KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
40


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part40


Maya dan Arland masuk ke dalam. Kacau suasana romantis mereka karena tuan rumah yang tidak tahu malah datang seperti jelangkung.


Mereka terpaksa harus menundanya, meski keduanya sama-sama berharap malam itu menjadi malam romantis bagi mereka.


Berbeda dengan pengacau, ia mengerucutkan bibirnya. Berjalan ke kamar sambil mengomel dalam hati.


Niat hati ingin makan sosis panggang, tetapi malah nada sinis dan wajah jutek yang ia dapatkan. Ia pun tidak menyangka jika suaminya ternyata mengambil sosis. Rasanya ia tidak melihat suaminya membawa ke kamar mereka.


Ceklek.


“Mas, sosis Mas mana?” Sontak Ken yang berbaring langsung bangun. Merasa suhu tubuhnya langsung panas dingin. Istrinya masuk tiba-tiba tanya sosisnya.


“Ka—kamu mau apa?” tanya Ken.


“Mau makan,” jawab Aya polos.


Ken menggaruk kepalanya tidak gatal. Ia tidak menyangka istrinya semakin agresif saja. Mereka hanya berselisih paham.


“Mana?” tanya Aya tidak sabaran. Ken membuka kausnya membuat Aya mengerjap.


“Kok, buka baju?” tanyanya membuat Ken menyerit.


“Katanya mau sosis,” ujar Ken. Otak Aya yang tidak seberapa kapasitasnya mencoba mencerna kalimat suaminya. Langsung ia melempar bantal ke arah Ken.


“Massss, mesum banget, sih!” kesalnya.


“Bukannya kamu yang mau—“ Aya langsung membekap mulut Ken. Pipinya sudah memanas.


“Sosisnya sosis cap ayam bukan cap Ken,” cicitnya membuat Ken membuang napas kasar. Percuma dia panas dingin.


Ia bercak kesal sebelum beranjak ke dapur. Kebiasaan lama istrinya tidak pernah berubah. Tidak sesuai sekali dengan makna yang sebenarnya.


“Percuma gua kesenangan, tahunya sosis cap ayam masih lebih menggoda di mata istriku,” kesal Ken.


***


Kali ini Aya bersama Ibu dan mertuanya berada di mall besar. Mereka keliling dan membeli beberapa pakaian.


Beberapa baju ia pilihkan untuk Alden. Mereka juga ke time zone untuk mengajak Alden bermain. Nyatanya Aya pun ikut bermain seperti anak kecil.


“Sudah puas mainnya?” tanya Arin kepada putrinya. Aya mengangguk membuat dia menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Semoga saja suamimu tidak naik darah,” ujar Arin sambil mengendong cucunya.


“Ken darahnya enggak naik kok, Ma. Nafsunya yang naik,” ujarnya polos membuat pegawai time zone salah tingkah mendengarnya. Mereka jadi senyum-senyum tidak jelas.


Mereka meninggalkan time zone menuju rumah Arin. Di sana para pria sudah menunggu.


***


“Dengar, ya, gini-gini mama kamu yang selalu ngajak duluan,” ujar Tian sombong. Ken langsung mendengkus.


Ingin ia menjawab istrinya juga, tetapi selalu saja berakhir salah kaprah. Tidak ada yang bisa ia harapkan jika bukan kata ‘bikin adek-adek’ keluar dari bibir istrinya.


Arland juga menyimak. Mendengar nostalgia Tian dan Atma. Saling melempar canda yang terdengar vulgar.


Untung saja istrinya tidak ada di sini. Kalau datang bisa membuat ia malu kembali. Apalagi kepolosan Aya akan mengatakan semua.


“Assalamualaikum!” Ken menoleh. Panjang umur ternyata. Baru ia pikirkan sudah nongol.


“Wa’alaikum salam!” jawab mereka serentak.


Aya menyerahkan Alden kepada Ken sebelum ke dapur untuk memasak. Membuat Alden meronta ingin ikut.


“Huwaaa.”


“Itu, lihat ada burung terbang,” ujar Ken menunjuk ke arah langit. Mata bulat Alden menatap ke langit.


Ia kembali merengek. Moodnya rusak karena masih ingin bermain, tetapi mereka sudah pulang. Wajar saja karena selama ini ia hanya sendiri. Ketika di sana mendapat teman membuat ia tidak mau pulang.


***


Aya ke kamar suaminya. Ia dengar jika putranya rewel sejak tadi. Sampai di sana, ia melihat Ken menimang Alden sambil bersenandung.


“Sudah tidur?” tanya Aya. Ken menggelengkan kepala.


“Bawa baring dulu. Mungkin dia lapar,” ujar Aya. Ia naik ke kasur bersama suaminya. Membaringkan Alden di tengah-tengah mereka.


Terlihat racauan terdengar kesal di bibir Alden. Ia begitu lahap minum ASI. Tangannya digenggam Ken.


“Kenapa rewel?” tanya Ken.


“Masih mau main di mall.” Ken mengangguk mengerti. Ia mengusap pipi putranya saat Alden sudah terlelap.


“Sudah anaknya, bapaknya lagi,” goda Ken membuat Aya tertawa. Dengan senang hati ia melayani suaminya.


***

__ADS_1


Hubungan antara Arland dan Maya semakin membaik. Biasanya mereka tidak akan berintraksi di depan orang tua mereka, tetapi ini beda.


Terlihat Maya dan Arland saling mengobrol dan menonton. Terkadang mereka tertawa. Tanpa sungkan bahkan saling merangkul.


“Dilihat-lihat sebentar lagi akan ada cucu kedua,” ujar Tian kepada Dewi.


“Hehehe enggak sabar, Mas,” jawab Dewi terkikik geli.


***


Tok tok tok!


Dahi Arland menyerit saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Siapa malam-malam begini datang? Padahal ia baru saja ke kamar bersama istrinya.


Ceklek.


Terlihat begitu jelas senyum lima jari Nyonya Rahardian. Membuat Arland waswas seketika. Wanita di depannya tidak dapat diprediksi.


“Ada apa?” tanya Arland.


“Aku mau mengantar ini buat Maya. Kali saja bermanfaat. Sama kayak dulu aku, behhh para Man. Getarannya sampai mendunia,” ujarnya dengan ekspresi seolah itu adalah hal menakjubkan.


Arland jadi penasaran. Ia mengangguk dan masuk ke dalam setelah Aya pamit. Wanita itu terkikik geli.


“Siapa suruh dulu jahilin aku,” ujar Aya.


Maya yang melihat suaminya membawa bingkisan mendekat. Ia baru saja selesai mandi. Duduk dan mengambil bingkisan yang katanya dari Aya.


“Akhhh!” Maya langsung melempar tatkala melihat benda berjaring-jaring itu. Arland hanya mengucap istigfar kala benda itu harus mendarat kedua kalinya di wajah tampannya.


“Ya Allah, Mas,” ujar Maya dan mengambilnya. Ia tersenyum canggung.


“Kak Aya,” batin Maya geram.


Ia memeriksa semua di sana dan semua warna mencolok. Maya mengambil kertas yang terselip di sana.


[Pakailah dan rasakan sensasinya. Sampai getaran mendunia, asal kasur tetap kokoh.]


Maya meremas kertas itu bersamaan tawa Arland meledak. “Coba yuk. Siapa tahu getarannya bisa sampai dapat Hartono,” goda Arland.


“Getaran Hartonomu, Mas!” kesal Maya. Ia menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah padam.


***


TBC.

__ADS_1


__ADS_2