
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part49
Hari ini Ken mengajak keluarga kecilnya ke pantai. Untuk bermain ombak dan Aya tentu senang. Ia sudah lengkap dengan pakaiannya.
Alden tidak kalah tampan dengan ayahnya. Ia sudah digendong oleh Ken. Lalu, mereka meninggalkan hotel setelah sarapan.
Di perjalanan tidak hentinya Aya dan Alden berceloteh. Untung saja sopir mereka tidak mengerti perkataan Aya dan Alden.
“Yeyyy seaaa i’m cooomingg!” teriak Aya saat tiba di sana. Alden bertepuk tangan melihat bundanya melompat-lompat senang.
Ia meronta diturunkan ayahnya. Lalu, ikut melompat-lompat. Ken menggelengkan kepala melihat Aya dan Alden.
“Yuk, kita ke sana,” ajak Ken. Mereka sudah berteduh. Mata Aya berkeliling. Melihat beberapa turis berlalu lalang dengan bikininya.
“Ken, kamu jangan sampai lirik cewek-cewek bule di sini. Ingat istrimu lebih cantik, seksi dan pastinya punya stok bikini banyak,” ujar Aya kepada suaminya.
“Untung bini gua tahunya bahasa Indonesia. Enggak malu-maluin di negera orang karena perkataannya,” batin Ken.
“Iya,” sahut Ken. Ia melihat Aya menarik kausnya sendiri dan melihat ke dalam.
“Warna merah, Ken. Terang,” ujarnya membuat Ken tertawa. Tingkah istrinya membuat ia tersedak geli.
***
Ken membuka atasannya dan berjalan ke bibir pantai bersama putra dan istrinya. Terlihat Alden berteriak senang melihat ombak.
Kakinya sudah meronta-ronta diturunkan. Tentu Ken tidak mau. Bisa-bisa putranya hanyut dibawa ombak.
“Yah ... aaa!”
“Jangan, Dek. Kamu bisa hanyut nanti,” larang Ken.
Ia membungkuk agar kaki Alden terkena ombak. Saat ombak menghantam kaki Alden, tawanya meledak. Aya mencipratkan air kepada Ken.
“Bentar, Yank. Aku mau belikan Adek bebek-bebek dulu,” ujar Ken.
“Biar aku saja,” ujar Aya. Ken mengangguk.
Aya meninggalkan Ken dan Alden yang masih sibuk main ombak. Ia mengambil uang dan menyusuri tepi pantai.
Mata Aya berbinar saat melihat beberapa makanan di sana. Perut karetnya meronta-ronta minta diisi. Ia akhirnya menjajakan perutnya dengan makanan lezat lainnya.
Bahkan ia lupa dengan tujuan awalnya. Ia mengikuti orang-orang di sana.
“Anyyeonghaseyo,” ujar Aya. Ia membungkuk cepat kilat dan mengangkat wajahnya.
__ADS_1
“Eum ... apa, sih, bahasa Koreanya itu?” gumam Aya. Ia menunjuk-nunjuk saja sambil menyengir. “Untung modal senyum manis, enggak perlu ngomong dipaham sama penjualnya, hihihi,” batinnya tertawa senang.
Aya menatap sekelilingnya. Merasa sangat asing dan tidak tahu sekarang dia berada di mana. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Alden dan Ken sudah di tenda teduh mereka. Ken menatap sekelilingnya khawatir. Istrinya sudah satu jam belum kembali.
Ia mau menghubungi istrinya, tetapi melihat gawai Aya di tas, ia mengurungkan niatnya. Mencari istrinya juga tidak mungkin karena putranya kasihan kalau dibawa ke mana-mana teralu lama di panas matahari.
“Bunda kamu ke mana, ya, Dek,” gumam Ken cemas.
“Ononi,” racau Alden.
Ken menghela napas. Sejak Alden tahu si kembar. Anaknya itu suka sekali mengatakan ‘ononi’ padahal nama si kembar sudah bagus.
“Semoga saja otak Aya berfungsi dengan baik di Korea,” ujar Ken resah.
***
“Huwaaaaa hikss ... hiksss ... huwaaaa ....”
Semua orang menatap bingung dan panik melihat seorang wanita mungil menangis histeris. Rambutnya acak, mata memerah dan hidung yang memerah juga.
Sejak tadi ia menangis dan meracau. Tidak ada yang paham dengan bahasanya. Bahkan ada yang mengira dia orang gila.
“Hiksss apa, sih, bahasa Koreanya tersesat?!” kesalnya. Ia sudah tersedu-sedu. Mengusap ingusnya dengan kasar.
Dia seperti kurcaci di antara orang-orang di sana. Tentu tubuh mereka tidak akan sebanding dengan tingginya.
“Huwaaa Ken istrimu tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang ... hikss, kok, gue jadi liri lagu hiks,” kesalnya.
“Anyyaeonghaseyo. Aghassi, gwenchana?” tanya seseorang. Bisa dilihat dari wajahnya, dia orang Korea. (Selamat sore, kamu baik-baik saja?)
Aya menatapnya dengan tatapan memelas. “Hiks ... aku hiks aku hiks huwaaa ... aku aniyo (tidak),” ujarnya membuat orang di depannya menatapnya bingung.
“Hikss bawa saja aku kepada suamiku! Aku tidak akan menangis hiksss ... bawa akuuuu!” teriak Aya membuat mereka tersentak kaget.
“Omo! (astaga!)” Mereka langsung mundur dengan kaget.
Mereka mulai berbisik-bisik dan membenarkan jika Aya adalah orang gila yang mungkin jatuh bangkrut. Padahal Aya hanya tersesat dan tidak tahu kembali ke tempat semulanya.
“Hikss Kennnnn! Huwaa Adekkk ... Bundamu tersesat!” teriaknya dengan kesal. Ia memejamkan mata dan menangis kencang.
Aya memukul kuat pasir dan membuat orang-orang mundur lagi. Ia berdiri dan mendekati salah satu dari mereka. Namun, mereka segera berlari.
“Huwaaaa aku tidak berbahaya! Hiksss ... awas kalian kalau kalian tiba di negaraku hikss ambyar kalian semua hikss gak ada ahlak hiksss dasar marokona!” teriaknya kesal.
“Kennn hiksss,” isaknya. Ia kembali duduk dan menangis histeris.
__ADS_1
“Anyyeong,” sapa seseorang. Aya membuka matanya yang sudah sangat sembap dan memerah.
“Hiks ... apa?! Huwaa kamu tidak akan pernah mengerti bahasa ini hiksss,” ujarnya.
Orang di depannya menatap Aya bingung. Ia tentu tidak paham bahasa wanita di depannya. Aya menangkupkan tangan di depan dada. Menatap memelas.
“Hiks jebbal (tolong) wantted me, hikss kacau, ambyar hiks gak ngerti bahasa Inggris, enggak ngerti bahasa Korea. Sebenarnya aku bisanya apa?” ujar Aya. Ia kembali ditinggal.
“Enggak mau ke Korea hiks enggak ada yang ngerti hikss cukup di Indonesia saja,” isaknya, “hiks liput aku dikoran hikss aku istri yang hilang beberapa jam yang lalu. Hikss Ken, Adek.”
Aya mengangkat wajahnya saat ada yang menyentuh pundaknya. Seorang pria dan bertanya kepadanya, “Are you oke?”
“Hiks i’m not oke, i’m not fine, i’m not sure, i’m not bule hiks,” ujar Aya.
Pria itu menggaruk kepalanya dan jongkok menatap wanita yang membuat sekitarnya hebo karena takut. Apalagi tangis Aya terdengar kencang.
Aya dikira gila, patah hati dan jatuh bangkrut. Sungguh kasihan. Gara-gara menjelajahi makanan, ia tersesat.
“Tolong aku, bawa aku kepada suamiku hiks ... pulangkan saja aku kepada suami dan anakku pasti aku akan berterima kasih,” ujar Aya sesenggukan.
“Sorry, Miss, please say what can i help you with?”
(Maaf, Nona, tolong katakan apa yang bisa saya bantu?)
Bibir Aya melengkung ke bawah, “ Hiks jangan panggil aku say hiks kalau Ken ada habis kamu hiks ... jangan modusi aku hiks.”
“Sorry, can you speak English?”
(Maaf, bisakah kamu berbahasa Inggris?)
Aya menatapnya kesa, “Hikss ngomong apa, sih?! Speak English ... speak English ... hiks sombong amat!” Aya begitu kesal saat diminta bahasa Inggris.
“Hikss Aya ‘kan made in Indonesia hiks mana tahu bahasa lain,” isaknya.
“What did you just say?”
(Apa yang baru saja Anda katakan?)
“Tai!” kesal Aya.
“What ‘tai’?”
“Hikss dasar oon! *** saja enggak tahu! *** yang mengambang enggak jelas di danau! Yellow ***,” kesal Aya dan dia menangis histeris kembali. Pupus harapannya. Tidak ada yang bisa menolongnya.
“Huwaaa Keeen!”
***
__ADS_1
TBC.