
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part44
Beberapa kali Aya menggelengkan kepala. Ia merasa ada yang berbeda dengannya. Terlalu parnoan dan gelisah.
Malam ia bangun dengan keringat membanjiri pelipisnya. Ia mendengar suara tangis. Namun, ia tidak dapat melihatnya.
Air matanya juga ia tak tahu kenapa menetes. Dadanya seolah dihantam keras. Merasa ada yang kosong.
Ia mengusap kasar wajahnya. Meraih air di nakas. Ternyata sudah jam 02:00. Ia beranjak dari kasur. Memutuskan untuk shalat.
“Ya Allah, Yang Maha Pelindung, lindungi hamba dan juga keluarga hamba. Hamba tidak tahu dengan hati hamba yang terasa sesak, tetapi hamba minta kepada engkau ya Allah. Tetap bersama hamba dan juga kepada keluarga hamba hiks,” isak Aya.
Ia bersimpuh di atas sajadahnya. Tidak mengerti kenapa dia menangis. Rasanya sangat menyakitkan.
Usapan lembut di punggungnya membuat ia menoleh. Tatapan suaminya begitu lembut. “Mas,” lirih Aya.
“Kenapa?” tanya Ken. Aya hanya memeluknya. Menangis begitu hebat.
Aya duduk di tepi kasur setelah merasa baikan. Menunggu suaminya yang shalat juga. Tatapannya kosong. Beberapa kali ia istigfar.
Ken melipat sajadahnya dan menghampiri istrinya. Mengusap lembut pipi istrinya. Berharap ada ketengan yang ia salurkan lewat usapannya.
“Buka mukena dulu, terus tidur kembali. Jangan banyak pikiran,” ujar Ken. Aya mengangguk.
***
Ken memutuskan untuk memasak. Menyiapkan sarapan untuk istri dan anaknya. Ia tahu Aya semalam sulit tidur jadi telat bangun.
Hanya ada omelet dan bubur yang ia siapkan untuk Alden. Tidak lupa dua gelas susu putih dan juga susu formula untuk Alden.
Merasa semua sudah lengkap, ia kembali ke kamarnya. Mandi dan memakai pakaian kantornya.
“Sayang,” panggil Ken. Aya melenguh panjang. Matanya menyipit. Terlalu silau. Matanya pun terasa berat karena menangis.
“Mas, kamu sudah siap-siap?” tanya Aya. Ia langsung bangun. Melirik jam dan matanya terbelalak.
“Aku sudah siapkan semua. Tinggal kamu sama Adek yang mandi,” ujar Ken. Seketika Aya merasa bersalah.
“Maaf, Mas. Aku lalai menjalankan tugasku sebagai seorang istri,” ujarnya. Ia kembali menangis membuat Ken menghela napas.
“Kenapa dengan istriku ya Allah?” batin Ken. Dengan sabar ia memeluk istrinya kembali. Apkah istrinya haid?
__ADS_1
“Sekarang kamu mandi dulu,” ujar Ken menarik dirinya. Aya mengangguk. Ia menyingkap selimut.
Ken beralih kepada putranya. Alden terlelap sekali. Membuat Ken menghujaminya ciuman bertubi-tubi.
“Enghhh.” Terlihat lucu sekali ekspresinya saat melenguh. Matanya mengerjap.
“Yah ... aaaa,” racaunya.
“Bangun dulu, Dek. Sekarang Adek harus mandi dulu,” ujar Ken. Ia mengangkat putranya. Memberinya ciuman kembali sebelum membawa ke kamar mandi.
Ia memberikan putranya kepada istrinya. Anaknya juga suka main air jadi tidak rewel kalau diajak mandi. Justru dia akan menangis nanti jika dibawa keluar.
***
Ken dan Aya sama-sama sarapan dan ditemani racauan si kecil. Aya membiarkan Alden menyuapi dirinya sendiri.
Membiarkan baju dan wajah putranya berlepotan. Ia tetap menyuapinya juga. Hanya ingin membuat putranya aktif dan belajar.
Ken sendiri membuka jasnya dan menyampirkan di kursi sebelahnya. Ia memutuskan untuk tidak ke kantor. Ia khawatir melihat istrinya yang menangis tanpa sebab.
“Mas, sudha jam 8. Memang Mas mau berangkat jam berapa?” tanya Aya.
“Aku enggak jadi ke kantor. Sekretarisku juga sudah aku kabari,” jawabnya membuat Aya langsung menoleh kepadanya.
“Mau di rumah saja. Lagian aku capek,” alibi Ken. Ia hanya tidak mau meninggalkan Aya dalam keadaan mood yang berantakan.
***
Sore-sore mereka kedatangan tamu. Siapa lagi kalau bukan Maya dan Arland. Keduanya tampak bahagia, apalagi menanti kehadiran calon buah hati mereka.
Bukan hanya Ken yang menyadari kemurungan Aya. Bahkan Maya sengaja memancing pertengkaran dengan kakak iparnya.
Ken menghela napas. Ia mengusap wajahnya. Mengucap istigfar berkali-kali.
“Sayang,” panggil Ken.
“Sebentar, aku mau ambil air dulu buat Adek,” ujar Aya. Ia berjalan dan baru beberapa langkah. Ia sudah jatuh pinsang.
“Kak Aya!”
“Sayang!”
Ken segera membopong istrinya. Ia membawanya ke kamar. Arland segera menelepon dokter. Mereka menatap cemas kepada Aya.
__ADS_1
Apalagi tubuhnya yang terasa dingin sekali. Bibirnya pucat pasi. Ken tidak melepas genggamannya kepada istrinya.
30 menit kemudian dokter datang. Ia memeriksa kondisi tubuh Aya. Membuat Ken menatap cemas ke arahnya.
“Istri saya kenapa, Dok?” tanya Ken.
“Istri Anda kekurangan cairan dan vitamin dalam tubuhnya. Dia harus masih dalam keadaan menyusui. Harus makan banyak karena si Kecil pasti mendapat asupan dari ASI-nya,” ujar Dokter.
“Lalu, kenapa istri saya terasa aneh, Dok. Dia kadang menangis tanpa sebab,” ujar Ken.
“Hormonnya. Biasa dari pengaruh kalau banyak pikiran dan tertekan. Sebaiknya dia jangan stress,” ujar Dokter.
Ken tahu istrinya memang sangat fokus kepada Alden. Tidak sempat mengurus dirinya. Apalagi putranya suka main di luar.
Belum lagi kalau Aya bangun pagi-pagi padahal begadang kalau Alden bangun tengah malam. Menyiapkan sarapan, air hangat dan baju kantorannya.
“Ini resepnya. Bisa tebus di apotek,” ujar Dokter.
“Terima kasih, Dok,” ujar Ken.
Arland mengambil resep yang diberikan dokter dan mengantar dokter ke depan. Sekalian dia keluar untuk menebus obat untuk Aya.
Ken mengecup tangan Aya. Tangan yang melayaninya setulus hati. Tidak sekali pun ia mendengar istrinya mengeluh tentang putra mereka.
Aya membuka kelopak matanya. Ia merasa pusing. Matanya menatap suaminya yang melihatnya begitu teduh.
“Jaga kondisi kamu juga, Sayang. Aku ngerti kalau kamu sibuk. Jangan paksakan diri,” ujar Ken lembut.
“Aku ... aku cuma enggak bisa lihat kamu lakukan semua. Aku merasa gagal jadi istri kamu kalau liat kamu yang siapkan air hangat buat mandi, sarapan dan baju kamu. Hiks aku enggak bisa liat kamu cuci baju,” isaknya.
“Sayang ... tugas istri memang mengurus rumah, suami dan anak. Bukan berarti suami kerjaannya mencari nafkah saja. Selama aku bisa bantu pasti aku bantu,” ujar Ken. Ia tidak keberatan mengerjakan semuanya sendiri.
“Kamu bisa manjakan aku ketika Adek sudah besar. Cukup kerjakan sedikit demi sedikit. Jangan dipaksa semua. Kamu jangan banyak pikiran.” Ken mengusap air mata istrinya.
“Aku enggak mungkin berpaling hanya karena fisik. Aku juga enggak akan berpaling hanya karena kamu lebih fokus kepada putra kita. Aku sayang sama kamu. Mau kamu cantik atau jelek, mau kamu berubah jadi wanita sederhana atau rambutmu pun memutih aku akan tetap bersama kamu,” ujar Ken tulus.
Maya mengusap air matanya mendengar penuturan kakaknya. Ia terharu menyaksikan pasangan di depannya.
“Ya Allah, buat rumah tanggaku seharmonis mereka,” batin Maya.
***
TBC
__ADS_1