
Perkataan dari Emilia masih bergema di pikiran Adit, bagaimana jika dia tinggal di kamar ini hanya untuk satu hari? Jangan bercanda bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi!
Adit bisa saja menghancurkan pintu terkunci itu dengan satu kali pukulan, tapi sangat menjadi mencolot jika dia menhancurkan pintu, dia malah kenah masalah nanti.
Terdiam sejenak, Adit bergumam dalam hati. 'Apa yang sebaiknya aku lakukan?'
[Tampaknya anda tidak punya pilihan lain selain berada di sini]
Adit sedikit terkejut, setelah diingat lagi sudah beberapa hari dia tidak mendengar suara sistem semenjak dia menyingung suara sistem yang mirip dengan wanita.
'Kamu benar sistem, mungkin tinggal di kamar ini sebentar sambil, menunggu bantuan adalah pilihan bagus.'
Pikir Adit, sejanak dia menghela napas. Jika dipikirkan lagi dia tidak perlu panik, bukankah dia owner hotel ini, jadi dia bisa meminta tolong kepada semua karyawan, staf bahkan manejer farid.
Merogoh ponsel di saku, Adit menelpon sang manejer, ingin meminta tolong tanpa menyadari bahwa Farid adalah pelaku dari semua kajadian yang ada.
Dritt..
Dritt..
Di sisi lain, ponsel Farid berbunyi, dia mengerutkan keningnya karena tertulis nama pengirim telepon yaitu Tuan Adit? Sebuah analisis dengan cepat menyerang otak, kenapa tiba-tiba Adit menelpon? Jangan-jangan dia menyadari kejanggalan ini semua?
Dengan tubuh dan tangan gemetaran, dia mengangkat telepon.
__ADS_1
"Ha-halo tuan maafkan aku! Aku salah, jadi akan segera kubuka pintu kamar itu!" dia langsung menarik kesimpulan bahwa Adit ingin memarihi, tapi dia salah paham besar.
"Hah? kenapa kamu tiba-tiba minta maaf... hei tunggu kamu tadi bilang apa? Bagaimana bisa kamu tahu bahwa kamar terkunci?"
Terima kasih atas respon bodoh dari Farid kini, Adit sedikit mengetahui bahwa memang ada yang salah.
"Hahahah... maaf!"
"Aku tahu ini ulahmu, cepat datang ke kamar ini dan buka kunci!"
"Baik, ampuni aku!"
Bip..
Di kamar, Adit sudah terlihat murka. "Dasar manajer sialan itu!" Dia mengerutu meskipun marah, dia tidak akan mengambil buruk kejadian ini, toh dia mendapatkan bonus dua ciuman berkat permainan Farid.
Paling-paling, dia cuma mendapatkan gamparan dari sang bos.
Melihat dari tadi Adit diam dan berbicara dengan orang lain, Emilia jadi penasaran dan mengankat untuk bicara. "Kamu sedang bicara dengan siapa?"
"Aku cuma manggil bala bantuan, biar pintu terbuka," ucap Adit seraya mengembalikan ponsel ke dalam saku.
Entah kenapa Emilia sedikit jengkel, dia mengembungkan pipi, cemberut. Dia merasa kecewa pintu yang terkunci segera diperbaiki, itu artinya dia tidak jadi tidur satu kamar dengan Adit.
__ADS_1
"Kita tidak jadi satu kamar untuk hari ini," ucap Emilia menundukan kepala dengan lesuh jelas sekali jika dia sangat kecewa dan terpuruk.
Melihat emilia yang sedih, Adit makin bingung. "Bukankah itu bagus? Tinggal satu kamar itu harus kamu lakukan dengan orang yang kamu cintai."
Lalu Adit terdiam, bukankah ciuman sama dengan itu? Dan dia baru saja merebut hal itu dari gadis ini. Menyadari hal tersebut, Adit merasa bersalah.
Keheningan menyapu ruangan tersebut, Emilia mendongkat dengan wajah memerah dia agak keberatan dengan ucapan barusan, karena orang yang dia cintai memang sudah berada di depan.
"Kamu tidak perlu khawatir, orang yang kucint..."
Baru saja ingin menyatakan perasaan, tapi gagal telak. Ucapannya terpotong oleh seseorang yang membuka pintu dengan kasar.
Ada rasa kesal ketika melihat penganggu datang dan menghancurkan acara pernyataan perasaan padahal tinggal sedikit lagi.
"Hah, apa kamu baik-baik saja tuan Adit?" Farid berjalan khawatir, atau lebih tepatnya khawatir. Perlahan tatapan itu memudar karena sirnanya menatap dua remaja satu kamar. :He apa yang kalian lakukan di sini bersamaa?"
Emilia salah tingkah dia tidak mau ada orang yang salah paham.
Namun, bagi Adit sudah bisa menyimpulkan satu hal. Mulai dari syarat diskon, ular yang datang, sampai pintu terkunci. Entah kenapa si farid ini mau mempermiankan mereka berdua, apa dia kira mereka itu film?
Adit paling tidak ingi memukul Farid satu kali atas bayaran telah mempermalukannya.
"Ini semua kan salahmu dasar manajer sialan!" Memberikan satu bogeman keras, dia meluapkan emosi ke Manajer.
__ADS_1