
Lapangan itu terlihat sangat ramai dengan banyaknya siswa yang saling bergurau, SMA Garuda saat ini sedang mengadakan tes fisik untuk semua siswa kelas 2.
Tes fisik dimulai dari melempar bola, dan lari pendek, dimulai dari para siswa pria.
Siswi perempuan saling berbondong-bondong untuk melihat idola mereka masing-masing dan nama yang paling disebut dan disoraki adalah...
"Adit semangat!"
"Kya sekarang giliran dia."
"Seperti yang dirumorkan dia sangat keren. Bos dari geng memang hebat."
"Aku paham, dia sangat tampan dan memiliki aura yang hebat, entah kenapa melihat dia membuatku berdebar."
Komentar-komentar diloncarkan untuknya, namun Adit justru memasang wajah masam, dia tidak terlalu biasa di soraki seperti ini. Justru dia merasa aneh.
Tidak berhenti di perempuan saja, para anggota geng miliknya juga bersorak menyemangati sang bos.
"Bos tunjukan kehebatan dan kejantananmu!"
Adit makin tidak merasa enak, dia sudah mulai risih dengan sorakan ini.
"Aditya Narayan kamu bisa langsung mulai!" seru guru olahraga, menyuruh Adit untuk tidak tebar pesona dan melakukan tugasnya.
Dari wajah sang guru terlihat sekali dia sangat iri dengan muridnya, Adit menyadari itu dan berguman dalam hati. "Kenapa dengan tatapan itu, pak?"
Priit
Peluit dibunyikan membuat lamunan Adit hilang seketika. Sang guru makin menatap dengan wajah penuh emosi hingga berhasil membuat Adit berkeringat dingin.
"Diam dan cepat lempar bola itu!"
Tes fisik yang dilakukan Adit adalah kekuatan tangan. Dia akan dites sejauh mana bola itu akan dilempar, tentu semakin jauh bola dilemparkan dia akan mendapatkan poin tinggi.
Namun bagi Adit justru itu adalah hal buruk, dia saat ini bisa dibilang terlalu kuat untuk manusia normal, dia tidak bisa menahan kekuatan.
Alih-alih melemparkan bola sajauh mungkin, dia malah bisa saja membuat bola itu hilang entah kemana karena saking kuatnya dia melempar.
Karena itu dia sekarang sedang menhirup napas dalam-dalam, bukan untuk mengeluarkan seluruh kekuatan, justru agar dia tidak terlalu mengeluarkan banyak kekuatan.
Karena jika dia mengeluarkan semua kekuatannya, bisa dibayangkan akan serewel apa para wanita.
"Bos Adit keluarkan seluruh kekuatanmu!" sorak Dika melihat di tepi lapangan bersama dengan para penonton.
Adit bergumam, "Seluruh kekuatanku? Jangan bercanda bisa-bisa bola ini hilang pergi entah kemana!"
Melihat muridnya tidak segera melemparkan bola, lagi-lagi guru olahraga itu membunyikan peluit.
Prittt
Kali ini Adit terkejut dan tanpa sengaja melemparkan bola dengan tenaga tidak terkendali.
__ADS_1
Bola kecil itu melayang ke langit yang luas dengan sangat cepat, bahkan sampai menciptakan hembusan angin yang membuat rambut semua orang bergoyang.
Entah terbang sampai mana bola itu, yang penting bola itu tidak akan kembali lagi.
"Sial ini berlebihan." ucap Adit dengan wajah berkeringat.
Lapangan dengan cepat menjadi hening tidak ada yang menyangka ada manusia yang bisa melemparkan bola sekuat itu. Bahkan sampai menimbulkan angin.
Adit menjadi gelisah karena kesalahannya sendiri, dia mulai berpikir jika sekarang dia akan dicurigai.
Namun....
"Kya itu luar biasa!"
"Lihat bola itu bahkan terbang entah kemana."
"Sudah kuduga dia benar-benar hebat!"
Perubahan sikap semua orang terlalu cepat sehingga membuat Adit merasa tidak nyaman, dia dengan kaku tersenyum dan menggaruk rambut yang tidak gatal.
Di kerumunan semua orang seorang gadis berambut pendek dan berkacamata menatap orang itu dengan canggung, dia menekan dadanya.
"Jadi dia Adit... aku harus meminta bantuannya, jika orang kuat seperti dia pasti bisa membantu kakak." Di matanya terlihat ketertarikan terhadap Adit.
...***...
Setelah selesai dengan jam olahraga.
Tak..
"Bersulang untuk Bos Adit."
Mereka melakukan tos dengan gelas yang berisi es teh seolah-olah mereka sedang pesta minum.
Mungkin jika ini merupakan geng yang dulu mereka akan meminum di kantin, tapi semenjak Adit menjadi bos di geng.
Semua berubah, geng eskumat yang terkenal nakal dan berandalan sekarang sudah mulai memikat hati-hati para murid dan guru.
Mereka terkadang membantu orang-orang yang punya masalah, kehilangan barang, dan masalah-masalah lain.
Bisa dibilang, daripada disebut geng. Mereka sekarang lebih cocok dibilang sebagai kelompok yang akan membantu apapun permintaan tolong dari masyarakat sekolah.
Dan ini juga ide dari Adit!
Di tengah keramaian teman-temannya, Adit justru menghela napas.
"Ada apa bos Adit!" tanya salah satu orang yang duduk di sampingnya dengan khawatir. Ini pertama kali mereka melihat Adit tampak lemas.
Semua ini karena kasus tempo hari, Adit sedikit bimbing bagaimana cara untuk mengumpulkan bukti kejahatan orang itu.
Dia sedang dalam buntu! Namun tentu Adit tidak bisa bilang semua masalah ini ke mereka.
__ADS_1
karena jika mereka tahu hal yang pertama terjadi pasti adalah pertarungan antara mereka dengan geng elang.
Bagi Adit yang mau mengharumkan nama baik teman-temannya tentu dia menolak akan hal tersebut.
"Tidak apa-apa hanya sedikit pusing." jawab dia.
Saat semua orang menatap heran Adit, Tiba-tiba sekumpulan siswi wanita datang untuk melihat Adit sosok idola mereka.
Bahkan ada yang tidak tangung-tangung ada juga yang langsung memeluk Adit dari belakang.
"Ne Adit tadi kamu sangat keren."
"Ya kamu terlihat sangat hebat."
Adit cuma menghela napas, membiarkan mereka menggoda dia. Jujur dia sangat muak akan hal ini.
Saat dia dulu dalam kondisi menyedihkan dan lemah tidak ada yang memandang, mereka hanya melihat setelah Adit mulai keren.
Itu artinya tidak ada yang tulus dari semua perbuatan wanita.
Kecuali gadis bernama Emilia yang dari dulu sudah ada di dekatnya...
Tap.. Tap.. Tap...
Langkah kaki bergema di lorong kantin, para murid berhenti makan dan menatap sumber suara. Adit juga berhenti dengan makanannya dan melirik.
Di sana ada Dika yang sedang berlari menghampiri Adit, membawa sepucuk surat yang entah apa artinya.
"Bos Adit, ini gawat!" teriak Dika, membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Ada apa?"
"Ka-kamu mendapatkan surat ci-cinta...."
Berkat ucapan Dika semua orang terkejut, siapa yang berani menulis surat seperti itu disaat Adit sudah menjadi populer?
"Mungkin!" tambah Dika dengan sedikit ragu.
Adit berdesis. "Jadi yang benar mana?"
"Maaf aku tidak terlalu paham... tapi tadi setelah jam olahraga selesai, seorang gadis berambut hitam dengan kacamata memberikan ini kepadaku, dia bilang 'berikan ini untuk Adit karena aku punya sesuatu untuk dibicarakan."
Adit dengan cepat berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Dika, jujur dia malas mengurus hal ini.
tapi akan sangat tidak sopan jika mengabaikan keinginan gadis.
Jika memang dia ingin mengungkapkan perasaan Adit akan langsung menolak.
"Sini aku ambil!" ucap Adit seraya mengambil surat itu dengan kasar dari tangan Dika.
Adit membaca dengan seksama setiap kalimat, sirna matanya berkeliling seraya membaca surat tersebut.
__ADS_1
Selesai membaca dia bergumam, "setelah pulang sekolah... Di gedung belakang sekolah, ya?"