
Setelah menatap status baru miliknya, Adit menambahkan beberapa status menggunakan poin, tapi aktivitas itu terganggu karena mendengar pintu keluar dibuka.
Ketika menoleh dia mendapatkan seorang gadis imut dengan rambut hitam yang rapi, dia juga meiliki mata biru yang tidak kalah indah.
"Ada apa Emilia?" tanya Adit menatap gadis itu.
Dia terlihat terengah-engah seolah baru saja lari dengan senyuman yang dipaksakan dia berkata, "Tidak apa-apa."
Emilia berjalan mendekati Adit dan berdiri di sampingnya untuk waktu yang cukup lama.
Waktu berjalan beberapa menit tanpa adanya obrolan, Emilia dari tadi seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia terlihat sangat malu.
Oleh karena itu, Adit berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan.
"Oh, ya, apa pembicaraan dengan ibumu tadi menyenangkan?"
Pertanyaan itu berhasil membuat gadis yang barusan canggung menjadi tersenyum penuh binar-binar. "Ya, aku sangat senang bisa bercerita dan berbicara dengan ibu. Tadi juga ibu bilang kalau aku boleh main disini kapapun aku mau."
"Jadi begitu, ya? Aku senang kalau kamu senang, Emilia?" Menatap sang gadis dengan jarak yang cukup dekat, Adit tersenyum.
Dari jarak sedekat ini Emilia makin menyadari lekukan wajah sempurna dari Adit, dia cukup tampan untuk disetarakan dengan artis-artis, walau mungkin terdengar berlebihan.
Namun, bagaimana pun sejak awal Emilia melihat Adit dengan pandangan kagum, dari dulu pikiran tentang Adit sama saja, dia sangat keren.
Menyadari apa yang ada dipikiran, dia memalingkan wajah karena malu.
"Hmm," Adit mendekati wajah sang gadis karena melihat rona merah di pipinya. "Ada apa Emi?"
"T-tidak! Aku punya sesuatu untuk dikatakan, tapi disini cukup ramai jadi bisakah kita pergi tempat yang agak sepi?"
Tiba-tiba saja Emilia memegang lengan Adit dan terus menarik-narik, seolah meminta dia agar cepat pergi dari sini.
"Baik akan kulakukan sesuai kemauanmu."
Emilia dan Adit berjalan ke taman yang sepi, menjauh dari keramaian.
Taman ini ditutup untuk umum, sehingga mereka bisa memiliki sedikit privasi. Mereka memilih tempat yang teduh di bawah pohon yang rindang.
Setelah duduk, Emilia tampak gugup. Dia menggigit bibirnya, mencari kata-kata yang tepat. Akhirnya, dengan rasa malu yang terlihat di matanya, dia berkata,
"Adit, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena kamu selalu ada di sampingku dan membantuku, terutama hari ini dengan ibuku."
Adit tersenyum lembut. "Tidak perlu berterima kasih, Emi. Sebagai teman aku ingin kamu bahagia."
Emilia menarik nafas dalam-dalam. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Dia menoleh dan memandang mata Adit. "Ini bukan seperti apa yang kamu pikirkan, jadi jangan salah paham."
Adit mengangguk, memberi tahu bahwa dia mendengar dengan seksama.
__ADS_1
"Kakakku memberikan saran ini, dia bilang aku harus memberikan hadiah spesial padamu." Emilia memutuskan untuk mengungkapkan maksudnya dengan jelas. "Jadi, jangan pikirkan ini lebih dari itu!"
Emilia segera mencium pipi Adit dengan cepat. Rona merah masih terlihat di pipinya, dan dia berbicara dengan cepat, "Itu bukan karena aku ingin menciummu, ini hanya karena saran kakakku, jadi jangan salah paham, ya!"
Adit terkejut, dia merasakan sensasi hangat bibir Emilia dia pipinya, dia memegang pipi bekas ciuman itu dan merasa terbakar, dia cukup malu karena menerima ciuman dari seorang gadis.
"A-apaan respon itu!? Su-sudah kubilang ini adalah saran kak Amel! Itu bukan seperti aku ingin menciummu!"
Emilia sendiri justru lebih malu daripada Adit, dia membentak agar Adit tidak salah paham.
Mendengar itu semua dia hanya tersenyum, dia bisa merasakan betapa malunya gadis itu. Dia membalas dengan lembut.
"Emi, aku mengerti. Tidak perlu khawatir. Ciuman dari gadis kecil sepertimu tidak terlalu berarti!" Lalu Adit mengeluarkan lidahnya, mengejek sang gadis.
"Berani sekali kamu bilang seperti itu, padahal aku sudah memberanikan diri dan ini juga... pertama kali aku melakukannya dengan lelaki."
Dia gemeteran dan menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah di wajah.
Adit yang melihat tingkah Emilia dibuat gemes sendiri, dia sangat ingin memeluk erat gadis di depannya.
[Baiklah sistem mengerti!]
[Ding! Selamat Anda mendapatkan misi baru, peluk dan cium gadis di depan anda!]
Adit mengerutkan kening, dia merasa dejavu dengan misi ini. Karena dia pernah menolak misi tersebut saat Emilia menginap.
Tapi kali ini dia tidak akan menolak! Lagipula dia juga ingin membalas perilaku dari Emilia barusan.
Namun, sebelum dia bisa melanjutkan pembicaraan lebih lanjut, Adit mendekap Emilia erat dalam pelukannya.
"Kya~ apa yang tiba-tiba kamu lakukan?!"
"Hahaha, hanya sedikit pelajaran untuk gadis pemula seperti kamu!"
-cup
dan tiba-tiba dia mencium bibir gadis itu dengan lembut. Emilia sangat terkejut pada awalnya, tetapi kemudian merasakan getaran aneh di dalam dadanya.
Setelah beberapa saat ciuman yang singkat, Adit melepaskan bibir Emilia dan menatap matanya dengan lembut.
"Emi, jangan salah paham! Itu adalah saran dari temanku untuk membalas hadiahmu."
Dia tidak seratus persen bohong, faktanya dia mendapatkan saran misi dari sistem, jika saja tidak ada misi dari sistem maka Adit mana mungkin berani berlaku seperti tadi.
Tapi bagi Emilia sudah jelas sekali bahwa remaja ini sedang mempermainkannya.
Emilia hanya bisa merona dan gemeteran.
"Aku tahu! Dih, cukup dengan topik ini, dasar mesum, berani sekali kamu melakukan itu tanpa permisi!"
__ADS_1
[Ding! Selamat anda menyelesaikan misi peluk dan cium gadis di depan anda]
[Hadiah misi 500 coin, 15 poin status, + ketampanan 15]
Adit tersenyum melihat hadiah lagi-lagi muncul, rasa senang meliputi hati dia.
Melihat Adit tersenyum tidak jelas tentu Emilia menjadi curiga.
"Kenapa kamu tersenyum? Apakah bibirku sangat membuatmu senang?!"
"Ya seperti itulah!" Adit menjawab spontan.
Mendengar hal itu Emilia makin merona, momen saat mereka berciuman kembali teringat di bibirnya, dia memegang bibir dan menundukkan kepala.
"A-aku mau pulang dulu! Hari ini ada kak Amel jadi jangan khawatir!"
"Dan lupakan apa yang terjadi barusan! Karena kita sama-sama melakukan itu dari saran orang!"
Amel sudah tidak kuat menahan rasa malu dia memutuskan untuk kalah dan berdiri dari tempat duduk.
Lalu dia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Adit. Tapi sebelum itu, gadis itu mengucapkan salam dan melambaikan tangan.
"Sampai ketemu besok Dit!"
Adit tersenyum dan melambaikan tangan. "Ya sampai besok."
Melihat senyuman itu, entah kenapa Adit sekali lagi terlihat lebih tampan dari pada tadi.
Dengan menutup wajah yang memerah menggunakan kedua tangan, dia berlari cepat menuju tempat sang kakak.
Saat dia kembali ke pintu masuk kantor polisi ternyata Amel sudah berdiri dan menunggu sambil bermain hp.
Emilia langsung bertindak cepat menghampiri kakaknya.
Amel menyadari kedatangan seseorang dan menatapnya, tergambar senyuman penuh godaan saat melihat kondisi muka sang adik menjadi merah padam.
Isting wanita dia berkata bahwa sesuatu telah terjadi!
"Kak ayo pulang!" Emilia membalikkan badan dan langsung ingin pergi begitu saja.
"Tunggu Emilia!"
"Ada apa?" tanya Emilia membalikkan badan.
"Apakah kamu benar-benar melakukan itu?" Amel bertanya dengan senyuman di wajah.
Seketika tubuh dan jantung Emilia bergetar karena mengingat kehangatan dari bibir mereka yang saling bersentuhan, kepulan asap keluar dari kepalanya.
"Ara, ara~ dia konslet."
__ADS_1
Dia punya adik paling imut di dunia ini! Karena itulah Amel tidak bisa berhenti memasang wajah senyuman.