
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part22
Sejak 30 menit berlalu. Pria itu berusaha fokus dengan monitor di hadapannya. Ia tahu, sejak orang tuanya sudah pulang dan penolakannya, istri bocahnya mulai bertingkah.
Di depannya, ia tidak tahu sudah berapa kali istrinya berlalu lalang. Dari kamar mandi, keluar dan kembali lagi. Hanya sekadar beranjak menyisir rambut dan duduk di sofa.
Imannya sedang diuji. Bagaimana tidak? Istrinya mengenakan piama tipis. Meneguk ludah sendiri. Berusaha tidak menatapnya.
Ya, permintaan Aya ditolak mentah-mentah suaminya. Ken tidak mau mencuri mangga. Ia rasa bisa menahannya. Namun, istrinya sengaja menggodanya.
“Ekhm,” dehem Aya. Mencoba menarik perhatian suaminya. Ia menahan tawa. Melihat Ken duduk seperti cacing kepanasan.
Aya kembali berdiri. Kali ini ia sengaja lebih dekat dengan Ken. Membuat Ken menutup laptopnya. Matanya menatap istrinya dengan pandangan berkabut. Terlihat sekali ia tersiksa.
“Yank,” panggilnya. Aya mengulum senyum. Sebentar lagi rencananya berhasil.
“Apa?” tanyanya dengan kalem. Ia mendekati Ken dan duduk di dekat Ken. Matanya menatap suaminya dengan tatapan sayu. Pertahanan Ken runtuh. Baru saja ia ingin menarik istrinya, Aya lebih dulu menjauh.
“Mangga dulu, baru bikin adek-adek,” ujarnya membuat Ken mengerang frustrasi. Ia menatap Aya sebal.
“Enggak baik, loh, nolak suami,” ujar Ken. Aya tersenyum lebar.
“Aku kutip ucapanmu Pak Kenan Rahardian. ‘Tidak baik, loh, nolak istri.’ Maka berikan aku mangga,” pintanya membuat Ken ingin mengurung istrinya.
“Tapi, jangan mangga curi. Masa mau mangga curian. Kok, kamu jadi aneh gini,” ujar Ken. Ia memicing membuat bibir Aya maju. Kesal melihat Ken tak kunjung memenuhi keinginannya.
“Kamu tidur di luar saja. Dahlah, malas liat kamu,” ujarnya mulai ngambek.
__ADS_1
“Yakin, ini? Mau tidur sendiri? Bisa tidur meski gak ada yang dipeluk?” goda Ken. Aya mencibir ke arah suaminya.
“Ken, tega banget, sih. Aku dari tadi siang mau, loh.” Ken bisa saja memenuhi keinginan istrinya. Akan tetapi, mangga curian? Aya membuat ia pertama kali harus mengambil mangga curian.
Ingin Ken mengelabui istrinya. Dengan pura-pura mengambil mangga curian. Akan tetapi, otak lalot Aya hilang dalam waktu tidak tepat. Ia merengek ingin ikut. Mau melihat suaminya langsung memetiknya.
Dengan pasrah Ken menurutinya. Mereka keluar rumah dan mencari di sepanjang jalan pohon mangga. Mata Aya berbinar saat melihat mangga mudah, berbeda dengan suaminya. Meneguk ludahnya kasar.
Mereka seperti maling saja. Meski memang sedang mau maling mangga. Salahkan istrinya yang mau makan mangga curian.
Ken melangkah gontai. Aya sendiri tetap di dalam mobil. Melihat suaminya lewat jendela mobi. Ken sempat menoleh dan diacungi jempol oleh istrinya.
“Ya Allah, maafkan hamba,” batin Ken. Ia berjanji akan menemui esoknya pemilik mangga ini. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia mulai memanjat.
Ken mengambil tiga mangga. Lega, waswas dan takut. Jantungnya sudah berdebar. Sampai ia merasa tubuhnya sakit.
Bruk!
“Aw!” Ken terjatuh dari pohon mangga. Membuat si empunya mangga keluar. Mata Ken membulat. Ia segera mengambil mangganya. Pesan istrinya agar ia harus mencuri. Terpaksa dia lari dan menahan sakit.
Zret! Sungguh sial. Jaketnya tersangkut. Membuat ia sempat dipukul.
Bruk! Bruk!
“Dasar maling mangga! Pencuri! Brukkk! Bugh! Kembalikan manggaku!” Ken berusaha meloloskan diri. Sementara Aya tertawa melihat suaminya.
Ken berlari cepat ke mobil. Sebelum warga datang dan memukulnya. Ia tidak sempat mengatur napasnya. Menjalankan mesin mobilnya dan bernapas lega setelah jauh dari sana.
“Hufhhh.” Aya belum sadar jika suaminya terluka. Ia hanya merasa lucu, Ken dikejar dan dipukul sapu lidi.
__ADS_1
***
Sesampainya di rumah, Ken mengempaskan tubuhnya. Kelopak matanya terpejam. Aya sendiri lebih dulu masuk dan langsung ke dapur.
Ia sudah tidak sabar makan mangga. Sampai tidak melihat kondisi suaminya. Badan Ken benjol dan memerah. Akibat serangga dan pukulan lidi.
“Gini banget risiko nyolong,” gumam Ken. Ia berjalan ke kamarnya. Membuka bajunya dan menatap pantulannya di cermin.
“Ck, ini terakhir kalinya aku nyuri mangga,” ujarnya kapok. Badannya terasa gatal sekali. Ia berjalan ke kamar mandi dan keluar setelah mencuci kaki dan tangannya.
Memilih berbaring. Istrinya masih belum ke kamar.
Ceklek.
Aya mengusap perutnya. Bibirnya merekah. Keinginannya sudah tercapai. Ia menghampiri Ken. Mata Aya membulat melihat badan Ken memerah.
“Ken,” panggil Aya dan duduk di tepi kasur. Ia menyentuh tubuh Ken. Tangan Ken refleks menahan tangan Aya.
“Badan kamu—“ ucap Aya mengambang. Ia tidak percaya jika suaminya terluka. Rasa bersalah hinggap di hatinya. Matanya sudah berkaca-kaca.
Ken yang melihat istrinya mau menangis. Bangun, dan mencium singkat Aya.
“Jangan bayar perjuanganku dengan air mata kesedihanmu. Akan tetapi, bayar aku dengan senyummu,” ujar Ken. Aya mengadakan kepalanya ke atas. Menghalau agar kristal bening itu tidak tumpah.
***
TBC
💕🙏
__ADS_1