
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part28
Memberikan nama kepada Adek dimenangkan oleh Kenan Rahardian. Dengan iming-iming Nyonya Rahardian ikut juga karena katanya bekerja sama.
Saat ini mereka baru saja selesai dari rumah sakit cek kandungan. Mereka menolak USG untuk kejutan mereka saat Adek lahir.
Sempat singgah di pedagang kaki lima karena Aya tiba-tiba mau makan bakso pedas. Waswas sebenarnya karena takut istrinya sakit perut. Namun, sejauh perjalanan setelah makan, istrinya tidak mengeluh.
“Pulang jam berapa di kampus?” tanya Ken kepada istrinya. Aya memang masuk siang kali ini.
“Aku pulang jam 4. Ada makalah yang harus aku urus sama teman kelompokku.” Ken mengangguk.
Mereka akhirnya tiba di kampus. Pernikahan mereka pun sudah tersebar luas. Beruntung teman kelas Aya tidak bersikap canggung. Mereka justru senang karena memang beberapa kali Aya dan Ken terlihat cekcok di kelas.
Apalagi insiden potong bebek angsa berserta goyangan Ken yang terasa kaku. Namun, lucu di mata mereka. Akhirnya alasannya mereka tahu, ternyata Aya ngidam dan ingin Ken joget sambil nyanyi.
Aya meraih tangan suaminya dan turun. Ken memberikan kecupan singkat kepada istrinya. Setelah Aya masuk ke dalam, ia memutar balik mobilnya menuju kantor.
Aya sudah di dalam kelasnya. Tasnya ia rogoh dan matanya membulat. Makalahnya pasti tertinggal di rumahnya. Astaga. Tidak mungkin ia minta tolong kepada Ken karena Ken ada rapat.
Aya sudah cemas. Ini adalah kelas dari Mr. Arland. Mendadak rasa panik hinggap di dadanya. Langsung ia rogoh tasnya. Mencari nama Maya.
“Halo, Mayaaa,” rengeknya.
“Assalamualaikum,” sindir Maya di seberang sana. Bibir Aya mengerucut.
“Wa’alaikum salam,” jawabnya.
“Kenapa, Kak?” tanya Maya. Untung ia sedang jam kosong.
“May tolongin aku. Makalah aku tertinggal di atas meja dekat rak sepatu,” ujarnya memelas seolah Maya melihatnya.
__ADS_1
“Iya. Aku ke sana, Kak,” ujar Maya.
***
Maya segera menyimpan ponselnya. Ia berjalan keluar menuju BK. Meminta izin untuk pulang. Untung guru BK-nya yang killer tidak ada, hingga proses dapat izin surat keluarnya tidak memakan banyak waktu.
Ia berlari ke parkiran. Untung saja ia mengenakan baju olahraga sehingga langkahnya lebar. Dengan cepat ia menyalakan mesin mobilnya.
Maya menyerahkan surat izinnya kepada Pak Satpam sebelum meninggalkan sekolah. Maya harus ke rumah Aya dulu.
[May, ada kunci di bawah pot bunga.]
Pesan dari Aya membuat wanita berumur 19 tahun ini segera mengangkat pot ukuran sedang. Kunci duplikat Ken di sana. Sengaja mereka letakkan. Siapa tahu orang tua mereka berkunjung dan mereka tidak ada.
Aya pun tidak membawa kunci karena ia mudah sekali membuat benda kecil tercecer. Pernah menghilangkan kunci motor Ken sampai pria itu terpaksa membawa motornya ke bengkel.
Ceklek. Maya membuka pintu rumah Aya. Ia segera ke rak sepatu yang disebut sepupunya. Ternyata makalah bersampul merah itu terletak di sana.
Ia mengambilnya dan menatap jam yang melingkar di tangannya. Tak mau membuang waktu, Maya segera keluar rumah dan menguncinya kembali. Ia menyimpan kunci rumah Ken di sana.
Butuh 45 menit untuk sampai karena jalanan begitu macet. Apalagi siang-siang begini. Astaga, semoga saja dia tidak telat.
Maya berlari menyusuri koridor. Sampai ia tidak melihat pria di depannya.
Bruk!
Jangan harap adegan ia ditimpa atau ia berada di atas orang yang ditabraknya karena ia sendiri yang jatuh di lantai. Posisi yang sangat tidak bagus. Bokongnya mendarat di lantai.
“Awwww ... punya mata enggak, sih?!” tanyanya marah. Ia mengambil makalah Aya dan menepuk bajunya.
Tidak ada suara dari pria itu. Ia mengangkat wajahnya. Matanya membulat sempurna. Ia sangat mengingat lelaki di hadapannya.
Pria yang sama sekali tidak ia tahu namanya. Yang ia ingat, pria ini marah dan mengumpat karena tertimpuk lingerie.
__ADS_1
“Bule Kesasar,” ujar Maya refleks. Ia membekap mulutnya setelah sadar keceplosan. Julukan itu diberikannya bersama Aya.
Mata Mr. Arland menatap tajam remaja di depannya. Apalagi setelah dikatai bule kesasar.
“Untuk apa bocah kencur sepertimu datang ke kampus?” tanya Mr. Arland lengkap dengan tatapan sinisnya.
Maya menatap Mr. Arland dengan kesal. Huh, ia sangat tidak terima dikatakan bocah kencur. Bahkan ia lebih tahu urusan bikin adek-adek ketimbang Aya.
“Denger, ya, Ahjussi. Saya bukan botcah kencur. Ahjussi kalau ngomong suka gak ada ahlak,” kesal Maya. Ia memanggil Mr. Arland dengan sebuatan Ahjussi dalam bahasa Korea artinya om.
“Saya juga bukan Bule kesasar,” ujar Mr. Arland datar. Sungguh sial sekali. Selalu sial saat bertemu dengan bocah di hadapannya.
Ia sudah siap-siap ke kelas yang akan ia ajar. Malah bocah di depannya lari-lari dan menabraknya.
“Yak mana ada cowok ke daleman,” ujar Maya. Matanya memicing.
“Kecuali Ahjussi ... belok,” ujarnya membuat Mr. Arland marah.
“Kamu—“ ujarnya terpotong karena tiba-tiba Aya datang. Ia menghampiri Maya. Dia sudah khawatir karena Maya belum memberikannya makalah dan jam Mr. Arland sudah masuk 15 menit lalu.
“Hey! You ... you ... my makalah, please!” Aya mengambil makalahnya.
Mr. Arland masih saling menatap tajam bersama Maya. “Awas, katanya cinta dari mata turun ke hati,” ceplos Aya membuat Maya dan Mr. Arland mendengkus bersamaan.
“Ogah banget sama Bule Kesasar!” ujar Maya.
“Dih, ogah banget sama Bocah Kencur!” ujar Mr. Arland. Tidak mau kalah.
“Gue sih owh aja, Bro,” ujar Aya polos membuat Mr. Arland dan Maya menatapnya kesal. Seseorang tolong bawa Nyonya Rahardian sebelum tensi mereka naik.
***
TBC.
__ADS_1
Terima kasih atas jejaknya.