari seseorang.]
Adit mengatupkan giginya dengan kasar, dia merasakan emosi yang mendalam.
Sangat kejam!
Siapapun yang melakukan ini tidak akan dimaafkan oleh Adit.
[Ding misi utama kembali terbuka ]
[Selamatkan kedua orang tua anda dari masa depan buruk]
[Selamatkan Nabila dari tuduhan palsu dan kematiannya.]
[Tangkap siapapun dalang dari kasus ini.]
__ADS_1
Adit yang menerima tiga misi secara berturut-turut berjanji untuk menyelesaikan semuanya agar kedua orang tua dia aman.
"Aku pasti akan membongkar siapapun di balik kejadian ini!