
Pelajaran telah usai, kini waktu telah diganti dengan jam istirahat. Adit seperti biasa menghabiskan waktu-waktunya di kantin untuk makan. Meski begitu dia terlihat sendirian dan sedikit memikirkan perkataan dari pak Eko, dia terpaksa harus mengikuti olimpiade.
"hah." Helaan napas keluar dari remaja itu, dia tampak malas menghadapi apa yang akan terjadi.
Seorang gadis berjalan mendekati Adit yang sedang meratapi nasib, dia adalah Emilia yang berdiri di depan Adit, menunggu dia mempersilahkan untuk duduk di kursi kosong yang ada.
Menatap sang gadis Adit berpikiran bahwa sudah cukup lama dia tidak melihatnya, atau justru dia yang terlalu sibuk?
"Emilia, kamu boleh duduk." ucap Adit dengan lembut, lalu kembali menatap makanan.
Mendengar hal tersebut, gadis itu tersenyum. "Ya terima kasih, beruntung masih ada kursi kosong, hahaha." Tanpa menunggu lama dia duduk berhadapan dengan Adit.
Sebenarnya masih tersedia sangat banyak kursi kosong di kantin, tapi Emilia memutuskan untuk berada di dekat Adit, karena akhir-akhir ini mereka sudah cukup lama tidak bertemu, meski malu mengakuinya, tapi gadis itu sedikit kesepian.
Dia merasa tidak nyaman jika berjauhan dengan Adit, sejak terlibat masalah kasus rumah sakit dia terus memikirkan dia tanpa henti
"Bagaimana kondisi kedua orang tuamu, apakah mereka baik-baik saja?" Menghilangkan suasana hening, gadis tersebut membuka suara.
Meminum es yang berada di gelas, Adit menjawab. "Mereka sudah keluar rumah sakit dan sekarang kami tinggal di hotel Al-Faris, kak Nabila juga aman."
"...Aku senang mendengar kabar itu.... tunggu! Tadi kamu bilang tinggal di hotel Al-Faris? Jangan bilang hotel terkenal itu?" Spontang menjadi gemetaran bagi orang biasa seperti dia, menginap di tempat mewah seperti hotel merupakan hal tidak pernah dia pikirkan.
"Ya kamu benar,"
"Wah pasti menyenangkan, aku mendengar para tamu boleh bebas berenang di kolam renang, jika berenang di malam hari pasti asik!" wajah gadis itu berbinar, pada dasarnya dia hanya seorang gadis normal, siapa saja mungkin bersemangat jika membahas tentang hal menyenangkan seperti hotel.
Melihat dia tersenyum entah kenapa Adit juga ikut tersenyum. "Kalau begitu kenapa kamu tidak ikut tinggal di situ, kebetulan kamar sebelahku kosong kamu bisa menginap. Lagipula Kak Amel sekarang berada di luar kota akan bahaya seorang gadis tinggal sendiri."
Ucapan Adit adalah bukti rasa khawatir dia, memang benar sebagai pria dia takut jika sesuatu terjadi kepada Emilia yang tinggal sendirian, tapi sangat disayangkan Emilia ini malah terasa tersindir.
Pipi gadis berambut hitam itu mengembung, cemberut. "Aku mana bisa tinggal di sana! Tidak sepertimu, kondisi keuanganku sedikit. Kak Amel cuma memberikan beberapa uang untukku."
Entah kenapa melihat pipi Emilia mengembung, membuat Adit merasa bahwa dia imut, dia serasa ingin mencubit pipi, tapi tidak punya keberanian untuk melakukan hal tersebut.
"Tidak perlu khawatir aku sendiri bisa menginap di hotel Al-Faris Karena...."
Kata-kata tersebut terhenti, dia sendiri bingung mau bagaimana cara menjelaskannya. Hotel Al-Faris secara normal bukan tempat yang bisa diinapkan oleh sembarang orang.
Mana mungkin dia blak-blakan bilang bahwa hotel itu punyaku.
Pasti dia menjadi bahan tertawaan karena halu, walaupun Adit tidak akan berpikir bahwa Emilia akan melakukan hal seperti itu.
"....Diskon, ya! Aku mendapatkan potong harga sangat besar dari diskon!" dia memutuskan berbohong walaupun sudah jelas sekali.
__ADS_1
Tapi Emi menganggukkan kepala percaya saja. "Diskon ya? Kira-kira diskon apa?"
"... Eh... Diskon sepasang kekasih, mungkin."
Mendengar kata sepasang kekasih pipi Emilia menyemburkan rona kemerahan, menahan rasa malu.
Itu artinya dia dan Adit akan pura-pura jadi pasangan demi mendapatkan diskon tersebut, membayangkan saja membuat hati dia berdebar.
 sekelompok siswi perempuan berjumlah empat orang berjalan memasuki kantin. Matanya berkeliling mencari seseorang.
Mereka tersenyum melihat sosok pria yang sedari tadi mereka cari sedang sendirian, tanpa ragu mereka mendekati Adit.
"Dit ayo makan bareng!" salah satu siswi perempuan memeluknya dari belakang, tapi reaksi Adit cuek saja.
Sedangkan tiga lainnya tanpa permisi duduk di samping Adit, mereka terlihat membawa bekal masing-masing.
Membuka kemasan bekal, ketiga orang itu dengan kompak merentangkan tangan dengan sendok, mencoba memberikan suapan dengan wajah tersenyum.
"Dit coba bekal punyaku aku memasak khusus untukmu!"
"Tidak coba saja punyaku!"
"Adit punyaku saja!"
Mereka sudah sangat sering menggoda Adit, memujinya dan memaksa dia memakan masakan yang mereka masak, meski respon Adit sedikit cuek.
"Hei berhenti...."
Tak...
Suara benturan garpu terdengar sangat kasar, melirik untuk melihat. Adit mendapati bahwa Emilia menusuk piring dengan garpu, hingga membuat piring itu sedikit retak.
Ekpresi imut, mengemaskan, dan friendly beberapa saat menghilang, berubah menjadi wajah dingin dan merendahkan.
Adit tidak tahu apa yang membuat gadis ini tiba-tiba menjadi seperti ini, tapi yang jelas dia terlihat sangat marah karena alasan yang tidak dia ketahui.
"Emi... kenapa kamu marah?" tanya Adit berbelit, ini pertama kali dia melihat sosok Emilia menjadi menakutkan seperti itu.
Emilia sendiri tidak tahu kenapa dia marah? Hanya saja dia jengkel melihat Adit yang berdekatan dengan cewek lain, entah kenapa dia merasa panas di hati dan menjadi emosi.
"Aku tidak marah!"
wajah itu cemberut dan tampak emosi, namun meski begitu justru terlihat imut bagi Adit. Dia terlihat seperti anak kecil yang merujuk.
__ADS_1
"Ah... kamu marah karena cemburu ya?" tanya Adit mencoba menebak.
Gadis itu merasakan kedua pipinya memanas, memang jika dipikirkan dengan baik perasaan tidak nyaman barusan sudah jelas sekali adalah rasa cemburu walaupun dia benci mengakui hal ini.
"A-aku tidak c-cemburu! Siapa yang mau cemburu dengan orang sepertimu.. Duh, bodoh ah! Aku mau kembali ke kelas. Makan bekal atau bermainlah dengan mereka aku tidak peduli!" ucapan dan perkataan dia berbanding terbalik, buktinya tubuh dia terus gemeteran dan dia merona.
sebelum akhirnya dia menghentakkan kaki karena kasal.
Adit menatap makin bingung. "Dia kenapa sih?"
Kelompok fans Adit saling melirik dan menghela napas menyadari betapa tidak lemotnya remaja ini.
'aku jadi kasihan dengan Emilia.' pikir mereka sama.
Berdiri dari tempat duduk Adit ingin pergi sebentar karena ada urusan.
"Aku pergi sebentar ada urusan." Dia berjalan pergi ke tempat sepi.
Ketika memastikan bahwa dirinya sedang sendirian Adit mengotak-atik hpnya untuk menelpon seseorang.
"Halo, Manejer Farid." sapa dia setelah telepon hp berhasil terhubung.
"Ada yang bisa saya bantu tuan Adit?"
"...Bisakah kamu membuat diskon... sepesang kekasih untuk hari ini saja?"
"Hah?"
"Banyak hal terjadi. Yah intinya aku minta bantuanmu, diskon itu cuma berlaku untukku saja!"
Ada jeda beberapa detik sebelum Farid menjawab, tentu dia kebingungan karena tiba-tiba sang owner membahas hal seperti ini. Tapi karena dia punya isting yang tajam, dia bisa menebak sesuatu.
"Permisi apakah jangan-jangan anda ingin mengundang pacar untuk menginap di sana?"
"Bukan pacar hanya kenalan!!"
"Hahahaha... baiklah saya mengerti, nikmatilah masa muda anda."
"Hei tunggu kamu salah paham...."
Bip...
Belum selesai dia menyelesaikan pembicaraan tiba-tiba ponsel dimatikan. sang owner muda itu cuma bisa menghela napas.
__ADS_1
Di sisi lain manajer Farid tersenyum. "Tidak kusangka tuan Adit sudah punya yang seperti itu. Yah, dia masih remaja jadi wajar saja... sekarang mari kita tentukan permainan yang menarik untuk mereka." Dia tersenyum jahat tentu ingin merencanakan sesuatu untuk mempermalukan mereka.