
Waktu telah telah terlewat, kini saatnya pengadilan Nabila dilaksanakan. Ruangan itu terdiri dari beberapa hakim dan beberapa dokter sebagai saksi mata, dokter Rozak pelaku asli juga masuk di pengadilan ini sebagai saksi mata.
"Hahaha rasakanlah dasar wanita sialan, itu akibatnya jika kamu mencoba menggeser aku dari ketua Devisi kesehatan."
batin Rozak penuh kebencian, tidak ada satu pun orang yang tahu tentang motif Rozak yang sebenarnya, kecuali sang korban Nabila.
Nabila merasakan kesedihan yang sangat mendalam di hatinya, dia tidak bisa berpikir bahwa orang yang dia cintai melakukan hal seperti ini.
Dia sudah sangat mengidolakan Rozak karena kehebatan dalam dunia dokter, tapi siapa sangka dia adalah orang licik! Dia bahkan menipu gadis yang mabuk cinta, dan membodohinya hingga masuk ranah penjara.
Dan semua itu hanya agar jabatan sebagai ketua devisi kesehatan aman.
Padahal Nabila sendiri tidak terlalu peduli dengan jabatan seperti itu dia akan menolak karena menganggap hanya dokter Rozak seorang yang cocok untuk menjadi ketua.
'Kenapa kamu sangat tega seperti ini?' batin Nabila sambil menundukkan kepala.
Takk..
Hakim pria berjas hitam memukul palu di pengadilan.
Mendengar akhirnya Nabila akan terkena hukuman, Dokter Rozak dan polisi bernama Rahmat yang sudah dia sogok saling menatap, mereka tersenyum dan berpikir bahwa semua rencana berjalan lancar.
"Dokter Nabila dengan ini anda terdakwa atas kasus—"
Belum selesai sang hakim berbicara, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan sangat kasar. Menampilkan sosok remaja dan beberapa polisi yang di anggotakan oleh Pak Bambang.
Ruangan pengadilan dengan cepat menjadi hening, bisikan demi bisikan saling berisisih karena tiba-tiba ada orang yang masuk saat proses pengadilan.
Ini juga berlaku untuk Rozak dia sangat mengenal bocah remaja yang masuk di tempat, anak tersebut juga membawa orang-orang penting, seketika Rozak mempunyai firasat buruk.
para penjaga langsung berkumpul ingin menangkap remaja yang masuk tanpa izin, tapi terhenti karena mereka menyadari ada sosok penting di kerumunan remeja itu.
Dia adalah Amel dan Bambang.
"A-apa yang ingin anda lakukan disini tuan bambang?" salah satu penjaga bertanya.
Hakim-hakim di situ juga terkejut karena melihat sosok Amel, tentu mereka tahu tentang sosok hakim terkenal seperti Amel.
"Apa yang anda perlukan Nona Amel, disini bukan pekerjaan anda? Anda tidak punya hak untuk berada di sini!" ucap salah satu hakim karena memang Amel sendiri tidak diundang untuk menjadi hakim di kasus ini.
Mendengar perkataan tegas bukannya tersindir, justru Amel tersenyum. "Aku ingin membenarkan kasus ini, ada yang salah dengan semua ini!"
Dokter Rozak menjadi gemeteran, dengan bantuan Amel dan Bambang tentu kasus ini bisa dipecahkan dengan sangat mudah, tapi pertanyaannya dari mana bocah seperti Adit mengenal mereka?
Dia terlalu meremehkan orang, kesombongannya membawa malapetaka.
__ADS_1
"Apa maksud dari sesuatu salah di kasus ini? Semua sudah terbukti sangat jelas, saksi mata dan Bukti-bukti lainnya." Hakim pria berkata dengan tegas.
Wanita itu merogoh sakunya, lalu dia memunculkan sebuah foto yang didapat oleh Adit melalui Nayla.
Sebuah Foto dimana dokter Rozak terlihat jelas sedang melakukan aksi liciknya, memasuki kamar Nabila dan menaruh obat-obatan.
Keringat dingin menetes di kepalanya, bagaimana bisa dia menemukan foto itu dan kapan ada seseorang yang memotret? Kurang lebih, Rozak memikirkan hal tersebut.
Rozak tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya ada Nayla yang selalu mengawasi dia bahkan mengambil foto.
Melihat foto yang jelas sekali mencurigakan para juri membuka mata lebar. "Bukankah itu foto dokter Rozak? Kenapa dia memasuki kamar Nabila dan menaruh sesuatu yang mencurigakan."
"Bukankah jawaban sudah jelas, itu karena dokter sialan itu menaruh obat di kamar Nabila, dia membuat Nabila menjadi korban." Adit tersenyum dia membalas semua yang terjadi di rumah sakit.
Senyuman itu sangat mengejek bagi Rozak tanpa disadari dia menjadi emosi dan tidak terkendali. "Jangan percaya! Bisa saja foto itu palsu dan editan!"
"Ini adalah bukti dari Nona Amel dan Pak Bambang mereka tidak mungkin menipu. Bukankah begitu, tuan singa yang mengira bisa melakukan segalanya?" Adit sekali lagi berkata dengan senyuman mengejek.
"Dan juga aku sudah mencari latar belakang dari banyak saksi mata... kamu membeli obat itu dari geng elang kan?" tanya Adit.
Mendengar geng pembuat masalah di kota ini semua orang menjadi gemeteran.
"Apakah itu bener tuan Bambang dan nona Amel?"
Ini akan menjadi buruk bagi Rozak, semua orang kini justru curiga dengan dia. Rozak telah bertarung dengan orang yang salah, siapa sangka Adit, bocah yang dia remehkan dan jadikan sasaran punya dua kenalan besar seperti ini.
Kalau begini apapun yang dikatakan oleh Rozak akan percuma karena popularitas Amel dan Bambang lebih besar dan dipercaya.
Namun dia tidak akan kalah semudah itu!
"Jangan bercanda tiba-tiba datang dan mengatakan hal yang buruk tentangku! Semua bukti ini salah, aku dan Pak Rahmat menemukan bukti aslinya kan, benar kan pak Rahmat??"
Berada di sampingnya, Rozak bertanya dan menatap Rahmat, polisi yang disogok oleh Rozak. dengan penuh harapan dia bisa menyelesaikan seluruh kejadian ini,
Namun bukannya membantu, Rahmat menjadi takut dan sadar diri akan kejahatan yang dia lakukan.
Daripada mendapatkan hukuman lebih dari ini dia memutuskan untuk mengakui segalanya.
"...Semua perkataan anak itu, Nona Amel dan Pak Bambang adalah kenyataan... Dokter Rozak melakukan teransaksi dengan geng elang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.." dia mengakui kesalahannya.
Melihat bawahan yang mau jujur pak Bambang tersenyum. "Lalu kenapa kamu malah melaporkan hal yang lain?"
"Saya minta maaf, semua ini adalah kesalahanku... aku tergiur dengan penawaran pak Rozak dan membuat laporan palsu, sebuah laporan di mana Nabila adalah pelaku.. aku menerima segala hukuman yang akan terjadi."
Rozak menjadi marah. "Kenapa kamu malah mengatakan semua hal ini dasar bodoh!"
__ADS_1
Tidak merespon perkataan Rozak, Rahmat melanjutkan. "Semua tindakan Rozak karena dia cemburu dengan pencapaian dari Dokter Nabila yang spesial. Dia sangat benci dan ingin membuang seseorang yang menjadi saingannya, karena itulah Rozak menjebak dokter Nabila. Jadi tolong beri hukuman kepada kami se adil mungkin."
Para Hakim di situ saling menatap, berbisik untuk mengambil keputusan bersama. Hak seperti sangat jarang terjadi sehingga mereka bingung untuk melakukan apa.
Tapi karena sumber bukti berasal dari orang terpercaya mereka dengan mudah percaya.
"Baiklah, kami menerima semua yang terjadi. Bukti sudah terkumpul, pelaku sesungguhnya adalah Pak Rozak dan Rahmat."
"Hukum penjara seumur hidup untuk Dokter Rozak karena telah melakukan rencana tindakan pembunuhan untuk orang tua Aditya Narayan dan melakukan fitnah kepada seseorang yang tidak bersalah!"
"Untuk Pak Rahmat akan dihukum 20 tahun atas tindakan menerima suap, membantu pelaku dan melakukan tindakan fitnah. Sebenarnya hukuman akan sama, tapi karena Pak Rahmat mengakui kesalahan dan di akhir hidup masih memegang teguh sebuah prinsip polisi maka hukuman dikurangi."
Nabila seperti bermimpi, dia seperti ingin menangis. Tidak pernah disangka bahwa dia akan dibantu oleh seseorang di saat keritis seperti ini, terlebih lagi yang membantu adalah anak kecil seperti Adit.
Seorang bocah yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri.
Di sisi lain orang yang di anggap adik itu tersenyum penuh kemenangan. Dengan ini semua sudah berakhir.
Dia sudah menangkap semua geng elang dengan bantuan pak bambang, menangkap dalam, dan menyelematkan dokter Nabila.
[Ding misi terselesaikan dengan sempurna ]
[Selamatkan kedua orang tua anda dari masa depan buruk]
[Hadiah : 50.000 coin, Koenigsegg CCXR Trevita, 100 poin sistem]
[Selamatkan Nabila dari tuduhan palsu dan kematiannya.]
[Hadiah : mendapatkan rumah makan Oisi Restoran]
[Tangkap siapapun dalang dari kasus ini.]
[ Hadiah : Benelli TNT 1130 Cafe Racer]
Adit terlalut oleh hadiah luar biasa yang dia dapat, tersenyum sangat senang.
Sehingga dia tidak menyadari bahwa Nabila telah berlari menuju ke arahnya.
"Eh..?" mata dia terbuka lebar karena baru saja menyadari kali ini, dia dalam pelukan hangat amel.
"Terima kasih, terima kasih. Aku sangat takut.."
Adit hanya tersenyum kaku, di masa depan dia sudah menerima banyak bantuan dari Nabila jadi dia wajar mau membantu.
"Ya sama-sama."
__ADS_1