
Hari esok telah datang, Adit berada di SMA Garuda, mengikuti pelajaran dengan normal. Jam pelajaran pertama dimulai dengan bahasa luar atau ingris dari pak Eko, para murid entah kenapa terlihat menghela napas pasrah sebelum beliau datang.
"Hei apa kamu sudah mengerjakan pr kemarin?" Seorang siswa yang duduk di depan Adit berkata dengan teman sebangkunya.
"Tentu aku mengerjakan, aku tidak bodoh sampai bisa lupa mengerjakan pr di depan pak Eko," jawab siswa yang satu bangku.
Adit mengerutkan kening, mendengar perkataan dua murid barusan. PR? Akhir-akhir ini banyak yang dia lakukan sehingga merasa tidak ingat dengan istilah tersebut.
"Tunggu sebentar apa ada PR dari pak Eko?" Adit bertanya, ikut bergabung dalam percakapan.
Kedua siswa yang ditanya justru tampak terkejut karena tiba-tiba Adit ikut nimbrung pembicaraan. "Y-ya kamu benar! Bukankah ini PR satu minggu yang lalu?"
Seputar ingatan satu minggu yang lalu kembali muncul, kemarin memang Pak Eko memberikan PR untuk semua siswa, tapi karena Adit sibuk mengurus kasus dan kedua orang tuanya dia melupakan hal tersebut.
Merasa bahwa dirinya adalah paling bodoh, dia memijat kening. "Ah. Sekarang aku ingat!"
"Dit, jangan bilang kamu lupa?"
Tersenyum kaku dia berkata. "Hahahaha, kamu benar!"
"Serius? Betapa bodohnya dirimu! Jika Pak Eko tahu, kamu bisa dijemur di luar selama jam pelajaran beliau!"
Mungkin itu adalah kebenaran, mengingat betapa tegasnya sosok Pak Eko, tapi bagi Adit dia santai-santai saja. "Tenang saja aku akan segera mengerjakan sekarang!"
Dia mengeluarkan alat tulis dan mulai mengerjakan di buku khusus pelajaran ingris, dua siswa itu menatap heran, mereka paham bahwa sekarang Adit sudah berbeda dengan dulu. Tapi tugas yang adalah membuat sebuah cerita pendek menggunakan bahasa ingris dan tidak ada yang boleh salah dalam menggunakan gramer dan tata bahasa, tugas seperti itu mana sempat dia kerjakan sekarang.
__ADS_1
"NIh, dari pada susah-susah aku kasih punyaku!" dia memberikan salinan berupa cerita pendek yang dia buat, tapi dengan cepat Adit menolak.
"Tidak perlu, aku bisa menyelesaikan ini dalam tiga menit.." Tatapan Adit menjadi fokus, dia seakan berada di dunianya sendiri, terus menuliskan sesuatu dalam kertas.
Kedua siswa itu menelan ludah, mereke terkejut Adit yang dulu payah dalam bahasa ingris kini bisa mengerjakan karangan cerita pendek tanpa bantuan gogle terjemahan.
Tapi itu percuma, Pak Eko sekarang telah datang ke kelas. Membuka pintu dengan kasar layaknya seorang preman kelas, membuat semua siswa menatap ngeri.
"Pagi Nak! Maaf terburu-buru tapi kalian tidak lupa dengan PR kan?" ucapan pertama kali yang dikeluarkan adalah demikian, Eko tanpa basa-basi langsung membahas PR.
Semua siswa berkata sudah karena mereka menyadari apa yang terjadi jika melupakannya, kecuali Adit yang masih fokus menulis. Tindakan Adit tentunya membuat Pak Eko berpikir bahwa ana itu baru saja mengerjakan prnya sekarang dan ini memang benar.
"Aditya apa kamu tidak mengerjakan PR?!" tanya guru bahasa ingris itu, menatap tajam gerak-gerik Adit yang masih sibuk menulis.
"Bagus kamu mengerjakan PR di sekolah! Apa kamu kira sekolah adalah rumahmu!"
Suara itu sangat garang, membuat seisi kelas menundukan kepala karena takut, beginilah guru killer ada, dengan ucapan saja membuat bulu kuduk berdiri. Di sisi lain Adit memasang wajah datar.
"hmm, bukankah sekolah adalah rumah kedua?" Adit memegang dagunya, memikirkan sebuah ucapan keramat yang dulu biasa dia dengar.
Keheningan menyapu kelas A, semua membuka mata lebar atas perkataan dari Adit, entah dia sedang berguarau atau apapun itu, tapi yang pasti dia tidak paham situasi.
Kedua murid tadi, menahan tawa mendengar perkataan Adit, mereka menganggap bahwa itu sangat lucu, bahkan melihat ada yang berani bicara degan pak Eko saja adalah lelucon.
"Eh, berani sekali kamu melawan ucapan bapak! Ke sini, cepat berdiri di depan kelas untuk menceritakan karangan cerita pendek yang kamu tulis dengan bahasa ingris, ingat tidak boleh melihat buku dan harus lancar!"
__ADS_1
Adit merasa tidak keberatan dengan hal itu, perlahan dia berdiri dan berjalan di depan kelas. Diawali dengan mengatur napas Adit mulai menceritakan sebuah karangan pendek yang baru saja dia buat.
Cara dia berkata dengan bahasa ingris sangat hebat, layaknya seorang bule. Bahkan seorang guru seperti pak Eko saja ,mengakui bahwa Adit adalah jenius, karena ucapan dan ekpresi dia sangat hebat.
Adit bercerita dalam waktu lima menit, setelah selesai suara tepukan tangan bergema mengelilingi kelas A.
Semua kagum akan kefasihan Adit dalam menggunakan bahasa Inggris.
"Kya~ Seperti biasa dia keren! Sejak kapan kamu pintar seperti itu."
Sesuai dugaan para siswi wanita tampak makin kagum dengan sosok Adit, dia benar-benar telah menjadi populer.
Tersenyum kaku dan berkeringat, dia menengok pak Eko. "Sekian dari saya Pak... eh apakah ada kekurangan?"
Guru bahasa Inggris itu menggeleng.
"Tidak, itu semua sempurna! Aku terkejut, padahal belum lama ini kamu sangat payah dan paling buruk di mata pelajaran bapak, tapi sekarang kamu sudah sangat hebat. Apa rahasianya?"
Sebagai guru bahasa Inggris, Pak Eko mengetahui bahwa cara Adit berbicara bukanlah hal mudah, itu perlu latihan jangka cukup lama, dia tentu tertarik dengan trik cepat yang Adit lakukan.
Mengaruk kepala tidak gatal, remaja itu berkata. "Hahaha... anu... aku cuma—"
"Yah siapa peduli tentang hal itu. Yang penting Adit, ikutlah lomba Olimpiade bahasa Inggris minggu depan, aku menantikanmu!"
Sebuah ucapan tidak terduga dilontarkan, membuat Adit terkejut. "Hah? Olimpiade?!"
__ADS_1