
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part39
Kalau Arland mengalami pagi yang buruk, berbeda dengan Ken yang disambut pagi yang baik. Putranya naik di atas perutnya. Tentu itu perbuatan dari istri tercintanya.
“Bangun,” ujar Aya. Ia menyengir melihat suaminya tampak terganggu.
“Jam berapa?” tanya Ken serak.
“Jam 7. Katanya ada rapat, kok, malah bangunnya kesiangan,” ujar Aya. Ia mengambil putranya.
Ken meranggakkan ototnya yang terasa kaku. Ia bangun dan mengusap wajahnya. Lalu, berjalan ke kamar mandi.
Melihat suaminya sudah masuk kamar mandi, Aya membereskan tempat tidur mereka. Ia juga menyiapkan baju kantor suaminya.
Setelah semua siap, ia membawa Alden ke bawah. Mendudukkannya di atas meja dan memberinya biskuit. Lalu, ia menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Selang beberapa menit Ken sudah datang. Rambut yang tertata rapi dan bau parfum yang begitu khas Ken sekali.
“Selama pagi, Sayang,” sapa Ken. Ia mengecup singkat pipi istrinya dan beralih kepada putranya, “Selamat pagi, Dek.”
Mereka sarapan disertai dengan kehebohan Alden. Ia terus meracau tidak jelas. Membuat Ken dan Aya menimpalinya seolah paham.
Ken pamit kepada istrinya untuk ke kantor. Ia melambaikan tangan membuat Aya mengangkat tangan putranya ikut melambaikan tangan.
Ia masuk ke dalam sambil bercengkerama dengan putranya. Sesekali terdengar gelak tawa mereka berdua. Ini adalah aktivitas baru dari Aya selama menjadi seorang Ibu.
Mengajak putranya mengobrol meski bahasanya tidak ia pahami. Mengajari anaknya berjalan. Mungkin ketika Alden berjalan, pasti ia harus ekstra menjaganya.
Merangkak saja anaknya sudah ke mana-mana. Apalagi kalau berjalan. Dilihat-lihat semakin besar Alden semakin terlihat seperti Ken.
“Adek coba berjalan ke sini,” panggil Aya. Alden menoleh dan melihat tangan Ibunya terbuka lebar dan bergerak-gerak, membuat ia tertawa.
Ia segera berdiri dan berjalan. Bruk! Ia terjatuh. Matanya berkaca-kaca karena memang sentakan bokongnya terdengar keras.
Aya tidak bergeming. Ia menanti putranya berjalan. Sengaja juga tidak bersuara karena biasanya putranya akan menangis jika ia langsung menghampirinya.
Setetes kristal bening jatuh di pipi putranya. Meski tidak ada suara isak tangis. Namun, Aya tetap kasihan.
“Sini, Sayang,” panggil Aya lembut. Bersamaan kakinya maju lebih dekat ke arah putranya.
Alden segera bangun kembali. Ia berjalan dua langkah dan hap—Aya memeluknya.
“Yeyyyy putra Bunda sudah pintar!” seru Aya agar putranya merasa senang. Tangannya mengusap air mata Alden.
Melihat putranya mulai menyembunyikan wajahnya diceruk lehernya. Aya segera menggendongnya.
__ADS_1
“Minum ASI dulu sebelum tidur,” ujar Aya.
***
Sorenya ia pamit kepada Dewi untuk pulang ke rumahnya. Ia di antar oleh Dewi karena sekalian Dewi ingin ke kantor suaminya.
“Terima kasih, Ma,” ujar Aya.
“Sama-sama, Nak. Dada Adek,” ujar Dewi dan mencium bertubi-tubi cucunya.
***
Sepertinya tamu di depannya sering datang sejak menikah. Membuat Aya dengan malas-malas beranjak ke sofa di kamarnya.
“Kenapa, May?” tanya Aya.
“Aduh, kacau, Kak. Aku enggak sengaja nendang Mas Arland.” Mata Aya membulat seolah ia kaget.
“Hobi banget nendang Mr. Arland,” cibir Aya.
“Mau bagaimana lagi. Kaget lihat dia pagi-pagi meluk dan gak pakai baju,” ujar Maya keceplosan.
“Ha? Bukannya itu hal wajar? Aku saja kalau liat Ken enggak pakai baju malah senang. Bawaannya ingin bawa ke kamar,” ujarnya polos.
“Untung-untung curhatnya sama orang oon,” batin Maya. Ia lega dan tersenyum. Senyum antara terharu dan ingin nabok wajah Nyonya Rahardian.
“Jadi sekarang ada rencana buat menghadirkan Hartono?” tanya Aya membuat Maya mendengkus.
“Cepat-cepat, biar Adek ada teman. Sekalian kalau Adek sekolah bersamaan dengan anak kamu,” ujar Aya.
“Dih, dikira rumah tangga gue kayak rumah tangga dia apa? Rumah tangga gue enggak ada harmonisnya yang ada harmonosnya,” batin Maya.
“Tahu ah, Kak. Pusing,” ujar Maya. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Memejamkan mata dan bayangan bersama Arland membuat pipinya memanas.
“Bisa gila aku gara-gara itu Bule,” batin Maya.
***
Malam ini, di rumah Ken ada Arland. Mereka sengaja membuat acara kecil-kecilan. Hanya suara obrolan Ken dan Arland.
Aya sendiri sibuk menyiapkan sosis untuk ia panggang. Biasanya otak Korea. Bawannya mau seperti orang Korea.
Maya sendiri memangku Alden. Mengajak Alden bicara meski beberapa kali ia kena pukulan dari Alden.
“Kalian enggak ada rencana honeymoon?” tanya Aya. Ia bergabung dan duduk di samping suaminya.
“Belum ada rencana,” ujar Arland.
__ADS_1
“Harus ada rencana. Jangan kayak Mas Ken. Sampai sekarang enggak ada honeymoon, adanya honeysun,” ujar Aya membuat Arland dan Maya tergelak.
Ken hanya menatap sebal istrinya yang terang-terangan menyindirnya, “Salah siapa dulu ngambek. Mana nilainya buruk lagi.”
“Kan ... diungkit lagi,” kesal Aya.
Ken ingin menjitak istrinya. Duluan dia yang ungkit. Membuat Ken membuang napas dan memandang Arland.
“Cewek selalu benar, Bro,” ujar Arland.
Aya langsung mengalihkan topik saat Ken meliriknya datar. Ia tersenyum dan mengusap pipi suaminya.
“Dasar Nyonya Rahardian. Enggak kenal tempat banget kalau mau mesraan,” batin Maya. Kan dia juga pengen.
Aya mengambil sosis dan beberapa makanan lainnya. Lalu, makan dengan lahap bersama mereka.
Ia terpaksa pamit ke kamar karena Alden sudah rewel. Mungkin sudah mengantuk. Akhirnya mereka meninggalkan Maya dan Arland di sana.
Arland berdiri dan Maya menahan tangannya. ”Nanti saja masuknya,” lirihnya.
Arland kembali duduk. Sampai Maya mengutarakan maaf kepadanya soal kejadian tadi pagi.
“Maaf, ya, Mas. Aku enggak sengaja. Kaget banget,” ucapnya.
“Ck, sakit tahu ditendang. Kamu kenapa bisa jadi bar-bar? Biasanya wanita yang memakai hijab panjang sepertimu punya sifat feminim,” ujar Arland.
Maya cemberut, “Jangan salah. Namanya juga masih hijrah, Mas. Mas jangan nilai seseorang dari penampilannya. Menutup bukan berarti sudah baik. Hijab adalah identitas dan kewajiban kita kaum wanita yang beragam Islam.”
“Tidak harus menunggu sikap baik dulu untuk mengenakan hijab. Bukan berarti yang bersikap buruk padahal memakai hijab itu munafik. Hijab kewajiban, Mas. Ibaratnya dia adalah anggota tubuh yang harus ada, kalau tidak ada kita cacat,” terang Maya.
Arland tersenyum mendengar penuturan istrinya. Memang benar sudah harusnya wanita mengenakan hijab karena itu adalah kewajiban. Jangan menunggu sikap baik baru ingin mengenakan hijab. Akan tetapi, gunakanlah hijab sambil memperbaiki perilaku.
Dan benar pula, tidak semua harus dinilai dari covernya. Terkadang semua menipulasi. Hanya terus berusaha agar hijrah hanya tidak mengubah pakaiannya, tetapi juga mengubah perilakunya.
“Maka itu bimbing aku menuju jalan yang benar. Mas harus tahu Mas adalah jawaban dari atas doa-doaku. Mas adalah imam yang Allah kirim untukku. Mas adalah jawaban atas hijrahku,” ujar Maya dengan sekali tarikan napas.
“Jika, kamu ingin aku bimbing ke jalan yang benar. Maka cobalah buka hatimu.” Arland menatap dalam istrinya.
“Untukku,” lanjutnya.
Deg.
“Ak—aku ... men—“ Maya meremas gamisnya. Arland sendiri menunggu perkataan Maya. Akan tetapi, memang dasarnya Nyonya Rahardian tidak tahu tempat.
“Sosis mana sosis?” tanyanya polos. Ternyata makanan memang selalu juara di hati Aya. Mengacaukan pernyataan cinta mereka berdua.
“Makan saja sosis Ken!” kesal Maya.
__ADS_1
***
TBC.