
Di ruangan mansion yang tampak indah, terlihat sosok remaja sedang duduk bersama seseorang pria dewasa.
Mereka tidak lain adalah Adit dan Bambang.
"Jadi kamu ingin berkata bahwa kasus tempo hari mengenai Dokter Nabila adalah kebohongan dan rencana dari seseorang?" Pak Bambang bertanya dengan arogan.
"Ya seperti itulah."
Pak Bambang menghela napas, dia tidak habis pikir apa yang ada di otak remaja ini. Mengatakan bahwa kasus itu palsu di depan pak Bambang, itu sama saja menaruh kecurigaan ke orang yang salah.
"Nak apa kamu tahu sedang berbicara dengan siapa? Aku yang bertanggung jawab atas kasus itu, dan aku yakin tidak ada kesalahan sama sekali! Nabila terciduk membawa obat palsu di rumahnya dan para bawahanku menemukannya."
"Bawahan? Itu artinya anda tidak melihat TKP secara langsung..."
"Ya itu memang benar. Karena pemimpin sepertiku tidak perlu campur urusan kecil seperti ini."
"Kalau begitu coba cek obat itu sekarang!" Tak. Adit meletakkan satu sampel obat yang dia dapatkan dari Rozak.
Bambang mengambil itu lalu mengecek dengan seksama, ada gambar wajah terkejut di raut mukanya.
"Apakah anda tahu sesuatu?" tanya Adit.
Bambang menganggukkan kepala. "Ya, ini bukan obat palsu, bisa dibilang ini adalah racun. Jika seseorang mengonsumsi ini dalam waktu lama akan melemahkan tubuh dan perlahan membunuhnya.... Dan asal obat ini kalau tidak salah ada di geng elang! Ya hanya geng itu yang menjual barang-barang mencurigakan dan mengerikan seperti ini."
Adit tersenyum. "Jadi akhirnya anda sadar."
Bambang menjadi bingung, dia hanya mendapat laporan dari anak buahnya bahwa obat palsu itu adalah buatan tangan dari Nabila dan sangatlah buruk kualitas.
Dia tidak pernah mendengar kabar bahwa obat ini berasal dari geng elang!
Jika dia mendengar kabar palsu itu artinya!
"Ada pengkhianat di tempatku," ucap dia seraya memegang dagunya.
__ADS_1
Sebenarnya Bambang sedikit curiga ke Adit bahwa bisa saja dia mau menipunya. Tapi dia tidak mendapat alasan yang pas untuk kenapa Adit perlu melakukan penipuan.
Dan juga entah kenapa dia merasakan bahwa Adit punya sesuatu yg berbeda, sesuatu yang memikat untuk orang agar tanduk dengan dirinya dan menghormati dia. Bahkan Bambang sendiri terpengaruh oleh efek itu yang tidak lain adalah dari skill [Leader ship] milik Adit.
"Aku minta untuk secepatnya kasus ini diproses karena berhubungan dengan kedua orang tuaku... sekarang aku akan menemui kak Amel jadi aku akan pergi sebntar."
Bambang yang masih sedikit terpesona dengan aura misterius dari Adit hanya bisa menganggukkan kepala.
......................
Setelah beberapa saat Akhirnya Adit sampai di rumah tepat Amel tinggal atau bisa dibilang ini adalah tempat Emilia juga tinggal.
Karena setelah kejadian kedua orang tua Emi yang tertangkap Emilia tidak puji tempat untuk tinggal jadi dia terpaksa untuk tinggal bersama Amel.
Ding
Adit membunyikan bel dering di rumah mencoba untuk memanggil seseorang.
Terdengar suara gadis yang nyaring dari palik pintu. "Ya tunggu sebentar!"
Clak
Pintu terbuka menampilkan Emilia yang yang menggunakan sweater oversize. "Eh Adit apa yang kamu lakukan di malam hari seperti ini?"
"Aku ingin bertemu dengan kak Amel apa dia ada disini?"
Wajah Emilia sedikit mengembung tanda cemberut. Dia berpikir bahwa dia mencari dirinya tapi salah!
"Eh ada apa dengan wajah itu?" tanya Adit kebingungan.
"Tidak apa-apa.. Kak seseorang mencarimu!" Dia berteriak memanggil sang kakak.
Setelah itu Emilia menatap Adit dan menarik tangannya. "Kamu jangan hanya diam saja dan ayo masuk ke ruang tamu."
__ADS_1
Sesampainya di ruang tamu, Adit duduk berhadapan dengan Amel. Sedangkan Emilia berada di dapur untuk menyiapkan cemilan dan minuman.
Keheningan meliput kedua orang tersebut karena ini pertana kalinya mereka hanya berdua saja.
Emilia akhirnya selesai dengan urusan dapur, dia membawa tiga teh hangat dan roti kering lalu dia dengan lucu duduk bersebelahan dengan sang kakak.
Berkat kedatangan Emilia suasana hening barusan menjadi cair.
"Jadi apa yang kamu inginkan Adit?" tanya Amel memulai pembicaraan.
Adit tidak langsung menjawab dia meminum teh yang dibuat oleh Emilia untuk beberapa saat lalu menghela napas.
Adit mulai menjelaskan tujuan dia kesini. Tentang ibunya yang berada di rumah sakit, obat palsu, dan geng elang yang dimaksud.
Amel dan Emilia mendengar itu semua dengan seksama, tidak ada satu kata punya yang terlewat.
Amel menatap Adit dengan serius. Dia bukannya meragukan ucapan Adit tapi ada satu hal mengganjaal mengenai obat, dia ingin sekali memastikan dengan matanya.
"Bisakah aku melihat sample obat palsu yang kamu dapat dari pihak rumah sakit?"
Tanpa panjang lebar Adit memberikan obat palsu itu ke Amel, wanita itu memeriksa dengan seksama lalu dia berkeringat karena perkataan dia ada benarnya.
"Ini benar... tidak diragukan lagi ini adalah milik dari geng elang.Dan barang ini sangatlah bahaya!" Amel berseru.
Di sisi lain Emilia yang mendengar semua percakapan ini memasang wajah khawatir. Dia mengigit bibirnya, memegang dadanya dan mencari kata yang tepat.
"Dit, aku tidak tahu kalau kondisi orang tuamu separah ini, aku... aku tidak tahu harus melakukan apa tapi jika kamu membutuhkan sesuatu maka dengan senang hati aku akan membantu."
Senyuman tergambar di wajah remaja itu, dia bisa mengetahui bahwa Emilia sangat khawatir dari ekpresinya.
"Ya Terima kasih Emi."
"Ehem." Amel berdeham mencoba mengingatkan bahwa dia ada disini. "Yah pokoknya. Kamu kembali ke rumah dan sekolah saja Adit, urusan ini akan aku urus dengan pak bambang. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Jika kami mendapatkan cukup bukti maka akan segera kami hubungi."
__ADS_1
Adit sangat percaya bahwa mereka bisa diandalkan dan waktu masih ada satu Minggu sebelum kejadian terjadi. Karena itu dia memutuskan untuk menurut.