
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part53
Setelah membuat semua kesal, Aya kembali ke kamarnya karena suara tangis Alden terdengar. Pasti putranya sudah bangun. Dengan lembut dia menarik putranya.
Membawanya turun ke bawah. Di sana masih sibuk keluarganya memeriksa oleh-oleh yang ia bawa. Maya terlihat kesenangan diberikan baju-baju oleh kakak iparnya.
Apalagi ada baju untuk si kembar juga. Dewi dan Arin pun, antusiasi. Ia memeriksa oleh-olehnya dan mencobanya.
Para lelaki lebih memilih duduk sambil menikmati kopi mereka. Bercerita tentang perjalanan Ken dan cabang perusahaan yang akan mereka bangun.
Alden ikut turun dan mengacak-acak di sana. Terlihat sekali suasana rumah mereka begitu hidup. Apalagi racauan Alden yang terdengar memekik saat Maya dengan sengaja menggodanya.
“May, kembar bawa ke sini, dong, kangen,” ujar Aya.
“Ayo ke kamar. Bantu bawa,” ajak Maya.
Mereka ke kamar Maya dan di sana bayi kembar Alex dan Alexa membuka mata. Mereka hanya diam sambil menyesap jempol tangannya.
Aya dan Maya mengambil mereka dari box baby. Terlihat sekali Aya begitu gemas. Ia mencium pipi Alexa beberapa kali. Sangat cantik sekali anak Maya.
Bulu matanya lentik, panjang dan alisnya teratur terlihat tebal. Mana matanya ternyata diperhatikan saksama lebih mirip warna mata Frian, kakeknya. Warna biru yang sedikit tenggelam. Mungkin karena papa dan mamanya punya warna mata hitam. Sedangkan Alex tidak, dia lebih sedikit terang. Aya dibuat takjub.
“May, aku kira warna mata anak kamu coklat atau hitam begitu,” ujar Aya.
“Awalnya Maya sama, Kak. Ternyata mereka punya warna mata biru,” ujar Maya.
“Ih, irinya,” ujar Aya membuat Maya terkikik geli.
“Dengar, ya, Kak. Walau ke Korea enggak pernah dipanggil sayang sama bule, tetapi laki Maya bule, anak Maya bule juga. Uwwu,” ujar Maya membuat Aya langsung cemberut.
Mereka meninggalkan kamar Maya dan berjalan ke ruang tamu. Aya langsung duduk di dekat Ken. Membuat suaminya menoleh melihat keponakannya.
Alden yang melihat bayi mungil itu, langsung menghampiri bundanya. Ia mendadak kalem jika sudah berada di dekat si kembar.
Tangannya mulai terulur memegang tangan Alexa. Ken dan Aya membiarkannya saja. Terlihat Alden sangat senang.
“Wah, anak kamu jadi tenang kalau di dekat anak aku,” ujar Maya.
“Sepertinya sudah cocok punya adik,” celutuk Atma.
“Sudah usaha, kok, Pak. Tiap malam di sana ronda malam,” ujar Aya membuat Ken menjitaknya. Tawa mereka meledak.
“Ahahaha, kalau begitu berarti belum rezeki,” ujar Atma disela tawanya. Mereka semua menggelengkan kepala. Diam-diam mendoakan semoga Aya dan Ken kembali diberikan kepercayaan oleh Allah.
***
2 tahun kemudian.
Seorang wanita berbaring di atas bangkar rumah sakit. Suaminya menyeka peluh di pelipisnya. Tampak wajahnya begitu kesakitan.
Di ruang serba putih itu, beberapa perawat berlalu lalang. Mereka sibuk menyiapkan alat yang dibutuhkan dokter. Masker dan kos tangan sudah mereka kenakan.
__ADS_1
“Akhhhh,” rintihnya.
“Tarik napas dan buang, Bu. Dorong lebih keras lagi,” ujar Dokter.
“Kamu pasti bisa, Yank,” ujar suaminya.
Dia melakukan instruksi dokter. Beberapa kali mendorongnya kuat. Tangannya mengcengkeram kuat tangan suaminya.
“Enghhhhhh!”
“Ayo, Bu Aya terus.”
“Huhffggg ... enghhhhhh!”
“Oek ... oek ....”
Ken menghela napas lega. Prosesnya lumayan cepat, tidak seperti awal anak pertamanya. Aya juga tidak panik, mungkin karena sudah pernah mengalaminya. Walau tetap saja, merasakan sakit setiap melahirkan.
Wajah Aya terlihat lelah, tetapi ia tetap membuka matanya. Tersenyum lemah kepada Ken. Aya bisa melihat wajah Ken terlihat ketakutan. Gara-gara baca artikel melahirkan bisa merenggut nyawa.
“Selamat, Pak. Anak Bapak cewek,” ujar Dokter membuat Aya dan Ken mengulum senyum.
“Kamu enggak apa-apa ‘kan, Sayang?” tanya Ken. Ia melap peluh Aya.
“Enghh!”
Semua orang dalam ruangan itu langsung menatap Aya. Dokter segera menyerahkan bayi Aya kepada perawat dan melihat Aya. Terlihat di wajah lelah wanita itu tercetak senyum geli.
“Hehehe kirain bisa anak kembar,” lirihnya lemah membuat Ken yang merasa jantungnya berdebar tidak karuan lega. Bisa-bisanya istrinya bertingkah sehabis melahirkan.
Apalagi ngidamnya yang aneh-aneh membuat mereka sulit melupakannya. Pernah datang hanya untuk melihat Ken mengenakan jas dokter. Untung saja pemilik rumah sakit kenal baik dengan papa Ken.
***
Ucapan selamat datang dari keluarganya. Aya tersenyum bahagia bersama Ken. Alden juga terlihat senang menyambut kehadiran adiknya.
Ken menyerahkan putrinya setelah dia azan di telinga putrinya. Aya menerimanya dengan hati-hati.
“Siapa namanya?” tanya Maya.
Aya melirik Ken, “Siapa, Mas?”
“Katanya mau Kim Kenaya,” ujar Ken membuat Aya langsung mengusap pipi suaminya. Ia tersenyum geli.
“Hehehe, Kenaya rahardian.” Ken tidak dapat menutupi senyumnya. Mereka semua tersenyum bahagia. Kenaya anggota baru di keluarga mereka.
“Nanti di rumah kita panggil dia Kimmi. Untuk keluarga kita saja,” ujar Ken membuat Aya langsung senyum-senyum tidak jelas. Sangat setuju dengan usulan suaminya.
***
Kenaya adalah bayi mungil cantik yang terlahir dari cinta kedua orang tuanya. Wajahnya perpaduan antara Ken dan Aya. Beda dengan Alden yang duplikat dengan Ken.
Sementara Alex dan Alexa tumbuh begitu tampan dan cantik. Tidak akan ada yang mengira mereka adalah anak blasteran. Wajahnya sungguh seperti orang asing.
__ADS_1
Apalagi kulit putih mereka sangat mendukung opini itu. Arland dan Maya hanya memiliki dua bayi kembar. Sudah cukup bagi mereka.
Sementara Aya dan Ken masih menambah projek mereka. Setidaknya keinginannya memiliki tiga buah hati. Mungkin berjarak dua tahun lagi atau lima tahun.
Setelah seminggu jalan rawat inap, ia kembali ke rumahnya. Berada di kamar bersama Ken. Hari ini adalah akikah Kenaya.
Ken memeluk istrinya dari belakang. Menatap putrinya yang dipeluk erat.
“Terima kasih, Sayang. Atas segala cinta yang telah kamu berikan padaku,” bisik Ken.
“Aku yang harusnya berterima kasih. Cinta, kesabaran, ketulusan dan keluarga kamu berikan padaku. Mendidikku begitu sabar dan menuntunku tanpa lelah.”
Aya membalikkan badannya. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih, ia terlalu terharu. Mendapat suami sebaik Ken.
Mereka sama-sama tidak mengeluarkan kata. Hanya lewat tatapan mereka ungkap betapa besar cinta mereka.
“Bunda, Ayah,” panggil Alden.
Ken dan Aya menghampiri Alden yang baru bangun. Mereka duduk di tepi kasur. Terlihat wajah Alden yang kusut langsung cerah melihat adiknya.
“Eummahh.” Langsung ia mendaratkan ciuman di pipi adiknya. Aya dan Ken tersenyum geli.
Ken mengajak mereka turun ke bawah. Kenaya digendong Aya dan Alden digendong Ken. Keluarga mereka tersenyum melihat Aya dan Ken.
Alden langsung menghampiri Alex dan Alexa. Mereka bermain bersama. Alden begitu suka bermain dengan sepupunya.
“Bunda,” panggil Alden.
“Kenapa, Dek?” tanya Aya.
“Ononi ellow ***,” ujarnya polos sambil menunjuk bokong Alexa. Alexa hanya diam saja saat celananya ditarik Alden. Dia tidak memakai popok Bayi.
“Hahahaha.”
Mereka terbahak-bahak dan Aya tersenyum malu mendengar putranya. Anaknya akhirnya ikutan karena ketika Alden berak dengan ceplas-ceplos dia akan mengatakan ‘Adek yellow tai’ membuat Alden ikut-ikutan.
“Dasar, panutan Yellow ***,” dengkus Ken.
Mereka sontak menggelengkan kepala. Aya hanya memasang wajah polosnya dan tersenyum manis saat suaminya menatapnya.
“Untung, Sayang.”
“Kalau enggak, Ken?” tanya keluarga mereka kompak.
“Kalau enggak sudah lempar Planet, biar bahasanya Alienya menyatu dengan UFO,” ujar Ken membuat bibir Aya mengerucut.
“Hahahahaha.”
Aya menatap kesal Ken. Ken tertawa sebelum memeluk erat istrinya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi.
***
_TAMAT_
__ADS_1
Terima kasih telah support KENAYA.