
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part29
Mr. Arland menghela napas mendengar Aya. Ingatkan dia jika wanita di depannya sedang hamil sehingga ia tidak membuatnya keluar dari kelasnya.
“Ehehe ... Aya ke kelas dulu. Makasih, loh, May,” ujarnya cengengesan. Ia segera pergi karena tatapan Maya dan Mr. Arland seperti ingin memakan orang hidup-hidup.
Maya masih terpaku melihat kepergian Aya. Lalu, ia berbalik dan mengentakkan kakinya. Masih kesal dikatakan bocah kencur.
“Ck,” decak Mr. Arland sebelum ia menyusul Aya.
***
Di sisi lain, Ken baru saja menyelesaikan rapatnya. Ia tersenyum ramah kepada cliennya, sebelum ia keluar dari kantornya.
Saatnya ia harus menjemput Bumil. Ken sempat singgah dan membeli susu hamil karena mengingat susu hamil istrinya sudah hampir habis.
Beberapa camilan, biskuit dan juga es krim dia beli. Sengaja ia beli karena akhir-akhir ini istrinya suka terjaga jika malam.
Entah ia merasa perutnya kram. Kata Dokter itu hal biasa dialami ibu hamil. Lalu, beberapa tips juga Ken dapatkan dan ia akan melakukannya.
Seperti Aya yang merasa pegal, ia memijatnya. Saat istrinya mengeluh perut bagian bawahnya, Ken memberinya bantal untuk menjanggal perut istrinya sedikit.
Tips yang ia dapat sangat berguna karena mengurang rasa sakit istrinya. Walau tetap saja, malamnya Aya akan bangun lagi.
Istrinya akan menonton sepanjang malam sampai tertidur kembali. Ken yang tidak terlalu suka Korea pun ikut menonton boy band kesukaan istrinya yaitu BTS.
Meski Aya begitu suka dengan Korea, ia tidak menonton drakor. Ken melarangnya karena ada adegan tidak wajar yang sering ditayangkan. Mungkin itu sebabnya meski ia seorang Kpoprs, ia tergolong polos tidak seperti pencinta Korea lainnya.
Dan istri polosnya itulah yang harus ia bimbing menuju bahtera rumah tangga. Walau ia harus menanggung malu karena kepolosan istrinya.
[Aku di depan.]
Ken mengirim sebuah pesan setelah ia sampai di kampus Aya. Matanya menatap gerbang kampus. Sampai sosok wanita yang ia pikirkan muncul.
Tersenyum manis membuat beberapa mahasiswa lainnya terpaku. Namun, pupus saat melihat perut Aya yang membuncit.
Mereka saling menatap satu sama lain. Lewat tatapan mereka saling bicara.
“Ada lakinya. Bro.”
***
Saat berada di dalam mobil Aya meraih tangan suaminya. Rutinitas mereka saat bertemu setelah bepergian.
“Ada es krim di belakang,” ujar Ken membuat Aya segera menoleh ke belakang. Dengan semangat ia meraih kantong hitam itu. Matanya berbinar senang.
“Jangan makan semua, cukup satu,” ujar Ken.
“Iya,” sahut Aya.
__ADS_1
Ken melirik istrinya sebelum melajukan mobilnya ke rumah mereka. Setelah sampai, Ken langsung ke kamar bersama Aya.
Aya ingin menyiapkan air hangat untuk Ken, tetapi suaminya melarangnya. Terpaksa ia duduk sambil menikmati camilannya.
Aroma sabun langsung menyeruak begitu Ken selesai mandi. Mata Aya tidak bosan memandang tubuh suaminya. Pipinya jadi merona malu.
Ken tertawa kecil. Ia lewat di dekat Aya dan menarik pipi istrinya gemas. “Mesum banget,” ujar Ken.
“Ilih, kiyik inggik misim iji,” cibir Aya. Ken terbahak-bahak. Lalu, dia jongkok di depan istrinya. Posisi Aya yang duduk di tepi kasur membuat Ken leluasa di dekatnya.
Mata Ken tertuju pada perut istrinya. Tangannya terulur mengelusnya. Tubuh Aya meremang bersamaan dengan desir hangat di hatinya.
“Apa kabar, Sayang? Sehat-sehat terus, ya. Jangan nakal di dalam perut Bunda,” ujar Ken membuat mata Aya memanas.
Bawaan hamil jadi mudah baper. Air matanya menetes mengenai tangan Ken. Ia tersenyum saat Ken memandangnya.
“Uluh ... uluh ... Bumil Sayang nangis,” goda Ken. Ia mengecup perut Aya singkat dan berdiri. Memeluk istrinya dengan sayang.
Setelah memeluk istrinya, Ken meminta Aya mandi. Ia sendiri ke lemari mencari baju untuk ia kenakan. Baju kaus putih dan celana hitam pendek.
Aya ikut duduk di samping suaminya setelah mandi dan memakai baju. Ia akan menceritakan kejadian tadi siang.
Ken dengan sabar mendengarnya. Bibirnya tersenyum geli saat istrinya usai bercerita. Kasihan sekali Mr. Arland. Namun, ia tidak tahan untuk tidak menertawakannya.
“Hahahaha.” Ken memegang perutnya karena tertawa.
“Dia itu kayak mau makan aku hidup-hidup. Maya juga mulai berubah jadi vampir,” ujarnya sambil bergidik ngeri.
Terkadang ia menikmati kepolosan istrinya dan bisa kesal juga karena harus menanggung malu. Untung keluarga mereka biasa-biasa saja.
“Sudah, aku mau belajar,” ujar Aya. Ia beranjak ke meja belajarnya. Bibir Ken tertarik ke atas. Perlahan istrinya mulai berubah. Yang dari malas belajar mulai rajin belajar.
Ken bisa melihat semua itu. Sarapan mereka juga sudah mulai berubah-ubah menunya. Masakan Aya pun biasa kelebihan garam, kini takarannya pas.
***
Hari demi hari, kehamilan Aya mulai semakin besar. Kini usianya memasuki 9 bulan dan tinggal menunggu hari.
Ia pun sudah mengambil cuti karena mudah kelelahan dan takut kalau tiba-tiba di kampus mau melahirkan.
Bahkan Maya menginap di rumahnya untuk menemani Aya. Takut ada apa-apa sementara Ken sedang bekerja. Ini sudah seminggu Maya di sini.
Perut Aya sudah mulai berkontraksi. Mertua dan Ibunya sering mengingatkan untuk rajin berjalan walau hanya tiga langkah.
Ia mengikuti sarannya dan kekhawatiran Ken semakin menjadi-jadi. Melihat istrinya semakin mudah kelelahan. Bahkan ia pindah ke bawah untuk tidur di kamar tamu.
“May, kamu mengerjakan apa?” tanya Aya. Melihat Maya begitu serius mengetik.
“Ini lagi menyusun nama-nama peserta yang ikut acara di sekolah, Kak. Katanya, sih, bakal banyak tamu penting. Aku sebagai sekretaris osis harus sigap,” ujar Maya tanpa menoleh.
“Pasti acaranya seru,” gumam Aya.
__ADS_1
Ia mulai memegang perutnya yang terasa sakit. Sungguh tidak nyaman sekali. Aya menatap ke bawah.
Mata Aya membulat. Ketubannya sudah pecah. Tentu ia tahu soal ini karena sering sharing dengan Dokter kandungan yang menaganinya.
“Maya ketubangku pecah,” ujarnya.
Maya langsung menoleh dan melihat Aya. Dia berdiri dengan panik. Mencari ponselnya.
“Astaga ... astaga ... Hartono mau keluar,” batinnya panik.
Ia menelepon Ken dengan suara paniknya. Sementara Aya merintih sakit. Keringat membanjiri pelipisnya.
“Huhggg ... enghh!”
Maya masih panik. “Kak coba tarik napas dan telan,” ujarnya membuat Aya menatapnya kesal.
“Masa iya aku telan! Huwaa panggilkan Keeeen. Hiks sakit,” rengek Aya.
“Aduh ... Adek ... please tunggu Ayah kamu dulu,” ujar Maya. Ia duduk di dekat Aya. Langsung ia menjerit saat pundaknya di pegang Aya.
“Akhhhhhhh!” teriak Maya bersamaan dengan Aya. Kuku Aya begitu tajam menusuknya.
“Kak Aya, kenapa Maya dicakar?” tanya Maya meringis.
Tidak lama Ken datang. Ia sangat panik mendengar terikan yang begitu menggelegar antara Maya dan Aya.
Ken langsung membopong istrinya ke dalam mobil. Maya pun segera ikut. Lalu, ia mengirimi keluarganya pesan.
***
Setiba di rumah sakit, Aya segera dibawa ke ruang persalinan. Ken ikut masuk menemani istrinya. Di luar Maya menunggu bersama keluarga mereka.
“Eghhh ... sakit,” rintih Aya.
“Tarik napas, Bu dan keluarkan,” instruksi Dokter.
Ken dengan setia menemani istrinya. Menggenggam tangan istrinya. Sesekali ia menyeka keringat di jidat Aya. Bibirnya tidak berhenti berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya.
Melihat Aya begitu kesakitan, Ken tidak tega. Ia membiarkan Aya melampiaskan rasa sakitnya lewat tancap jari kukunya yang tajam.
“Arghhhhhhh!”
“Oek ... eok ....”
Tangis nakal keluar dari bibir bayi mungil yang masih berlumur darah itu memecahkan ketegangan. Membuat Aya yang merasakan sakitnya melahirkan, terbayar dengan tangis bayinya.
“Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang,” ujar Ken dan mencium istrinya.
***
TBC.
__ADS_1
Hehehe akhirnya Adek lahir. Hayo kira-kira dia cewek atau cowok? Next part bakal tahu. Uhuk senangnya jadi tante Online.