KENAYA (Ken Dan Aya)

KENAYA (Ken Dan Aya)
23


__ADS_3

#KENAYA (Ken dan Aya)


#Part23


Terlihat sepasang mata hitam bergerak cemas. Melihat suaminya tak henti bolak-balik ke kamar mandi. Menumpahkan cairan yang terasa pahit di indra pengecapnya.


Setelah mengerjakan Shalat dan bersiap-siap ke kampus. Ia memuntahkan isi perutnya. Kepalanya diserang rasa sakit. Berdenyut-denyut. Badannya terasa sempoyongan.


Memutuskan untuk berbaring di atas kasur. Memejamkan netranya. Entah, membuat sakitnya hilang atau malah merasakan sakit yang mendera bak ditimpa bongkahan batu.


“Aku panggilkan dokter,” ujar wanita di sampingnya yang memijat pelan kepalanya.


“Engga perlu,” tolaknya dengan suara yang begitu lirih. Tangan istrinya cukup membantu. Terlihat dari deru napasnya yang sudah teratur.


Akhirnya pagi ini, Aya membantalkan keberangkatannya juga ke kampus. Ia sudah mengirim surat untuk ketidakhadirannya.


Wajah suaminya tampak pucat. Bibir yang sering kali mengatakan kata manis terlihat terkatup rapat. Mata yang memandangnya penuh cinta, terpejam erat.


“Apakah Ken terkena DBD?” gumamnya. Kali saja suaminya terkena DBD. Mengingat kemarin saat mertuanya datang. Tian menonton berita sebentar dan ternyata marak DBD.


Mau tak mau ia berpikir ke sana. Ia meraih gawainya dan mengirim pesan kepada Ibu mertuanya. Ternyata Ibu mertuanya akan datang ke rumahnya bersama Ibunya.


“Buatkan Ken bubur saja kali.” Ia beranjak ke dapur. Membuatkan bubur suaminya. Saat asyik memasak, bel rumahnya berbunyi.


Ia membasuh tangannya di wastafel. Lalu, melangkah melihat siapa tamunya. Saat pintu coklat itu terbuka, terlihat mertua dan Ibunya.

__ADS_1


Mereka saling memeluk satu sama lain sebelum masuk. Arin langsung bertanya tentang menantu kesayangannya. Sedangkan Dewi hanya menanyakan kabar Aya. Inilah yang dimaksud Aya. Terkadang ia merasa seperti anak tertukar dengan Ken.


“Suamimu sudah minum obat?” tanya Arin seraya berjalan ke sofa. Ia mendaratkan bokongnya di sofa empuk milik Aya.


“Belum, Ma. Ken keburu tidur. Dia muntah-muntah terus,” kata Aya setelah ikut duduk. Tangannya sibuk membuka bingkisan yang dibawa mertuanya dan ibunya.


Dewi memandang Arin. Ia punya maksud sendiri datang ke sini. Kelakuan putranya dan menantunya kemarin menjadi tanda tanya besar untuknya.


Samai di rumah, ia tidak berhenti memikirkannya. Suaminya bahkan mengatakan bahwa nafsu makan Aya memang tinggi. Mengingat menantunya akan makan tanpa sungkan di depan mereka.


Jika Aya makan terlalu banyak, Dewi akan memaklumi. Akan tetapi, putranya? Brownis dan martabak manis pasti ludes jika di depan Ken. Anehnya malah mencium baunya saja putranya muntah.


Tidak ada yang aneh, jika putranya sedang mengalami morning sick. Bisa terjadi jika seorang suami sangat mencintai istrinya. Ini tanda-tanda, apabila suami ngidam daripada istrinya. Maka pasti suami yang lebih besar cintanya. Setidaknya itu pemikiran kuno yang dipercaya dari keluarga mereka.


Sementara di ilmu medis, memang bisa terjadi karena ikatan antara seorang ayah dan calon anak kuat ikatan batinnya. Memberi pengaruh hormon kepada ayahnya. Hingga mengalami morning sick.


Ia menggeleng polos. Selama menikah dengan Ken dia tidak memakai KB. Baginya jika mereka berusaha setiap malam, untuk apa menunda-nundanya.


“Aya enggak pakai, Ma,” jawabnya sambil menyengir.


Dewi dan Arin saling memandang. Bersorak bahagia karena menemukan titik terang. Mereka berdua seperti seorang detektif saja. Untung kali ini yang diperiksanya jinak dan polos.


“Aya mau hamil?” Aya langsung mengangguk. Ia mau punya anak tentu saja.


“Mau, tetapi adeknya belum jadi-jadi. Enggak tahu, Ken sebenarnya ngapain Aya, sih. Adeknya enggak jadi-jadi,” gerutunya. Mertuanya dan Arin sontak meringis. Jika saja Ken ada pasti tersinggung dengan ucapan istrinya.

__ADS_1


“Enggak boleh ngomong begitu. Mau kamu dikurung seharian sama Ken?” tanya Arin menegur putrinya.


“Enggak mau,” tolaknya.


***


Ken duduk di sofa. Lama-kelamaan ia terganggu dengan tatapan Arin dan Dewi. Mereka menatapnya lekat dan intens.


“Kenapa, Ma?” tanya Ken memandang kedua wanita paruh baya itu. Ia bergerak pelan karena Aya tidur di atas pangkuannya.


“Kamu kata Aya sering muntah.” Ken mengangguk membenarkan. Ia sendiri tidak tahu, kenapa setiap makan malah muntah. Mana ia meringis jika mengingat sikapnya yang manja kembali muncul.


“Kamu ke Dokter saja,” ujar Dewi membuat Ken menggeleng. Kenapa semua orang memintanya ke dokter.


“Kamu dibilangin harus nurut. Kamu sadar enggak. Kelakuan kamu sama istri kamu seperti orang ngidam,” ujar Dewi membuat Ken terpaku. Mencerna dan mengingat kembali hari-harinya bersama istrinya.


Jika ia ingat dengan baik, istrinya akhir-akhir ini lancar jika mau beribadah. Tidak sama seperti bulan-bulan lalu. Istrinya tidak datang bulan.


Senyum merekah di bibirnya. Jika benar Aya hamil, ia akan senang bukan main. Usahanya akhirnya berbuah juga. Akhirnya adek-adeknya jadi.


“Aku akan ke dokter besok,” ujar Ken. Dadanya berdebar. Tidak sabar untuk tahu kondisi istrinya. Besar harapnya untuk Aya hamil. Pasti anaknya lucu dan menggemaskan. Ken jadi tidak sabar dipanggil dengan sebutan ‘Ayah’ oleh anak-anak mereka.


“Yes! Semoga saja adeknya sudah jadi,” batin Ken.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2