
#KENAYA (Ken dan Aya)
#Part36
Rasa kesal telah ia luapkan pada wanita yang memiliki bayi mungil yang terlihat acuh. Memuat kekesalannya bertambah.
Karena kepolosan tingkat akut yang sudah taraf oon, Maya harus mengambil alasan yang entah otak suaminya pasti memiliki IQ tinggi tidak percaya.
“Itu karena Kak Aya mengejekku. Pernah sekali dulu menonton film kartun. Makanya ngejek terus Hartono.”
Ya, alibi yang pasti tidak masuk akal. Sejak kapan ada film kartun namanya Hartono. Namun, bersyukurlah, Arland hanya bersikap acuh kepadanya.
Ia mengajarkan istrinya sampai bisa. Sesekali kata sakras muncul di sela bibirnya. Belajar larut malam yang disertai perdebatan.
Hingga setelah pulang sekolah. Maya berakhir di rumah kakaknya. Menemui wanita yang membuatnya malu.
“Kak Aya oon banget!” kesalnya.
Pletak!
“Bang Keeeen!” Ken mendelik. Tidak terima istrinya dikatakan oon meski sebenarnya ia mengakuinya dalam hati kalau itu benar.
“Pulang sana,” usir Ken halus. Ia berbaring di atas pangkuan istrinya. Membuat Aya membelai lembut surainya.
Maya menatap kedua pasangan di depannya dongkol. Bisa-bisanya mereka bermesraan. Terpaksa dia pulang karena matanya sakit melihat pemandangan itu. Pemandangan yang jauh berbeda saat ia bersama suaminya sendiri.
***
Tawa anak kecil berderai di ruang tamu. Matanya menatap penuh binar dengan mainan yang baru saja ia lempar.
Usianya Alden sudah memasuki 11 bulan . Ia mulai belajar melangkah. Meski sering jatuh, dia tetap belajar. Walau akhirnya juga menangis.
Kelucuan Alden membuat Aya gemas. Seperti saat Ken pulang dari kantor. Alden akan berdiri dan berjalan ke arah Ken.
Kadang ia sudah tidak mampu dan menangis. Akhirnya Ken yang menghampirinya. Memeluk putranya agar tidak menangis.
“Ayo, sini jagoan Ayah,” panggil Ken yang berdiri tidak jauh dari Alden.
“Ayo, Adek pasti bisa!” Semangat untuk Alden datang dari Ibunya. Membuat Alden dengan semangat berdiri dan berjalan.
Brak!
Ia terjatuh dan masih mencobanya. Sampai ia kembali terjatuh. Tangisnya pecah karena tidak bisa sampai di pelukan ayahnya.
“Huwaaaa ....” Ken segera menghampirinya dan mencium pipi Alden.
__ADS_1
“Adek sudah, ya, nangisnya,” bujuk Ken.
Aya ikut berdiri dan menghampiri suami dan anaknya. Mereka berjalan ke kamar. Sesekali mereka tertawa karena Alden mulai meracau.
Di kamar mereka, Aya menyiapkan air hangat. Sedangkan Ken bermain sebentar dengan putranya sambil menunggu istrinya.
Ken yang baru berjalan dan sering jatuh membuat ia menjadi BAB. Kata dokter anak seusia Alden memang sering mengalaminya karena akibat selalu terjatuh dan bokongnya selalu menghantam keras lantai. Akhirnya BAB.
Ken mencium pipi putranya saat Aya menghampirinya. Memberikannya handuk. Sebelum pergi Ken menarik pipi Aya membuat istrinya meringis.
“Mas,” kesal Aya.
“Hahahaha.” Suka sekali Ken menjahili Aya. Melihat ekspresi istrinya yang marah terasa lucu. Padahal kalau Aya marah benaran, ia jadi ketar-ketir sendiri.
***
“Hey, Arland,” sapa seorang wanita saat Arland datang. Arland hanya memberinya anggukan dan duduk.
Dia mendapat undangan dari teman-teman lamanya. Apalagi sejak pulang dari Inggris, ia memang belum bertemu dengan mereka semua.
Pekerjaan di kampus menyita waktunya dan pernikahannya yang terasa membingungkan. Tidak terasa sudah 6 bulan karena usia Alden sendiri sudah 11 bulan. Namun, Tidak ada titik balik selama 6 bulan pernikahannya.
Setiap hari ia dan istrinya hanya seperti orang asing yang terjebak di tempat yang sama. Tinggal bersama hanya untuk saling memusuhi.
Entah Maya yang terlalu bar-bar kepadanya. Menatapnya sinis dan seperti ada kebencian di mata istrinya.
Rasa frustrasi Arland bertambah saat kedua orang tuanya meneror tentang cucu. Alasannya selama ini, istrinya menunda. Namun, ia tidak bisa menjadikan itu sebagai alasan lagi karena Maya sudah lulus.
Satu-satunya yang ia jadikan alasan sekarang adalah istrinya ingin fokus untuk kuliah. Meski ia tahu alasan itu tidak akan bertahan lama.
Baru setengah tahun bersama, ia mulai merasakan namanya kepasrahan. Malam-malam yang ia lewatkan selalu menyebut nama istrinya di sujudnya.
Meski sering cekcok, Maya masih membuatkannya sarapan dan makan malam. Pamit saat pergi dan menyiapkan baju kerjanya.
“Kita have fun!” teriak wanita berambut keemasan.
“Gua Cuma sebentar,” ujar Arland menolak. Tidak mungkin dia seperti dulu. Bebas ke mana-mana dengan wanita mana saja. Meski pun begitu, ia sama sekali tidak pernah melakukan namanya zina.
Drttttt ....
Ukthy bar-bar.
[Mama minta kita ke rumahnya.]
Pesan dari istrinya. Arland menatap teman-temannya yang ternyata memesan minuman untuknya. Tidak menyadari seringai dari wanita di sampingnya.
__ADS_1
“Gua mau pulang dulu, Bro,” ujar Arland. Ia merapikan jaketnya.
“Minum dulu,” ujar wanita itu. Arland yang terburu-buru meneguknya. Tidak sadar ada obat perangsang di dalamnya.
Di perjalanan pulang Arland merasa tubuhnya terasa gerah. Bahkan keringat menetes begitu banyak dari dalam kaus yang ia kenakan.
“Ck, kenapa aku merasa panas begini,” gumamnya. Ia menambahkan AC di dalam mobilnya. Namun, ia tetap merasa gerah.
Setiba di Apartemennya, terlihat Maya sudah lengkap dengan gamis bermotifnya. Hijab hitam membungkus kepalanya.
Pandangan Arland berkabut menatap istrinya. Ia menggelengkan kepala dan berjalan ke kamarnya. Maya hanya menyerit melihat tingkah Arland.
“Arghhh! Kenapa masih panas?!” Arland merasa tubuhnya semakin gerah. Ia sudah mandi dan memakai pakaiannya, tetapi tetap saja gerah.
Bayangan istrinya muncul. Beberapa kali ia menggelengkan kepala. Sementara Maya yang menunggu lama, menyusul ke kamar.
Ia melihat suaminya duduk di atas kasur sambil menarik-narik kausnya. Berharap angin masuk ke dalam dan membuatnya tidak gerah.
“Kenapa dengan Bule Kesasar?” batin Maya.
Merasa kehadiran seseorang, Arland menoleh. Matanya terlihat sayu sekali. Membuat Maya semakin bingung.
Maya melihat wajah Arland seperti menahan sakit. Ia mendekat. Rasa khawatir muncul melihat keringat suaminya begitu banyak.
“Om Bule, kenapa?” tanyanya.
“Pergilah,” usir Arland dingin. Dia akhirnya menemukan jawaban atas tubuhnya yang gerah. Kesal dan marah.
Maya menatap Arland sinis, “Kamu tidak mau ikut?!” Maya belum paham dengan situasi yang ada. Sementara suaminya menahan mati-matian agar tidak menariknya.
“Saya tahu kamu cukup pintar. Saya dijebak dengan obat perangsang. Kamu tahu akibatnya. Maka ... pergilah, sebelum hal yang tidak kamu inginkan terjadi,” ujar Arland membuat Maya kaget.
“Pergilah!” bentak Arland membuat air mata Maya menetes. Mendengar isak tangis istrinya, Arland menyugar surainya dengan kasar.
“Saya mohon, pergilah ... atau saya akan mengambil hak saya,” lirih Arland lembut. Ia berdiri di depan Maya.
Jarak keduanya sangat dekat. Maya menatap wajah Arland. Melihat tepat di manik mata suaminya.
“Pergi,” bisik Arland. Maya berbalik dan memejamkan matanya. Ia menutup pintu kamar dan tubuhnya luruh di depan pintu kamar mereka.
“Hiks ... hiks .... bagaimana ini? Pasti Om Bule kesakitan.” Maya menenggelamkan wajahnya di lututnya.
***
TBC
__ADS_1
Sesekali partnya gini 😁 takut kalian tiap malam ketawa, nanti dikira kasmaran. 😁