
Hari telah menjadi gelap semenjak Adit keluar dari rumah sakit, suasana sunyi, gelap. Hanya ada beberapa kendaraan yang saling menyelip.
Adit saat ini sedang berada di minimarket untuk membeli sesuatu, dia ingin mengunjungi seseorang oleh karena itu dia berpikir bahwa lebih baik membawa makanan untuk sopan santun.
Orang yang mau ditemui oleh Adit tidak lain adalah Amel selaku hakim dan Bambang selaku polisi di kota ini.
Mereka berdua adalah kenalan Adit, salah besar jika Rozak berpikir dia berkuasa. Karena sejatinya Adit punya dua kenalan paling berpengaruh di kota ini.
"Kira-kira apa oleh-oleh yang baik untuk mengunjungi kak Amel dan pak Bambang?"
Adit menatap gondola yang berisi makanan dengan seksama, dia berpikir dengan mantang sesuatu yang disukai kedua orang tersebut.
Karena akan sangat tidak sopan jika dia datang tanpa membawa sesuatu, apalagi orang yang dia temui adalah orang penting.
Saat sedang fokus dengan pilihannya, tiba-tiba pintu mini market terbuka, memunculkan bunyi sehingga Adit langsung menoleh ke sumber suara.
"Selamat datang tuan." sapa wanita yang berada di kasir.
Tapi dua pengunjung itu hanya diam saja tidak merespon, dua orang itu terlihat menggunakan baju tipis tanpa lengan dan memamerkan otot-otot, di sana juga ada sebuah gambar tato elang yang menarik perhatian Adit.
Dua orang itu sama-sama punya tato elang di tangan, apakah itu artinya mereka berasal dari suatu kelompok yang sama? Kurang lebih itu yang ada di pikiran Adit.
Dua pengunjung yang tampak garang itu datang ke kasir dan memukul meja dengan keras.
"Hei, ada wanita cantik, nih! Ayo main sebentar neng!" salah satu pria itu berkata dengan memasang wajah menjijikkan.
Teman yang berdiri di sampingnya juga menyadari bahwa kasir tersebut tampak menawan, dia tidak pernah melihat wanita secantik kasir itu. Lalu dia memasang senyuman menjijikkan.
"Kamu benar kita bisa bermain untuk malam ini, neng. Jadi ayo keluar sebentar."
Menyadari dirinya sedang dalam posisi buruk, kasir tersebut menjadi gemetaran wajah cantiknya menjadi pucat membiru, keringat banjir di wajahnya.
__ADS_1
"Maaf... sudah kukatakan berulang kali, aku tidak bisa."
Dia sudah mengalami godaan seperti ini untuk waktu yang banyak. Dua pria itu terus menganggu dia saat bekerja. Membuat dia ketakutan.
"Hahaha~ santai aja neng, berhenti bekerja menjadi kasir dan bermainlah dengan kami itu akan menghasilkan banyak uang!"
"Bukankah kamu membutuhkan uang untuk membantu temanmu yang sedang terkena kasus?"
Mendengar kata "kasus" Adit menjadi tertarik, bepikir bahwa mereka semua ada hubungan dengan Nabila.
"Maaf tapi sebisa mungkin aku ingin—" gadis itu ingin mengelak dan melindungi diri tapi terganggu karena tiba-tiba tangannya dan di tarik paksa.
"Kya— sakit!" teriakan dia secara spontan karena ditarik paksa.
"Ikuti kami neng, kita bisa enak-enakan untuk malam ini," ucap pria yang menarik dia.
"Tidak! Tidak! tolong hentikan." Wanita kasir itu terus berteriak karena dia digerek dengan paksa.
Langkah demi langkah mereka lakukan, dua preman itu berhasil membawa perempuan tersebut keluar dari minimarket.
...***...
Di belakang gudang minimarket yang sempit dan penggap hanya ada tempat pembuangan sampah.
Terlihat dua orang pira itu sedang hendak melakukan aksinya, mereka menekan pegawai kasir di dinding.
"Tidak tolong hentikan!" tentu saja wanita itu memberontak mana mungkin dia membiarkan kesuciannya hilang untuk dua orang preman seperti mereka.
Tidak mendengar ucapan, mereka justru malah semakin bersemangat dalam membuka pakaian wanita.
Kancing peniti sedikit demi sedikit terbuka hingga akhirnya pakaian wanita itu lepas dan memperlihatkan dua gunung, aset berharganya.
__ADS_1
Dia sudah mulai menangis membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kamu punya buah yang cukup berisi kalau seperti kami mana tahan..." lelaki tersebut merentang mencoba meraba aset pribadi milik gadis itu.
Tapi tiba-tiba tindakannya berhenti karena ucapan seseorang.
"berhenti dia terlihat terganggu." ucap Adit dengan santainya.
Mendengar perkataan dari remaja yang tidak mereka ketahuai, dua orang itu berhenti bermain. Lalu menatap tajam Adit.
"Apa yang kamu perlukan bocah sialan!"
Alih-alih takut justru Adit melancarkan senyuman, dia memandang rendah dua orang pria yang melawan wanita.
Dia berpikir apakah mereka benar benar punya burung? Beraninya kok main cewek.
"Aku tidak ada urusan pribadi hanya saja aku ingin menghentikan tindakan bodoh ini, tapi aku juga tidak mau melakukan kekerasan. Jadi kakak terhormat kalian pergilah," Adit mengeluarkan senyuman ramah, tapi.bagi preman itu adalah tindakan mengejek.
"Apa kamu kira kami takut? Jangan main-main dengan kami!"
"Geng elang kami adalah yang terkuat dan berkuasa di kota ini, terkenal dengan kekerasan dan kekuatan! Bocah sepertimu tidak akan bisa melawan kami, menyentuh saja tidak bisa."
Geng elang merupakan salah satu geng paling dihindari di kota ini mereka menjual barang-barang ilegal berupa obat dan miras. Tidak berhenti disitu bos mereka yang tidak memiliki nama terkenal akan kekuasaan di dunia bawah.
Singkatnya geng elang mempunyai pasar gelap yang akan membantu mereka jika terjadi sesuatu karena bos geng elang merupakan broker yang menguasai dunia bawah.
Mereka punya hubungan dengan mafia, dan beberapa geng mengetik di negar ini.
Tapi, Adit masih saja tersenyum menahan emosi, jujur bagi dia dua orang itu bukanlah apapun selain sampah dia bisa melawan dengan sangat mudah.
[Ding! Misi baru didapatkan.]
__ADS_1
[kalahkan dua preman tidak tahu malu itu dan selamat gadis tersebut.]
Adit tersenyum melihat misi datang, sepertinya dia harus turun kekerasan lagi.