
Dia sangat ingin menyatukan lidah miliknya dengan lidah Emilia, setelah beberapa saat akhirnya Emilia menyerah dia membuka mulutnya sedikit dan dengan cepat lidah Adit mencari, lalu menyatukan bersama lidahnya. Mereka bermain lidah, merasakan kelembutan dan kenikmatan.
Emilia bernafas tersedu-sedu dia sangat merasakan panas di tubuhnya, "Eh... Dit.."
Ciuman itu terlihat bergairah, lidah mereka saling bersentuhan untuk jangka waktu yang cukup lama. Mereka berdua dapat merasakan kelembutan dan kehangatan dan bibir yang saling menyatu.
Kedua jantung insang itu berdetak tidak karuan, kaki Emilia terus bergerak seolah ingin lepas dari ciuman itu, namun di dalam hati dia tidak bisa menyangkal bahwa dia menikmati ciuman.
Napas mereka saling menerpa dalam kehangatan.
"Ngh... ehm.." Gadis itu sedikit berdesah, merasakan sesuatu seperti seperti menyetrumnya.
Bagaimanapun ciuman penuh gairah itu terjadi kurang lebih dalam satu menit, Adit membuka kedua mata lebar. Entah setan apa yang merasuki sampai berani melakukan ini? Dengan salah tingkah, dia melepaskan bibir gadi itu.
Membuat dia terengah-engah karena menerima ciuman berutal yang pertama kali dia Terima, gadis tersebut tidak ada bisa menghentikan hati yang berdetak dan muka yang kini sepenuhnya memerah.
Melihat itu, Adit makin gemas dengan ekpresi malu dari Emilia, dia menelan ludah akhirnya berdiri dari posisi barusan. Akhirnya dia tersadar dengan tindakan bodoh barusan.
Mengalihkan pandangan dari gadis yang masih tergeletak di lantai dengan wajah terengah-engah, Adit memutuskan menatap pintu kamar. Dia menggaruk pipinya.
__ADS_1
"M-maaf.." cuma kalimat tersebut yang kini biasa dia lontarkan. Mau bagaimanapun dia telah salah karena melakukan tindakan bejat barusan.
Emilia di sisi lain mencoba bangund, dia meremas dadanya yang tidak bisa berhenti berdetak.
"T-tidak, gak kumaafkan! A-apa segitunya kamu segitunya suka dengan bibirku?!"
suara itu sangat terbata-bata, terlihat Emi sedang memegang bibir, mengingat kejadian barusan.
Keheningan menyapu ruang tersebut tentu kejadian barusan membuat mereka jadi sangat canggung.
Tapi, tanpa mereka sadari. Ada sosok licik di balik layar sedang memandang CCTV, dia terus tertawa dan tidak bisa berhenti tersenyum ketika melihat kejadian barusan.
"Hahahaha yang barusan itu sangat bagus! Aku tidak menyangka dia seberani itu!"
Tertawa terbahak-bahak dia memukul meja tanpa henti.
Mengelap air mata yang berjatuhan karena terlalu sering ketawa, dia menambah. "Tapi ini baru akan dimulai.. Mereka tidak menyadari bahwa pintu telah dikunci, mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh kedua remaja ini."
...****************...
__ADS_1
Kembali ke Adit dan Emilia.
Mereka masih saja saling berpaling muka, canggung dengan apa yang barusan terjadi. Sensai ciuman masih dapat mereka rasakan.
Dan jujur akan bisa gawat jika Adit terus berada disini, maka dari itu dia memutuskan untuk berdiri untuk keluar dari kamar.
"Kalau begitu aku permisi sebentar hati-hati dengan ular itu, hahahaaha~" tertawa kaku seolah berusaha menyembunyikan kecanggungan, dia berjalan.
"Iya." Gadis itu cuma menganggukkan kepala.
Adit merentang mencoba untuk membuka pintu, tapi entah kenapa dia tidak bisa. Pintu itu terkunci.
"Eh? Kenapa tidak bisa dibuka."
Lantas Adit berusaha untuk membuka pintu tapi percuma, mereka berdua kini menyadari bahwa mereka terkunci tanpa alasan yang jelas di satu kamar.
Emilia terkekeh dengan canggung menyadari situasi yang ada. Dia berjalan dan duduk di kasur empuk tersebut.
__ADS_1
"Kayaknya tidak ada pilihan lain... Dit, untuk beberapa saat tinggallah di kamar ini sampai seseorang membuka pintu."